
Keesokkan harinya, seperti apa yang sudah di katakan oleh Zean dan Kiana kepada Freya dan Alvino bahwa mereka akan berangkat hari ini. Kini mereka sudah berada di bandara dengan Freya dan Kenzo yang ikut mengantar. Alvino tidak ikut karena dia harus menghadiri rapat yang sangat penting dan tidak bisa dia tinggalkan.
"Kak, jaga diri dengan baik di saja. Aku akan datang bersama keluarga nanti. Kakak ipar, aku titip kakakku padamu. Tolong jaga dia baik-baik, bahagiakan dia. Kau sudah di percayai oleh papa untuk menjaganya menjadi suaminya yang dia nikahkan sendiri dengan kakak. Jadi jangan khianati kepercayaan yang telah papa berikan padamu. Aku juga percaya padamu." Ucap Kenzo menatap kakak dan kakak iparnya itu.
"Jangan menangis kak, kau sudah memiliki suami. Ikutlah dengannya kemanapun dia pergi. Jangan khawatirkan aku karena aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagian ada kak Reya dan kak Vino yang akan menjagamu dan menjadi ayah dan ibuku. Jangan menangis. Nanti jelek. Segera penuhi kewajibanmu kak. Aku tahu hubungan kalian sudah naik level namun kau belum memberikan apa yang menjadi hak suamimu. Aku menyayangimu. Kita akan saling video call nanti jika suamimu mengizinkannya." Bisik Kenzo memeluk Kiana lalu menghapus air mata di pipi kakak kandungnya itu.
"Jaga dirimu dengan baik. Lihatlah kau sudah menjadi kurus dan dingin. Kakak tahu kau sedih atas perginya papa dan kau menyembunyikannya dari kami semua. Justru melampiaskannya dengan sikap dingin itu. Sampai kapan kau memasang muka tembok seperti itu yang ada nanti jodohmu gak datang." Ucap Kiana.
Kenzo tersenyum, "Aku belum memikirkan untuk menikah kak. Aku masih ingin sukses dulu dan mensejahterakan cabang perusahaan kakak ipar Vino. Jaga dirimu dengan baik. Aku menantikan keponakan yang cantik dan juga tampan darimu." Ucap Kenzo.
Kiana pun tersenyum lalu dia menggandeng sang suami, "Kakak ipar. Jaga dia dengan baik. Ini pertama kalinya dia pergi jauh." ucap Kenzo.
"Jangan khawatir adik ipar, aku akan menjaga kakakmu dengan baik dan aku akan memastikan dia selalu bahagia. Kau juga carilah jodohmu sendiri. Jaga dirimu. Jangan terlalu dingin kepada perempuan." Ucap Zean tersenyum pada adik iparnya. Ini pertama kalinya dia dan Kenzo bicara sehangat ini karena memang pernikahan yang terjadi dadakan antara dia dan sang istri hingga membuatnya tidak begitu dekat dengan keluarga istrinya ini selain Alvino tentunya yang dulunya hanya sebagai relasi bisnis kini sudah menjadi kakak iparnya.
Freya yang dari tadi hanya menonton perpisahan dua saudara kandung itu memang sengaja memberikan kesempatan untuk keduanya mengucap perpisahan walau beberapa hari lagi akan bertemu karena menghadiri pesta pernikahan tapi tetap saja mereka butuh waktu untuk mencurahkan perasaan.
__ADS_1
Setelah memastikan bahwa Kenzo dan Kiana sudah selesai mengucap pesan perpisahan. Freya segera mendekati ketiga orang itu. Kiana segera memeluk Freya, "Terima kasih kak. Datanglah lebih awal." ucap Kiana.
Freya mengangguk, "Jaga dirimu dengan baik. Hanya itu yang bisa kakak katakan karena sepertinya Kenzo sudah mengatakan semuanya. Zean aku titip adikku. Jaga dengan baik. Akan kami usahakan datang lebih awal. Ohiya segera hubungi kami jika sudah tiba di sana. Ayo sana berangkatlah." ucap Freya mengecup kening Kiana lalu segera melerai pelukan di antara mereka karena dia sudah melihat asisten Zean sudah kembali.
Kiana pun mengangguk lalu segera berpamitan sebelum masuk ke bandara. Zean dan Elvan pun juga ikut pamit. Lalu ketiga orang itu segera masuk ke bandara. Kenzo dan Freya juga segera berbalik setelah memastikan punggung ketiga orang itu menghilang di balik pintu bandara.
Kenzo dan Freya segera menuju mobil Kenzo berada karena memang Freya di jemput oleh Kenzo. Tidak lama mobil Kenzo segera meninggalkan bandara itu bersamaan dengan pesawat yang di tumpangi oleh Zean dan Kiana lepas landas.
***
Di sisi lain di sebuah perusahaan, "Bagaimana apa bisa di pulihkan?" tanya Rezky menatap Robi.
"Berapa lama?" tanya Rezky.
"Paling cepat satu bulan dan paling lama dua bulan." jawab Hiro, teman sekaligus orang yang dia minta menyelidiki Friska yang bertarung dengan Anand dan Azlen di dunia maya.
__ADS_1
"Aku tidak punya waktu sebanyak itu. Apa tidak ada cara paling cepat. Aku tidak bisa menunggu selama itu." Ucap Rezky frustasi.
"Kenapa anda tidak mengikuti saja saran dari tuan dan nyonya besar. Hanya itu jalan satu-satunya yang bisa kita tempuh untuk mengatasi ini. Anggap saja itu sebagai pengaman sambil menunggu pemulihan CCTV." ucap Robi di angguki oleh Hiro.
Rezky yang mendengar ucapan dua temannya itu menghela nafas berat, "Aku ingin melakukan itu namun aku akan terlihat pengecut dan aku tidak mau dia akan semakin membenciku karena menggunakan orang tuanya. " ucap Rezky pusing. Robi dan Hiro yang melihat itu pun hanya bisa diam karena mereka juga tidak tahu harus melakukan apa.
Tiba-tiba ada yang mengetuk, Rezky mengabaikan ketukan pintu itu dan akhirnya Robi yang berdiri membukakan pintu, "Iya ada apa?" tanya Robi bicara dengan orang di balik pintu yang ternyata adalah office boy.
Robi yang mendengar perkataan office boy itu pun segera mendekati Rezky dan membisikkan sesuatu, "Anand? Azlen?" tanya Rezky tidak percaya siapa tamu yang mendatanginya.
Rezky hanya mengangguk, "Baiklah suru mereka masuk ahh tidak jemput mereka ke sini. Entah pesan apa yang kak Vino titip pada kedua putranya itu." Ucap Rezky. Robi pun lagi-lagi mengangguk lalu dia segera turun untuk menjemput dua putra pemilik perusahaan nomor satu itu.
Tidak lama Robi kembali dengan dua anak yang berjalan mengikutinya dengan aura dingin mereka sehingga membuat karyawan Rezky pun merasa di intimidasi, "Silahkan masuk tuan muda." ucap Robi.
"Sudah kami katakan jangan memanggil kami seperti itu karena paman bukan bawahan kami dan kami juga bukan majikan anda. Jadi jangan ulangi lagi. Panggil dengan nama saja." ucap Anand malas mengulangi perkataannya dan Azlen tadi saat di susul oleh pria yang mereka kenal sebagai asisten dari Rezky itu. Laki-laki yang menyukai mami mereka.
__ADS_1
Robi pun hanya mengangguk mendengar ucapan Anand itu karena percuma dia membantah karena memang dua anak itu sudah mengatakannya tadi di bawah namun dia saja yang lupa dan segan jika harus memanggil putra pengusaha nomor satu itu dengan nama saja. Karena bisa jadi mereka yang akan menjadi pewaris dan pemilik perusahaan nomor satu itu.
Anand dan Azlen masuk dan melihat siapa yang ada di dalam. Keduanya saling menatap dan tersenyum tipis sangat tipis yang hanya bisa di lihat merka.