Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
29


__ADS_3

Keesokkan harinya seperti biasa kedua kakak beradik itu selalu bergantian memasak hari ini tugasnya Frisya memasak karena sudah seminggu ini dia tidka bertugas maka dalam seminggu kedepan dia yang akan bertugas memasak. Frisya sudah bangun lebih awal, setelah melaksanakan sholat subuh dia segera berlalu ke dapur untuk membuatkan mereka sarapan. Sebenarnya bisa saja memesan di restoran yang ada di apartemen ini tapi orang tua mereka selalu mengajarkan jangan membuang-buang uang jika bisa memasak kenapa harus beli, selain itu juga yang kita masak kita tahu tingkat kebersihannya.


Friska keluar kamar dengan pakaian biasa yang dia pakai ke klinik. Dia segera menyeruput segelas susu yang sudah di buat adiknya. Frisya juga sudah selesai memasak nasi goreng alaa dirinya dengan beberapa lauk yang sudah dia buat. Frisya juga mulai menatanya, “Kak, ayo sarapan.” Ucap Frisya lalu segera duduk.


Friska tersenyum lalu segera mengambil nasi goreng itu dan berdoa. Kedua kakak beradik itu sarapan dalam damai. Sekitar 20 menit mereka sarapan dan kini Frisya menuju kamarnya untuk siap-siap ke tempat praktiknya, “Risya, kakak duluan yaa.” Pamit Friska kepada sang adik yang dibalas dengan anggukan saja.


Friska pun segera keluar dari apartemen bukan segera menuju klinik kakaknya karena itu masih terlalu pagi tapi dia menuju taman sebentar. Dia memasuki taman itu yang ada beberapa orang melakukan jogging di sana. Friska segera menuju bangku yang ada di taman lalu duduk di sana sambil menatap bunga dan orang-orang yang melakukan jogging. Friska diam saja dan hanya menghela nafasnya kasar, semalam dia memikirkan apa yang harus dia lakukan jika mami Sinta dan mami Jasmin masih bersikeras mencomblangkan dia dengan mantan dosennya itu yang sepertinya sudah tidak bekerja lagi sebagai dosen, “Huh, kenapa mami Sinta bisa merencanakan ini? Ehh,, tapi tunggu apa itu artinya dia belum menikah hingga saat ini hingga maminya harus diam-diam berencana melakukan perjodohan ini.” pikir Friska yang baru menyadari hal itu.


“Ahh emangnya kenapa juga jika dia belum menikah. Terserah apa statusnya aku gak peduli. Huft kenapa mulut dan hatiku tidak sejalan begini? Kenapa mulutku mengatakan tidak peduli sedangkan hatiku sepertinya mengatakan lain. Ahh aku benci diriku yang seperti ini.” gumam Friska frustasi. Semalam hal ini mengganggu pikirannya hingga sekarang bahkan bukan dari semalam tapi sejak dia kembali bertemu dengan dosennya itu. Friska hanya bisa menghela nafasnya kasar karena pusing dengan apa yang dia alami.


Sedangkan di sisi lain ada sebuah mobil mewah yang baru saja berhenti di taman itu juga bahkan mobil itu terparkir tepat di samping mobil Friska. Dia segera turun hendak jogging tapi tanpa sengaja dia melihat seorang gadis sedang duduk sambil menutup matanya di sebuah bangku taman. Dia sangat mengenal siapa gadis itu, gadis yang akhir-akhir ini mengganggu tidurnya, “Sedang apa dia di sini?” tanya pada dirinya sendiri.


Dia yang awalnya ingin melakukan jogging sebelum berkutat dengan dokumen perusahaan kini hanya diam saja dan melupakan niat awalnya ke taman itu. Dia lebih tertarik mengamati gadis yang sudah mengganggu tidurnya itu dan yang lebih membuatnya terganggu karena sulitnya dia menemukan informasi jelas akan gadis itu. Dia terus mengamati gadis itu hingga pergi dari sana setelah gadis itu melihat jam di tangannya. Dia terus melihat ke mana gadis itu pergi dan baru menyadari bahwa mobilnya terparkir tepat di samping mobil gadis itu, “Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia menunggu seseorang di sini?” tanyanya lagi pada dirinya sendiri.


“Tidak, tidak sepertinya dia tidak seperti menunggu seseorang. Sepertinya dia kesini hanya ingin menghirup udara segar saja.” jawabnya sendiri untuk pertanyaannya juga. Dia seperti orang bodoh melakukan itu.

__ADS_1


Tidak lama dia mendapat telepon, “Iya aku akan segera kesana. Dasar bawel.” Ucapnya lalu memutuskan sambungan telepon itu dan segera menuju mobilnya lalu melajukannya menuju perusahaan. Dia akan mandi lagi di perusahaan walau tidak jadi jogging tapi sepertinya kepanasan tadi karena mengamati gadis itu membuatnya gerah.


***


Sementara di sisi lain, Frisya kini sudah tiba di tempat praktiknya dan sudah di tunggu oleh Disa, “Good Morning girl!” sapa Disa.


Frisya tersenyum, “Good morning.” Balas Frisya lalu keduanya segera masuk ke dalam.


“Tumben gak diantar oleh asisten kakak iparmu.” Ucap Disa begitu mereka duduk.


“Iss kalau aku jadi kamu aku akan terus saja berpura-pura sakit agar di antar jemput oleh asisten tampan kakak iparmu itu.” ucap Disa.


“Itu kan dirimu bukan aku.” Timpal Frisya.


“Kau ini. Emang kau tidak memiliki perasaan apa kepada kakak tampan itu? Sepertinya dia baik dan terlihat menyukaimu. Selain itu juga kakakmu mengenalnya, aku yakin dia langsung mendapat restu.” Ucap Disa.

__ADS_1


Frisya hanya menggelengkan kepalanya saja, “Risya, kamu beneran gak punya hubungan apa-apa gitu dengan kakak tampan itu?”tanya Disa lagi dan Frisya hanya menggeleng.


Disa yang melihat anggukan dari sahabatnya kini kesal, “Padahal kalian itu cocok loh. Ahh aku yakin jika nanti kalian punya anak maka pasti anaknya tampan dan cantik seperti keponakan-keponakanmu. Tapi kalau anakmu nanti jangan dingin kaya keponakanmu deh, tampan aja jangan dingin.” Ucap Disa yang memang sudah bertemu dengan anak-anak Freya dan Alvino.


“Pikiranmu terlalu jauh. Kenapa gak kau aja yang mendekati kak Fazar?” tanya Frisya balik.


Disa menggeleng, “Iss sudah aku katakan kak Fazar itu cocoknya denganmu.” Timpal Disa.


“Karena? Kenapa kau berpendapat aku cocok dengannya?” tanya Frisya mulai mencatat kegiatan hariannya.


“Yah cocok aja, aku merasa kalian itu berjodoh dan aku sebagai sahabat yang baik aku tidak akan merebut milik sahabatku. Lagian aku juga sudah memiliki seseorang yang aku sukai.” Ucap Disa sambil tersenyum.


Frisya yang mendengar hal itu segera menatap Disa menyelidik, “Jangan katakan kau tertarik dengan kak El?” tebak Frisya yang sepertinya tepat sasaran karena sahabatnya itu langsung menyengir.


“Huh, katanya gak suka orang dingin tapi kok sukanya kulkas sih.” Ucap Frisya meledek sahabatnya itu.

__ADS_1


Disa tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu dia tidak tersinggung sama sekali karena memang benar yang di katakan sahabatnya bahwa dia tidak menyukai cowok dingin tapi entah kenapa begitu melihat El dia langsung jatuh dalam pesona laki-laki itu, “Namanya juga jatuh cinta Risya. Sulit di kendalikan. Aku yakin kau akan merasakan hal itu nanti jika kau jatuh cinta.” Ucap Disa. Frisya pun hanya mengangguk-ngangguk saja tidak berniat membalas.


__ADS_2