
Sementara di suatu kediaman di hari yang sama di weekend yang sama ada seorang gadis yang sedang menulis sesuatu di dalam buku diary nya. Saat menuangkan tulisan-tulisan itu dia tersenyum bahagia karena pengalaman yang dia lalui akhir-akhir sangat membahagiakan.
Dia yang jatuh cinta kepada seorang pria dengan sikap coolnya yang ternyata hangat. Pria itu hanya menyembunyikan sikapnya yang sebenarnya di balik sikap dingin dan cool yang sudah menjadi topengnya setiap hari. Dia jatuh cinta pada seorang pria yang dia anggap saat pertemuan pertama ada pria sombong tapi ternyata itu hanya untuk menyembunyikan luka hatinya.
Saking seriusnya gadis itu menulis di dalam diary nya sehingga dia tidak menyadari bahawa ada yang masuk ke kamarnya, “Sedang nulis apa nih, serius amat.” Ucap seseorang dari belakang Irma sehingga membuatnya kaget dan begitu berbalik melihat siapa orang itu Irma langsung menutup buku diarynya.
“Ihh mami kok ngagetin. Kenapa gak mengetuk dulu dan langsung masuk saja.” ucap Irma protes pada maminya.
Mami Calista tersenyum mendengar putrinya yang protes itu, “Mami bukan berniat ngagetin kamu sayang atau pun tidak mengetuk pintu tapi mami sudah mengetuk pintu kamu saja yang gak dengar karena saking seriusnya nulis. Emang apa sih yang putri cantik mami ini tulis sehingga langsung menutupnya.” Ucap Mami Calista tersenyum menggoda sang putri dan melirik buku diary putrinya itu.
Irma langsung memeluk buku diary nya, “Mami gak boleh mengetahuinya. Itu rahasia Irma.” Ucap Irma tersenyum.
Mami Calista pun lagi-lagi tersenyum dan memeluk putrinya itu erat, “Mami juga gak ingin mengetahuinya sayang. Jika memang kamu tidak mengizinkannya. Mami datang ke sini hanya ingin mengatakan bahwa di bawah ada bosmu.” Ujar mami Calista.
Irma yang mendengar ucapan sang mami bingung, “Bos? Bos siapa? Ehh apa pak Dirut? Kak Kenzo?” tanya Irma dengan suara sedikit keras dan dia berdiri dari kursinya.
Mami Calista yang melihat ekspresi kaget yang di tunjukkan sang putri tersenyum lalu kemudian membenarkan ucapan sang putri, “Iya pak dirutmu atau kak Kenzo.” ucap mami Calista terrtawa menggoda sang putri.
__ADS_1
“Ishh mami kenapa tertawa begitu. Jangan menggodaku mih.” Ujar Irma.
“Mami gak menggodamu sayang karena Kenzo memang ada di bawah sedang bicara dengan papimu meminta izin mengajakmu keluar.” Ujar mami Calista.
“Kok bisa dia kesini?” tanya Irma
“Yah bisa lah sayang. Dia kan manusia dan masih hidup. Dia juga punya anggota gerak serta punya mobil yang memudahkannya bisa sampai kesini.” Jawab mami Calista.
“Ish mami bukan itu maksudku. Untuk apa dia kemari? Apa tujuannya?” tanya Irma heran.
Mami Calista pun menghela nafas, “Kan sudah mami katakan tadi dia ingin mengajakmu keluar.” Ujar Mami Calista.
Mami Calista pun tersenyum, “Yakin nih gak mau keluar. Kasihan loh sayang. Dia sudah cape-cape kesini bahkan sudah susah-susah meminta izin kepada papi dan mami masa kamu yang ingin dia ajak gak mau.” Ucap mami Calista.
“Mami sama papi katakan saja bahwa kalian tidak mengizinkan aku pergi. Ayolah mih. Kan biasanya aku juga memang menikmati weekendku di rumah. Jadi ayolah buat alasan yang pas. Aku yakin mami dan papi pasti bisa mencari alasan yang tepat. Aku malas keluar.” Ucap Irma.
“Gak boleh gitu sayang. Kasihan dia.” Ucap Mami Calista.
__ADS_1
“Mami sama papi kenapa yaa kok aneh. Kenapa mengizinkan aku keluar dengannya.” Ucap Irma.
Mami Calista pun tersenyum, “Kami menyukainya nak. Kami merasa dia cocok jadi pasanganmu. Kamu memang masih muda baru 22 tahun tapi usiamu sudah cukup untuk menikah.” Ucap mami Calista.
Irma yang mendengar ucapan sang mami sedih, “Apa mami dan papi sudah gak mau mengurusku lagi sehingga membiarkanku di urus oleh orang lain dan menyuruhku menikah. Menurut mami dan papi mungkin dia cocok untuk jadi pasanganku tapi apa aku pantas jadi istrinya. Dia adalah lelaki baik dan juga sehat, apa pantas bersanding denganku yang penyakitan. Aku--”
“Sstt, jangan bicara sembarangan sayang. Kau adalah putri tunggal kami dan anak satu-satunya. Kami bukan bosan mengurusmu sayang tapi kami juga ingin melihatmu menikah. Kau akan selalu jadi putri kesayangan kami. Dan untuk penyakitmu kamu sudah sembuh sayang. Kenapa masih memikirkannya.” Ucap mami Calista memeluk putrinya itu.
“Mih, aku tahu mami hanya menghiburku. Jika memang aku sudah sembuh maka aku tidak akan mengkonsumsi obat-obatan itu. Aku sudah menerima takdirku ini mih. Aku tidak ingin terbiasa dengan hal-hal luar yang membuatku tergoda untuk menikmatinya. Aku akan menjadi seorang gadis yang cinta rumahnya yang tidak peduli dengan dunia luar. Aku akan tetap menjadi Irma yang biasanya. Beberapa hari ini yang aku lalui dengan orang lain membuatku takut aku akan menginginkannya selamanya padahal fisikku tidak mendukungnya. Aku takut Mih. Aku takut akan terbiasa dengan aktivitas yang biasa orang normal lakukan.” Ucap Irma menangis dalam pelukan maminya.
Mami Calista pun hanya bisa diam mendengar curahan hati putrinya itu. Kini dia mengerti kekhawatiran seperti apa yang di khawatirkan putrinya itu. Putri yang biasanya hanya keluar untuk sekolah dan kuliah saja dan selalu mengurung diri di rumah dan kamarnya. Dan dalam beberapa hari terakhir ini keluar dan berbaur dengan orang baru bahkan sampai pergi ke luar negeri bersama. Mami Calista dan Papi Baskara berpikir bahwa dengan membebaskan putri mereka itu menikmati dunia luar setelah sekian lama hanya di dalam rumah adalah hal yang tepat. Tapi ternyata mereka salah lagi, putri mereka itu mengkhawatirkannya, “Maaf sayang. Maafkan kami yang melarangmu beraktivitas di luar selama ini. Maafkan kami yang tidak pernah menanyakan keinginanmu dan justru menuruti ego kami yang ingin melindungimu.” Ucap mami Calista sedih. Mereka pikir apa yang mereka lakukan sudah hal yang benar tapi ternyata salah.
Sementara di luar kamar itu yang sebenarnya ada papi Baskara dan Kenzo hanya bisa terdiam dan saling memandang, “Maaf nak. Kau harus mendengar sesuatu yang seperti ini.” ucap papi Baskara. Yah, papi Baskara dan Kenzo naik ke lantai atas menyusul mami Calista yang memanggil Irma yang tidak juga kunjung turun.
“Saya yang harusnya minta maaf karena sudah mendengar sesuatu yang tidak seharusnya saya dengar. Maafkan saya. Saya janji bahwa saya tidak mendengar apapun.” Ucap Kenzo.
Papi Baskara pun mengangguk walaupun dia sedih mendengar ungkapan putrinya itu, “Kita kembali ke bawah.” Ucap papi Baskara.
__ADS_1
Kenzo pun mengangguk lalu segera mengikuti papi Baskara yang sudah jalan lebih dulu turun ke bawah. Kenzo menengok kembali ke pintu kamar di mana ada gadis yang dia kagumi di dalamnya yang ternyata menyimpan rasa sakitnya sendiri, “Aku akan mengubahmu. Kita akan membuat dunia kita sendiri. Aku akan menghilangkan kekhawatiranmu itu.” batin Kenzo lalu melanjutkan langkahnya turun tangga.