
Kini Friska sudah berada di mobil bersama calon suaminya itu. Rezky sebelum menghidupkan mobilnya dia tersenyum menatap calon istrinya itu. Friska yang memasang seat beal-nya pun tersenyum kepada Rezky yang memandangnya sedemikian rupa itu, “Ada apa memandangku seperti itu kak?” tanya Friska sambil mengangkat alisnya.
Rezky menggeleng, “Gak ada apa-apa. Kamu cantik aja. Calon istriku cantik banget. Aku jadi gak sabar punya putri secantik dirimu.” Ujar Rezky yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Friska karena menurutnya ucapan calon suaminya itu sungguh sangat canggung jika di bahas saat ini.
“Apa kamu malu dengan itu?” tanya Rezky tersenyum menggoda.
“Ck, kakak sudah tahu aku malu. Kenapa tetap saja membahas hal itu. Aku ini menganggap hal itu sangat tabu walaupun ucapanmu itu adalah sebuah harapan tapi aku merasa geli mendengarnya.” Ucap Friska.
Rezky pun tersenyum karena menyadari istrinya itu walaupun seorang bidan yang mumpuni yang biasa pekerjaannya seputar kehamilan dan kelahiran ternyata bisa malu dan menganggap pembahasan yang seperti itu tabu.
“Aku tidak menyangka calon istriku ini adalah seorang bidan tapi kenapa malu membahas hal yang seperti itu.” ujar Rezky tersenyum.
“Hum, jangan menggodaku kak. Sudah jalan saja atau aku turun kalau memang gak jadi pergi. Sudah dari tadi tapi mobilnya gak jalan-jalan juga.” Ujar Friska dengan nada mengancam.
Rezky pun tertawa dengan ancaman calon istrinya itu seperti biasa jalan ninja Friska ketika malu adalah mengancamnya seperti saat ini yang sudah di pastikan dia akan menuruti ucapannya kareka tidak ingin hanya karena masalah sepele semua bisa jadi berantakan nanti. Kan gak bagus nanti jika ada berita bahwa seorang presdir muda gagal menikah karena bertengkar dengan calon istrinya terkait keinginan memiliki seorang putri secantik calon istrinya. Wah, itu pasti akan sangat memalukan nanti.
Rezky pun segera menghidupkan mobilnya lalu tidak lama segera melaju meninggalkan gedung apartemen Friska menuju suatu tempat yang hanya di ketahui oleh Rezky saja karena Friska tidak di beritahu sama sekali ke mana tujuan mereka kali ini. Tapi satu hal yang pasti ini adalah kejutan yang istimewa untuk calon istrinya itu dengan status mereka yang masih lajang satu sama lain. Karena kemungkinan besar untuk kejutan berikutnya pasti sudah dengan status baru mereka sebagai pasangan suami istri.
Friska pun menikmati music yang dia putar melalui headphone-nya. Friska tidak bertanya lagi kemana mereka pergi karena dia tahu berapa kali pun dia bertanya jika Rezky tidak berkenan untuk memberitahunya maka dia tidak akan pernah tahu tujuan mereka kemana. Jadi dari pada membuatnya melakukan sesuatu yang sia-sia lebih baik dia menunggu saja. Lagian dia pasti akan tahu nanti kejutan apa yang di siapkan calon suaminya itu untuknya. Sedikit tidaknya dia sudah mencoba membayangkan kejutan dari calon suaminya itu walaupun bayangan dalam otaknya itu masih abu-abu karena tidak mendapatkan clue.
***
Setelah mengendarai mobil sekitar setengah jam akhirnya mereka tiba di tempat tujuan mereka. Friska melihat sekeliling dan dia tersenyum karena menyadari bahwa ini adalah sebuah pantai karena dia sudah mendengar deru ombak.
“Apa kita ke pantai?” tanya Friska tersenyum menatap calon suaminya itu.
Rezky hanya tersenyum lalu dia segera turun dan membukakan pintu untuk Friska dan Friska pun segera turun tidak lupa dengan tas kecilnya. Friska menghirup udara pantai itu sebelum keduanya melangkah masuk lebih ke dalam bibir pantai itu. Friska tersenyum senang melihat pantai yang sangat indah karena jujur saja ini pertama kalinya ke sini. Dia sudah pernah melihat lokasi pantai ini di sosial media tapi belum pernah ke sini secara langsung karena memang saking sibuknya dia yang tidak punya waktu untuk sekedar healing. Jika pun dia punya waktu pasti lebih memilih healing di kamarnya dengan di temani ranjang empuknya, bantal kesayangannya dan semua barang yang ada di kamarnya. Dia paling malas keluar karena memang tidak punya teman untuk di ajak sementara jika harus mengajak Frisya juga sama dia juga punya kesibukannya sendiri.
“Kakak kok bisa tahu pantai ini?” tanya Friska.
“Hum, itu Robi dan Hiro yang mengatakannya. Apa kamu suka kesini?” tanya Rezky balik.
Friska langsung mengangguk yakin dengan senyum bahagia menghiasi wajahnya. Rezky yang melihat itu sudah cukup mengerti bahwa Friska memang sangat menyukai tempat ini. Sepertinya dia harus memberikan bonus untuk kedua asistennya itu yang sudah memberinya saran tempat ini.
“Ya sudah ayo kita ke sana.” Ajak Rezky menuju salah satu cottage yang ada di sana.
Friska pun mengangguk menyetujui dan keduanya segera menuju cottage itu. Begitu tiba di sana Friska tersenyum lalu menatap Rezky yang berada di belakangnya, “Apa ini kejutan untukku?” tanya Friska.
Rezky pun hanya tersenyum lalu mengangguk, “Ayo masuk!” ajak Rezky lalu membukakan pintu untuk Friska.
Friska pun menurut lalu ikut masuk ke dalam cottage itu yang sudah di hiasi dengan aneka bunga di setiap sudutnya. Sangat cantik. Dan di tengah cottage itu sudah di sediakan sebuah meja dengan dua kursi yang saling berhadapan. Terus di atas mejanya ada buket bunga kesukaan Friska yaitu bunga lily warna biru.
Rezky segera mengajak Friska untuk duduk di kursi itu dan kini keduanya saling duduk berhadapan, “Hum, apa kau menyukainya?” tanya Rezky.
Friska pun mengangguk, “Sangat suka. Ini sangat cantik. Ternyata kakak sangat romantis yaa. Ku pikir gak.” Ujar Friska tertawa.
__ADS_1
Rezky pun tersenyum mendengar tawa calon istrinya itu, “Hm, biasanya setiap orang jika kencan pasti makan malam kalau kita makan siang aja yaa eehh sepertinya itu belum waktunya makan siang juga. Kalau begitu kita beri nama makan apa hari ini?” tanya Rezky.
Friska pun tersenyum melihat dua orang wanita yang sudah membawakan makanan untuk mereka nikmati pagi menjelang siang hari ini. Friska tidak menyangka bahwa ini terlihat ala dinner tapi di lakukan siang hari.
“Karena itu belum waktunya makan siang dan ini masih pagi menjelang siang yang sudah pasti belum ada namanya untuk itu. Jadi kita beri nama ini makan ala Rezky dan Friska.” Ucap Friska.
Rezky pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah. Begitu saja agar tidak akan terjadi pertengkaran antara breakfast dan lunch nanti.” Timpal Rezky.
Friska pun terkekeh mendengar ucapan calon suaminya itu, “Mana lagi nanti jika dinner ikut-ikutan jadi kompor karena gak di ajak.” Balas Friska. Seketika dua orang itu pun tertawa bahagia karena candaan mereka yang entah lucu atau tidak.
“Kalau begitu ayo kita makan ala Rezky dan Friska.” Ujar Rezky.
Friska pun mengangguk lalu mereka menikmati menu yang sudah di hidangkan itu. Menu kesukaan keduanya. Rezky dan Friska saling berbagi makanan satu sama lain.
Kurang lebih setengah jam mereka menikmati makanan mereka itu dan kini keduanya sudah kenyang, “Wah, sepertinya gaun Friska gak akan muat nanti karena kemungkinan berat badan akan naik.”ujar Friska.
“Gak apa-apa. Jika sudah tidak muat kita ganti lagi aja.” Ucap Rezky tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Wah enteng banget tuh bibir ngomong ganti aja. Emang harga gaunnya itu gak mahal apa.” Ucap Friska.
Rezky pun tertawa mendengar ucapan Friska yang selalu menganggap barang apapun mahal. Mungkin dia lupa bahwa calon suaminya ini kaya walaupun tidak sekaya Alvino. Tapi tetap saja jika hanya untuk membeli gaun dia pasti sanggup.
“Aku tahu kakak kaya tapi tetap saja menghamburkan uang itu tidak baik.” ucap Friska tiba-tiba.
“Kamu kok tahu apa yang kakak pikirkan?” tanya Rezky terkejut.
Rezky pun mengikuti Friska dari samping untuk melihat cottage itu dan melihat hamparan air laut yang dari dalam cottage itu.
Friska tersenyum lalu mengambil foto laut dari dalam cottage itu. Begitu dia selesai mengambil foto dia pun berbalik dan terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Rezky yang sudah berlutut di hadapannya dengan cincin dan buket bunga di tangannya.
“Friska Nur Sakila Abraham, menikahlah denganku.” ucap Rezky.
Friska pun tersenyum, “Kebiasaan. Ini bukan pertanyaan yang butuh jawabanku tapi ini adalah sebuah ajakan yang mau tak mau aku harus setuju.” Ujar Friska.
“Itu memang tujuanku. Aku tidak memberiku kesempatan untuk menolak.” Ucap Rezky tersenyum.
Friska pun mengangguk lalu mengambil cincin itu dan memasangnya di jari yang sama yang sudah terpakai cincin saat lamaran mereka, “Bagus gak?” tanya Friska memperlihat jarinya yang sudah tersemat dua cincin berlian itu.
“Cantik. Tapi ayo jawab dulu dong. Kamu setuju atau tidak?” tanya Rezky masih berlutut.
“Bukankah tidak butuh jawaban atau persetujuan dariku. Lagian aku sudah memakai kedua cincinnya. Jadi apa masih butuh jawaban dariku?” tanya Friska.
Rezky pun mengangguk, “Aku ingin mendengarnya darimu secara langsung sayang.” ujar Rezky.
Friska pun mengangguk mengerti, “Tapi masalahnya Friska malas menjawabnya. Gimana dong?” goda Friska. Rezky pun hanya mengerucutkan bibirnya yang membuat Friska sendiri gemas dengan tingkah pria yang berumur 29 tahun itu.
__ADS_1
“Rezky Zakaria Pratama aku setuju untuk menikah denganmu dan jadi istri sekaligus ibu anak-anak kita kelak. Tidak peduli berapa kali pun kau melamarku dan memintaku jawabannya tetap saja. Aku bersedia.” Ucap Friska.
Rezky pun tersenyum senang lalu dia berdiri mendekati Friska hendak memeluk tapi kemudian Friska mundur, “Belum bisa kak. Tahan.” Ucap Friska.
Rezky pun tertawa, “Maaf sayang. Aku refleks saja hingga lupa bahwa kita belum saling memeluk. Ahh apa pernikahan kita tidak bisa di percepat saja.” ucap Rezky.
Friska pun tertawa, “Tahan kak 10 hari lagi kok.” ucap Friska yang membuat Rezky mengerang. Sepuluh hari itu waktu yang sangat terasa seabad untuknya. Dasar tidak sabaran.
Rezky pun mundur karena berdekatan dengan Friska bisa membuatnya melewati batas nanti, “Hum, ya sudahlah 10 hari lagi. Sabar.” Ucap Rezky pada dirinya sendiri.
“Ohiya, aku masih punya hadiah lagi untukmu sayang.” ucap Rezky lalu mengambil sesuatu.
Friska yang melihat Rezky membawa kotak pun tersenyum lalu menerima kotak itu, “Apa aku bisa membukanya?” tanya Friska yang di angguki oleh Rezky.
Friska pun segera membukanya dan dia sangat terharu melihat apa isi di dalam kotak itu, “Pakaian khas Negara J?” tanya Friska menatap Rezky.
“Hum, aku membeli ini saat itu. Untuk itulah aku pulang terlambat. Aku membeli ini dulu dan membeli cincin itu sekaligus. Cincin itu dari Negara J.” ucap Rezky.
“Ahh kakak membuatku terharu. Aku sangat menyukai pakaian Negara J. Terima kasih sudah membelikanku ini. Aku ingin mengambil foto memakai ini.” ucap Friska senang.
“Kita akan mengambil pra wedding dengan pakaian itu.” ucap Rezky.
Friska pun mengangguk, “Yah, kakak benar. Kenapa aku lupa pra wedding kita.” Ujar Friska senang.
“Terima kasih kak. Aku senang dengan kejutan hari ini dan juga hadiah ini sangat ku sukai. Terima kasih.” Ucap Friska lalu menyimpan kembali pakaian itu ke dalam box-nya.
“Jadi apa kamu masih kesal dengan keterlambatanku saat itu?” tanya Rezky.
Friska mengangguk, “Tentu saja masih kesal. Siapa coba yang gak kesal kalau di buat khawatir seperti itu. Aku sangat khawatir.” Ucap Friska.
“Hm, maaf. Kakak janji tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap Rezky tidak ingin merusak momen bahagia mereka hari ini. Friska pun tersenyum lalu mengangguk.
Tidak lama setelah itu mereka pun melanjutkan aktivitas mereka dengan bermain di pantai itu dan baru selesai magrib mereka pulang karena Friska yang ingin melihat sunset. Mereka menikmati kencan mereka hari itu dan tentu saja tidak lupa keduanya mengabadikan momen hari itu yang di abadikan oleh fotografer yang di bawa oleh Rezky.
***
Tidak terasa pernikahan Friska dan Rezky tinggal tiga hari lagi. Semua persiapan sudah selesai. Friska dan Rezky pun sudah tidak di izinkan untuk saling bertemu satu sama lain. Friska juga sudah kembali ke rumah mama Najwa dan papa Khabir sejak dua hari yang lalu setelah menyelesaikan urusan persiapan pernikahan yang harus di lakukan oleh Rezky dan Friska sendiri.
Friska dan Rezky melakukan pra wedding seperti yang sudah di rencanakan dan di tambah dengan pakaian khas Negara J yang sudah jadi kesepakatan mereka di pantai itu.
“Hum, pih lihat putra kita dia sedang sendu karena tidak di izinkan untuk bertemu dengan calon istrinya. Dia ngambek kepada kita pih padahal ini kan bukan kemauan kita tapi memang karena sudah jadi adat istiadat.” Sindir mami Jasmin yang melihat Rezky yang ngambek kepada mereka.
“Gak tahu tuh mih. Dasar tidak sabaran. Padahal kan tinggal tiga hari lagi lalu sudah bisa bertemu secara langsung bahkan bisa saling bercanda tanpa batasan tidak aka nada yang melarang lagi.” Timpal papi Harry.
Rezky yang mendengar sindiran kedua orang tuanya itu menatap keduanya, “Siapa coba yang buat adat istiadat seperti itu. Dasar! Ingin Rezky cari tuh orang dan bertanya padanya kenapa membuat hal yang seperti itu. Bahkan video call pun gak bisa. Ahh padahal Rezky ingin melihatnya. Hanya bisa chatan saja.” ucap Rezky mengeluh.
__ADS_1
“Dasar tukang mengeluh. Sabar saja. Semua itu ada prosesnya.” Ujar mami Jasmin yang hanya di balas dengan helaan nafas oleh Rezky. Dia tetap saja ngambek dengan adat itu.