Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
08


__ADS_3

Sementara Rezky yang sudah sampai di ruangan di mana gadis itu masuk. Dia berniat membukanya tapi terkunci, "Sial, siapa dia? Kenapa aku merasa mengenalnya. Aku pernah mendengar suara itu tapi dimana?" pikir Rezky.


Robi yang sudah berhasil menyusul bosnya itu pun dengan nafas terengah-engah bertanya, "Tuan kenapa anda kesini? Apa ada keluarga anda yang akan melahirkan?" Robi mengatakan itu sambil berusaha mengatur nafasnya.


Rezky yang masih berpikir di mana dia mendengar suara itu pun segera tersadar begitu mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut sang asisten, "Melahirkan? Siapa?" tanya Deren lalu seketika dia mengumpat begitu melihat papan di depan pintu yang bertuliskan ruang bersalin.


Robi yang melihat bosnya mengumpat pun semakin bingung, "Tuan anda baik-baik saja kan?" tanya Robi hati-hati.


Rezky segera memandang asistennya itu tajam, "Apa menurutmu aku terlihat sakit?" Tanya Rezky balik.


Robi pun hanya diam saja karena tidak ingin kena semprot lagi dari atasannya itu yang sepertinya sedang dalam model kesal tapi dia bingung apa yang membuat bosnya itu kesal, "Sudahlah ayo kita pergi dari sini." Rezky setelah mengatakan itu langsung pergi dari sana dan meninggalkan asistennya yang terdiam.


Begitu Robi tersadar bahwa atasannya sudah jauh, "Huh, lagi-lagi aku di tinggal. Ada apa sih dengan tuan muda hari ini? Dia sangat aneh pake pergi ke poli kandungan dan ruang bersalin segala. Ihh jangan sampai tuan muda bengkok lagi. Ngeri!" Robi mengucapkan itu sambil bergidik ngeri lalu segera menyusul Rezky yang sudah hampir pintu keluar.


***


Kini Rezky dan asistennya sudah berada di mobil dalam perjalanan kembali ke kantor. Rezky diam saja sambil memikirkan di mana dia pernah mendengar suara itu tapi tetap saja dia tidak ingat di mana dia mendengarnya, "Apa aku berhalusinasi? Tidak, aku memang mendengarnya dengan jelas dan yakin pernah mendengarnya di suatu tempat. Tapi dimana?" gumam Rezky bingung.


Robi yang sedang menyetir pun mendengar gumamam bosnya, "Anda mengatakan apa tuan? Saya tidak mendengar?" ujar Robi bertanya.

__ADS_1


"Saya tidak bicara denganmu Robi. Kamu fokus saja dengan jalan, awas saja jika saya celaka. Saya belum menikah jadi jangan buat saya celaka." Balas Rezky tajam.


Robi yang mendengar hal itu pun seketika diam dan lagi-lagi dia bergidik ngeri karena membayangkan ternyata atasannya itu bukan hanya belok tapi otaknya juga sudah miring karena bicara sendiri.


Singkat cerita, kini Rezky sudah tiba di ruangannya dan segera duduk di kursi kebesarannya dan tetap saja masih memikirkan suara gadis yang dia dengar itu hingga membuatnya tidak fokus, "Menyebalkan, siapa dia? Kenapa aku terus memikirkan suara itu?" Ucap Rezky frustasi lalu segera menghubungi asistennya untuk menemuinya di ruangannya.


Robi segera datang dan masuk begitu mendapat telpon dari atasannya, "Ada apa tuan? Apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya Robi.


"Aku ingin kau menemukan informasi untukku terkait siapa saja dokter kandungan dan bidan di Freya Klinik. Aku memberimu waktu dua jam untuk mencari tahu. Segera serahkan dokumennya padaku sebelum waktu pulang." ucap Rezky to the point.


Robi yang mendengar perintah itu pun melongo, "Sekarang tuan?" tanyanya seperti orang bodoh.


Rezky yang mendengar hal itu pun seketika kesal karena asistennya itu sepertinya tidak memahami apa perkataannya, "Tidak, tahun depan. Sekarang Robi sekarang. Kenapa kau di saat aku membutuhkanmu kamu terlihat bodoh. Apa aku harus menggantimu Robi?" ujar Rezky menatap tajam asistennya.


Sementara di dalam Rezky pusing dengan tingkah asistennya, "Kenapa aku bisa memilih dia sebagai asisten dan temanku." Ujar Rezky. Robi memang temannya semasa kuliah lebih tepatnya Robi adalah kakak seniornya setahun. Robi sangat cerdas dan pekerjaannya tidak pernah mengecewakan untuk itulah dia memilih Robi jadi asistennya. Tapi kadang-kadang asistennya itu akan terlihat bodoh seperti yang terjadi tadi namun tetap saja ancaman di pecat yang dia katakan tadi tidak akan dia lakukan karena dia tahu bagaimana kehidupan Robi di luar sana yang harus jadi tulang punggung keluarga saat dia masih kuliah hingga saat ini. Dia tahu bagaimana perjuangan asistennya itu membiayai kuliahnya dan keluarganya. Jadi tidak mungkin dia tega memecat Robi.


***


Kembali ke klinik, kini ada seorang gadis yang terburu-buru turun dari sepeda motornya dan berlari masuk ke dalam klinik sambil berharap dia tidak terlambat, "Semoga saja kakak tidak marah." Ujarnya berlari hingga tanpa sadar dia menabrak seseorang.

__ADS_1


Bugh


"Aw!" ucapnya hampir terjatuh. Dia yang menabrak tapi dia yang hampir terjatuh sedang orang yang di tabraknya baik-baik saja bahkan menolongnya hingga tidak terjerembab ke tanah.


Gadis itu yang ternyata adalah Frisya segera melihat siapa korban yang di tabraknya walau pada kenyataannya dialah yang hampir terjatuh seketika kaget melihat siapa yang di tabraknya, "Kak Fazar." ujarnya lalu segera berdiri dengan baik dan mundur satu langkah agar dia bisa bicara.


Fazar segera menunduk, "Iya nona. Maafkan saya hampir membuat anda jatuh." ujar Fazar formal.


Frisya segera tersenyum, "Kenapa kau minta maaf kak. Jelas-jelas aku yang menabrakmu walau aku yang hampir terjatuh karena yang ku tabrak ternyata sekeras tembok. Ehh terima kasih kak sudah menolongku agar aku tidak terjerembab mencium tanah tadi dan maaf sudah menabrakmu." ujar Frisya.


"Ohiya satu lagi jangan pernah memanggilku nona kak, aku bukan atasanmu. Atasanmu itu kakak ipar dan kau hanya berhak menggunakan itu kepada kakak ipar atau kakak. Jangan padaku aku tidak menyukainya. Sudah berulang kali aku mengatakan jangan memanggilku seperti itu tapi tetap saja kau melakukannya." lanjut Frisya. Fazar pun yang mendengar hal itu hanya diam saja layaknya seorang suami yang patuh pada istrinya.


"Maaf!" hanya itu yang keluar dari mulut Fazar.


Frisya yang mendengar hal itu pun terlihat kesal, "Jangan meminta maaf kak kau gak salah. Tapi jangan memanggilku begitu lagi. Panggil aku Frisya atau Risya. Aku lebih nyaman dengan itu." ujar Frisya.


"Baiklah Risya." ucap Fazar kaku.


Frisya pun tersenyum mendengarnya, "Nah gitu dong. Enak kan dengarnya. Ohiya kok kakak bisa di sini? Apa ada keluarga kakak yabg sakit?" Tanya Frisya yang baru menyadari hal itu lalu dia segera melihat jam tangannya yang masih menunjukkan jam kerja.

__ADS_1


"Tidak ada keluarga saya yang sakit. I-itu tuan sedang ada di sini jadi saya pun di sini." Jawab Fazar.


Frisya pun mengangguk saja lalu seketika dia ingat apa tujuannya datang kesini, "Ouh astagfirullah aku lupa. Kak apa kak Reya ada di dalam?" Tanya Frisya.


__ADS_2