
“Kau baik-baik saja nak?” tanya mami Jasmin hati-hati dan menggenggam jemari Friska.
Friska tersenyum lalu menatap mami Jasmin. Dia segera memeluk mami Jasmin sebentar lalu melepaskannya, “Riska akan berbohong jika mengatakan bahwa Riska baik-baik saja akan kejadian hari ini karena yang sebenarnya Riska juga takut. Untung saja ada kak Reya. Dia adalah dewi bagi kami. Riska dan Risya tidak masalah jika harus di bedakan dengan kak Reya. Kami akui bahwa kak Reya itu hebat. Dia memiliki segalanya walaupun di balik sikap diamnya.” Ucap Friska.
“Jujur saja mih. Riska setelah mendengar itu tadi sedih dan mulai berpikiran--”
Mami Jasmin langsung menutup bibir Friska dengan telunjuknya. Mami Jasmin menggeleng dan membawa Friska ke pelukannya, “Sstt, jangan pernah berpikiran begitu. Jangan pernah berpikiran bahwa kamu berbeda dengan kami. Bahwa kami menerimamu sebagai menantu karena kau adik Freya atau adik iparnya Alvino. Memang benar mami pernah ingin menjodohkan Rezky dengan kakakmu karena kesalahpahaman mami kepada mami Sinta. Namun memilihmu menjadi menantu kami itu adalah pilihan kami karena dirimu. Tidak ada pihak lain yang mempengaruhi kami memilihmu menjadi menantu. Kau adalah gadis yang di cintai Rezky maka kami yakin pilihan putra kami adalah yang terbaik karena dia sangat pemilih. Jadi jangan pernah merasa bahwa kami memilihmu karena siapa atau siapa. Kau itu bukan sekedar calon menantu bagi mami tapi kamu adalah putri mami. Kau sangat berharga untuk kami nak.” ucap mami Jasmin lalu melepaskan pelukannya dan melabuhkan kecupan di kening Friska.
Friska yang mendengar ucapan mami Jasmin terharu hingga meneteskan air mata, “Terima kasih mih. Riska janji akan jadi menantu yang baik dan istri yang baik untuk kak Rezky. Terima kasih sudah memilih Riska dan memperlakukan Riska dengan sangat baik.” ucap Friska kembali memeluk mami Jasmin. Mami Jasmin pun tersenyum lalu membalas pelukan menantunya itu.
“Mami percaya padamu nak. Kau tidak perlu berjanji.” Ucap mami Sinta lalu melepas pelukan mereka dan melap air mata di pipi calon menantunya itu.
“Sudah jangan menangis. Mami tidak mau kena marah Rezky karena membuat calon istrinya menangis begini.” Ucap mami Jasmin lalu kembali melabuhkan kecupan lembut di kening Friska. Friska seperti perkataannya bukan hanya sekedar calon menantu baginya. Friska adalah putrinya dan dia tidak akan membiarkan putrinya di lukai atau harga dirinya di injak-injak.
Mami Jasmin membawa kepala Friska itu ke bahunya layaknya seorang ibu dan putrinya. Friska pun menurut dia seperti bersama mamanya. Ahh dia jadi rindu pada mamanya itu.
***
Sementara di mobil lain, Alvino mencubit pipi istrinya itu.
“Kenapa nakal sayang?” ucap Alvino lalu membawa Freya ke bahunya. Dia tidak menyetir karena dia membawa Fazar bersamanya yang kini menjadi obat nyamuk untuknya dan Freya.
“Aku tidak loh suamiku. Aku ini baik. Aku ini anak penurut.” Ucap Freya manja.
“Yah, sangat penurut sekali hingga membuatku hampir saja pingsan membaca artikel yang di rilis oleh anak-anakmu itu. Hebat sekali yaa sudah punya bodyguard.” Ujar Alvino lalu memeriksa jemari istrinya itu dengan baik.
Freya tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh suaminya itu. Suaminya itu tidak pernah berubah selalu saja mengkhawatirkan dirinya, “Aku baik-baik saja suamiku. Ohiya mereka anak kita bukan anakku saja. Aku meminta bantuan mereka karena hanya mereka yang bisa aku mintai pertolongan karena aku tahu kau sedang rapat.” Ucap Freya.
“Lain kali jangan begitu lagi sayang. Aku tahu kau melakukan itu untuk menjaga harga dirimu. Tapi setidaknya lakukan dengan secara sembunyi-sembunyi tidak perlu menunjukkan kepada mereka bahwa itu ulahmu. Aku tidak mau kau terluka. Untung saja aku langsung mengetahuinya dan segera menuju ke hotel setelah rapat. Kau memang memiliki anak-anak yang hebat dalam IT tapi jangan lakukan secara terang-terangan begitu. Aku tidak ingin kau dalam bahaya. Kita bisa balas dendam secara diam-diam kan. Kau mengerti sayang?” tanya Alvino.
Freya pun tersenyum lalu mengangguk. Seperti biasa Alvino itu selalu mendukung apa yang dia lakukan selama yang di lakukan istrinya itu tidak melanggar hukum dan tidak lewat batas. Alvino pun membawa Freya ke dalam pelukannya dan melabuhkan kecupan di kening istrinya itu dengan lembut.
Sementara Fazar yang sedang menyetir hanya bisa bersabar dan menghela nafasnya karena tadi tuannya itu sudah mengatakan akan menghukum istrinya tidak tahunya hukumannya seperti biasa pemandangan yang membuatnya merana dan ingin segera menghilang saja dari bumi karena dia juga ingin itu namun sayang calon istrinya masih dalam proses perjuangan. Selain itu juga Fazar pikir tuannya itu akan marah dengan apa yang di lakukan oleh nyonya bosnya karena dari nada bicara yang sangat meyakinkan seperti orang marah namun ternyata lagi-lagi dia tertipu karena ternyata tuan dan nyonyanya itu sefrekuensi sepemikiran dan justru memintanya melakukan diam-diam. Memang definisi pasangan sejati dalam segala hal. Tuan dan nyonya itu memang sangat mengagumkan. Ketika baik maka mereka sangat baik dan ketika ada yang menyinggung mereka keduanya akan menjadi pasangan yang menyeramkan.
“Ada apa Fazar? Kenapa ekspresimu begitu?” tanya Alvino melirik asistennya itu dari kaca mobil.
Fazar menggeleng, “Ahh gak ada apa-apa tuan.” Jawab Fazar cepat.
“Kecepatan menjawabmu itu menjadi jawaban bahwa kau sedang berbohong Fazar.” Ujar Freya.
Fazar pun terdiam karena jika sudah nyonyanya yang bicara dia pasti kalah telak, “Aku tahu apa yang kau pikirkan Fazar. Tapi satu hal yang pasti jika kau ingin menjadi adik iparku maka kau harus bisa menerima kami yang begini. Aku dan adikku itu memiliki sifat yang hampir sama Fazar. Walaupun Frisya terlihat ceria dan hangat ketimbang aku dan Friska tapi percayalah dia lebih keras dariku dan Friska. Jika kau memang ingin dan sudah bertekad untuk menjadikan dia jadi istrimu maka kau harus bisa menerimanya dengan baik. Kau harus bisa menjaganya dan membelanya di hadapan orang-orang yang meremehkannya. Aku percaya dan yakin kau bisa melakukan itu untuk adikku. Kau masih bisa mundur sekarang jika memang kau sudah merasa tidak sanggup.” Ujar Freya.
__ADS_1
Fazar yang mendengar itu mengangguk, “Saya sudah memutuskan memilih nyonya dan hanya dia gadis yang saya cinta dan saya inginkan jadi istri dan pendamping saya. Tidak ada gadis lain. Hanya dia. Jika saja nyonya dan orang tua nyonya berkenan dan mengizinkan maka saya dan keluarga akan datang untuk melamarnya dan menikahinya. Saya sudah tidak tahan melihat kebucinan tuan dan nyonya.” Ucap Fazar.
Freya pun tertawa mendengar ucapan asisten suaminya itu, “Hubby, dia sudah berani padamu. Sepertinya kau harus memberinya penghargaan untuk ucapannya itu.” ujar Freya.
“Kau benar sayang. Fazar kau ingin berapa persen gajimu bulan ini aku kurangi?” tanya Alvino.
Fazar pun tersenyum lalu menggeleng, “Saya bercanda tuan, nyonya. Tuan jika anda memotong gaji saya maka apa yang harus saya bawa untuk melamar Frisya tuan. Jadi berkasihanilah pada asistenmu ini.” ucap Fazar.
Freya dan Alvino pun tersenyum, “Sayang, dia percaya diri sekali untuk jadi adik iparku.” Ucap Alvino.
“Jangan berkata begitu by. Kau yang mengajarinya jadi percaya diri begitu. Kau itu gurunya. Jangan lupa kau itu mak comblang mereka.” ucap Freya menyindir suaminya.
Alvino yang mendengar sindiran istrinya pun tertawa dan memeluk istrinya itu, “Aku sudah gak jadi mak comblang mereka sayang. Fazar sendiri yang sudah berusaha untuk dirinya. Jika dia mengikuti kegilaan yang aku lakukan itu bukan salahku karena dia sendiri yang mengikuti. Jangan salahkan aku untuk apa yang dia lakukan karena aku bukan gurunya.” Ujar Alvino.
“Iya kan Fazar?” tanya Fazar meminta pendapat asistennya itu.
“Benar tuan. Anda itu guru saya. Saya berencana ingin memecahkan rekor anda menikah lebih dulu tuan. Tapi sepertinya nyonya tidak mengizinkan.” Ucap Fazar.
Freya pun tersenyum, “Menikah bukan ajang memecahkan rekor Fazar. Bukankah sudah jadi kesepakatanmu dan Frisya untuk menikah nanti setelah dia lulus. Tapi jika memang kau berencana ingin menikah dengan cepat. Pintu rumah kami terbuka dengan lebar untuk menyambutmu dan menyambut keluargamu.” Ujar Freya.
“Tuh, dengerin Fazar. Sudah mendapat lampu hijau dari istriku.” Ucap Alvino.
“Saya tahu tuan dan saya berterima kasih untuk itu. Tapi sepertinya saya ingin mengikuti permintaan Frisya.” Ucap Fazar.
“Jika begitu kita sama tuan.” Balas Fazar.
Alvino yang mendengar itu pun menggeram kesal sementara Freya tersenyum.
Sekitar lima menit kemudian akhirnya mobil itu kini tiba di kediaman Freya dan Alvino. Mereka langsung turun dengan Alvino yang pastinya membukakan pintu untuk istrinya itu, “Silahkan turun my Queen.” Ucap Alvino.
Freya pun tersenyum, “Terima kasih my Lord.” Timpal Alvino.
“Tuan, saya pamit dulu.” Ujar Fazar. Alvino pun mengangguk lalu dia segera menyusul istrinya yang di kerubungi anak-anaknya di ruang keluarga.
“Bunda baik-baik saja kan?” tanya Anand memeriksa keseluruhan tubuh Freya itu.
Freya yang di periksa oleh kelima anaknya itu hanya tersenyum, “Hi, boy girl. Jangan kerubungi bunda kalian begitu. Bunda akan pusing nanti.” Ujar Alvino.
Kelima anak mereka itu pun segera menghentikanya dan menatap Freya, “Apa bunda pusing?” tanya Azlen.
Freya menggeleng lalu segera duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu, “Bunda baik-baik saja sayang. Berkat bantuan kalian bunda baik-baik saja. Bagaimana mungkin bunda terluka jika memiliki kalian sayang. Selain itu juga bunda memiliki ayah kalian yang pastinya tidak akan membiarkan bunda terluka. Kalian jangan khawatir. Bunda baik-baik saja. Sangat baik.” ucap Freya.
__ADS_1
“Syukurlah. Kami tadi sangat takut jika bunda terluka.” Ujar Azlan.
Freya pun tersenyum, “Terima kasih sudah membantu bunda hari ini.” ucap Freya lalu mengusap wajah kelima anaknya itu satu persatu. Kelima anaknya itu segera memeluk Freya secara bersamaan.
Alvino yang melihat itu pun tersenyum, “Ayah juga ikut dong.” Ujar Alvino lalu ikut memeluk istri dan anak-anaknya itu.
***
Di Negara J, kini Rezky baru saja selesai melakukan pertemuan dengan pimpinan perusahaan yang menjadi penyedia bahan untuk proyeknya. Semua masalah telah selesai. Mereka akan bertanggung jawab atas kesalahan yang mereka lakukan. Hal itu terjadi karena adanya penipuan yang terjadi dalam perusahaan itu yang di lakukan oleh direktur pelaksana.
“Huh, akhirnya masalah ini cepat selesai juga Hiro. Aku sekarang bisa mengajukan cuti dan fokus pada pernikahanku. Aku serahkan proyek ini kepadamu dan Robi untuk mengawasinya. Aku akan melakukan cuti dan tidak menerima gangguan. Calon istriku itu sudah cukup bersabar menungguku.” Ujar Rezky menghela nafas lega.
Rezky begitu tiba di Negara J langsung ke perusahaan menemui pimpinan perusahaan itu dan membicarakan semuanya dengan baik. Rezky ingin masalahnya cepat selesai dan dia bisa segera mengajukan cuti. Sudah cukup dia membuat calon istrinya menunggu. Semuanya harus segera di selesaikan.
“Hiro, kau segera pulang ke Negara N. Aku masih akan di sini dan baru. Aku akan pergi naik pesawat komersil. Kau pulanglah lebih dulu. Aku masih harus mengerjakan sesuatu.” ucap Rezky begitu mereka naik mobil.
“Saya akan menunggu anda tuan. Kita kembali bersama. Saya tidak akan bisa menjawab pertanyaan tuan dan nyonya besar jika kembali tanpa anda. Selain itu juga saya tidak akan bisa menjawab pertanyaan nona Friska. Saya akan menunggu anda saja.” ujar Hiro menolak.
“Hiro, jangan membantah perintahku. Kau pulanglah lebih dulu. Katakan kepada mereka bahwa aku pasti akan pulang tapi masih ada yang harus aku lakukan di sini.” Ucap Rezky final.
Hiro pun menarik nafas kasar, “Baiklah tuan. Jika memang itu yang anda inginkan. Saya akan segera bertolak ke Negara N malam ini.” ucap Hiro pasrah.
Rezky pun mengangguk, “Turunkan aku di sini.” Pinta Rezky.
Hiro pun segera meminta supir untuk menghentikan mobil dan Rezky segera turun, “Sampaikan kepada mereka aku pasti akan kembali. Tidak perlu mengkhawatirkan aku.” Ucap Rezky lalu segera menutup pintu mobil.
Hiro pun yang di dalam mobil segera meminta beberapa bodyguard mengikuti Rezky secara diam-diam. Dia tidak ingin ada sesuatu yang terjadi kepada bos sekaligus temannya itu. Setelah memerintahkan hal itu Hiro segera menuju bandara untuk kembali pulang ke Negara N.
Sementara Rezky segera menuju mall di sana dan belanja beberapa hal. Setelah dari mall dia menuju suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang rahasia.
Setelah dari tempat yang dia kunjungi secara rahasia itu, Rezky segera menuju restoran untuk makan malam. Rezky segera memesan makanannya dan tiba-tiba ada yang duduk di mejanya dan menyapanya.
“Rezky Pratama kan?” tanya seorang gadis dengan rambut pirang sebahu.
Rezky pun menatap gadis di hadapannya itu dengan bingung, “Kenalkan aku Zoli. Kita pernah bertemu saat kita masih umur 7 tahun.” Ujar Zoly menjabat tangan Rezky.
Rezky yang sudah mengingat siapa gadis di hadapannya itu dan tersadar apa yang sedang terjadi saat ini segera menarik tangannya, “Apa aku bisa duduk di sini?” tanya Zoly langsung duduk sebelum Rezky mengizinkannya.
“Sepertinya kau datang sendiri ke sini. Aku tidak melihat kau dengan pasanganmu. Jadi tidak masalah kan aku bergabung di mejamu.” Ujar Zoly.
“Aku tidak suka makan dengan orang yang tidak aku kenal. Silahkan kau pindah dari mejamu.” Ujar Rezky dingin.
__ADS_1
“Tapi--”