Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
50


__ADS_3

Di perusahaan Alvino kini dia ada di ruang rapat, “Fazar, apa kamu bisa mencari tahu kenapa klien kita belum tiba? Ini bukan waktunya, aku tahu dia bukan orang yang suka terlambat dan tidak menghargai waktu seperti ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi.” Ucap Alvino setelah lewat lima menit dari jam perjanjian mereka.


Fazar pun segera menelpon pihak hotel di mana tempat klien mereka tinggal dan pihak hotel mengatakan bahwa kliennya itu sudah meninggalkan hotel setengah jam lalu. Fazar pun segera memberitahukan hal itu kepada Alvino, “Ini sudah pasti ada yang terjadi karena waktu yang dibutuhkan dari hotel ke sini hanya kurang kurang lebih 20 menit dan kliennya itu belum tiba padahal berangkat setengah jam yang lalu.” Ucap Alvino.


“Tuan, ponsel anda.” Ucap Fazar. Alvino pun segera menjawab telepon dari istrinya itu.


“Halo, Assalamu’alaikum sayang?” ucap Alvino.


“Wa’alaikumsalam. Hubby ke rumah sakit F sekarang. Paman Vian drop aku baru saja mendapatkan infonya. Ini aku dalam perjalanan menuju rumah sakit.” Ucap Freya to the point dari seberang.


Alvino yang mendengar itu segera berdiri dari tempat duduknya, “Baik sayang aku akan segera kesana. Kita akan bertemu di sana nanti. Ohiya hati-hati di jalan sayang, jangan ngebut.” Ucap Alvino lalu sambungan telepon di antara mereka segera terputus.


“Faz, batalkan rapat hari ini. Aku harus ke rumah sakit, kau menyusullah setelah aku memanggilmu dan jangan lupa hubungi aku jika Zean datang.” Ucap Alvino segera menuju ruangannya untuk mengambil kunci mobil.


Sementara di parkiran rumah sakit, “Tuan, kenapa anda tidak masuk saja jika memang mengkhawatirkan gadis itu.” ucap Erlan yang bisa membaca raut wajah khawatir di muka tuannya itu. Erlan tahu hal itu karena tuannya itu sudah menunggu sekitar 20 menit di sana dan mengabaikan rapat pentingnya hari ini. Erlan saja sampai pusing memikirkan alasan apa yang harus dia berikan kepada kliennya.


Zean pun mengangguk lalu dia segera turun dan masuk ke dalam rumah sakit itu bertepatan dengan seorang wanita yang juga masuk. Zean melihat wanita yang berjalan cepat di depannya, “Sepertinya wanita itu tidak asing.” Gumam Zean yang merasa pernah melihat wanita yang berjalan cepat di depannya itu tapi dia lupa melihatnya di mana.


Zean yang memang ingin ke UGD melihat wanita di depannya itu juga ke UGD, “Dek!” panggil Freya melihat adiknya yang duduk di depan ruangan UGD.

__ADS_1


Kiana yang mendengar suara yang begitu di kenalinya segera mengangkat wajahnya dan berdiri lalu memeluk wanita itu, “Kakak!” ucapnya sesegukan di pelukan kakaknya itu.


Freya pun membiarkan Kiana menangis dalam pelukannya dia tahu adiknya itu menahan tangisnya dari tadi, “Kakak, papa!” ucap Kiana lemah.


“Tenang saja dek. Kita tunggu dokter keluar dulu. Kau tenanglah.” Ucap Freya melerai pelukannya mereka dan menghapus air mata di pipi Kiana.


“Duduklah. Kenapa gak menelpon kakak? Untung saja mbak Diana langsung menelpon kakak jika tidak kakak gak tahu kejadian ini.” ucap Freya lembut.


“Maaf kak!” ucap Kiana karena itu sudah terpikirkan sama sekali. Freya pun mengangguk lalu dia memindai penampilan adiknya itu dengan seksama lalu tiba-tiba dia menunduk dan mengangkat pakaian adiknya.


“Astaga dek, kenapa ini?” tanya Freya melihat luka di kaki adiknya itu yang mulai sedikit mengering.


Kiana hanya mengangguk, Freya pun menghela nafasnya kasar, “Sudah kalau begitu kita rawat lukamu dulu. Tidak ada penolakan. Paman Vian pasti akan marah jika melihatmu terluka begini dan justru membiarkannya. Kau tahu kan luka bisa infeksi.” Ucap Freya lalu segera mengajak adiknya untuk mengobati lukanya.


Zean yang dari tadi melihat itu bertanya-tanya, “Siapa gadis yang aku tolong itu? Apa itu kakaknya? Kenapa aku merasa pernah bertemu dengan kakaknya? Tapi dimana?” tanya Zean pada dirinya sendiri.


“Ahh aku tidak bisa mengingatnya. Kenapa gadis itu tidak segera mengobati lukanya begitu tiba? Apa sebegitu pentingnya orang yang di UGD itu hingga dia bahkan rela mengabaikan lukanya? Apa kekasihnya yang di UGD itu?” tanya Zean lagi pada dirinya. Entah kenapa pemikiran bahwa gadis cantik berhijab yang sudah menarik hatinya itu memiliki kekasih membuat sesuatu di dalam dadanya berdenyut nyeri dan ingin menolak pemikirannya itu.


Zean pun memutuskan untuk keluar kembali untuk menenangkan pemikirannya yang entah kenapa sudah menyakiti hatinya itu. Begitu dia menuju tempat di mana mobilnya berada dan sang asisten menunggunya tiba-tiba ada mobil yang berhenti di hadapannya hingga dia pun menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Pemilik mobil yang berhenti di depannya itu pun segera turun dan Zean begitu melihat siapa pemilik mobil yang turun itu pun kaget, “Tuan Vino!” ucap Zean dengan suara yang lumayan keras karena kaget bisa bertemu klien yang akan dia temui itu di sini. Jika tuan Alvino di sini apa itu tandanya rapat di batalkan tapi bukan itu yang paling penting apa alasan tuan Alvino itu datang kesini.


Alvino yang mendengar namanya di sebut segera melihat orang di hadapannya dan sama dengan Zean yang kaget melihatnya dia juga sama kagetnya melihat klien yang dia tunggu-tunggu di perusahaan itu kini ada di hadapannya dan di rumah sakit, “Zean, kau di sini? Apa kau terluka?” tanya Alvino.


Zean menggeleng, “Saya gak apa-apa hanya saja tadi saya mengantar seseorang ke sini.” Jawab Zean.


“Tuan Vino maaf atas keterlambatan saya hingga membuat anda menunggu.” Lanjut Zean menunduk.


Alvino tersenyum lalu menepuk bahu pria yang enam tahun lebih muda darinya itu, “Tenanglak Zean. Rapat antara kita di tunda dulu karena aku juga memiliki urusan penting lainnya yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku harap kau juga mengerti hal itu.” ucap Alvino.


Zean pun mengangguk, “Baik tuan Vino. Sebaiknya rapat memang di tunda dulu.” Timpal Zean.


Alvino pun tersenyum, “Kalau begitu aku masuk dulu. Istriku pasti sudah tiba.” Ucap Alvino yang memang sudah melihat mobil istrinya ada di parkiran.


Zean mengangguk seketika Alvino melesat masuk ke rumah sakit itu. Zean pun memutuskan pergi ke mobilnya sambil memikirkan alasan apa Alvino datang ke rumah sakit bahkan sampai menunda rapat di antara mereka. Yah, Zean Gavin Andreas atau biasa di panggil Zean itu adalah klien yang di tunggu Alvino untuk melakukan rapat.


Zean masuk ke mobil, “Tuan, kita akan kemana?” tanya Erlan.


Zean diam saja dan masih memikirkan apa yang sedang terjadi, “Tuan!” panggil Erlan pelan.

__ADS_1


Zean pun memandang asistennya itu lalu tiba-tiba dia ingat sesuatu begitu mengingat bahwa Alvino menyebut kata istri tadi, “Apa wanita itu istri tuan Alvino?”


__ADS_2