
Sekitar 30 menit kemudian kini Friska dan mami Sinta tiba di mall yang masih di bawah naungan Aryawiguna Group. Mami Sinta dan Friska berjalan beriringan memasuki mall itu, “Nak, kamu mau makan dulu atau belanja dulu?” tanya mami Sinta.
Friska menoleh menatap ibu mertua kakaknya itu yang memang juga dekat dengannya dan Frisya yang sudah menganggap mereka putrinya, “Emm, terserah mami saja mau kemana.” Jawab Friska.
“Sudah mami duga jawaban itu yang akan keluar darimu. Biasa jawaba andalan anak gadis ketika di minta memilih.” Ujar mami Sinta.
Friska tersenyum mendengar hal itu, “Jika mami tahu itu jawabannya kenapa masih bertanya.” Ucap Friska.
“Yah mami hanya ingin tahu aja apa para gadis sekarang jawabannya sudah berubah atau masih dan ternyata masih sama saja. Terserah menjadi andalan mereka.” ucap mami Sinta.
Friska terkekeh, “Gak akan berubah mi walau semakin kesini perkembangan nyaman tapi kalimat andalan para anak gadis dari dulu sampai sekarang masih sama karena kamusnya sulit untuk diperbaharui.” Timpal Friska.
Mami Sinta pun tertawa mendengar jawaban dari Friska adik dari menantu kesayangannya, “Kau benar nak dan bukan anak gadis saja bahkan para ibu-ibu juga begitu, intinya jika mereka masih seorang wanita maka mereka menganut satu kamu yang sama yang sulit di perbaharui.” Ujar Mami Sinta. Friska pun mengangguk lalu kedua wanita berbeda generasi itu memutuskan belanja terlebih dahulu karena mereka memang baru makan dari rumah. Nanti setelah belanja mereka akan mampir ke restoran.
Mami Sinta dan Friska memasuki toko pakaian branded. Mereka melihat-lihat lalu mami Sinta membelikan satu pakaian yang cocok untuk Friska, sebenarnya Friska menolak tapi emang dasar emak-emak tidak akan bisa di tolak jadi pada akhirnya Friska-lah yang pasrah saja.
Setelah dari toko pakaian branded mereka menuju toko tas yang juga sudah pasti branded. Begitu masuk Friska dan Mami Sinta melihat-lihat dulu, Friska juga melihat jejeran tas mahal itu dari berbagai brand terkenal dunia. Dia hanya melihat tidak bermaksud membeli karena kantongnya gak sanggup walau dia memiliki tabungan dari gajinya setelah membayar cicilan mobil dia tentu tidak akan menggunakan tabungan itu hanya untuk membeli barang branded yang kemungkinan besar jarang dia pakai karena dia yang jarang pergi ke pesta.
Tiba-tiba, “Eehh Jasmin kau di sini juga rupanya.” Sapa mami Sinta begitu melihat temannya berada di toko tas itu.
__ADS_1
“Biasalah aku suntuk di rumah. Jadi memutuskan jalan-jalan kesini karena memang sudah lama juga aku gak shoping. Ohiya kau dengan siapa datang ke sini? Apakah dengan menantu cantikmu itu?” tanya mami Jasmin.
Mami Sinta menggeleng, “Aku bersama adiknya karena menantuku itu banyak urusan dan jika mengajaknya juga butuh banyak prosedur. Kau kan tahu putraku itu sangatlah posesif, bukan menantuku yang sulit di bujuk tapi membujuk putraku untuk mengizinkannya itu yang sulit.” Jawab mami Sinta.
Mami Jasmin terkekeh mendengar hal itu, “Ohiya lalu di mana gadis itu?” tanya Mami Jasmin.
Mami Sinta menunjuk ke arah Friska yang serius melihat-lihat, “Apa itu dia?” tanya Mami Jasmin lagi dan mami Sinta hanya mengangguk mengiyakan.
Kedua ibu sosialita itu mendekat ke arah Friska, “Nak, apa kau sudah selesai melihat dan ada yang kau suka?” tanya mami Sinta.
Friska menoleh melihat arah suara lalu dia menggeleng sambil menatap seseorang di samping mami Sinta, “Ohiya nak, kenalkan ini teman mami namanya Jasmin. Panggil saja Mami Jasmin. Tadi tidak sengaja ketemu.” Ucap mami Sinta menjelaskan siapa yang datang bersamanya.
“Jasmin. Panggil mami Jasmin.” Ucap mami Jasmin mendekat ke arah Friska lalu memeluknya. Friska yang bingung akan apa yang terjadi hanya bisa pasrah saja dan membalas pelukan mami Jasmin itu.
Mami Sinta yang melihat itu hanya tersenyum, “Kau hebat Jas. Kau sudah mencuri start terlebih dahulu. Semoga saja kali ini rencanamu gak akan gagal lagi.” Batin mami Sinta. Yah, jalan-jalan ke mall ini sudah direncanakan dengan baik oleh kedua ibu sosialita itu. Pertemuan itu juga sudah di rencakan, tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini semuanya sudah terencana. Mami Jasmin setelah mengatakan rencananya kepada suaminya segera menelpon mami Sinta dan menjelaskan semuanya. Mami Sinta tentu saja menyetujui rencana perjodohan itu yang di buat secara natural. Kedua ibu itu ingin menjadi mak comblang.
Mami Jasmin setelah sekitar dua menit memeluk Friska segera melepaskannya dan tersenyum, “Nak, kau ingin beli apa? Temani saya untuk memilih yaa.” Ajak mami Jasmin. Friska hanya menatap mami Sinta yang di balas anggukkan. Akhirnya ketiga wanita itu belanja bersama dan pada akhirnya mami Jasmin membelikan sebuah tas kepada Friska tapi tentu saja melalui mami Sinta. Friska lagi-lagi menolak tapi tentu saja kalah lagi yang hanya bisa pasrah menerima.
Setelah dari toko tas mereka pergi ke toko setelan kerja pria karena mami Jasmin mengatakan ingin membeli sesuatu untuk putranya. Ketiga wanita itu memasuki toko setelan pria dan lagi-lagi mami Jasmin meminta Friska membantunya memilih. Friska hanya mengatakan pendapatnya saja setelah mami Jasmin mengatakan ukuran anaknya. Mami Jasmin meminta Friska memilih dari dua setelan yang tadi di rekomendasikan Friska, “Menurut Riska dua-duanya bagus mami.” jawab Friska.
__ADS_1
“Kamu lebih suka yang mana?” tanya mami Jasmin.
“Emm itu, jujur Friska lebih suka yang warna silver itu daripada yang navy.” Jawab Friska.
Mami Jasmin pun mengangguk, “Kalau begitu kita pilih ini saja.” ucap Mami Sinta memilih yang warna silver lalu segera di berikan kepada karyawan toko itu untuk segera di bungkus. Sementara mami Sinta sibuk memilih setelan untuk suaminya. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, mami Sinta juga segera membayar lalu ketiga orang itu segera keluar.
Setelah hampir dua jam mereka berkeliling di mall itu dan sudah memasuki tiga toko, mereka memutuskan menyudahi shopingnya dan segera menuju restoran untuk mengisi perut. Dan di sinilah mereka berada sedang duduk menunggu pesanan mereka datang.
“Sin, aku senang hari ini karena ketemu kalian saat shoping. Jika tidak ketemu kalian mungkin aku tidak jadi shoping tadi dan memilih pulang kembali.” Ujar mami Jasmin bersandiwara seolah-olah ini memang kebetulan. Yah, kebetulan yang di rencanakan.
“Sudahlah gak apa-apa Jas. Kau macam sama siapa aja. Kami juga senang ketemu kan. Iya kan nak?” tanya Mami Sinta menatap Friska.
Friska hanya mengangguk saja, “Emm, nak Ris apa anda sudah punya kekasih?” tanya Mami Jasmin.
Friska tersenyum mendengar hal itu dan diam saja, “Ouh maaf apa pertanyaan itu menyinggungmu? Maaf nak.” ujar mami Jasmin.
Friska menggeleng, “Gak apa-apa kok Mih. Friska sudah biasa mendengar hal itu. Friska tidak memiliki kekasih dan tidak ingin menjalin kasih juga.” Ucap Friska.
“Dia itu ingin mengikuti kakaknya, biar pacarannya nanti setelah menikah.” Celetuk mami Sinta. Mami Jasmin pun hanya mengangguk mengerti seolah-olah memang belum mengetahuinya padahal dia sudah tahu semuanya.
__ADS_1