
Irma menggeleng, “Gak apa-apa kak. Aku senang kok melihatnya. Mereka lucu.” Ucap Irma menatap Azwa dan putra kembar Freya dan Alvino itu.
“Kami memang lucu calon aunty.” Ucap Azwa dengan percaya diri.
Alvino yang mendengar putri bungsunya itu yang narsis pun hanya bisa menepuk dahinya karena tidak menyangka bahwa putri kecilnya itu sangatlah mirip dengannya.
Freya yang melihat suaminya menepuk dahinya pun tersenyum, “Kenapa mas menepuk dahi begitu? Baru sadar bahwa putri kecil kita itu meniru kenarsisanmu.” Ucap Freya.
“Sayang, jangan begitu di hadapan anak-anak.” Ucap Alvino.
“Emang kenapa ayah gak boleh begitu? Kami memang menirumu.” Ucap Azlan.
Seketika ucapan Azlan itu membuat semua orang menertawakan Alvino, “Aku tidak meniru ayah. Aku meniru bunda.” Ucap Azlen.
“Yah, kita memang kembar tapi beda. Kau memang sedingin bunda.” Ucap Azlan.
“Bunda gak dingin loh nak. Coba sentuh bunda hangat loh.” Ucap Freya.
“Ish bunda maksud abang Azlan itu bukan tubuh bunda yang dingin tapi kepribadian bunda yang cool.” Jelas Azwa seperti orang dewasa saja.
Freya pun yang gemas dengan tingkah putri kecilnya itu menciumi keningnya, “Uhh gemas banget sih putri kecil bunda.” Ucap Freya. Azwa yang di puji oleh Freya pun tersipu malu.
“Bunda jangan memuji Azwa begitu. Azwa malu.” Ucap Azwa menyembunyikan wajahnya di perut Freya.
Tingkah Azwa itu pun menimbulkan gelak tawa dari Kenzo dan Irma. Irma menjadi gemas dengan tingkah anak-anak Freya dan Alvino itu.
“Bunda, Azwa mau ke kamar aja deh. Ayo bang!” ajak Azwa kepada Azlan dan Azlen.
Si kembar pun segera menurut dan ketiganya segera meninggalkan ruang keluarga menuju lantai dua, “Kak, mereka sangat lucu.” Ucap Irma.
Freya dan Alvino pun hanya tersenyum, “Kalian dari mana tadi dek?” tanya Freya menatap Kenzo.
__ADS_1
“Emm, kami dari makam papa kak.” Jawab Kenzo. Freya pun kini mengangguk mengerti.
“Lalu setelah ini rencana kalian mau kemana?” tanya Freya menatap Kenzo dan Irma. Irma yang tidak tahu apapun hanya menatap Kenzo.
“Aku akan membawanya ke makam mama. Aku harus mengenalkan calon istriku kepada mama kan. Aku juga akan mengenalkannya secara resmi kepada keluarga kita.” Jawab Kenzo.
“Baiklah jika memang begitu. Kakak juga sudah menghubungi mama dan papa. Mereka saat ini masih sibuk dengan penetapan pernikahan Friska dan Rezky. Tapi lusa adalah lamaran kalian. Irma apa kau memiliki keinginan untuk konsep lamaran?” tanya Freya.
Irma yang mendapat pertanyaan itu bingung karena dalam pikirannya lamaran yang akan di lakukan lusa itu baru lamaran secara keluarga saja belum lamaran resmi, “Apa kau pikir lamarannya belum lamaran resmi dek?” tanya Freya.
Irma pun mengangguk jujur, “Jika kau sudah yakin untuk menikah dan menerima adik kakak sebagai suamimu. Kenapa kita harus menunda terlalu lama untuk lamarannya. Apa kau belum siap lamarannya lusa?” tanya Freya.
Irma menggeleng, “Bukan seperti itu kak. Hanya saja apa itu tidak terlalu cepat?” tanya Irma.
Freya pun tersenyum, “Coba kau tanya kepada calon suamimu itu apa itu cepat atau tidak?” ucap Freya.
“Kak!” ucap Kenzo. Freya pun tertawa.
“Terima kasih kak.” Ucap Irma.
Freya tersenyum, “Kakak juga pernah merasakan apa yang kau alami. Jadi sudah tentu kakak mengerti bagaimana perasaanmu saat ini. Kau pasti kaget kan dengan proses lamaran yang cepat. Jadi kami akan menerima keputusanmu. Jangan terlalu khawatir.” Ucap Freya.
Irma pun mengangguk, “Terima kasih sekali lagi kak sudah memilihku menjadi calon istri dari adikmu.” Ucap Irma.
Freya pun memeluk Irma, “Jangan berterima kasih. Kau itu gadis yang special. Jadi tidak ada alasan bagi kami untuk menolakmu. Ohiya mulai sekarang jangan merasa sendiri lagi. Kau bisa bicara dengan kakak kapan pun kau mau. Kau bisa curhat dengan kakak atau pun jika kau merasa sungkan atau apalah. Kau bisa cerita dan curhat dengan Friska dan Frisya yang masih seumuran denganmu. Intinya jangan merasa sendiri karena mulai sekarang kami juga keluargamu.” Ucap Freya.
Irma pun kembali mengangguk dalam pelukan Freya, “Terima kasih kak. Aku akan merepotkanmu nanti.” Ucap Irma.
“Tidak masalah.” Ucap Freya lalu melepas pelukannya.
Kenzo dan Alvino yang melihat itu hanya tersenyum. Alvino bangga dengan istrinya yang sangat mengayomi adik-adiknya. Sementara Kenzo juga sama dia mengagumi kakaknya itu yang tidak pernah membedakan mereka yang hanya adik sepupu. Freya memperlakukan adik kandungnya dan juga adik sepupunya sama. Kenzo berjanji dalam hatinya akan mendidik anak-anaknya kelak sama seperti Freya yang sangat menyayangi semua saudaranya.
__ADS_1
***
Singkat cerita, kini Kenzo dan Irma sudah dalam perjalanan menuju rumah mama Najwa dan papa Khabir.
“Kak!” ucap Irma.
“Hmm, ada apa? Apa kau ingin membicarakan lamaran itu? Jika memang kau belum siap kita bisa menundanya.” Ucap Kenzo.
Irma menggeleng, “Bukan seperti itu kak, aku siap untuk lamaran lusa. Tadi aku hanya kaget saja karena ku pikir lamaran lusa itu belum lamaran secara resmi hanya lamaran antara keluarga kita saja. Makanya aku kaget.” Ucap Irma.
“Jadi?”
“Aku bersedia kak untuk lamaran lusa. Tapi apakah semuanya bisa siap dengan cepat? Bukankah lamaran butuh persiapan?” tanya Irma.
Kenzo tersenyum, “Jadi itu yang kau khawatirkan? Kau khawatir persiapannya tidak maksimal? Apa kau memiliki keinginan terkait konsep lamaran?” tanya Kenzo.
“Aku suka yang bertema kerajaan kak tapi aku juga menyukai pelaminan yang penuh bunga.” Ucap Irma.
Kenzo pun mengangguk mengerti, “Kalau begitu. Begini saja untuk lamaran ini kita pilih tema garden dengan banyak bunga dan untuk tema kerajaan nanti untuk pernikahan kita. Bagaimana?” tanya Kenzo.
Irma pun tersenyum lalu mengangguk, “Emm, aku setuju kak.” Ucap Irma.
“Kalau begitu. Lamarannya kita masih akan menggunakan rumahmu dulu?” tanya Kenzo.
Irma lagi-lagi mengangguk, “Ya sudah jika memang begitu. Kita akan menghubungi pihak WO dan vendor lain. Ohiya besok kita akan ke percetakaan undangan express.” Ucap Kenzo.
“Emm, tapi tunggu apa kau yakin akan mengadakan lamaran lusa? Apa kau sudah tidak memiliki masalah lagi atau ingin menundanya?” tanya Kenzo.
Irma menggeleng, “Sama seperti apa yang kak Reya katakan bahwa niat baik harus di segerakan maka Irma siap. Irma tidak ingin menunda lagi. Tapi sebelum itu perkenalkan Irma dengan seluruh keluarga kakak.” Ucap Irma.
Kenzo mengangguk, “Tentu saja. Aku akan mengenalkanmu kepada mereka. Kau jangan khawatirkan apapun. Mereka pasti akan menerimamu. Jangan gugup. Okay.” Ucap Kenzo. Irma pun mengangguk tersenyum. Dia memang menemukan kebahagiaannya. Irma memang sudah yakin untuk menikah. Dia percaya kepada Kenzo yang akan menjadi suaminya.
__ADS_1