Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
139


__ADS_3

Kini Freya sibuk membuat makanan untuk Kiana dan juga pesanan kelima anak-anaknya yang masing-masing memesan makanan yang berbeda. Freya saat membuat makanan untuk kelima anaknya di bantu oleh para ART dan juga anak-anaknya yang menemaninya dengan duduk di dapur. Freya tersenyum melihat kelima anaknya yang memperhatikannya saat memasak. Memang terlihat sederhana namun dia menyukainya saat melihat anak-anaknya bahagia.


Sekitar satu jam akhirnya Freya selesai memasak dan Kiana segera makan makanan yang di buat kakaknya itu dengan cepat begitu juga dengan kelima anak-anak Freya yang masing-masing makan makanan yang sudah di pesan mereka. Kelima anak Freya dan Alvino itu selain makan makanan masing-masing mereka juga saling berbagi satu sama lain. Pada akhirnya mereka merasakan semua makanan yang di buat Freya.


“Terima kasih bunda. Azlen jadi sangat kenyang hari ini. Azlen sudah makan dua kali malam ini. Sepertinya kelebihan karbohidrat.” Ujar Azlen.


Freya pun tersenyum menanggapi ucapan putranya itu, “Jangan berisik.” Ucap Azlan. Azlen pun cemberut mendengar ucapan kakak kembarnya itu.


“Azlan gak boleh begitu loh. Bunda gak ngajarin gitu kan. Bunda bukan membela Azlen. Tapi kalian sendiri yang ingin Azlen gak dingin. Giliran dia ribut kalian juga terganggu. Jadi apa mau Azlan sebenarnya.” Ucap Freya lembut.


“Bun itu hanya bercanda. Azlan juga suka dia ribut dari pada diam seperti patung. Itu hanya bercanda bunda.” Ucap Azlan menatap Freya dalam.


Freya pun tersenyum, “Baiklah. Jika itu memang candaan. Coba tanya kepada Azlen apa dia marah dan tersinggung. Jika dia marah Azlan tahu kan harus apa?” tanya Freya menatap putra kembarnya itu.


Azlan mengangguk lalu segera menatap kembarannya, “Jangan menatapku begitu. Aku sudah memaafkanmu walaupun aku sedikit sedih tadi.” Ujar Azlen risih ketika dia menjadi pusat perhatian.


Azlan pun tersenyum lalu memeluk kembarannya itu, “Maafkan Azlen. Aku hanya bercanda tadi. Aku menyukaimu apa pun bentukmu. Mau kan dingin kaya kulkas 100 pintu dan tembok datar itu atau kau berisik. Aku tetap menyayangimu. Kau itu adikku walau beda beberapa menit doang. Kita sudah berbagi satu sama lain sejak di perut bunda. Jadi kita harus saling menyayangi kan. Hum, tapi aku iri kenapa kita berbagi semuanya. Wajah mirip tapi kenapa kau kebih pintar dariku.” Ucap Azlan.


Azlen yang mendengar itu segera mendorong kening kembarannya itu, “Ngomong apa kau Azlan. Perkataan macam apa itu? Aku memang memiliki kecerdasan sedikit lebih tinggi darimu tapi apa kau pikir aku tidak iri padamu yang bisa dengan mudah berbaur dengan orang lain dan juga bisa mengambil keputusan dengan cepat saat genting. Aku tidak bisa melakukan kedua hal itu. Aku berusaha mencobanya tapi tidak pernah bisa.” Ucap Azlen.


Freya tersenyum mendengar curahan hati kedua putra kembarnya itu lalu segera mendekati keduanya dan memeluknya, “Hmm,, kalian itu putra bunda yang punya kehebatan di bidang masing-masing. Jangan saling iri satu sama lain. Kalian harus saling membantu. Kalian sama di mata bunda dan ayah.” Ujar Freya.

__ADS_1


“Kami tahu itu bun. Itu hanya candaan saja agar tidak kaku. Kami tidak akan menyimpan rasa iri jadi kebencian tapi akan kami jadikan motivasi.” Ujar Azlan di angguki Azlen.


Alvino yang melihat itu ikut tersenyum karena seperti biasa anak-anaknya itu jika punya masalah pasti bisa di selesaikan dengan cepat. Kiana dan Zean yang melihat itu juga ikut tersenyum.


“Bunda, abang juga ingin di peluk.” Ucap Anand mendekati Freya dan dua adiknya itu.


Freya tersenyum lalu menatap putra sulungnya dan memeluknya. Seperti biasa para putra selalu dekat dengan ibunya sementara para putri dekat dengan ayahnya. Itu juga yang terjadi kepada anak-anak Freya dan Alvino walau pada kenyataannya Freya dan Alvino sendiri menyayangi semua anaknya sama rata.


***


Tepat pukul 21.05 Kenzo tiba di kediaman Freya dan Alvino setelah mengurus sesuatu dan begitu dia masuk dia tersenyum melihat Kiana ada di sana, “Kak, kapan kau tiba? Aku pikir kau tidak akan datang.” ucap Kenzo berhambur dalam pelukan kakaknya itu. Dia tidak mempedulikan ada Zean di sana. Dia hanya ingin melampiaskan rindunya kepada kakak kandungnya itu.


Kiana tersenyum lalu membalas pelukan adiknya itu, “Sudah sekitar dua jam kakak tiba. Kenapa kau baru kesini?” tanya Kiana melepas pelukannya.


“Kak Reya kok gak bilang kak Kia sudah tiba. Aku kan bisa menjemput mereka.” lanjut Kenzo.


“Hmm, kakak gak tahu yaa Kiana akan ke sini. Bukankah kamu yang menelpon kakakmu? Kenapa kau tidak bertanya mereka berangkatnya kapan.” Ucap Freya.


“Ish iya juga yaa. Kenapa aku jadi pelupa. Tapi kak Kia gak mengatakan dia akan berangkat jam berapa.” Ucap Kenzo.


“Kamu gak bertanya dek.” ujar Kiana.

__ADS_1


“Tuh salahmu sendiri Kenzo. Jadi jangan menyalahkan kakak.” Ucap Freya.


“Huh, aku memang tidak akan menang berdebat denganmu kak Reya.” ucap Kenzo lalu segera duduk di sofa dengan pasrah


Ke empat orang di ruangan itu pun terkekeh melihat sikap pasrah Kenzo, “Semangatlah adik ipar kan besok kau akan melamar seorang gadis.” Ujar Zean.


Kenzo pun tersenyum mendengar ucapan kakak iparnya itu, “Ahh kau benar kakak ipar dari pada aku berdebat hal yang tidak penting. Lebih baik aku makan dan menyegarkan pikiranku untuk lamaran besok.” Ucap Kenzo lalu dia segera berdiri menuju dapur mencari makan di rumah Freya itu.


Ke empat orang di ruang keluarga itu pun hanya tersenyum melihat Kenzo yang pergi, “Kau hebat adik ipar bisa membangkitkan semangat dalam dirinya.” Ujar Alvino.


“Bukankah itu memang sudah seharusnya. Dia harus semangat.” Ucap Zean.


“Kia, ayo ikut aku.” Ajak Freya.


Kiana pun segera berdiri dan ikut Freya menuju lantai dua. Di sana ternyata Freya hanya memberikan pakaian untuk lamaran besok, “Hmm, kak aku ingin menanyakan sesuatu.“ ujar Kiana.


Freya yang serius memilah pakaian untuk seluruh keluarga pun menatap Kiana, “Ada apa? Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Freya.


“Kak, apa keluarga Irma menerima Kenzo dengan baik? Emm maksudku kak Kenzo dan aku adalah anak yatim piatu. Aku tidak ingin adikku tidak di terima calon mertuanya.” Ucap Kiana menyuarakan keresahannya itu.


Freya pun tersenyum lalu duduk menatap Kiana, “Kenzo mereka menerimanya dengan baik. Bahkan sebelum kakak tahu Kenzo menyukai gadis itu, orang tua Irma sudah memilihnya jadi suami putri mereka. Tapi tentu saja ada yang harus kita bayar untuk itu. Irma memiliki penyakit.” Ucap Freya.

__ADS_1


“Aku tidak mempermasalahkan penyakitnya kak. Selama Kenzo bahagia dengannya aku akan menerimanya jadi adik iparku. Selama Kenzo di terima dalam keluarga itu aku pun akan menyayangi adik iparku dengan baik. Aku yakin penyakit Irma bisa sembuh dan kita akan mengupayakan itu.” ucap Kiana.


Freya pun mengangguk, “Emm, ya sudah jika begitu. Berarti gak ada masalah lagi. Aku juga menyukai Irma dia gadis yang sopan dan yang terpenting Kenzo sendiri yang memilihnya.” Ucap Freya.


__ADS_2