Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
193


__ADS_3

“Bagaimana sayang?” tanya Rezky begitu melihat istri nya itu keluar dari kamar mandi.


Friska tersenyum lalu mengangguk, “Positif bie.” Jawab Lila memperlihatkan dua buah tespeck yang sama-sama garis dua.


Rezky yang melihat itu pun tersenyum lalu segera menggendong Friska itu di tangan nya. Seolah Friska sangat ringan di tangan nya. Sungguh dia sangat bahagia.


“Bie, turunkan aku. Aku pusing.” Ucap Friska senang tapi dia juga pusing di gendong oleh suami nya itu. Selain itu juga dia tidak ingin jatuh walau pun dia tahu bahwa suami nya itu pasti tidak akan membuat nya jatuh. Namun dia tetap harus berjaga-jaga agar sesuatu yang tidak di inginkan itu terjadi.


Rezky pun segera menurunkan Friska dengan sangat hati-hati lalu memeluk nya dengan erat menciumi seluruh wajah istri nya. Sungguh dia sangat bahagia karena apa yang dia inginkan itu terjadi. Dia akan menjadi ayah sebentar lagi. Sungguh kabar yang membahagiakan.


Setelah menciumi seluruh wajah sang istri lalu Rezky pun turun ke perut rata milik Friska dan menciumi nya dan mengusap nya lembut, “Ini daddy sayang.” ucap Rezky.


“Daddy?” tanya Friska.


Rezky mengangguk, “Aku ingin di panggil dengan daddy oleh anak kita.” Ucap Rezky.


“Tapi aku ingin di panggil ibu.” Ucap Friska.


“Yah, masa gitu sih. Jika daddy maka pasangan nya itu mommy sayang. Pokok nya mommy dan daddy. Aku memaksa.” Ucap Rezky.


Friska pun tersenyum lalu mengangguk saja, “Baiklah, daddy!” ucap Friska tersenyum.


Rezky pun tersenyum lalu segera mengecup bibir Friska lembut.


“Bie, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan.” Ucap Friska kesal menatap suami nya itu yang hanya di tanggapi oleh Rezky dengan senyum ciri khas nya.


“Kita harus beritahukan kabar gembira ini kepada orang tua kita.” Ucap Rezky bersemangat.


Friska pun mengangguk, “Tapi bie menurutku nanti saja. Setelah memastikan bahwa kandunganku baik-baik saja dan setelah kita tahu berapa usia nya dengan menggunakan USG maka baru lah setelah itu kita memberi tahukan kepada mereka.” ucap Friska.


Rezky pun terdiam sambil berpikir lalu kemudian dia mengangguk, “Hum, seperti nya itu bukan ide yang buruk. Baiklah kita akan memberi tahu mereka nanti setelah di USG.” Ucap Rezky.


Friska pun tersenyum saja melihat itu. Dia sungguh bahagia bisa hamil sesuai apa yang dia rencanakan. Syukur lah semua nya berjalan dengan baik dan lancar.


“Ohiya sayang kapan kita akan ke rumah sakit untuk memeriksa nya?” tanya Rezky.


“Hum, besok saja ya bie. Ini sudah sore. Di klinik kakak saja.” ucap Friska.


Rezky pun mengangguk saja yang penting mana yang terbaik saja dan nyaman untuk istri nya itu.


***


Kembali ke sisi Frisya dan Fazar saat ini mereka sedang menikmati hidangan laut di restoran yang mereka singgahi.


Sekitar kurang lebih satu jam mereka di sana sebelum kemudian melanjutkan perjalanan pulang yang langsung ke kediaman Freya dan Alvino.


Begitu tiba di kediaman Alvino dan Freya ternyata di sana sudah ada mama Najwa dan papa Khabir lalu ada juga ayah Yahya dan ibu Yulia.


Frisya yang melihat keberadaan kedua orang tua nya dan juga calon mertua nya itu menjadi bertanya-tanya ada apa sebenar nya. Tidak mungkin kan karena kepergian nya mereka berkumpul di sini. Entah kenapa perasaan nya merasa bahwa akan ada sesuatu yang besar terjadi yang akan di putuskan di sini.


“Kalian sudah tiba. Ayo lah duduk.” Ucap mama Najwa.


Frisya dan Fazar pun segera mendekati kedua orang tua mereka itu yang sedang berada di ruang keluarga. Frisya dan Fazar menyalami kedua orang tua mereka masing-masing lalu duduk di sana. Kedua orang tua mereka itu memandang mereka seperti mereka adalah orang yang tertuduh melakukan kesalahan fatal.


“Ada apa sebenar nya? Apa yang sudah terjadi. Eehh tapi sebelum kalian bicara maka bisa kah mengizinkan Risya mandi dulu. Risya bau dan gerah sudah beberapa hari belum mandi.” Ucap Frisya.


“Sudah sana kau mandi lah lebih dulu. Papa beri waktu dua puluh menit saja kau sudah kembali ke sini lagi.” Ucap papa Khabir.


Frisya pun menelan ludah nya kasar sambil menatap papa nya itu. Jika papa nya sudah bersikap serius seperti itu maka pasti hal yang akan di bahas pun adalah hal yang serius.


“Baiklah Risya akan cepat mandi nya.” Ucap Frisya lalu segera pamit ke kamar untuk mandi.


Kini di sana tinggal lah lima orang itu dan di tambah Freya dan Alvino yang baru saja turun dari lantai dua.


“Risya mana Fazar?” tanya Freya karena tidak menemukan keberadaan adik nya itu.


“Dia masih mandi kak.” Jawab Fazar.


Freya pun mengangguk mengerti lalu dia dan Alvino pun segera ikut duduk di sofa yang ada di sana.


“Fazar, apa kamu yakin dengan keputusan mu itu?” tanya papa Khabir menatap calon menantu nya itu. Calon menantu yang sudah lulus dari ujian yang di berikan putri sulung nya.


Fazar mengangguk yakin, “Saya yakin pah. Saya tidak bisa menunggu sampai dua minggu lagi. Saya tidak ingin dia pergi lagi.” Ucap Fazar.


Freya pun tersenyum mendengar ucapan Fazar itu, “By, seperti nya dia sangat tidak sabaran sepertimu.” Bisik Freya kepada suami nya.


“Sayang!” ucap Alvino menatap istri nya itu dan memeluk Freya. Istri nya itu memang kadang terlihat dingin dan tegas tapi hanya dia yang tahu bahwa Freya itu lembut dan penuh kasih.


“Apa kau tidak menyesal nanti. Biarkan saja berjalan seperti apa yang sudah di rencanakan nak. Kalian juga belum menyelesaikan foto pra wedding kalian. Bukan kah Risya ingin mengambil foto lagi.” Ucap mama Najwa.


“Saya tahu mah. Tapi untuk pengambilan foto bisa di tunda sampai kami menikah nanti. Itu bisa jadi foto post wedding dan saat itu pun kami tidak perlu takut lagi untuk bersentuhan. Jadi saya tidak akan menyesal dan ingin mempercepat pernikahan kami.” ucap Fazar.


Mama Najwa dan papa Khabir pun mengangguk, “Baiklah jika memang itu keputusan mu. Kami akan segera menghubungi pihak pembuat undangan agar mengubah tanggal pernikahan kalian menjadi lusa. Ohiya bagaimana dengan calon besan. Apa kalian tidak keberatan?” tanya papa Khabir menatap kedua orang tua Fazar itu.

__ADS_1


“Kami tidak keberatan. Jika itu sudah jadi keputusan putra kami maka kami pun mendukung nya selama itu masih dalam konteks kebaikan. Kami tidak akan keberatan.” Ucap ayah Yahya.


“Baiklah jika memang begitu. Kita setujui bahwa pernikahan mereka akan di percepat menjadi lusa.” Ucap papa Khabir. Setelah mereka menyetujui itu maka mereka pun segera menghubungi semua vendor terkait.


Tidak lama Frisya keluar dengan wajah segar nya karena sudah selesai mandi. Dia pun segera bergabung kembali dengan kedua orang tua nya, calon mertua nya, calon suami nya, kakak nya dan kakak ipar nya itu.


“Kami sudah memutuskan pernikahan kalian di majukan mejadi lusa nak. Jangan protes.” Ucap papa Khabir.


Frisya yang baru saja duduk mendengar ucapan papa nya itu seketika terdiam dan menelan ludah kasar. Sungguh hal yang dia takutkan akhirnya terjadi juga.


“Apa tidak bisa tidak di majukan?” tanya Frisya hati-hati.


Kedua orang tua nya itu menggeleng, “Ini sudah keputusan akhir. Tidak bisa di ganggu gugat. Kalian akan menikah lusa dan kami pun sudah menghubungi semua vendor. Besok semua undangan akan di edar.” Ucap mama Najwa.


Frisya pun menatap Freya seolah ingin meminta bantuan kepada kakak sulung nya itu tapi seperti nya semua nya tidak berguna karena kakak nya itu pura-pura tidak melihat nya. Sungguh menjengkelkan memang. Tapi sudah lah terima saja dari pada menolak namun tidak ada guna nya. Seperti nya memang ini sudah menjadi takdir nya walau pun semua yang terjadi adalah scenario buatan kakak nya. Ini menjengkelkan tapi sudah lah semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu di sesali. Lagi pula menikah lusa atau pun nanti tetap sama saja. Tapi dia masih ingin mengambil foto lagi.


“Jika mengambil foto pra wedding yang kau khawatirkan maka tidak perlu khawatir dek. Calon suami mu itu sudah merencanakan hal itu nanti setelah kalian menikah. Pengambilan foto post wedding. Itu juga lebih baik.” ucap Freya.


Frisya pun hanya bisa mendesis dan mengangguk saja, “Baiklah. Risya menerima apapun keputusan yang sudah di ambil. Lagi pula tidak ada guna nya menolak jika semua sudah di rencanakan. Risya menerima nya. Menikah lusa atau pun nanti juga sama saja. Risya tetap akan menikahi pria yang sama. Pria yang sudah lulus ujian.” Ucap Frisya menatap calon suami nya itu dengan tersenyum lalu dia beralih menatap sang kakak yang berlagak tidak bersalah.


“By, seperti nya dia sudah tahu bahwa aku lah yang ada di balik semua yang terjadi pada nya dan Fazar..” Bisik Freya kepada sang suami.


Alvino pun hanya tersenyum, “Dia lebih bisa membaca rencanamu ketimbang Friska.” Ujar Alvino juga berbisik. Freya pun hanya tersenyum.


“Mah … pah … kakak dan kakak ipar itu tidak sopan berbisik-bisik.” Ucap Frisya menatap sinis ke arah Freya dan Alvino.


“Maaf mah. Kami hanya sedang membicarakan sesuatu yang bersifat rahasia saja.” ucap Freya menatap adik nya dengan tersenyum. Sungguh drama yang indah.


“Awas saja yaa kau kak. Aku akan menuntutmu.” Batin Frisya geram.


“Adik ipar jika kau ingin menyalahkan kenapa pernikahan kalian di percepat maka salahkan saja itu calon suami mu. Dia sudah tidak sabar untuk menikah denganmu. Hingga mempercepat pernikahan kalian.” ucap Alvino.


“Ck, kakak ipar jangan menjadi kompor. Aku tahu apa maksud di balik ucapanmu itu. Aku sangat tahu. Kau itu adalah pembela istrimu.” Ucap Frisya.


Alvino pun tersenyum, “Tentu saja itu akan kakak lakukan adik ipar. Seorang suami memang harus menyelamatkan dan menjaga istri nya.” Ucap Alvino.


“Yah, terserah padamu saja kakak ipar.” Ucap Frisya.


“Sudah, jangan ribut.” ucap papa Khabir.


Setelah itu mereka pun segera membicarakan semua nya agar berjalan lancar untuk pernikahan Frisya dan Fazar.


***


“Risya, kamu ikut papa dan mama pulang ke rumah.” Ucap mama Najwa.


“Mah, Risya nanti pulang besok saja deh.” Tolak Frisya.


“Gak bo--”


“Sudah, biarkan saja mah. Baiklah kamu pulang ke sana besok saja tapi ingat pulang lah besok pagi. Jangan nanti sore.” Ucap papa Khabir.


“Tapi pah.”


Papa Khabir menggeleng, “Biarkan saja mah. Dia mungkin masih ada yang harus dia bicarakan dengan kakak nya.” Ucap papa Khabir.


Mama Najwa pun akhirnya hanya bisa menarik nafas panjang dan menurut saja apa kata papa Khabir.


“Baiklah. Pulang lah tepat waktu. Jam sepuluh besok pagi kau sudah harus tiba di rumah. Selesaikan semua pembicaraanmu dengan kakakmu itu.” Ucap mama Najwa.


Frisya pun mengangguk lalu menatap Freya yang mengabaikan nya.


Tidak lama setelah itu mama Najwa dan papa Khabir pun segera pamit pulang. Mereka harus menyiapakan semuanya dengan kilat karena pernikahan yang akan di lakukan di waktu yang berdekatan.


Kini di ruang keluarga itu tinggal lah Frisya, Freya dan Alvino, “Emm, sayang aku mau menemui kedua putri ku dulu. Kalian selesaikan masalah kalian. Jangan sampai ada pertengkaran.” Ucap Alvino lalu dia segera menuju lantai dua meninggalkan dua kakak beradik itu.


Freya dan Frisya pun kini saliang berpandangan satu sama lain, “Kau mau protes soal apa dek?” tanya Freya.


Frisya pun diam saja lalu segera mendekati Freya dan memeluk kakak sulung nya itu, “Aku tidak ingin melakukan protes apapun. Aku justru berterima kasih padamu kak. Kau sudah membuktikan semua nya. Tapi bentuk ujian yang kau lakukan itu sedikit menakutkan kak. Aku saja sampai percaya bahwa calon suamiku melakukan hal seperti iti.” Ucap Frisya dalam pelukan Freya.


Freya pun tersenyum, “Jadi sekarang kau mau apa? Mau mengucapkan terima kasih atau apa?” tanya Freya.


“Hum, terima kasih tapi tetap saja aku juga ingin protes sedikit karena kau tidak melibatkan aku dalam rencana pengujianmu itu. Jika aku tahu maka aku tidak akan lari kan.” Ucap Frisya.


“Maka untuk itu lah kakak tidak memberitahu kepada mu karena kakak tahu kau itu mudah percaya dengan apa yang kau lihat. Bagimu lari dulu baru nanti saja masalah nya di selesaikan. Dasar kekanakan. Ingat dari kejadian ini kau bisa mengambil kesimpulan jangan mengambil keputusan tergesa-gesa tanpa mendengar penjelasan terlebih dulu.” Ucap Freya.


“Aku hanya ingin menyelamatkan kesehatan mentalku dulu kak. Bagiku kesehatan mental itu lebih penting dari fisik. Aku ingin berpikir jernih akan semua nya.” Ucap Frisya.


“Hum, kakak tahu memang kesehatan mental itu lebih penting tapi kau tetap harus mengubah hal itu mulai sekarang. Ingat masalah yang akan timbul dalam rumah tangga itu beragam dan tidak sama antara masalah rumah tangga yang terjadi pada rumah tangga kakak dan rumah tanggamu nanti. Jadi kau harus menyiapkan mentalmu untuk itu. Memang apa yang kau lakukan itu tidak salah menyelamatkan mentalmu tapi dalam rumah tangga kita sebagai perempuan di tuntut untuk memakai logika kita. Kau mengerti kan maksud kakak?” tanya Freya.


Frisya pun mengangguk, “Aku mengerti kak. Aku sangat mengerti apa yang ingin kau katakan. Aku tahu hal itu. Aku akan belajar dewasa. Tolong bimbing aku.” Ucap Frisya.


“Kamu tidak perlu bimbingan dek. Kamu sudah tahu mana yang baik atau tidak baik untuk hidupmu dan itu pasti akan berguna juga untuk rumah tanggamu. Kakak percaya kamu bisa menjalani semua ujian rumah tanggamu nanti. Kakak juga percaya Fazar adalah calon suami idaman dan bertanggung jawab yang akan menjagamu dengan sangat baik. Kakak percaya hal itu. Kamu tidak perlu meragukan nya.” Ucap Freya.

__ADS_1


Frisya pun mengangguk, “Aku juga tahu hal itu kak. Calon suamiku itu adalah yang terbaik. Aku beruntung akan memiliki nya. Aku akan menjalani kehidupan rumah tanggaku dengan penuh kebahagiaan nanti.” Ucap Frisya.


“Aamiin.” Ucap Freya. Lalu pada akhirnya kedua kakak beradik itu jadi salin bertukar cerita satu sama lain.


***


Keesokkan pagi nya di kediaman Friska dan Rezky selepas sarapan pasangan suami istri itu pun segera bersiap untuk ke klinik untuk mengecek kehamilan.


“Sayang, ayo berangkat.” Ucap Rezky.


Friska pun mengangguk lalu segera meraih tas nya dan segera menggandeng lengan sang suami lalu mereka segera menuju pintu keluar. Tidak lama suara mobil pun berbunyi dan mereka segera meninggalkan kediaman mereka itu menuju klinik.


Sekitar 20 menitan saja mereka sudah tiba di klinik Freya. Rezky dan Friska pun segera turun.


“Hum, seperti nya aku akan jadi pasien nomor satu hari ini.” ucap Friska melihat jam tangan nya yang menunjukkan pukul 08.12 menit. Itu berarti aktivitas di klinik ini baru di mulai dua belas menit yang lalu.


“Tidak apa-apa sayang.” ucap Rezky.


Mereka pun segera masuk dan menuju ruangan Friska sendiri di klinik itu. Friska segera meletakkan tas nya di sana dan melihat beberapa laporan di sana.


“Kita langsung ke ruangan dokter Fiona saja.” ucap Friska.


Rezky pun mengangguk lalu sepasang suami istri itu pun segera keluar ruangan Friska dan berjalan menuju ruangan dokter Fiona.


“Itu bukan Rezky dan Riska ya. Iya? Mau apa mereka kesini. Jika Riska ke sini itu sudah hal umum karena di sini tempat kerja nya tapi jika datang bersama Rezky dan saat ini sedang menuju ruangan dokter Fiona maka hal itu patut di curigai. Hum, aku harus ke sana.” Ucap Freya yang baru datang dan melihat adik dan adik ipar nya itu.


Freya pun segera menuju ruangan nya terlebih dahulu untuk menyimpan tas dan bekal yang dia bawa. Setelah itu baru lah dia menuju ruangan dokter Fiona.


Kini Friska dan Rezky pun sudah berada di ruangan dokter Fiona, “Hum, bidan Friska ada apa ini? Apa datang sebagai bidan atau pasien?” tanya dokter Fiona sudah bisa menebak sesuatu. Karena biasa nya jika Friska itu ke ruangan nya pasti dengan laporan di tangan nya tapi hari ini tidak ada laporan dan dia datang bersama suami nya maka itu pasti ada sesuatu.


Friska pun tersenyum mendengar pertanyaan dari dokter Fiona itu, “Hari ini saya datang sebagai pasien dokter.” Jawab Friska tersenyum.


Dokter Fiona pun ikut tersenyum, “Baiklah jika memang begitu. Apa sudah melakukan pengecekan?” tanya dokter Fiona.


Friska pun mengangguk, “Sudah dokter. Saya sudah melakukan nya dan kedatangan kami ke sini untuk memastikan nya.” Ucap Friska.


“Hum, baiklah jika memang begitu. Kita segera ke ruang pemeriksaan saja.” ucap dokter Fiona segera berdiri lalu tiba dari pintu segera terbuka dan itu Freya.


“Assalamu’alaikum. Apa bisa saya ikut melihat?” tanya Freya.


Dokter Fiona, Friska dan Rezky pun tersenyum melihat apa yang di lakukan Freya itu, “Tentu saja boleh kakak ipar. Silahkan!” ucap Rezky. Freya pun segera masuk dan tersenyum.


Lalu setelah itu mereka pun segera menuju bed yang ada di sana. Friska segera berbaring di sana dan dokter Fiona pun segera memulai prosedur nya.


Tidak lama kemudian di layar monitor mulai terlihat ada kantong janin, “Selamat. Anda memang positif hamil. Seperti nya saya tidak perlu menjelaskan apapun karena bidan Friska sendiri sudah bisa mengetahui semua nya sendiri.” Ucap dokter Fiona.


“Itu istri saya dokter. Tapi saya tidak mengerti apapun. Jadi jelaskan kepada saya saja.” ucap Rezky.


Freya dan Friska pun tersenyum, “Jelaskan saja dokter kepada calon ayah. Dia seperti nya sangat penasaran dengan anak nya itu.” ucap Freya.


Dokter Fiona pun tersenyum dan mengangguk lalu dia segera menjelaskan semua nya kepada Rezky.


“Dokter, apa sudah bisa di ketahui jenis kelamin nya?” tanya Rezky setelah dokter Fiona menjelaskan semua nya dan dia pun sudah paham akan hal itu.


Friska yang sudah rapi dan sudah duduk begitu mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh suami nya itu pun seketika hanya bisa mengerang saja.


“Dek, jelaskan pada suamimu.” Ucap Freya menahan senyum nya.


“Bie, dia masih sangat kecil. Baru juga berusia 6 minggu. Belum terbentuk masih gumpalan darah. Jadi mana mungkin kita bisa mengetahui jenis kelamin nya. Untuk mengetahui jenis kelamin itu maka nanti saja jika dia sudah berusia lima bulan.” Jelas Friska lembut.


Rezky pun tersenyum dan mengutuk kebodohan nya itu, “Maaf sayang.” ucap Rezky. Friska pun hanya mengangguk.


Sementara dokter Fiona dan Freya pun hanya tersenyum saja. Mereka maklum akan hal itu tapi tetap saja terdengar lucu.


“Dek, selamat untukmu. Kamu akan menjadi ibu.” Ucap Freya.


“Terima kasih kak.” Ucap Friska. Lalu setelah dokter Fiona meresepkan obat untuk Friska mereka pun segera keluar bersama-sama. Dokter Fiona tidak lagi melakukan bimbingan konseling terkait makanan karena Friska sendiri sudah tahu hal itu.


“Ohiya dek, kamu sudah tahu kan pernikahan Risya di majukan menjadi besok?” tanya Freya.


Friska mengangguk, “Hum, aku sudah tahu kak. Kan semalam sudah di bahas di grup keluarga.” ucap Friska.


Freya pun mengangguk, “Syukurlah jika memang begitu. Terus kapan kalian akan ke sana?” tanya Freya lagi.


Friska pun menatap suami nya, “Kami akan ke sana sore nanti kakak ipar. Kami akan menginap di rumahmu jika kau berkenan.” Ucap Rezky.


Freya pun mengangguk, “Tentu saja. Aku berkenan. Zean dan Kiana pun akan menginap di sana.” Ucap Freya.


“Kakak ipar Zean sudah kembali kak?” tanya Friska.


“Dalam perjalanan mungkin.” Jawab Freya.


Friska pun mengangguk mengerti. Lalu setelah itu mereka pun berpisah. Friska dan Rezky ke ruangan Friska sementara Freya pun kembali ke ruangan nya untuk menyelesaikan apa aktivitas nya hari ini sebelum nanti akan pulang.

__ADS_1


__ADS_2