Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
22


__ADS_3

Setelah luka Frisya selesai di balut dan dia di berikan obat. Fazar segera mengantar gadis itu ke apartemen dan membantu gadis itu membawakan barangnya sampai di pintu apartemen. Frisya segera membuka pintu apartemen yang ternyata Friska juga hendak membuka pintu itu untuk membuang sampah, “Dek, kau sudah pulang. Eeh ada asisten Fazar juga.” Ucap Friska.


Fazar hanya mengangguk membalasnya, “Dek, kenapa ini? Apa kamu kecelakaaan?” tanya Friska begitu menyadari kaki Frisya di balut. Friska segera menunduk dan memastikan luka adiknya itu.


Frisya pun hanya bisa meringis padahal dia berharap kakak keduanya itu tidak akan mengetahui lukanya, “Ini hanya luka kecil kak.” Jawabnya sambil masuk ke apartemen.


“Luka kecil bagaimana? Banyak darah begitu kau sebut luka kecil? Apa kamu kecelakaan? Dasar ceroboh.” Ucap Friska segera menyusul sang adik dan tidak lupa menyuruh Fazar masuk.


“Kak, kau sangat berisik deh. Aku memang kecelakaan tapi aku baik-baik saja. Kak Fazar letakkan saja itu di sana dan terimah kasih sudah mengantarku.” Ucap Frisya.


Fazar hanya mengangguk, “Kalau begitu saya pamit nona.” Ucap Fazar setelah meletakkan barang Frisya.


“Hati-hati di jalan kak.” Pesan Frisya tulus. Fazar lagi-lagi hanya mengangguk dan segera berlalu dari sana tidak lupa dia membawa sampah yang hendak di buang Friska tadi tanpa di minta.


“Cepat ceritakan kenapa kau bisa kecelakaan dan mendapatkan luka ini. Dasar ceroboh.” Ujar Friska penuh selidik.


Frisya pun hanya bisa menghela nafasnya dan mulai menceritakan kronologi kejadiannya. Setelah selesai bercerita Frisya segera pamit ke kamarnya untuk membersihkan diri, “Dek, jangan sampai lukanya kena air.” Ucap Friska keras.


“Iya aku tahu kak.” Jawab Frisya.


“Apa kamu butuh bantuan?” tanya Friska mengkhawatirkan adiknya itu.


“Iss gak usah khawatir. Aku bisa sendiri kak.” Balas Frisya lalu segera masuk ke kamarnya.


Sementara Friska segera menelpon sang kakak untuk mengatakan kecelakaan adiknya itu hingga membuat Freya di sana khawatir tapi setelah di jelaskan Friska tidak ada yang perlu di khawatirkan Freya pun kembali tenang.


Tidak lama kemudian Frisya keluar dengan wajah segarnya, “Dek, kak Reya mau bicara.” Ucap Friska segera menyerahkan ponselnya kepada sang adik sementara Frisya menerimanya dengan menatap kesal Friska karena dia yakin kakak keduanya itu pasti sudah mengatakannya kepada kakak pertama mereka.

__ADS_1


“Iya halo kak.” Ucap Frisya.


“Cepat tunjukan lukamu itu kakak mau melihatnya.” Ucap Freya dari seberang.


Frisya pun mengangkat roknya dan mengarahkan kamera ke lukanya, “Astaga, kenapa bisa luka sebesar itu dek. Kenapa gak hati-hati coba. Sudahlah mulai sekarang kamu pakai mobil saja, gak usah pakai motor.” Ucap Freya yang langsung mendapat protes Frisya.


Setelah cukup lama bicara dan Frisya mendapat banyak ceramah panjang lebar dari sang kakak serta dia juga yang berhasil membujuk Freya untuk tetap mengizinkannya membawa motor. Freya menyetujuinya tapi dengan syarat nanti setelah lukanya benar-benar pulih dan selama lukanya belum pulih dia akan di antar jemput oleh Fazar dan itu sudah mendapat izin dari Alvino untuk mengizinkan asistennya itu melakukan itu.


***


Kini tidak terasa sudah weekend dan seperti biasa kedua kakak beradik itu sibuk dengan pekerjaan mereka di weekend. Frisya yang memang lukanya sudah pulih itu tetap datang menyanyi di restoran sang kakak dan Friska sudah tentu saja dia juga ke statiun Radio untuk program weekendnya.


Keesokan paginya, Friska yang sudah berjanji akan menemani mami Sinta hari ini jalan-jalan pun segera bersiap pergi menemui ibu mertua kakaknya itu yang ternyata ingin menemuinya hanya untuk di ajak jalan, “Dek, kakak pamit ya.” Izin Friska pamit. Frisya pun hanya mengangguk dan dia memutuskan tidur-tiduran saja untuk menikmati weekendnya karena dia memang tidak memiliki kegiatan hari ini.


Hingga saat jam menunjukkan pukul 09.00 ada yang membunyikan bel apartemennya dan langkah malas-malasan dia membuka pintu dan kaget begitu melihat siapa yang datang, “Hi Ri---” ucap Dino dan Jery heboh.


Dino dan Jery pun hanya cengesan, “Kita kesini mau ngajak kamu jalan kemana gitu untuk menghabiskan weekend yang membosankan ini.” ujar Jery yang di angguki Dino.


“Kemana emang?” tanya Frisya.


“Ke pantai mungkin atau ke mana yang penting jalan.” Jawab Dino.


Frisya pun hanya mengangguk-ngangguk, “Ri kamu gak ada niatan menyuruh kami masuk gitu?” tanya Dino.


Frisya pun hanya cengesan, “Maaf yaa para lelaki untuk hari ini aku tidak bisa menyuruh kalian masuk karena aku hanya sendiri sebab kakak keduaku sedang keluar. Jadi untuk kali ini aku akan menjadi tuan rumah yang kurang ramah.” Jawab Frisya.


Jery dan Dino pun mengangguk mengerti sementara El terlihat sendu tapi segera mengubah ekspresinya agar tidak terlihat, “Okay, kami mengerti. Kami akan menunggu di sini. Ohiya kamu mau ikut nggak?” tanya El.

__ADS_1


“Emm Risya ikut deh tapi mau izin dulu sama dua kakakku yaa. Selain itu juga Risya mau mandi dulu karena memang belum mandi, heheheh.” Ujar Frisya hingga membuat Fazar tersenyum mendengarnya. Yah, Fazar juga ikut di ajak oleh ketika biang kerok itu tapi tentu saja Fazar tidak akan menolaknya jika Frisya ikut.


“Kalian tunggu di sini yaa. Risya mandi dulu. Ohiya apa aku bisa mengajak sahabatku bergabung?” tanya Frisya.


Ke empat pria itu segera mengangguk mengiyakan. Frisya pun segera menelpon Disa sahabatnya untuk ikut bergabung menikmati weekend yang tentu saja di sambut suka cita oleh sahabatnya itu. Frisya setelah itu segera menelpon Freya dan Frisya meminta izin dan setelah mendapatkan izin dia segera mandi.


Sekitar 30 menit akhirnya Frisya siap dan dia segera keluar apartemen menemui empat pria yang setia menunggunya itu. Setelah itu mereka segera berangkat menuju pantai yang menjadi keputusan bersama tadi tapi sebelum itu mereka menjemput Disa terlebih dulu.


***


Sementara di sisi Friska, dia sedang menunggu mami Sinta sedang bersiap-siap pergi, “Nak, kapan kamu mau menikah?” tanya papi William yang menemaninya menunggu mami Sinta.


Friska tersenyum mendengar hal itu, “Emm,, Riska akan menikah jika sudah ketemu jodohnya pih.” Jawab Friska.


“Mau papi jodohkan gak?” tanya papi William.


“Gak usah pih. Riska juga belum ingin menikah biarlah semuanya mengalir seperti air. Biarlah takdir yang akan membuat Riska ketemu jodoh.” Jawab Friska.


“Kamu ini sama seperti kakakmu. Belum di sebut siapa yang akan di jodohkan denganmu tapi sudah menolaknya lebih dulu atau jangan-jangan kamu memiliki seseorang yang kau sukai yaa.” Tebak papi William.


“Ahh, papi bisa aja. Gak kok.” ujar Friska.


“Jawabanmu meragukan nak. Sepertinya kau memang menyukai seseorang tapi mungkin dia tidak mengetahuinaya. Bisa papi tahu siapa dia? Biar papi bantu.” Ucap papi William.


Friska tersenyum, “Gak usah pih. Riska juga sudah melupakannya.” Ucap Friska.


“Yah kau ini.” ucap papi William kecewa.

__ADS_1


Frisya hanya tersenyum lalu tidak lama mami Sinta keluar dan keduanya segera pamit keluar untuk jalan ke mall.


__ADS_2