
Tidak terasa weekend sudah berakhir dan kini kembali dengan weekday terlebih hari senin yang menurut semua orang hari yang paling melelahkan.
Di sebuah rumah, “Nak, kau pergilah bekerja. Papa sudah baik-baik aja kok.” ucap papa Vian bicara kepada sang putri yang baru saja selesai menyuapinya sarapan.
Kiana pun meletakkan piring di atas meja lalu menatap papanya dalam, “Pah, kenapa kau selalu saja menyuruhku bekerja. Papa tenanglah kak Reya sudah memberiku cuti. Aku ingin menjagamu pah. Lagian juga ada Kenzo yang akan membiayai kita.” Ucap Kiana lembut.
“Kia, papa tahu tapi kau sudah lama tidak masuk kerja. Papa juga sudah baik-baik aja. Tenanglah nak, papa akan baik-baik aja. Lagian ada tante Diana juga kan.” Ucap papa Vian membujuk sang putri untuk masuk kerja karena Kiana sudah lama tidak bekerja dan hanya merawatnya.
Kiana yang mendengar itu pun menghela nafas kasar, “Baiklah, Kiana akan ke klinik. Tapi ingat papa harus menghubungi Kia jika ada sesuatu yang terjadi.” Ucap Kiana mengalah.
Papa Vian pun segera mengangguk lalu tersenyum.
Kiana yang melihat senyuman di wajah papanya itu hanya bisa menghela nafas lalu segera berdiri dan segera keluar membawa bekas sarapan sang papa sekalian dia juga mau siap-siap ke klinik.
***
Jika di kediaman Kiana dia di paksa untuk masuk kerja, lain juga yang terjadi di kediaman Irma dan orang tuanya. Kini Irma sedang sarapan bersama orang tuanya di meja makan, “Nak, apa bosmu galak?” tanya sang mami hati-hati pasalnya dia memang belum pernah menanyakan ini dan putrinya itu juga tidak mengatakan apapun terkait urusan kantornya.
Irma yang sedang makan pun menatap sang mami, “Bosku sih baik mih tapi sayang sangat dingin dan cuek tapi untung saja aku hanya bekerja untuk kak Grey. Aku gak bisa membayangkan jika menjadi kak Grey yang bertugas sebagai sekretaris pak Dirut.” Jelas Irma.
“Papi dengar bosmu itu masih muda. Emang iya?” tanya papi Baskara pura-pura gak tahu pasalnya dia sang istri sudah tahu siapa bosnya dan juga sang putri bekerja sebagai apa di perusahaan itu. Mereka juga tahu kejadian saat sang putri di fitnah, saat itu papi Baskara ingin segera mengerahkan kekuasaannya untuk melindungi putri tunggalnya tapi ternyata perusahaan tempat di mana putrinya magang sangatlah menjunjung aturan hingga tanpa dia turun tangan mahasiswi yang membully putrinya langsung di kembalikan. Dia kagum dengan anak muda itu yang menjunjung aturan perusahaan pantas saja dia yang hanya adik sepupu istri Alvino namun Alvino mempercayakan cabang perusahaannya kepada anak muda itu.
__ADS_1
Irma mengangguk, “Dia masih muda pih juga sangat tampan tapi ya begitu seperti yang sudah aku katakan dia itu dingin.” Jawab Irma.
Papi Baskara dan mami Calista yang mendengar sang putri untuk pertama kalinya memuji seorang pria tampan tersenyum, “Wah tampan ya?” ucap mami Calista tersenyum menggoda.
Irma yang menyadari godaan sang mami langsung menatap sang mami, “Mih, jangan menggodaku. Aku tidak mungkin punya perasaan kepada laki-laki dingin seperti itu. Aku hanya mengatakan faktanya saja bahwa dia itu tampan.” Ujar Irma.
Mami Calista pun mengangguk saja, “Iya mami tahu nak tapi hanya saja mami merasa aneh kok tiba-tiba putri kami yang tidak pernah mengatakan seorang pria tampan kali ini tiba-tiba mengatakan bosnya tampan.” Timpal mami Calista.
Irma pun hanya diam saja, “Papi setuju kok nak jika kau dengan bosmu itu.” ucap papi Baskara ikut-ikutan menggoda putrinya.
Irma pun segera menatap sang papi, “Papi jangan ikut-ikutan mami dong. Masa iya aku harus hidup dengan manusia dingin seperti itu. Ish, dalam bayangan saja terasa sangat ahh gak mau.” Ucap Irma.
Irma segera menyelesaikan sarapannya lalu dia segera beranjak menuju kamar untuk mengambil tasnya, “Pih, sepertinya putri kita--” ucap mami Calista menatap sang suami.
“Kita lihat saja mih. Lagian juga dia mengatakan anak muda itu sangatlah dingin dan dia tidak bisa hidup dengan orang seperti itu tapi entah kenapa aku menyukai anak muda itu.” ucap papi Baskara.
“Mami juga menyukainya pih sepertinya dia cocok jadi menantu kita.” ucap mami Calista.
“Semoga saja Allah meridhoi-nya.” Timpal papi Baskara.
Irma kini terlihat turun dari kamarnya sudah lengkap dengan tasnya, “Pih, Mih, Irma berangkat dulu yaa.” Ucap Irma menyalami dan mengecup pipi kedua orang tuanya bergantian.
__ADS_1
Papi Baskara dan mami Calista mengangguk, “Hati-hati di jalan nak.” ucap mami Calista yang di angguki oleh Irma.
Irma segera menuju luar dan segera naik mobilnya di mana sudah ada supir pribadinya yang akan mengantarnya ke tempat tujuan. Setelah dua puluh menit akhirnya Irma tiba di tempat di mana dia selalu turun. Irma pun segera turun, “Terima kasih paman.” Ucap Irma lalu mulai berjalan menuju kantor yang masih sekitar seratus meter itu.
“Itu bukannya--” ucap Kenzo yang mengenali siapa gadis yang berjalan di trotoar jalan di depannya.
Kenzo pun segera melajukan mobilnya menuju kantor dan segera memarkirkan mobilnya di tempar parkir. Dia pun melihat Irma yang masuk ke dalam perusahaan, “Kenapa dia turun di sana dan memilih berjalan ke sini. Mobil yang mengantar gadis itu juga sepertinya bukan mobil sembarangan. Itu tidak terlihat seperti taxi. Aku yakin ada yang aneh dengan gadis itu.” gumam Kenzo menatap Irma yang sudah menghilang di balik pintu masuk kantor. Kenzo memang melihat Irma keluar dari mobilnya tadi.
Kenzo pun setelah memikirkan dugaannya tentang Irma, dia pun segera ikut masuk ke kantor dan menuju ruangannya. Begitu tiba di gedung di mana ruangannya berada dan melewati meja sekretaris yang di sana sudah ada sekretarisnya dan Irma dia melihat sekilas ke arah Irma lalu melenggak masuk ke ruangannya.
Grey yang menyadari itu pun menatap Irma bingung, “Irma!” panggilnya.
Irma yang sedang sibuk mencatat apa-apa yang harus dia lakukan hari ini menatap Grey, “Iya kak.” Jawab Irma.
“Kamu tadi di tatap oleh pak Dirut loh.” Ucap Grey lirih.
Irma yang mendengar ucapan Grey mengangkat alisnya bingung, “Masa sih kak? Mungkin kakak salah lihat kali. Mungkin dia melihat ke arah kakak.” Ucap Irma.
Grey langsung menggeleng, “Gak dek. Kakak yakin kau yang di lihatnya. Apa tadi kau ketemu dengan pak Dirut di bawah?” tanya Grey.
Irma menggeleng karena dia memang tidak memang tidak melihat Kenzo. Grey pun semakin bingung begitu melihat gelengan kepala Irma, “Lalu kenapa yaa?” tanya Grey yang di jawab gelengan oleh Irma pertanda dia juga bingung. Saat mereka berpikir akan hal itu tiba-tiba Kenzo meminta Grey ke ruangannya.
__ADS_1