
Keesokan paginya di sebuah rumah mewah ada seorang gadis, “Nak sarapan dulu!” ucap sang ibu.
“Maafkan aku mi, pi hari ini aku tidak bisa ikut sarapan bareng kalian karena harus memulai magang hari ini. Aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku magang.” Jawab gadis itu segera mengecup pipi kedua orang tuanya sambil menenteng tas dan sepatunya.
“Nak, setidaknya bawalah bekal.” Teriak sang mami berlari menuju depan karena putrinya itu sudah di depan.
“Kenapa sih kamu gak magang di perusahaan papa kamu saja nak.” ucap sang mami.
“Mih, jika aku magang di perusahaan papi yang ada aku di istimewakan oleh papi dan tidak bekerja. Aku tahu aku punya penyakit mih tapi aku juga ingin memiliki kehidupan normal seperti orang di luaran sana. Aku janji akan sarapan begitu tiba di sana. Aku janji tidak akan membuat kalian khawatir lagi.” Ucapnya lalu mengecup pipi sang mami lalu berlari menuju mobil yang akan mengantarnya. Tidak lupa dia membawa bekal yang sudah di siapkan oleh maminya. Dia memang di antar jemput menggunakan mobil tapi dia selalu turun sekitar 200 meter tempat yang akan dia tuju karena dia tidak ingin di kenal sebagai orang kaya. Dia tidak memiliki teman sama sekali selama dia kuliah ini, mereka menjauhinya karena dia di anggap gadis aneh karena setiap ada yang dekat dengannya besoknya orang itu akan mengalami sakit. Selain itu juga sudah banyak berembus berita bahwa dia adalah gadis penyakitan. Yah, dia memang memiliki fisik yang lemah dan dia di diagnosa memiliki penyakit gastritis.
“Pih, kenapa dia selalu bersikap begitu? Aku khawatir dia kenapa-kenapa? Dia itu tidak memiliki fisik seperti gadis lain. Kenapa kau tidak memaksanya untuk magang di perusahaan saja, aku khawatir dia akan kelelahan dan melupakan sarapannya.” Ujar sang mami kepada suaminya.
“Aku tahu, aku juga memiliki kekhawatiran sama denganmu tapi aku mencoba mempercayainya. Aku tidak ingin dia merasa di kekang. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau selama itu tidak membahayakannya. Aku akan mengawasinya.” Jawab sang suami.
“Emang di perusahaan mana dia magang?” tanya sang istri.
“Dia magang di cabang perusahaan Aryawiguna Group yang saat ini di pegang oleh adik sepupu istrinya tuan Alvino sebagai direktur utama di sana.” Jawab sang suami.
__ADS_1
“Huh, kau harus memastikan putri kita baik-baik saja. Kita hanya memilikinya, aku tidak ingin kehilangannya.” Balasnya.
Sementara di rumah sakit, Kiana dan Kenzo sedang menemani sang papa sarapan. Mereka memang sudah kesini tadi setelah subuh bergantian dengan papa Khabir dan Mama Najwa.
“Nak, kalian pergilah bekerja. Papa gak apa-apa kok di sini ada suster yang akan menjaga.” Ucap papa Vian selesai sarapan di bantu Kiana.
“Aku akan tetap di sini menjagamu pa, aku sudah izin sama kak Reya. Kamu saja Ken yang pergi ke perusahaan biar kakak yang akan menjaga papa di sini.” Ucap Kiana menatap sang adik yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
“Yaa sudah aku akan pergi ke perusahaan. Maaf pa aku gak bisa menemanimu karena aku harus melakukan meeting hari ini dan menemui para mahasiswa magang itu” ucap Kenzo.
“Pergilah nak, papa gak apa-apa kok. Lagi pula ada kakakmu di sini yang akan menjaga papa.” Ucap pap Vian.
***
Sementara di sisi lain, “Ky, kapan kau membawa calon menantu mami ke rumah?” tanya mami Jasmin menatap putranya.
Rezky menghela nafasnya kasar inilah topic yang paling dia benci ketika di rumah yaitu pembicaraan seperti ini, “Mih, apa kau tidak bosan selalu menanyakan ini terus? Aku saja bosan mih mendengarnya. Aku pasti akan membawanya kesini jika sudah menemukan yang cocok.” Ucap Rezky.
__ADS_1
“Sampai kapan kau menemukannya? Mami juga bosan mendengar jawabanmu itu. Bagaimana kau menemukannya jika kau tidak pernah mencarinya. Lebih baik kau terima saja mami kenalkan sama putri teman mami.” ucap mami Jasmin kesal. Dia sudah tidak sabar memiliki cucu sementara putra tunggalnya itu selalu saja menolak untuk di kenalkan dengan seorang gadis. Untuk pertama dan terakhir sang putra setuju untuk dia kenalkan justru menjodohkannya dengan gadis yang sudah memiliki suami ahh jika mengingat hal itu membuatnya malu. Ini semua gara-gara temannya, Sinta.
“Aku gak mau yaa mami kenalkan lagi dengan putri teman mami itu karena aku tidak ingin membuat kesalahan lagi. Terakhir kali aku menyetujuinya mami salah menjodohkan hingga membuatku sulit menemukan seorang gadis karena aku yang terlanjut kagum padanya hingga menjadikannya tipe ideal calon istriku.” Ujar Rezky menceritakan apa yang di rasakannya itu.
“Jadi kamu menyukai nona Freya nak?” tanya papi Harry yang kaget akan pernyataan putranya.
“Kagum pih dan itu semua karena ulah mami. Aku mengagumi istri dari orang yang aku kagumi. Tuan Vino adalah kakak kelas yang aku kagumi karena prestasinya tidak tahunya aku juga mengagumi istrinya. Aku merasa bersalah karena melakukan itu. Ahh aku bisa gila jika tidak bisa menemukan seorang wanita yang setidaknya memiliki kualifikasi seperti nona Freya.” Ujar Rezky segera menyudahi sarapannya lalu dia segera mengambil tas kerjanya dan pamit berangkat menuju kantor.
Mami Jasmin hanya menghela nafasnya melihat kepergian putranya itu, dia tidak tahu bahwa apa yang dia lakukan membuat sang putra sulit menemukan jodoh karena tipe istri yang di inginkan putranya di dasarkan pada Freya. Yah, Freya memang gadis dengan segala kehebatannya hingga dia saja langsung suka di pertemuan pertama jadi tidak menutup kemungkinan hal itu juga terjadi pada sang putra, “Pih, apa aku melakukan kesalahan? Aku hanya ingin putra kita menemukan jodohnya saja.” ucap mami Jasmin menatap sang suami.
Papi Harry hanya mengangkat bahunya karena dia juga bingung dengan apa yang terjadi karena ternyata sang putra menyukai tipe wanita seperti nyonya Alvino. Dia memang sudah mendengar kecerdasan yang dimiliki oleh istrinya Alvino itu tapi dia tidak menyangka sang putra menjadikan gadis itu sebagai tipe idealnya.
“Ahh,, aku tahu apa yang aku lakukan. Aku akan memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan. Aku mendengar Freya memiliki dua orang adik perempuan. Aku akan menelpon Sinta untuk menanyakannya.” Ucap mami Jasmin tersenyum begitu ide itu terlintas kenapa dia melupakan itu.
Papi Harry hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap antusias sang istri itu. Dia hanya bisa berdoa semoga saja kali ini istrinya tidak salah lagi menjodohkan.
“Pih, apa menurutmu apa yang akan aku lakukan ini tidak salah?” tanya Mami Jasmin meminta pendapat.
__ADS_1
“Selama kau tidak salah menjodohkan maka pasti tidak salah. Aku mendukungmu karena putra kita sudah menjadikan gadis itu sebagai tipe idealnya jadi yang bisa menyamai kakaknya tentu saja hanya seorang adik. Aku harap untuk kali ini berhasil.” Balas papi Harry.
Mami Jasmin pun tersenyum mengangguk sambil berdoa bahwa semuanya akan berjalan lancar dan dia tidak akan salah lagi.