Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
138


__ADS_3

Sementara di bandara jet pribadi keluarga Andreas baru saja mendarat dengan selamat. Zean dan Kiana segera turun setelah kurang lebih empat jam mengudara. Keduanya segera menyelesaikan semua urusan di bandara lalu segera keluar bandara dan menuju mobil yang sudah menunggu keduanya.


“Siapa yang mengirimmu?” tanya Zean kepada supir yang menjemput mereka.


“Tuan Vino dan nyonya Freya yang mengirim saya tuan. Mereka sudah menunggu kedatangan kalian di kediaman.” Jawab supir itu.


Zean dan Kiana pun tersenyum. Sepertinya Freya dan Alvino itu memiliki mata-mata yang hebat sehingga bisa mengirimkan supir di waktu yang tepat. Kiana dan Zean pun segera naik mobil yang menjemput keduanya dan segera meninggalkan bandara menuju kediaman Freya dan Alvino.


Kurang lebih dua puluh menit dalam perjalanan akhirnya kini mobil yang menjemput mereka sudah tiba di kediaman Freya dan Alvino dan di pintu rumah sudah ada Freya dan Alvino yang menyambut mereka.


Kiana tersenyum menatap Freya dan segera berlari kecil mendekati Freya, “Kak, aku merindukanmu.” Ujar Kiana memeluk Freya.


Freya pun tersenyum lalu membalas pelukan adiknya itu, “Kakak juga merindukanmu. Ayo masuk. Empat jam di pesawat pasti melelahkan.” Ajak Freya segera menggandeng Kiana masuk.


Sementara Alvino dan Zean pun segera masuk juga mengikuti istri mereka masuk, “Selamat datang kembali ke Negara ini bro.” ucap Alvino.


“Terima kasih kakak ipar atas sambutannya. Terima kasih juga sudah mengirimkan supir untuk menjemput kami.” ucap Zean. Alvino tersenyum mendengar hal itu dan mengangguk-ngangguk saja.


“Kak, Kia pengen makan tapi makanan buatan kakak. Please yaa kak. Tolong!” pinta Kiana saat mereka akan duduk di sofa.


Freya pun tersenyum mendengar permintaan Kiana itu, “Hmm, baiklah. Kau ingin makan apa?” tanya Freya.


“Apa saja yang penting kau yang membuatnya. Maaf yaa kak merepotkanmu tapi entah kenapa aku pengen makanan buatanmu.” Ucap Kiana.


Freya kembali tersenyum, “Gak apa-apa dong. Sudah kamu tunggu di sini biar kakak akan buatkan makanan untukmu.” Ujar Freya.


“Aku ikut kak.” Ucap Kiana. Freya pun mengangguk dan tersenyum lalu keduanya segera menuju dapur meninggalkan Alvino dan Zean di ruang keluarga itu.


“Kak, di mana para keponakanku?” tanya Kiana karena dia tidak melihat anak-anak kakaknya itu.


“Mereka sedang menghafal dek.” jawab Freya.

__ADS_1


Kiana pun mengangguk dan baru ingat memang malam begini jadwal anak-anak kakaknya itu menghafal.


“Nyonya butuh apa? Biar kami buatkan.” Ucap bi Wati.


“Bi, malam ini aku ingin memasak sendiri karena adikku ini ingin makan makanan buatanku. Kalian bisa istirahat.” Ucap Freya.


“Bi, ayo sana pergilah. Istirahat.” Lanjut Freya melihat ketiga ART-nya itu masih di sana menunggunya.


“Em, kami di sini saja nyonya. Kami membantu nyonya.” Ucap bi Ani.


“Bi aku yang meminta kalian istirahat. Tenang saja aku bisa sendiri. Jika kalian tidak menurut maka gaji kalian bulan ini gak ada cair.” Ancam Freya.


“Gak apa-apa nyonya gak cair. Yang terpenting kami tetap bekerja di sini.” Ucap bi Susi di angguki oleh bi Ani dan bi Wati.


Freya yang melihat itu hanya bisa menghela nafas, ”Ya sudah terserah kalian saja. Saya pusing.” Ucap Freya tidak habis pikir dengan para ART-nya itu yang tidak takut tidak di gaji.


“Kalau nyonya pusing. Biar kami saja.” ucap bi Wati.


Freya yang melihat itu lagi-lagi hanya bisa menghela nafas, “Ouh terserahlah kalian saja. Yang terpenting jangan ganggu aku” ucap Freya. Kiana yang melihat itu hanya tersenyum karena sepertinya kakaknya itu sangat di sayangi dan di hormati oleh ART-nya. Freya mengabaikan para ART-nya itu dan fokus memasak untuk Kiana.


“Mama!” panggil Azwa berlari keluar lift menuju dapur melihat Kiana hingga tiba-tiba dia terjatuh.


Kiana yang melihat itu segera berlari memeluk keponakannya itu, “Mana yang sakit sayang?” tanya Kiana khawatir. Zean dan Alvino pun segera mendekat mendengar ada yang terjatuh.


Azwa menatap Kiana yang khawatir lalu dia tersenyum, “Gak ada yang sakit mah. Azwa baik-baik aja.” Ucapnya tersenyum.


Kiana pun menatap keponakannya memastikan apa benar memang Azwa tidak kenapa-kenapa, “Lain kali jangan lari-lari lagi ya sayang.” ucap Kiana lembut.


Azwa pun mengangguk, “Baik mama.” Ucap Azwa. Kiana pun segera menggendong keponakannya itu.


“Mama Kia jangan gendong dia. Dia menjadi manja dan tidak mendengar ketika di larang jika di gendong.” Ucap Anind kesal karena adiknya itu sudah di minta jangan lari-lari tapi tidak di gubris akhirnya terjatuh.

__ADS_1


“Mama turunkan Azwa.” Pinta Azwa kepada Kiana.


Kiana pun segera menuruti permintaan keponakannya itu dan segera menurunkannya. Azwa segera mendekati Anind yang dia tahu sedang marah padanya. Azwa segera meraih tangan Anind, “Maaf kakak. Azwa janji tidak akan mengulanginya lagi. Azwa tidak akan lari-lari lagi dan tidak akan terjatuh lagi. Azwa akan ingat dan menurut semua perkataan kakak. Maafkan Azwa kakak. Jangan marah kepada Azwa.” Ucap Azwa penuh rasa bersalah.


Anind pun segera berlutut menyamakan tinggi dengan adik perempuannya itu dan memeluknya, “Janji yaa jangan di ulangin lagi. Kamu kan tahu kakak gak mau kamu terluka.” Ucap Anind lembut.


Azwa mengangguk, “Terima kasih kakak. Azwa sayang kakak.” Bisik Azwa.


“Kakak juga sayang kamu.” Balas Azwa.


Kiana yang melihat itu terharu sampai meneteskan air matanya. Freya dan Alvino sangat hebat menanamkan kasih sayang antar saudara kepada anak-anak mereka. Sementara Freya dan Alvino hanya saling menatap satu sama lain dan tersenyum.


“Kakak ipar kalian hebat bisa mengajarkan kasih sayang tulus seperti itu kepada mereka. Kalian harus mengajari kami tata cara mendidik anak.” ucap Zean.


Alvino tersenyum mendengar hal itu, “Aku yakin kalian pun bisa dan jadi orang tua yang hebat bagi anak kalian nanti.” Balas Alvino lalu segera mendekati kedua putrinya yang saling berpelukan.


“Hmm, apa ayah bisa ikut bergabung.” Ucap Alvino.


Anind dan Azwa pun melepas pelukan mereka dan menatap ayah mereka itu dan segera berhambur dalam pelukan Alvino. Freya yang melihat itu hanya tersenyum. Memang kedua putrinya itu lebih dekat dengan Alvino di banding dirinya.


“Bunda, masak apa?” tanya Azlen mendekati Freya.


Freya pun tersenyum mendengar pertanyaan putranya itu, “Bunda masak ayam kecap untuk mama Kia nak.” jawab Freya.


Azlen mengangguk, “Ada apa? Apa Azlen mau bunda buatkan sesuatu?” tanya Freya menatap putranya itu.


Azlen tersenyum lalu menatap bundanya itu dengan tatapan berbinar, “Bunda akan membuatkannya.” Ujar Freya langsung tahu apa yang di inginkan putranya itu.


Azlen pun tersenyum kembali dan mendekati Freya lalu mengecup pipi bundanya itu, “Terima kasih bunda.” Ujarnya. Freya pun tersenyum lalu mengangguk.


“Hmm, anak-anak bunda yang lain ingin di buatkan apa juga?” tanya Freya menatap ke empat anaknya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2