
Kiana dan Zean kini sedang melakukan sholat zuhur berjamaah di ruangan pribadi Zean itu yang sejam lalu menjadi tempat pertempuran panas keduanya.
“Kita makan siang di restoran Italia aja yaa kak. Aku ingin makan makanan Italia.” Ucap Kiana sambil merapikan alat sholat keduanya.
Zean pun mengangguk, “Baiklah sayangku. Kita akan singgah di restoran Italia. Kamu bisa pesan apapun yang kamu inginkan untuk mengganti kalori yang sudah kita habiskan tadi.” Ucap Zean menggoda istrinya itu.
“Kak, jangan bahas lagi. Aku malu mendengar hal seperti itu.” ucap Kiana.
Zean pun tersenyum mendengarnya. Istrinya itu memang selalu saja seperti itu. Selalu merasa malu jika membahas hal yang mengarah pada hubungan intim padahal keduanya sudah melakukan itu berulang kali. Zean memang setelah melakukan malam pertama bersama istrinya itu menjadi kecanduan dan selalu meminta istrinya melakukan hubungan tapi tetap memperhatikan istrinya apa lelah atau tidak. Zean bukanlah suami yang egois yang hanya ingin di layani padahal istrinya sedang lelah. Zean selalu melakukan hubungan itu dalam keadaan sama-sama mau. Namun satu hal yang membuat Zean bahagia istrinya itu memang malu dan sensitif jika membahas hal yang berbau intim tapi Zean akui bahwa istrinya itu sangat panas dan itu hanya Zean sendiri yang bisa menikmatinya dan merasakannya serta melihatnya.
Kini Zean dan Kiana dalam perjalanan pulang tapi seperti apa yang di minta Kiana mereka singgah lebih dulu di restoran Italia untuk makan siang. Sekitar kurang lebih setengah jam mereka berada di sana dan menikmati makan siang mereka itu dengan lahap. Mungkin memang efek dari hubungan yang menguras tenaga keduanya itu.
***
Singkat cerita, kini Zean dan Kiana setelah melaksanakan sholat ashar bersama segera berangkat menuju bandara dengan di antar oleh mommy Vania dan daddy Rafael dan di bandara sudah ada Erlan yang menunggu keduanya dan mempersiapkan juga jet pribadi keluarga agar bisa segera berangkat.
“Sayang, jaga diri baik-baik di sana dan jangan lupa hubungi mommy jika sudah tiba di sana. Jangan lupa walaupun mommy tahu kau akan bertemu dengan keluargamu. Namun jangan lupakan mommy di sini.” Ujar mommy Vania lalu memeluk menantunya itu. Menantu kesayangannya yang memang dia impikan sejak dulu yang datang sendiri ke hadapannya tanpa dia cari. Sungguh kriteria menantu idamannya sudah ada dalam diri Kiana.
“Tentu mom. Kiana dan kak Zean pasti akan menghubungi kalian jika sudah tiba di sana.” Balas Kiana.
__ADS_1
Mommy Vania pun tersenyum mendengar hal itu lalu melepas pelukannya dan mengecup kening menantunya itu dengan lembut, “Jaga diri baik-baik. Zean jaga menantu mommy dengan baik. Jangan khawatirkan perusahaan ada daddy dan mommy yang akan mengawasinya.” Ujar mommy Vania.
Zean yang mendengar ucapan mommynya itu tersenyum lalu langsung merangkul Kiana, “Tanpa mommy minta pun aku pasti akan menjaga istriku. Istriku sebelum menjadi menantu kesayangan mommy adalah istri kesayanganku. Aku yang menemukannya. Jadi jangan ragukan kasih sayang, cinta dan penjagaan yang aku berikan untuk istriku.” Ujar Zean.
“Mommy hanya mengingatkan saja.” ucap mommy Vania tidak mau kalah.
Daddy Rafael yang melihat perdebatan antara istri dan putranya itu tersenyum. Selalu saja begitu, istri dan putranya itu selalu saja berdebat tapi itu adalah bentuk cinta dan kasih sayang di antara keduanya.
“Sudah jangan berdebat lagi mom. Biarkan mereka pergi pesawat akan segera berangkat. Sudah nak kalian jaga diri baik-baik di sana. Jangan lupa mengabari kami jika sudah tiba.” Ucap daddy Rafael.
Zean dan Kiana pun mengangguk lalu segera berpamitan kepada mommy Vania dan daddy Rafael sebelum masuk ke bandara.
***
Sementara di sisi lain, kini Kenzo dan Irma sudah kembali dari semua urusan yang mereka urus. Kenzo segera mengantar Irma ke kediamannya yang masih di hias untuk lamaran keduanya besok hari.
Kenzo masuk ke kediaman calon istrinya itu dan mengantar Irma sampai ke dalam. Begitu tiba di dalam dia langsung bertemu dengan kedua orang tua Irma, “Kalian sudah tiba?” tanya mami Calista.
“Tentu saja mih kami sudah tiba. Jika belum kami tidak mungkin di sini.” Jawab Irma.
__ADS_1
Mami Calista dan papi Baskara yang mendengar itu tersenyum lalu ke empat orang itu segera duduk di sofa di ruang keluarga.
“Apa semuanya sudah selesai?” tanya papi Baskara.
“Alhamdulillah sudah pih. Terima kasih sudah menyanggupi dan menyetujui lamaran serba dadakan ini.” ucap Kenzo.
Papi Baskara dan mami Calista tersneyum mendengar ucapan calon menantu mereka itu, “Tidak kami pungkiri ini memang dadakan dan sebenarnya kami tidak bisa menyanggupi ini. Namun kakakmu itu hebat dia bisa mengatasi ini dengan cepat dan lihat sekarang kediaman kami sudah di rubah dengan sangat indah sehingga semua persiapan lamaran dadakan ini bisa di atasi dengan baik.” ujar papi Baskara.
Kenzo pun tersenyum, “Kak Reya memang hebat bisa melakukan hal yang seperti ini dengan mudah apalagi kak Reya memiliki suami seperti kak Vino yang juga sama dengannya bisa melakukan hal dadakan. Dia dan kakak ipar sepaket. Keduanya sangat sat set sat set.” Ucap Kenzo.
“Kamu juga hebat nak.” ucap mami Calista.
Kenzo pun tersenyum, “Mami jangan merasa bahwa aku tersinggung. Aku memang mengagumi kak Reya dan kak Vino. Keduanya di pertemukan takdir dengan cara yang unik dan pernikahan keduanya pun di laksanakan dalam waktu yang berdekatan dengan lamaran. Namun keduanya bisa saling memahami satu sama lain.” Ujar Kenzo.
“Kau benar nak. Siapa yang gak mengenal pasangan itu. Keduanya sama-sama hebat. Kami saja sebagai orang tua mengagumi cara mencintai, menyayangi dan menghargai mereka.” ucap papi Baskara jujur.
“Yah, mama Najwa dan papa Khabir juga mengatakan itu. Kak Reya adalah putri pertama mereka jadi tahu semua yang terjadi antara mama Najwa dan papa Khabir yang kadang berdebat satu sama lain. Mama Najwa dan papa Khabir mengatakan mereka tidak melihat sedikit pun kak Reya dan kak Vino berdebat. Mereka saling mendukung satu sama lain.” Jelas Kenzo.
“Dia adalah seorang putri, istri, menantu, dan kakak yang hebat.” Lanjut Kenzo.
__ADS_1
“Apa kau pernah menginginkan istri seperti kakak sepupumu itu nak?” tanya mami Calista hati-hati saat melihat kekaguman di wajah Kenzo saat menceritakan sosok Freya yang memang mereka kenal dengan segala kecerdasannya.