Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
168


__ADS_3

Kini keluarga mempelai pria sudah tiba di kediaman mama Najwa dan papa Khabir itu. Rezky segera di sambut oleh mama Najwa dan papa Khabir lalu segera di bawa menuju tempat yang sudah di sediakan.


Tamu undangan sudah pada hadir. Tinggal menunggu penghulu yang masih dalam perjalanan.


Rezky yang melihat meja akad di dekatnya itu pun semakin gugup tapi dia mencoba untuk mengendalikannya hingga tiba-tiba Alvino datang, “Apa kau gugup calon adik ipar?” tanya Alvino dengan senyum yang menggoda.


“Ouh ayolah kakak ipar jangan menggodaku. Sudah tahu aku gugup masih saja menggodaku. Ohiya kakak ipar panggil saja aku adik ipar kan tinggal beberapa menit lagi aku akan menjadi adik iparmu.” Ucap Rezky.


Alvino pun tersenyum lalu menepuk bahu Rezky itu, “Hum, baiklah adik ipar. Aku akan memberikanmu tips mengendalikan gugup yaitu dengan cara bayangkan saja calon istrimu itu yang tengah tersenyum.” ucap Alvino yang entah serius atau tidak.


“Kakak ipar tips macam apa ini? Yang ada aku akan semakin gugup nanti karena akan merasa mengecewakannya jika salah.” Ucap Rezky.


“Makanya usahakan jangan sampai salah adik ipar.” Ucap Alvino lalu dia kembali menepuk bahu Rezky dan segera berlalu dari sana.


Rezky pun melihat Alvino yang sudah bergabung kembali dengan Zean di tempat duduknya. Rezky mencoba mengikuti saran dan tips dari Alvino itu. Dia mencoba membayangkan wajah Friska yang tengah tersenyum dan benar saja entah kenapa hal itu menjadi kekuatan tersendiri untuknya. Gugupnya menjadi berkurang. Rezky melirik Alvino sekilas yang ternyata juga melihat ke arahnya dengan tersenyum seolah mengerti bahwa dirinya menerapkan saran dari Alvino itu.


Tidak lama penghulu tiba pertanda bahwa akad akan segera di mulai karena memang semua sudah tiba tinggal menunggu penghulu saja. Rezky yang melihat itu tersenyum walaupun tidak dia pungkiri dia kembali gugup. Dia akui bahwa kegugupannya kali ini adalah kegugupan yang paling parah yang pernah dia alami. Dia yang biasa menandatangani kontrak pun biasanya tidak segugup ini. Tapi memang wajar juga sih jika gugup karena ini ada kontrak seumur hidup yang akan kita lakukan bersama pasangan kita.


Rezky segera berpindah tempat duduk di meja akad berhadapan dengan penghulu dan papa Khabir selaku wali nikah dan dua orang saksi pernikahan serta di tengah-tengah tamu undangan yang hadir yang juga ikut jadi saksi penyatuan cintanya dan Friska.


Papa Khabir menatap calon menantunya itu yang dalam beberapa waktu ke depan akan resmi jadi menantunya. Ini kali keduanya akan menikahkan putrinya setelah hampir kurang lebih 8 tahun lalu menikahkan putri sulungnya. Kini dia akan menikahkan putri keduanya dengan seorang laki-laki yang di cintai oleh putrinya dan juga mencintai putrinya.


Papa Khabir bisa melihat banyaknya cinta yang di miliki oleh pria di hadapannya itu untuk putri keduanya. Papa Khabir juga bisa melihat bahwa laki-laki di hadapannya itu tengah gugup. Papa Khabir tersenyum karena dia bisa mengerti bagaimana perasaan Rezky saat ini. Dia saja yang sebagai wali nikah juga sempat gugup saat menikahkan putri sulungnya. Tapi karena ini adalah pernikahan putri keduanya maka dia sudah tidak gugup lagi.


Tidak lama kemudian, akad pun segera di mulai karena semua sudah siap. Penghulu sudah bertanya kesiapan Rezky dan papa Khabir yang langsung di jawab oleh kedua nya dengan sangat siap. Penghulu pun segera meminta papa Khabir dan Rezky untuk saling berjabat tangan.


Papa Khabir pun mengangguk dan segera menyalami tangan Rezky yang dingin pengaruh gugup. Papa Khabir tersenyum menyadari bahwa Rezky memang sangat gugup saat ini. Papa Khabir menggenggam erat tangan Rezky seolah memberi kekuatan kepada Rezky dan menatap Rezky seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan apapun.


Rezky yang di genggam erat oleh papa mertuanya itu pun tersenyum karena genggaman erat itu seolah memberinya kekuatan untuk tidak gugup lagi. Selain itu juga genggaman tangan itu bisa dia artikan sebagai kepercayaan yang di berikan oleh papa Khabir untuknya atas putrinya.


“Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Rezky Zakaria Pratama bin Harry Pratama dengan putri kandung perempuan saya yang bernama Friska Nur Sakila Abraham binti Khabir Putra Abraham dengan mas kawin uang tunai sebesar 100.000 US dollar dan 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Friska Nur Sakila Abraham binti Khabir Putra Abraham dengan mas kawin tunai uang sebesar 100.000 US dollar dan 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.” Ucap Rezky dalam satu tarikan nafasnya.


“Gimana para saksi sah?” tanya penghulu dan langsung mendapat jawaban sah dari kedua saksi pernikahan itu dan semua tamu yang hadir dalam proses akad. Penghulu pun segera mendoakan pernikahan Rezky dan Friska itu.


Rezky mengucapkan rasa syukur sebanyak-banyaknya dalam lubuk hati nya karena akad pernikahan nya berjalan sangat lancar. Kini dia sudah resmi menyandang sebagai suami seorang gadis bernama Friska Nur Sakila Abraham. Gadis yang dulunya dia ganggu dan dia kerjai hanya agar bisa di lihatnya setiap waktu. Gadis yang sempat membencinya tapi takdir sangatlah baik kepada mereka karena menyatukan mereka dalam ikatan yang suci ini serta menghapus semua kesalahpahaman yang terjadi.


Selain itu pernikahan mereka di perlancar walaupun ada beberapa drama yang sempat menghadang tapi syukurlah semuanya terlewati dengan baik dan di sinilah dia berada di depan para tamu undangan dan keluarga besarnya dan juga keluarga besar sang istri dengan status barunya sebagai suami.


Sementara di kamarnya yang terjadi juga sama tidak kalah harunya dengan apa yang terjadi di pelaminan karena Friska terharu setelah mendengar suaminya yah suaminya itu dengan lancar mengucap ijab qabul dalam satu tarikan nafasnya lalu setelah itu kata sah terdengar dari para tamu undangan terdengar bagai lagu di telinganya. Bukankah memang kata sah itu adalah kata keramat yang membuat sepasang insan yang saling mencintai satu sama lain terharu karenanya. Itu lah yang terjadi pada Friska dan Rezky saat ini.

__ADS_1


Mereka sama-sama terharu dengan status baru yang sudah resmi mereka sandang hari ini setelah kata sah itu terucap. Sungguh kata sah itu mengubah semuanya. Friska yang dulunya hanya berstatus sebagai seorang gadis, anak dan adik kini menambah dua status sekaligus sebagai seorang istri dari pria bernama Rezky Zakaria Pratama dan juga menantu di keluarga suaminya.


Freya dan Frisya yang menemani Friska itu pun tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di mata Friska itu.


“Jangan menangis sayang. Boleh terharu tapi jangan sampai menangis. Kakak gak mau riasanmu berantakan walaupun ini water proof tetap saja gak boleh menangis. Hanya boleh tersenyum.” ucap Freya yang melihat adiknya itu yang hampir menangis.


Friska pun tersenyum melihat kakak sulungnya itu yang sudah sangat berjasa untuknya, “Selamat adikku sayang. Kamu sudah resmi menjadi nyonya Rezky Zakaria Pratama dosen menyebalkanmu itu.” lanjut Freya menggoda adiknya itu.


“Kakaakk!” ucap Friska.


Freya pun tertawa, “Selamat kakakku. Doakan yaa aku juga menyusul nanti. Tapi yaa nanti setelah aku lulus profesi.” Ucap Frisya tersenyum lalu memeluk kakak keduanya itu.


“Emang sudah siap untuk menyandang sebagai nyonya Fazar?” goda Freya kepada adik bungsunya itu.


Frisya pun tersipu lalu memeluk Freya, “Kakaakk. Jangan menggodaku. Lebih baik sekarang kita antar mempelai kita ini untuk menemui suaminya. Kasihan suaminya sudah menunggu.” Ucap Frisya.


Freya pun tersenyum, “Baiklah. Ayo kita bawa mempelai kita ini menemui suaminya. Ayo adik cantikku!” ucap Freya segera membantu Friska berdiri.


Kini Friska pun di apit oleh adik dan kakaknya itu keluar kamar menuju pelaminan di mana sang suami menunggunya.


“Kak Ris. Lihatlah suamimu itu dia menatapmu dengan penuh cinta.” Bisik Frisya kepada Friska yang tidak berani melihat ke arah Rezky karena canggung berbalut rindu. Bagaimana tidak rindu mereka tidak bertemu untuk beberapa hari ke belakang dan hanya berkomunikasi lewat ponsel dan hanya chat saja.


“Risya jangan menggoda Riska. Kamu juga lihat itu Fazar yang menatapmu juga penuh cinta.” Balas Freya.


“Adik ipar, apa sudah cukup menatap adikku?” goda Freya begitu mereka kini sudah tiba di meja akad.


Rezky dan Friska pun tersenyum jengah mendengar godaan Freya itu, “Tenang saja adik ipar. Adikku ini sudah resmi jadi istrimu. Tolong jaga dia baik-baik. Dia adalah salah satu adik kesayanganku.” Ucap Freya serius di akhir kalimatnya.


Rezky tersenyum lalu mengangguk yakin, “Tenang saja kakak ipar. Tanpa kau minta pun aku akan menjaganya dengan baik. Dia adalah istriku.” Balas Rezky.


Freya pun tersenyum lalu segera menyerahkan tangan adiknya itu ke genggaman tangan Rezky. Setelah itu dia dan Frisya segera menuju tempat mereka masing-masing.


Friska segera menyalami suaminya dan Rezky mengecup kening istrinya itu dengan lembut. Sungguh hal itu menimbulkan getaran di hati keduanya. Kini mereka sudah menyatu dalam ikatan suci pernikahan.


Setelah itu Friska dan Rezky segera menandatangani berkas pernikahan mereka lalu bertukar cincin. Setelah itu di lanjutkan dengan acara foto bersama.


“Ahh menantuku sangat cantik pih.” Ucap mami Jasmin menghapus air matanya yang sempat menetes.


Papi Harry yang mendengar ucapan sang istri pun tersenyum, “Yah, dia sangat cantik. Putra kita juga sangat tampan. Mereka sangat serasi.” Timpal papi Harry.


Setelah itu mami Jasmin dan papi Harry segera berdiri karena mereka akan mengambil foto bareng putra, menantu dan besan mereka itu.

__ADS_1


“Kak Ris sangat cantik.” Gumam Frisya tersenyum menatap kakak keduanya itu yang sangat cantik dengan pakaian adatnya.


“Kamu juga cantik.” Ucap Fazar tiba-tiba saja sudah ada di dekatnya.


Frisya pun segera melirik ke arah Fazar, “Kak Fazar kok bisa di sini?” tanya Frisya. Dia kenapa bertanya demikian karena memang kursi yang di tempatinya itu khusus untuk keluarga mempelai wanita.


“Menurutmu bagaimana aku bisa di sini?” tanya Fazar balik.


Frisya mengangkat bahunya malas, “Aku masih malas menebak kak.” Ucap Frisya cuek.


Fazar pun tersenyum, “Itu kakakmu yang mengaturnya. Aku ini sudah di anggap calon menantu di sini sehingga aku memiliki tempat dudukku sendiri.” Ucap Fazar.


“Dasar narsis. Jangan mengaku-ngaku calon menantu ya kak. Aku aja belum mengenalkanmu kepada mama dan papa.” Ujar Frisya.


“Untuk apa harus di kenalkan lagi. Aku sudah kenal mereka dan mereka pun sudah kenal aku.” Ucap Fazar cepat.


Frisya yang mendengarkan jawaban yang di berikan oleh Fazar itu pun merasa dejavu sendiri dengan ucapannya karena beberapa hari lalu juga dia mengatakan hal itu, “Aku tahu kakak sudah kenal mereka begitu juga sebaliknya. Tapi kan ini beda ahh sudahlah. Terserah padamu saja kak. Aku pusing memikirkannya.” Ucap Frisya.


Fazar pun tersenyum, “Aku tahu apa maksudmu sayang. Jadi kapan nih kau akan mengajakku dan mengenalkan aku kepada orang tuamu sebagai calon suamimu?” tanya Fazar.


Frisya yang mendengar ucapan Fazar itu pun menghela nafasnya dan melirik Fazar tajam, “Sayang apa-an. Jangan manggil-manggil sayang ya kak. Aku ini bukan sayangmu. Ohiya satu lagi aku masih belum merencanakan untuk mengenalkanmu kepada mereka. Siapa tahu aja kan aku berubah pikiran nanti atau mungkin ketemu pria ba--”


“Jangan ngomong begitu. Aku tidak akan pernah rela jika kau menikah dengan orang lain. Aku tidak mau. Awas saja. Tidak masalah jika kau tidak ingin mengenalkanku kepada orang tuamu. Aku bisa memperkenalkan diriku sendiri pada mereka nanti. Tapi aku tidak akan pernah rela jika kau membahas laki-laki lain.” Ucap Fazar sangat posesif.


Frisya pun terdiam dan tersenyum tipis menyembunyikan rasa senangnya mendengar ucapan Fazar, “Dasar posesif.” Sungguh sangat terbalik dengan apa yang ada dalam hatinya.


“Tidak masalah aku posesif. Aku posesif pada calon istriku sendiri. Aku sudah menandaimu sebagai calon istriku. Maka kau tidak boleh lari dari hal itu.” ujar Fazar lagi.


“Calon istri? Sejak kapan?” goda Frisya tersenyum.


“Sejak hari ini. Mulai hari ini aku akan memanggilmu calon istri. Salah sendiri menolak panggilan sayang tadi. Jadi jangan salahkan aku jika memanggilmu calon istri.” Balas Fazar tersenyum.


Frisya pun tersenyum lalu dia berdiri dari tempat duduknya dan menuju pelaminan untuk mengambil foto bersama kakak keduanya itu. Frisya meninggalkan Fazar yang langsung saja mengekor mengikutinya, “Ngapain kakak di sini?” tanya Frisya sinis.


“Tentu saja mengambil foto lah. Emang apa lagi. Hum, selain itu aku mengikuti calon istriku.” Gumam Fazar di akhir kalimatnya.


“Calon istri? Siapa tuh? Sejak kapan nih lamarannya? Kok aku gak tahu.” goda Friska melihat adiknya yang sudah merona dan Fazar yang tersenyum.


“Gak usah bertanya lagi sayang. Kita pasti sudah mengerti kan siapa yang dia maksud. Sudah tentu adik iparku yang cantik ini.” sambung Rezky.


“Wah, kalian sudah kompak yaa jadi pasangan suami istri. Sudah sebelas dua belas sama dengan kak Reya dan kakak ipar Vino. Sama-sama suka mengggoda kami.” ucap Frisya.

__ADS_1


Friska dan Rezky pun tersenyum, “Sudahlah. Hentikan sekarang. Ayo kita ambil foto.” Lanjut Frisya.


Friska dan Rezky pun menghentikan godaan mereka itu dan serius mengambil foto pernikahan bersama Frisya dan Fazar.


__ADS_2