Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
128


__ADS_3

Sementara di sisi lain saat ini Friska dan Rezky baru saja tiba di apartemen Friska setelah keduanya puas jalan-jalan ke pantai selepas pulang mengunjungi kediaman Rezky itu.


“Sepertinya Frisya belum ada.” Gumam Friska melihat sekeliling.


“Sudahlah biarkan saja. Bukankah dia juga ingin menemui calon mertuanya.” Ucap Rezky.


“Mertua? Belum loh kak.” Ucap Friska.


“Ya tetap saja kan.” Friska pun hanya mengangguk saja.


“Kak, aku naik dulu ke atas.” ucap Friska.


“Tunggu sebentar.” Tahan Rezky.


Friska pun menatap calon suaminya itu, “Gak ada. Hati-hati masuknya.” Ucap Rezky.


Friska pun tersenyum, “Tenang saja kak. Aku tidak akan tersesat. Aku sudah hafal jalan pulang.” Ujar Friska lalu seger masuk ke dalam.


Rezky pun hanya tersenyum melihat tingkah calon istrinya itu, “Dia sangat lucu.” Gumam Rezky lalu hendak masuk ke mobilnya tapi terhenti begitu melihat mobil Fazar.


Fazar pun segera menghentikan mobilnya di samping mobil Rezky lalu Fazar segera turun membukakan pintu untuk Frisya, “Calon kakak ipar, apa kalian juga baru tiba?” tanya Frisya.


Rezky pun mengangguk, “Sekitar tiga menit lalu.” Jawab Fazar.


Frisya pun mengangguk, “Hmm, baiklah jika begitu. Risya juga mau menyusul kak Ris masuk. Kak Fazar Risya pamit. Kakak ipar.” Ucap Frisya.


Fazar pun tersenyum mengangguk sementara Rezky hanya mengangguk saja sambil memperhatikan wajah Fazar, “Apa kau akan melamarnya?” tanya Rezky.


Fazar yang fokus melihat Frisya pun segera menatap Rezky begitu mendapat pertanyaan itu lalu dia mengangguk, “Sepertinya begitu.” Ujar Fazar.


Rezky pun tersenyum, “Yah, usahakan jarak pernikahan kita jangan terlalu jauh.” Ucap Rezky.


Fazar pun tersenyum, “Semoga saja. Tapi anda juga tahu bahwa dia masih memiliki kakak sepupu yang lebih tau darinya. Bukankah dalam keluarga mereka berurutan dalam urusan menikah.” Ucap Fazar.


Rezky yang baru mendengar itu kaget, “Masa sih? Kok aku gak tahu. Aku baru mendengarnya.” Ujar Rezky.


“Itu sudah menjadi tradisi mereka. Gak boleh melangkahi seorang kakak menikah.” Ujar Fazar.


“Wah, aku gak tahu. Sungguh benar-benar gak tahu. Untung saja calon istriku berada di urutan nomor tiga.” Ujar Rezky.

__ADS_1


“Selamat untuk anda kalau begitu.” Ucap Fazar.


“Hee’ehh, aku yakin jika sudah takdir pasti ada jalannya.” Ucap Rezky.


“Saya juga masih ingin dia lulus dulu dari profesinya. Tinggal dua bulan lagi dia lulus.” Ucap Fazar.


“Syukurlah jika begitu. Semoga saja semua di lancarkan.” Ucap Rezky.


“Doa yang sama juga untuk anda. Saya dengar tanggal pernikahan kalian sudah di tetapkan.” Ujar Fazar.


Rezky pun mengangguk, “Kau benar. Tiga minggu lagi. Aku sih inginnya dua minggu lagi tapi sepertinay itu sudah menjadi keputusan kedua pihak keluarga. Aku hanya bisa menurut saja.” ucap Rezky curhat.


“Tiga minggu bukan waktu yang lama. Saya yakin itu sudah sesuai. Lagian pernikahan juga butuh persiapan.” Ucap Fazar.


Rezky mengangguk, “Kau benar. setelah ku pikir-pikir lagi waktu tiga minggu sudah waktu ideal untuk mempersiapkan pernikahan.” Ucap Rezky.


“Lalu kenapa anda menginginkan dua minggu saja? Apa karena sudah tidak tahan?” tanya Fazar tertawa.


Rezky pun menatap tajam Fazar, “Sialan kau. Aku memang seorang pria tapi terkait itu aku masih bisa menahannya. Hanya saja aku tidak ingin kehilangan dia lagi. Kau tahu kan dua tahun kesalahpahaman terjadi antara kami dan aku tidak ingin ada masalah lagi yang terjadi.” Ujar Rezky.


“Saya juga tahu. Saya tadi itu bercanda. Yah walaupun kebutuhan biologis tidak bisa di pungkiri adalah salah satu yang di butuhkan oleh seorang pria dan dengan menikah itu tersalurkan pada ikatan yang sah. Tapi kita juga tetap harus siap semuanya. Apa kita sudah siap untuk membina rumah tangga atau tidak.” Ujar Fazar.


“Saya masih belajar.” Ucap Fazar.


“Maaf Fazar bukan maksudku merendahkanmu. Aku--” ucap Rezky merasa bersalah.


Fazar tertawa, “Saya tidak tersinggung. Tenang saja. Seorang asisten bukan pekerjaan yang hina.” Ucap Fazar.


Rezky mengangguk, “Kau benar karena jika tanpa asisten seorang pemimpin akan kesusahan dalam mengurus perusahaannya.” Ucap Rezky.


Sekitar 10 menit kedua pria yang hanya berjarak umur dua tahun itu bicara. Setelah itu keduanya memutuskan pulang karena memang masih ada yang harus mereka lakukan.


***


Sementara di dalam apartemen, kini Friska dan Frisya sedang duduk di ruang keluarga setelah selesai mandi.


“Dek, kalian dari mana?” tanya Friska.


“Pertanyaan macam apa itu kak. Tentu saja aku dari rumah kak Fazar.” Jawab Frisya.

__ADS_1


“Ish maksud kakak itu. Apa kalian gak jalan-jalan begitu? Apa kalian seharian saja di rumah kak Fazar?” tanya Friska.


Frisya pun tersenyum, “Yah begitu dong kak jika ingin bertanya itu yang jelas. Jangan ambigu kayak tadi. Tentu saja kami keluar tapi menonton film di bioskop setelah masak-masak dan makan siang bareng orang tua kak Fazar.” Jawab Frisya.


Friska pun mengangguk, “Kalau kalian kemana kak?” tanya Frisya.


“Kami sepulang dari rumah mami dan papi pergi ke pantai.” Jawab Friska.


“Yah. Kok kalian gak ngajak.” Ucap Frisya.


“Yah kan kakak gak tahu jika kau ingin ikut.” Ucap Friska.


“Kan kakak juga gak bilang.” Ucap Frisya.


“Ya sudah maaf. Nanti deh kita jalan-jalan bareng.” Ujar Friska mengalah.


Frisya pun tersenyum dan mengangguk, “Hmm,, kak aku dengar tanggal pernikahan kalian sudah di tetapkan.” Ucap Frisya.


Friska mengangguk, “Tanggal 10 bulan depan. Tiga minggu lagi.” Ucap Friska.


“Wah, selamat yaa kakak keduaku. Akhirnya kau akan sold out juga.” Ucap Frisya.


“Perkataan macam apa itu. Tentu saja aku harus sold out.” Ucap Friska.


Frisya pun tertawa, “Kalau kau bagaimana dek?” tanya Friska.


Frisya pun menghentikan tawanya, “Sepertinya aku akan menunggu wisudaku selesai dulu kak. Kan tinggal dua bulan lagi profesiku akan selesai.” Ucap Frisya.


“Kenapa? Kakak yakin mama dan papa tidak akan keberatan kau akan menikah.” Ujar Friska.


Frisya menggeleng, “Aku tidak ingin memecahkan rekor pernikahan kak Reya. Selain itu juga masih ada kak Kenzo yang belum menikah. Aku tidak ingin melangkahinya walaupun dia hanya kakak sepupu. Namun tetap saja dia itu lebih tau dariku dan kak Reya ingin adiknya menikah secara berurutan.” Ucap Frisya.


Friska pun menghela nafasnya, “Kau benar. Tapi kakak juga adalah seseorang yang berpikiran realistis. Aku yakin dia akan tetap menerima apa yang sudah menjadi kehendak takdir.” Ucap Friska.


“Aku tahu itu kak Ris. Namun aku dan kak Fazar sudah memutuskannya bahwa kami akan menikah nanti setelah aku lulus kuliah setidaknya aku sudah memberi waktu kepada kak Kenzo untuk menikah dalam dua bulan ini. Jika sudah tiba saatnya nanti dan dia belum ingin menikah maka mungkin saat itu aku akan melangkahinya menikah.” Ujar Frisya.


Friska pun tersenyum, “Baiklah jika memang itu sudah menjadi keputusanmu dan kak Fazar. Kakak hanya bisa mendukungnya dan semoga apa yang kalian rencanakan berjalan lancar.” Ucap Friska.


“Doa yang sama juga untukmu kak.” Balas Frisya. Friska pun tersenyum mengangguk lalu mereka sambil menunggu waktu magrib melanjutkan cengkrama mereka itu.

__ADS_1


__ADS_2