Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
156


__ADS_3

Di pesawat semua penumpang di minta untuk tetap tenang. Pilot dan para kru pesawat sedang berusaha agar tetap bisa melakukan pendaratan dengan selamat.


“Rezky!” panggil Jemi.


Rezky yang sedang fokus berdoa dan memikirkan apakah dia bisa selamat dan bisa menikah dengan Friska atau tidak pun segera menatap Jemi, “Tenanglah. Kita pasti akan tiba dengan selamat. Kau pasti akan menemui kekasihmu itu.” ujar Jemi menenangkan.


Rezky pun mengangguk yakin dan kembali menutup matanya memfokuskan diri meminta keselamatan.


***


“Kaakk! Bagaimana jika--”


“Jangan berandai. Berdoa saja semua akan selamat.” Potong Freya.


Friska pun yang memang berada dalam pelukan Friska semakin mengeratkan pelukannya. Dia bisa menemukan ketenangan berada di pelukan kakaknya itu.


“Yakinlah. Rezky akan selamat dan akan menikahimu. Dia pasti akan menepati janjinya untukmu. Kau harus percaya padanya.” Ucap Freya menenangkan adik keduanya itu sambil menepuk bahu Friska dengan lembut.


Frisya yang melihat dua saudaranya saling memeluk dia pun ikut mendekat dan memeluk Freya dari samping satunya. Freya tersenyum melihat adik bungsunya itu.


“Kak Ris. Kamu harus percaya dengan apa yang di katakan kak Reya. Kak Rezky pasti akan selamat. Kita mendoakan keselamatannya.” Ujar Frisya menggenggam tangan kakak keduanya itu.


Friska pun mengangguk lalu menatap dua saudaranya yang menguatkannya di saat begini. Jujur saja jika hanya dia yang menjalani semuanya sendiri tanpa ada yang menemani pasti dia tidak akan kuat dan dia tidak akan membayangkan hal mengerikan itu.


“Bagaimana?” tanya Freya melihat Alvino, Fazar, Robi dan Hiro yang baru saja kembali memeriksa masalah pendaratan pesawat di mana ada Rezky di sana.


Ke empat laki-laki itu diam saja tanpa menjawab, “Kakak ipar ada apa? Apa dia selamat?” tanya Friska segera berdiri.


“Tenanglah.” Ujar Alvino singkat.


Friska bukan semakin tenang justru dia semakin khawatir karena jawaban Alvino yang singkat. Friska segera berlari menuju pintu kedatangan meninggalkan mereka yang lain di sana.


Freya menatap dalam suaminya lalu mereka segera menyusul Friska yang sudah berlari lebih dulu menuju pintu kedatangan.


Sekitar lima menit berlalu tapi tidak ada tanda-tanda di pintu kedatangan bahwa akan keluar para penumpang. Friska segera berbalik dan berlari ke pelukan Freya kembali dengan air mata yang sudah menetes di pipinya tanpa bisa di hentikan, “Kaaakk! Dia jahat. Dia meninggalkanku lagi. Lihatlah kak dia selalu saja mempermainkan perasaanku. Saat aku mencintainya dan takut kehilangannya dia justru meninggalkanku. Aku membenci dia.” Ujar Friska menangis dalam pelukan Freya.


“Kamu bisa mengatakannya secara langsung padanya sayang.” ujar Freya lalu membalikkan tubuh adiknya itu di mana Rezky di sana berjalan ke arah mereka dari pintu kedatangan.


Friska yang melihat itu bukan berhenti menangis namun semakin menangis. Rezky di sana yang melihat calon istrinya menangis segera berlari menuju Friska bahkan sampai meninggalkan kopernya, “Sayang! Ada apa menangis? Aku baik-baik saja. Aku selamat.” Ucap Rezky memegang bahu Friska. Ingin rasanya dia memeluk gadis itu dan membawanya ke pelukannya untuk menenangkannya. Tapi sayang seribu sayang dia tidak bisa melakukannya.


“Aku membencimu. Kenapa membuatmu khawatir. Huh, a-aku pikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi. Aku membencimu kak. Sungguh aku membencimu.” Ujar Friska sambil memukul dada Rezky itu.


Rezky membiarkan pukulan dari calon istrinya itu. Dia membiarkan Friska melampiaskan kesedihan dan kekhawatirannya. Pukulan Friska yang awalnya kuat kini melemah dan Rezky pun memegang lengan Friska, “Tatap aku sayang.” ujar Rezky.


Friska pun mengangkat wajahnya sekilas, “Maaf!” ucap Rezky.


“Aku tidak memaafkanmu. Aku membencimu.” Ujar Friska lalu berbalik dan kembali memeluk Freya.


Rezky yang melihat itu pun hanya bisa menatap Friska dengan tatapan sedih.

__ADS_1


Freya yang menyadarinya segera melepas pelukan adik keduanya itu, “Bicaralah dengannya. Bukankah kamu sampai berlari ke bandara untuk menanyakan sesuatu kepadanya. Jangan lupakan tujuanmu datang ke bandara hingga membuat orang khawatir. Kamu sudah dewasa. Sudah tahu mana yang baik dan buruk untukmu. Kami tidak akan ikut campur lagi. Hubby, ayo kita pulang. Aku mengantuk.” Ucap Freya.


Alvino pun yang mendengar ucapan istrinya segera menyahut, “Baiklah my Queen. Ayo kita pulang! Rezky segera selesaikan kesalahpahaman kalian dengan baik. Kami tidak mau mendengar kabar buruk dari kalian. Ingat satu hal lagi kau sudah mengganggu waktu tidur kami. Jadi ingatlah kau berhutang pada kami. Ayo Queen kita pergi.” ujar Alvino lalu langsung menggandeng istrinya itu pergi.


“Ohiya … Rezky, Fazar antarkan kedua adik iparku ke apartemen dalam keadaan utuh. Jangan di apa-apain.” Sambung Alvino sebelum pergi.


“Tuan, kami juga pamit!” ujar Hiro dan Robi bersamaan lalu mereka segera pergi dengan membawa barang milik Rezky dan segera berlalu pergi. Tinggallah di sana Frisya dan Fazar yang masih berdiri jauh menunggu Rezky dan Friska berbaikan.


Rezky mendekati Friska dan menatap mata gadisnya itu, “Maaf! Sudah membuatmu khawatir.” Ujar Rezky.


Friska masih menunduk dan tidak mau menatap Rezky, “Siapa wanita itu?” tanya Friska.


Rezky yang mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Friska itu seketika bingung, “Wanita? Wanita siapa?” Rezky mengangkat dagu Friska agar menatapnya.


“Wanita yang kau temui di Negara J. Wanita yang membuatmu tidak langsung pulang setelah urusan pekerjaan selesai. Siapa dia?” ulang Friska.


Rezky yang mendengar ucapan Friska itu semakin bingung dan dia pun berpikir wanita siapa yang di maksud oleh Friska itu. Wanita di Negara J, seketika Rezky paham, “Apa Zoly maksudmu?” tanya Rezky.


“Kakak bahkan mengenal namanya. Aku tak tahu siapa namanya kak. Hanya saja siapa dia?” Air mata Friska jatuh tanpa bisa di bendung lagi. Dia menangis karena takut jangan sampai apa yang dia pikirkan benar.


“Jangan menangis sayang. Dengarkan penjelasanku. Aku memang bertemu dengan Zoly di sana. Tapi kami tidak sengaja. Bahkan aku mengusirnya. Kenapa kau harus cemburu karena itu. Sumpah, aku tidak bermaksud menemuinya. Aku kenapa tidak ikut pesawat keluargaku memang aku masih punya urusan sebentar di sana. Tapi bukan urusan menemui Zoly. Sumpah, sayang. Kau harus percaya padaku.” Ujar Rezky menggenggam lengan Friska.


Friska menghapus air mata di pipinya dan menatap Rezky, “Jangan bersumpah kak. Aku percaya padamu hanya saja aku butuh konfirmasimu. Kenapa bisa ada foto yang romantis begitu.” Ujar Friska.


“Foto romantis? Maksudnya? Apa ada yang mengirimkan gambar padamu. Ahh sepertinya ada yang ingin membuat kesalahpahaman antara kita. Sungguh sayang. Aku tidak pernah memiliki niat untuk mencari gadis lain lagi. Hanya kau yang aku inginkan. Hanya kau yang aku inginkan untuk jadi istriku, pendampingmu dan ibu dari anak-anakku. Sungguh, hanya kau yang aku cintai dan aku tidak pernah memiliki pemikiran untuk berpaling darimu lagi setelah kesalahpahaman yang terjadi antara kita. Aku bukan orang bodoh yang ingin melakukan kesalahan untuk kedua kali.” Rezky meyakinkan Friska karena memang hanya itu juga yang terjadi.


“Coba mana aku ingin lihat gambarnya?” pinta Rezky.


Friska menatap Rezky lalu mengangguk, “Aku percaya padamu kak. Jadi apa yang harus aku percaya kak?” tanya Friska.


“Kamu harus percaya pada kakak. Aku akan mencari tahu siapa yang berani menghancurkan hubungan kita ini.” ujar Rezky.


“Baiklah. Aku percaya padamu. Aku memaafkanmu untuk itu. Aku percaya kau tidak akan mengulangi perbuatanmu lagi. Aku percaya kau tidak akan merusak rencana pernikahan kita.” Ucap Friska.


“Jadi apa aku sudah dapat maaf?” tanya Rezky memastikan.


“Aku sudah memaafkanmu untuk masalah itu dengan syarat kau harus tahu siapa yang berani memfitnahmu itu. Tapi untuk keterlambatan dan alasan kenapa tidak ikut pesawat keluarga hingga membuat aku khawatir. Aku belum memaafkannya. Aku butuh alasan yang logis untuk itu.” ucap Friska.


Rezky pun mengangguk, “Aku akan menjelaskannya dengan baik. Terima kasih sudah datang menyambutku ke bandara padahal sudah larut malam begini. Maaf sudah membuatmu khawatir dan menangis malam ini.” ujar Rezky.


“Kakak harus menukar air mataku dan rasa khawatirku ini. Aku tidak mau rugi.” Ujar Friska.


Rezky pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah. Aku harus menukarnya dengan apa?” tanya Rezky.


“Gak tahu. Cari saja sendiri.” Ucap Friska lalu segera berbalik dan meninggalkan Rezky di belakangnya. Rezky yang melihat itu pun segera berlari dan menyusul calon istrinya untuk segera pulang.


Di sudut lain Jemi yang melihat itu tersenyum. Dia bersyukur teman barunya itu bisa bertemu dengan calon istrinya. Takdir masih menyatukan mereka. Jemi pun segera keluar dari bandara itu dan menghirup udara malam Negara N. Negara yang sudah dia pilih akan menjadi Negara penyembuh lukanya. Dia berdoa semoga akan bertemu dengan seseorang yang akan menjadi penyembuh lukanya.


“Aw, aduh! Maaf!” ujar seorang gadis yang menabraknya.

__ADS_1


Jemi pun segera berbalik dan melihat siapa yang menabraknya, “Maaf! Saya tidak sengaja. Anda gak apa-apa kan?” tanya gadis itu lembut hingga menghipnotis Jemi.


“Tuan, anda baik-baik saja.” ujar gadis itu sambil melambaikan tangannya di wajah Jemi.


Jemi segera tersadar, “Ah iya saya gak apa-apa nona.” Ujar Jemi.


“Syukurlah jika begitu. Maaf sudah menabrak anda. Saya permisi. Sekali lagi maaf.” Ujar gadis itu segera pergi meninggalkan Jemi.


Jemi mengelus dadanya dan menatap gadis yang menabraknya itu sampai menghilang dari pandangannya, “Gadis yang cantik dan lembut. Gadis cantik kita akan bertemu lagi. Aku akan meminta kepada takdir agar mempertemukan kita dan aku bisa melihatmu dengan jelas.” Ujar Jemi lalu segera menuju mobil yang sudah menjemputnya.


Di sisi lain Frisya mengelus dahinya karena menabrak seseorang akibat dia yang mengantuk, “Ada apa? Kenapa dengan dahimu?” tanya Fazar.


Frisya menggeleng, “Gak apa-apa kok. Aku baik-baik saja. Hanya saja tadi habis dari toilet menabrak seseorang karena mengantuk.” Ujar Frisya.


Fazar pun menatap dalam kepada Frisya itu untuk mencari kebohongan di sana. Tapi dia tidak menemukannya, “Ish kakak tidak percaya padaku? Aku ini tidak membohongimu. Aku memang menabrak seseorang tadi tapi untungnya dia baik. Jadi tidak mempermasalahkannya.” Ujar Frisya.


“Makanya lain kali kalau mau di temani itu mau. Ke toilet sendiri. Untung saja gak ada yang menculikmu.” Ujar Fazar kesal.


“Ish kakak jahat. Kok mendoakan aku di culik.” Ujar Frisya mengerucutkan bibirnya.


“Gak ada yang mendoakanmu yang jelek. Salah sendiri gak mau di temani. Jadi nabrak orang kan. Masih untuk orang yang di tabrak. Bagaimana jika itu hantu.” Ujar Fazar.


Frisya yang mendengar ucapan Fazar tertawa, “Kakak mencoba menakutiku dengan hantu. Aku bukan anak kecil yang akan takut dengan hantu kak. Aku tidak takut. Jadi jangan mencoba menakutiku. Jika kau memang cemburu karena aku menabrak seseorang katakan saja. Gak usah pakai drama menakutiku dengan hantu. Gak mempan!” ujar Frisya.


Fazar yang mendengar itu pun tersenyum, “Ya sudah kamu memang tidak takut dengan hantu. Kamu memang pemberani tapi tetap saja lain kali jangan menolak lagi jika di temani ke toilet. Aku gak mau kau kenapa-kenapa. Terus tenang saja aku bukan laki-laki mesum yang akan memanfaatkanmu.” Ujar Fazar.


Frisya pun menarik nafas kasar, “Ya yah baiklah. Sudahlah. Ayo kita pulang. Aku mengantuk.“ ujar Frisya segera membuka pintu mobil dan naik.


Fazar pun segera naik dan tidak lama mobil itu melaju meninggalkan bandara.


***


Di sisi Friska dan Rezky kini keduanya pun segera menuju mobil yang di tinggalkan oleh Robi. Rezky segera membukakan pintu untuk Friska lalu dia pun segera masuk ke mobil begitu memastikan Friska masuk ke mobil. Lalu tidak lama setelah itu mobil pun melaju meninggalkan bandara.


“Kak, kau harus menjelaskan semuanya padaku.” Ujar Friska.


Rezky mengangguk, “Tentu sayang. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Aku juga akan segera melakukan cuti agar kita bisa segera menyiapkan pernikahan kita.” Ujar Rezky.


“Jelaskan dulu semuanya. Baru kita memulai persiapan pernikahan. Aku tidak ingin akan ada masalah lagi nantinya.” Ujar Friska tegas.


Rezky pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah sayang semua akan sesuai kemauanmu.” Ujar Rezky.


“Ohiya, aku saat pesawat sebelum lepas landas mendapat laporan dari Robi bahwa ada yang merilis artikelmu buruk untukmu hari ini. Apa benar?” tanya Rezky.


Friska mengangkat bahunya, “Aku gak tahu dan aku gak peduli tentang itu. Biarkan saja mereka bicara apa yang terpenting aku tidak seperti yang mereka tuduhkan. Kenapa aku harus memusingkan pendapat orang lain jika memang aku tidak melakukannya hal itu. Aku tidak peduli tentang itu. Terserah mereka mau menerbitkan sebanyak artikel buruk untukku. Aku tidak peduli.” Ujar Friska.


“Tapi aku peduli. Aku akan mencari tahu siapa dia. Aku tidak rela calon istriku di hina seperti itu.” ucap Rezky.


“Terserahlah. Tapi aku yakin semua artikel itu sudah selesai.” Ujar Friska yakin.

__ADS_1


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa ada artikel seperti itu?” tanya Rezky.


“Ada masalah sedikit yang terjadi tadi. Semuanya terjadi dengan cepat dan begitu saja sehingga pasti akan muncul artikel yang buruk dan positif. Tapi semua masalahnya sudah selesai. Jika kakak penasaran maka tanyakan itu kepada asistenmu. Aku malas bicara. Aku mengantuk.” Ujar Friska. Rezky pun tersenyum lalu mengangguk. Dia pun diam saja tidak bertanya lagi.


__ADS_2