Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
80


__ADS_3

Kenzo segera menahan lengan Irma begitu Irma meraih gelas kopi itu, “Jangan di bawa. Kamu tidak perlu menggantinya karena saya menyukai kopinya.” Ucap Kenzo lalu kembali meneguk kopi itu lagi.


Irma yang mendengar itu hanya bisa melongo tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apa pak dirutnya itu baru saja mengatakan menyukai kopi buatannya? Dia tidak salah dengar kan? Sepertinya dia memang tidak salah dengar karena buktinya saat ini di hadapannya pak dirutnya itu sedang meneguk kopi buatannya.


Kenzo meletakkan gelas kopi yang sudah habis itu, “Apa yang kamu tambahkan ke dalam kopi itu? Kenapa rasanya berbeda tapi manisnya sangat pas. Tidak terlalu manis dan juga tidak pahit. Apa yang kamu tambahkan?” tanya Kenzo lagi mengulangi pertanyaannya yang tadi tidak di jawab oleh Irma.


Irma yang mendengar pertanyaan itu pun kini memberanikan menjawab setelah mengetahui bahwa kopi buatannya di habiskan oleh Kenzo tanpa tersisa, “Saya menambahkan gula aren gula semut sebanyak setengah sendok teh. Hanya itu saja yang tambahkan kesana selain dua sendok teh kopi dan satu sendok makan gula pasir.” Jawab Irma.


Kenzo pun mengangguk-ngangguk tanda dia mengerti, “Baiklah jika begitu. Mulai saat ini kamu saya tugaskan untuk menyiramkan kopi untuk saya setiap harinya dengan takaran yang kau buat hari ini. Kamu bisa kan?” tanya Kenzo menatap gadis cantik di hadapannya itu. Yah, Kenzo baru menyadari bahwa gadis di hadapannya itu cantik saat di lihat dari jarak dekat begini. Kenapa dia baru menyadari hal itu? Apa mungkin karena dia yang terlalu sibuk dan sedih karena kehilangan papanya hingga tidak bisa melihat kecantikan gadis yang sudah sekitar kurang lebih sebulan itu bekerja di perusahaan yang dia pimpin.


Irma yang mendengar perkataan Kenzo segera mengangguk karena dia tidak ingin melakukan kesalahan dan dia sangat bersyukur rajikan kopi dadakannya dengan takaran mengandalkan perkiraan itu bisa di sukai oleh pak dirut-nya. Gak masalah jika dia harus menyiramkan kopi untuk atasannya itu setidaknya dia melakukan itu selama dia bekerja di sini, “Saya bisa tuan.” Jawab Irma mengangguk.


Kenzo yang mendengar jawaban persetujuan dari Irma pun tersenyum tipis, “Baiklah karena kau sudah setuju maka buatkan saya segelas kopi lagi lalu antarkan kesini dan kamu kembalilah menulis laporanmu.” Ucap Kenzo.


Irma pun segera mengangguk lalu dia segera mengambil gelas kopi yang sudah habis itu dan segera keluar dari ruangan Kenzo untuk membuatkan kopi lagi untuk Kenzo.


Kenzo yang melihat punggung Irma menghilang dari balik pintu ruangannya tersenyum, “Apa yang kau sembunyikan sebenarnya dari orang-orang? Kenapa kau selalu turun 100 meter dari kantor? Lalu kenapa aku melihatmu di rumah sakit waktu itu? Aku yakin itu dia?” gumam Kenzo.

__ADS_1


Irma hanya dalam waktu sepuluh menit sudah selesai membuat kopi dan segera mengantarkan kopi itu ke dalam ruangan Kenzo lalu dia segera kembali menulis laporan yang harus dia pelajari. Tidak lama setelah itu Grey pun pulang dan kembali bergabung dengannya.


***


Kita tinggalkan lagi Kenzo dan Irma kita menuju Frisya yang kini berada di kampusnya bersama Disa sedang menyusun laporan mereka, “Risya!” panggil Disa.


Frisya pun hanya menjawab dengan deheman tanpa menatap temannya itu dan tetap sibuk dengan urusannya menyusun laporannya. Disa yang melihat itu pun menjadi sangat kesal dan segera menegakkan bahu Frisya yang menunduk menyusun laporan, “Kenapa sih?“ tanya Frisya kesal menatap Disa.


Disa tidak menghiraukan kekesalan dari Frisya dan langsung memutar tubuh Frisya agar sama dengannya lalu dia menunjuk seseorang dengan jari telunjuk, “Lihat tuh!” ucap Disa.


Frisya pun menghela nafas lalu dia segera berdiri mendekati pria itu yang berdiri di mobil, “Kenapa datang ke sini kak?” tanya Frisya saat jarak mereka sudah dekat.


“Aku hanya ingin melihatmu. Aku sudah lama tidak melihatmu. Apa kau gak bisa melihatmu?” tanya Fazar menatap Frisya dalam.


Frisya yang mendengar jawaban yang di berikan oleh Fazar hanya bisa menghela nafas, “Apa sudah lama di sini?” tanya Frisya lembut.


“Gak kok mungkin sekitar 10 menit yang lalu.” Jawab Fazar.

__ADS_1


Frisya yang mendengar itu kembali menghela nafas karena jarak antara kampus dan perusahaan kakak iparnya bisa memakan waktu 15 menit. Itu berarti pria di hadapannya itu langsung ke sini begitu masuk waktu istirahat, “Kenapa langsung datang kesini? Ahh sudahlah lebih baik ayo makan. Kakak pasti belum makan siang.” Ajak Frisya lalu segera berbalik dan meninggalkan Fazar berjalan menuju ke arah Disa berada. Fazar pun mengikuti Frisya dari belakang dengan tersenyum tipis.


“Disa, ayo makan siang.” Ajak Frisya.


Disa bukannya menjawab justru menatap Frisya dan Fazar bergantian, “Woy, ayo makan jangan ngelamun aja.” Ucap Frisya menepuk bahu Disa dengan keras.


“Aw sakit! Bisa gak sih mukulnya jangan keras.” Ujar Disa kesal.


Frisya hanya terkekeh, “Salah sendiri ngelamun. Di ajak makan entah menghayal apa. Sudah ahh ayo makan.” Ucap Frisya lalu segera mengambil laporannya dan pergi menuju kantin yang berada di belakang gedung jurusannya itu. Disa pun segera mengikuti Frisya dan mereka berjalan beriringan dengan Fazar yang ikut dari belakang kedua gadis itu.


Singkat cerita, kini mereka sudah selesai makan dan sudah berada di gedung jurusan Frisya dan Disa lagi, “Kak, sana kau pulanglah. Waktu istirahatmu akan selesai dalam lima menit lagi.” Ucap Frisya.


Fazar pun mengangguk lalu dia segera menuju mobil dan tidak lama mobil itu berlalu. Tidak masalah jika mereka tidak sempat bicara dengan serius yang terpenting dia sudah melihat wajah gadis yang dia rindukan itu dan mereka makan siang bersama. Jadi tidak rugi waktu istirahatnya dia pakai datang ke sini.


Sementara Frisya dan Disa yang kini melihat mobil Fazar sampai sudah tidak kelihatan lagi hanya bisa saling menatap, “Risya, kenapa kok kamu dan asisten Fazar terlihat asing. Apa kalian ada masalah?” tanya Disa penasaran akhirnya mengeluarkan suara.


Frisya menggeleng, “Kami tidak memiliki masalah apapun dan perlu kau ingat kami tidak memiliki hubungan apapun. Jadi jangan pernah bertanya lagi atau mengatakan kami orang asing karena kami memang tidak sedekat itu. Aku hanya memiliki hubungan dengannya sebatas saling kenal saja karena dia asisten kakak iparku dan aku adalah adik kak Reya. Ohiya satu lagi aku ingin fokus menyelesaikan profesiku dulu baru nanti memikirkan hal lain.” Ujar Frisya. Disa yang mendengar itu pun hanya bisa diam.

__ADS_1


__ADS_2