
Kini Freya baru saja tiba di rumah sakit F di mana rumah sakit yang dulunya dia pernah bekerja di sana yang juga rumah sakit di mana pemilik saham terbesarnya adalah sang suami. Dia segera menuju ruang gawat darurat dan melihat Kiana yang sedang duduk merunduk yang sudah dia pastikan sedang menangis. Freya segera mendekati adiknya itu dan menepuk bahunya, Kiana segera menatap siapa yang menepuk bahunya itu, “Kak!” panggilnya segera berdiri dengan di bantu oleh Freya.
“Sudah jangan menangis, yakinlah paman baik-baik saja. Kita berdoa untuk kesembuhannya.” Ucap Freya memeluk adiknya itu dan menepuk bahunya.
“Kak, aku hanya takut dia akan pergi karena akhir-akhir ini dia sudah sering berpesan. Aku takut kak!” ucap Kiana dalam pelukan Freya.
“Sudah, jangan pikirkan apapun. Semua pasti akan baik-baik saja.” ucap Freya.
Kiana hanya mengangguk dan masih dalam pelukan Freya, dia beruntung karena walaupun dia terlahir sebagai anak pertama tapi dia memiliki kakak sepupu seperti Freya yang menyayanginya tanpa membedakan dia hanyalah adik sepupu. Freya selalu memperlakukan adik kandungnya dan adik sepupunya sama, perhatian yang selalu di berikan sama. Entah bagaimana kakaknya itu yang sudah menikah dan memiliki lima orang anak yang butuh perhatiannya masih saja bisa mengawasi adik-adiknya dengan baik. Freya bagi para adik-adiknya layaknya ibu kedua mereka, untuk itulah semua adik-adiknya sangatlah menghormati dan menyayangi Freya.
“Sudah jangan menangis!” ucap Freya.
Tidak lama datanglah Alvino lalu dia hanya berbicara dengan isyarat kepada istrinya seolah bertanya bagaimana situasinya yang di jawab oleh Freya dengan gelengan. Alvino tidak ingin mengganggu istrinya itu yang sedang menguatkan adiknya, dia tahu Freya adalah nyawa adik-adiknya walau terkadang dia cemburu akan hal itu tapi sepertinya hari ini dia harus mengubur kecemburuannya karena ini bukan waktu yang tepat untuk cemburu.
Sekitar 10 menit kemudian datanglah Kenzo dia segera berlari menuju ruang gawat darurat. Dia sebenarnya sedang melakukan penerimaan kepada mahasiswa yang akan melakukan magang di cabang perusahaan Alvino yang dia pegang tapi begitu Kiana menelpon dia segera pergi dari sana meninggalkan pekerjaannya kepada bagian HRD.
Kenzo melihat di sana ada Alvino dan Freya dengan Kiana masih dalam pelukan Freya, “Bagaimana keadaan papa?” tanyanya.
__ADS_1
Kiana melepas pelukannya dan menatap sang adik, “Masih di tangani dokter dan hingga kini dokternya masih belum keluar.” Jawab Kiana lemah.
Kenzo hanya menghela nafasnya walau dia sedih tapi dia adalah laki-laki yang tidak boleh cengeng, “Papa pasti akan baik-baik saja kak.” Jawabnya.
“Terima kasih kak Reya, kakak ipar sudah menemani kak Kia di sini.” Lanjutnya menatap pasangan suami istri itu yang selalu ada untuk mereka.
“Kau seperti sama siapa aja. Kami ini adalah kakak kalian.” Ucap Alvino menepuk bahu Kenzo. Dia mengerti bahwa sebenarnya laki-laki itu sedih akan keadaan papanya hanya saja dia berusaha kuat karena dia paham bahwa dia adalah seorang pria.
Tidak lama kemudian akhirnya dokter yang menangani paman Vian keluar. Kiana segera berdiri mendekati dokter itu, “Bagaimana keadaan papa saya dokter?” tanya Kiana.
“Tenang saja tuan Vian baik-baik saja untung saja cepat di bawa ke rumah sakit dan kini keadaannya sudah stabil dan akan segera di pindahkan ke ruang perawatan.” Jawab dokter itu.
“Suster Kiana bisa melihat papa anda nanti dia setelah di pindahkan ke ruang perawatannya. Ohiya kami memberinya obat tidur akan dia bisa beristirahat dia akan sadar saat magrib nanti.” Jelas dokter itu.
“Terima kasih dokter sudah menangani paman saya.” ucap Freya.
“Ahh suster Freya seperti sama siapa saja. Anda walau sudah tidak bekerja di sini dan sudah memiliki klinik sendiri yang mungkin sebentar lagi akan berubah jadi rumah sakit selalu di sambut di sini dan anda tetaplah bagian dari rumah sakit ini.” ucap dokter itu.
__ADS_1
“Tetap saja saya berterima kasih dokter.” Ujar Freya.
“Dokter saya ingin paman Vian di tempatkan di ruangan VVIP.” Ucap Alvino.
“Tentu saja tuan seperti keinginan anda.” Ucap dokter itu yang tahu bahwa Alvino adalah pemilik saham terbesar rumah sakit di mana dia bekerja ini.
Alvino mengangguk saja dan dokter itu pun segera pamit dari sana meninggalkan mereka, “Terima kasih kak!” ucap Kiana dan Kenzo bersamaan.
“Kalian ini seperti sama siapa aja. Sudah seharusnya kami melakukan ini.” ucap Freya.
Tidak lama beberapa suster segera memindahkan papa Kiana ke ruang perawatan seperti permintaan Alvino. Kiana dan Freya segera mengikuti para suster itu menuju ruangan perawatan sementara Alvino dan Kenzo hanya mengikuti dari belakang, “Kakak ipar, terima kasih atas semua bantuanmu selama ini. Aku berhutang banyak padamu, kau sudah memberiku pekerjaan dan langsung dengan percaya memberikan cabang perusahaanmu kepadaku dan menjadikanku direktur di sana padahal aku mungkin tidak memiliki kemampuan untuk itu. Selain itu juga kau dan kak Reya selalu ada untuk kami. Aku sangat berterima kasih kepada kalian. Aku janji akan selalu mengabdikan hidupku kepadamu dan kak Reya.” Ucap Kenzo.
Alvino tersenyum mendengar ucapan adik iparnya itu yang kadang-kadang membuatnya cemburu melihat kedekatannya dengan sang istri, “Kau tidak perlu meremehkan dirimu karena aku tahu kemampuanmu. Aku hanya memintamu mengembangkan cabang perusahaanku itu dan belum genap dua tahun kau menjabat direktur di sana kau sudah menunjukkan perkembangan dengan harga saham perusahaan itu yang semakin naik. Aku bangga padamu! Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau mau aku repotkan dengan para mahasiswa-mahasiswa itu.” ujar Alvino. Yah, sebenarnya para mahasiswa yang akan melakukan magang itu seharusnya di perusahaan utama tapi dia melimpahkannya ke perusahaan cabang yang di kelola Kenzo.
“Ahh gak apa-apa kakak ipar. Aku juga bisa belajar bertanggung jawab lagi dari hal ini. Aku tidak akan mengecewakan kepercayaan yang kau berikan padaku.” Balas Kenzo.
Alvino hanya mengangguk, “Sudahlah sekarang ayo kita lihat keadaan papamu. Jika memang kau ingin menangis, menangislah. Tidak ada salahnya seorang laki-laki menangis karena dengan kita menangis itu bisa membuat lega.” Nasihat Alvino karena dia sudah mempraktikkan itu saat Freya koma setelah melahirkan putri terakhir mereka. Seorang putri yang sangat cantik yang di minta oleh putri pertamanya yang juga hampir merenggut nyawa sang istri yang kini sudah berubah menjadi semakin cantik dan pintar bahkan kecantikannya melebihi sang istri dan putri pertamanya, Anind.
__ADS_1
Kenzo dan Alvino segera masuk ke ruang perawatan itu di mana Kiana dan Freya sedang memeriksa alat-alat yang di pasang pada tubuh papa Vian. Bukan mereka ragu atas kerja dari para suster dan dokter hanya saja mereka ingin memastikan semua baik-baik saja. Yah, ketelitian sudah menjadi jiwa dari seorang perawat. Mungkin bukan hanya perawat tapi seluruh tenaga kesehatan karena mereka berurusan dengan nyawa.