Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
36


__ADS_3

Keesokkan harinya, seperti biasa Friska dan Frisya pergi ke tempat tujuan mereka masing-masing. Frisya ke tempat praktik, Friska ke klinik.


Kini Friska sudah tiba di klinik dia segera menuju ruangannya dan melakukan aktivitas pekerjaannya seperti biasa. Saat makan siang dia makan di kantin klinik padahal Freya sudah memintanya ke ruangannya tadi tapi entah kenapa dia kesal kepada sang kakak. Dia ingin meredakan emosinya dulu sebelum menemui sang kakak karena bagaimanapun Freya adalah kakaknya, dia tidak ingin nanti emosinya naik saat berhadapan dengan sang kakak. Jadi lebih baik untuk sekarang dia menjauh dulu dari sang kakak. Friska sampai jam pulang pun tidak ke ruangan kakaknya.


Sementara di sisi lain, Frisya yang baru saja pulang dari kosannya Disa karena setelah praktik tadi keduanya masih mengerjakan laporan bersama, “Risya, kau pulang naik apa?” tanya Disa melihat temannya itu memakai sepatunya.


“Mungkin taxi. Kau kan tahu aku belum mendapat izin mengendarai motorku lagi padahal aku kangen naik motor.” Jawab Frisya pasrah karena Freya juga belum mengizinkannya mengendarai motor sendiri.


“Aku sih setuju yaa dengan kak Reya. Kau sih gak hati-hati makanya kak Reya menghukummu.” Timpal Disa.


Frisya pun hanya bisa menatap Disa kesal, “Kau ini bukannya membantu malah ngeledekin.” Ujar Frisya segera berdiri.


“He’ehh mana taxinya? Kok kau jalan?” tanya Disa khawatir akan temannya itu.


“Tenang aku akan baik-baik aja. Aku mau ke minimarket dulu ada sesuatu yang ingin aku beli. Nanti setelah dari sana aku akan naik taxi.” Jelas Frisya lalu segera pamitan pada temannya itu dan berjalan menuju minimarket.


Frisya sedang serius dengan apa yang dia beli di minimarket hingga tanpa sengaja saat dia akan mengambil makanan kesukaannya yang tinggal satu sudah ada tangan seseorang juga di sana. Frisya segera menatap siapa orang yang berebut dengannya itu, “Kak Fazar!” ucap Frisya sedikit berteriak karena kaget tapi setelah sadar suaranya lumayan besar dia segera menutup mulutnya.


Fazar hanya tersenyum menatap gadis di depannya itu, “Untukmu saja dek.” Ucap Fazar menyerahkan makanan yang tinggal satu itu ke keranjang Frisya.


Frisya mengambilnya, “E’ehh kak jika memang kakak membutuhkannya untukmu saja, aku bisa ganti yang lain kok.” balas Frisya berbohong padahal dia hanya ingin itu saja.


“Sudahlah gak apa-apa untukmu saja.” balas Fazar menolak.

__ADS_1


Frisya pun tersenyum, “Baiklah jika begitu aku menerimanya dengan senang hati. Bukan aku yang minta loh tapi kakak yang memaksa.” Ujar Frisya lalu segera mengambil yang lain yang ingin dia beli.


Fazar yang melihat itu pun hanya tersenyum, “Aku membutuhkannya tapi melihatmu senang hanya karena itu aku lebih bahagia dek.” Batin Fazar menatap Frisya lalu kemudian dia juga melanjutkan acara belanjanya.


Kini kedua orang itu sudah di luar setelah tadi belanja dan membayar bersama di kasir, “Kak, kok kau bisa di sini? Apa rumahmu dekat sini?” tanya Frisya yang penasaran kenapa Fazar bisa di sini.


“Ahh iya dek.” Jawab Fazar gelagapan. Pasalnya dia kesini karena mengikuti gadis itu, setelah pulang kantor dia mengecek GPS yang terhubung dengan gadis itu, dia juga masuk ke minimarket karena mengikuti gadis itu tapi saat akan mengambil makanan yang menjadi kesukaan keduanya, itu memang terjadi murni bukan karena Fazar menginginkannya atau sengaja melakukannya.


“Dek, kau mau pulang bersama siapa?” tanya Fazar kemudian.


“Ahh aku naik taxi saja kak.” Jawab Frisya.


“Emm, dek jika tidak keberatan kau ikut kakak saja, kakak akan mengantarmu ke apartemenmu dulu.” Tawar Fazar tapi dia sangat berharap gadis itu menerimanya.


“Emm gak apa-apa kok dek atau begini saja kamu ikut saya saja dulu ke rumah saya untuk mengantar belanjaan lalu setelah itu saya akan mengantarmu ke apartemen. Bagaimana? Tapi jika kau tidak keberatan singgah di rumah kecil kami.” Ucap Fazar.


Frisya segera menggeleng, “Emm gak apa-apa kok kak, aku juga berasal dari keluarga yang menengah hanya kakak ipar saja yang kaya. Jadi gak masalah rumah kecil atau besar yang penting nyaman. Tapi emang Risya boleh ikut ke rumah kakak?” tanya Frisya.


“Tentu saja boleh dek. Ayo!” ajak Fazar bersemangat ingin mempertemukan gadis pujaannya dengan orang tuanya padahal tadi ini tidak ada dalam pikirannya untuk membawa gadis itu ke rumahnya, dia hanya ingin mengantar gadis itu pulang saja tapi karena sepertinya keadaan sedang berpihak padanya jadi dia akan memanfaatkan peluang ini dengan baik. Walau sebenarnya tidak ada maksud untuknya memiliki gadis itu karena kesadarannya yang tahu perbedaan mereka tapi karena dia mendengar ucapan Alvino dia menjadi memiliki semangat untuk memperjuangkan cinta diamnya.


Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah Fazar, sekitar lima menit kemudian akhirnya mereka tiba di rumah dua lantai yang sangat asri dan terawat, “Di sini kak? Kita sudah tiba?” tanya Frisya menatap sekeliling.


Fazar mengangguk lalu segera turun, ingin rasanya dia membukakan pintu untuk Frisya tapi di tahannya. Frisya segera turun dan menatap rumah di depannya, “Ini rumah kakak?” tanya Frisya tidak percaya karena dalam bayangannya tadi saat Fazar mengatakan rumahnya kecil yah kecil saja tidak berlantai dua seperti ini.

__ADS_1


Fazar mengangguk, “Kenapa? Kecil ya? Jelek ya?” tanya Fazar.


Frisya menggeleng, “Ini bukan kecil kak, ini lumayan besar dua lantai lagi mana sangat terawat, aku menyukainya. Kakak bohong yaa tadi mengatakan kecil.” Ucap Frisya mendelik Fazar.


“Emang kecil dek, rumah ini tidak sebanding dengan rumahmu.” Balas Fazar.


“Aku gak memiliki rumah kak, itu rumah mama dan papa.” Timpal Frisya.


Tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya mungkin tua sekitar lima tahunan dari mama Najwa keluar membukakan pintu, “Nak, kau sudah pu--” ucap ibu itu terdiam menatap seorang gadis di samping anaknya.


Fazar pun segera mendekati ibunya, “Ibu, ini Frisya dia adik iparnya bos aku.” ucap Fazar mengenalkan Frisya.


Frisya segera mendekat, “Assalamu’alaikum bu!” salam Frisya menyalami ibu Fazar.


“Wa’alaikumsalam nak, ayo masuk!” ucap ibu Yulia mempersilahkan anaknya dan gadis yang di bawanya itu yang entah kenapa langsung di sukainya.


“Silahkan duduk nak, maaf seadanya.” Ucap ibu Yulia. Frisya hanya mengangguk dan duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.


Fazar dan sang ibu menuju dapur untuk mengantar barangnya, “Kenapa bawa anak gadis pulang gak bilang-bilang dulu.” Ucap ibu Yulia begitu mereka di dapur.


“Bu, tadi kami gak sengaja ketemu di minimarket dan aku menawarkan untuk mengantarnya saja tapi karena nanti akan putar balik dan bahan makanan juga akan ibu pakai yaa aku memutuskan membawa dia kesini dulu.” Jelas Fazar.


Ibu Yulia yang mendengar itu hanya tersenyum, “Alasannya sangat pintar yaa, apa kamu pikir kamu bisa membohongi ibu. Ibu tahu dia gadis itu kan?”

__ADS_1


__ADS_2