
Tidak lama seperti perkiraan mami Calista bahwa sepuluh menit lagi rombongan calon menantunya it akan datang sunggu benar-benar tepat. Mami Calista dan Papi Baskara segera menyambut calon menantunya dan juga keluarganya.
Kenzo segera di bawah ke pelaminan dengan papa Khabir dan mama Najwa yang menjadi pendampingnya. Para keluarga yang lain duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Freya beserta Kiana berdiri dan mendekati mami Calista, “Permisi nyonya.” Ucap Freya sopan.
Mami Calista menatap kedua wanita di hadapannya itu yang dia ketahui sebagai kakak dari calon menantunya, “Jangan memanggil begitu nak. Apa kalian ingin menemui Irma?” tanya mami Calista menebak dengan tepat.
Freya dan Kiana mengangguk, “Benar bu. Apa kami di izinkan untuk bertemu dengan calon adik ipar kami?” tanya Kiana.
“Tentu nak. Sini biar mami antarkan kalian ke kamarnya.” Ucap mami Calista.
“Ah gak usah Mih. Tunjukkan saja kamarnya. Biar kami sendiri yang kesana.” Tolak Freya lembut.
Mami Calista pun tersenyum lalu mengangguk dan segera memberi tahu di mana letak kamar putrinya. Freya dan Kiana pun setelah itu segera masuk ke dalam kediaman orang tua Irma dan segera naik ke lantai dua dan menuju kamar yang di maksud oleh mami Calista.
Tok tok tok
“Masuk mih!” ujar Irma dari dalam karena dia pikir itu adalah maminya.
Freya pun segera membuka pintu kamar itu begitu Irma mengizinkan. Freya segera masuk di ikuti oleh Kiana. Freya tersenyum melihat seorang gadis yang membelakangi pintu itu sambil menutup mata. Freya dan Kiana mendekati Irma. Mereka yakin gadis itu saat ini sedang gugup.
“Mih, apa kak Kenzo dan keluarganya sudah tiba?” tanya Irma segera berbalik dan membuka matanya. Dia melebarkan matanya begitu melihat bukan maminya yang ada di kamarnya itu melainkan kedua kakak dari calonnya.
__ADS_1
“Benar dek. Kami sudah tiba.” Jawab Kiana tersenyum.
Irma segera menunduk, “Ah maaf kak. Irma pikir kalian adalah mami.” ujar Irma gugup.
Freya dan Kiana tersenyum lalu segera mendekati calon adik ipar mereka itu dan masing-masing menyentuh kedua bahu Irma, “Gak apa-apa dek. Jangan meminta maaf dan gugup begitu. Kami tidak akan memakanmu.” Ujar Kiana tersenyum.
“Kami kesini hanya ingin melihat calon adik ipar cantik kami ini apa sudah siap atau belum.” Lanjut Freya tersenyum.
“Kakak!” ucap Irma memeluk Freya dan Kiana.
Freya dan Kiana pun tersenyum lalu membalas pelukan Irma itu, “Aku gugup kak!” ucap Irma seperti mengadu dengan kedua saudaranya.
“Itu lumrah sering terjadi kepada setiap gadis yang akan menikah atau pun di lamar dek. Kita hanya perlu berusaha untuk mengendalikannya saja. Percayalah semuanya akan berjalan lancar.” Ujar Freya memperbaiki riasan calon adik iparnya itu.
Freya menatap Kiana begitu mendengar ucapan adiknya itu, “Kak jangan menatapku begitu. Aku tahu apa kau merasa bersalah karena itu. Tenang saja kak walaupun aku tidak mengalami prosesi lamaran seperti ini namun suamiku tetap melamarku. Aku juga gugup saat itu padahal aku sudah menjadi istrinya. Jangan merasa bersalah padaku kak karena pernikahanku memang sudah di takdirkan akan terjadi seperti itu. Aku senang dengan pernikahanku walaupun di adakan secara dadakan namun kau mengupayakan yang terbaik untukku sehingga aku merasa tetap menikah dengan mewah dan kesan menikah di rumah sakit itu hilang. Dan yang lebih penting lagi aku mendapatkan suami dan juga mertua sebaik suami dan mertuamu kak. Jadi semua aman. Aku tidak iri sama sekali dengan lamaran apapun. Aku justru saat ini sedang bahagia karena adikku akan melamar seorang gadis istimewa.” Ucap Kiana menatap calon adik iparnya itu dengan lembut.
Freya pun tersenyum mendengar hal itu dan memeluk Kiana, “Aku selalu berdoa kau selalu bahagia dek.” ujar Freya.
“Irma aku adalah kakak sepupunya Kenzo dan Kiana adalah kakak kandungnya. Jadi kakak iparmu sebenarnya ada Kiana.” Lanjut Freya menatap Irma.
“Jangan bicara begitu kak. Kau juga adalah kakak iparnya. Irma kami adalah kakak iparmu. Tenang saja kami akan menyayangimu dan drama periparan pasti tidak akan terjadi pada kita. Kau harus mengatakan kepada kami apabila Kenzo memarahimu nanti. Biar kami yang memarahinya.” Ujar Kiana.
Irma pun tertawa, “Baiklah kakak ipar.” Ucap Irma tertawa. Freya dan Kiana pun tersenyum melihat tawa di wajah gadis muda itu.
__ADS_1
Tidak lama mami acara lamaran itu di mulai dan kini Irma harus segera ke pelaminan bertemu dengan calon suaminya, “Jangan gugup.” Ucap Freya menenangkan Irma.
Irma pun mengangguk lalu menarik nafasnya barulah dia berdiri dan di apit oleh Freya dan Kiana yang mendampinginya layaknya kakak yang mengantarkan adiknya untuk menemui mempelainya. Ketiga wanita itu turun dan keluar kediaman karena memang tema lamaran Kenzo dan Irma itu outdoor.
Freya dan Kiana mengantarkan Irma sampai tiba di pelaminan. Semua mata tamu yang hadir mengarah pada mereka. Begitu juga dengan seluruh keluarga terlebih Kenzo yang menatap Irma dengan tatapan penuh cinta. Mama Najwa dan papa Khabir yang melihat itu hanya tersenyum.
Kiana dan Freya segera menyerahkan Irma kepada kedua orang tuanya lalu setelah itu mereka kembali ke tempat mereka di samping suami mereka masing-masing.
“Kau sangat cantik sayang.” ujar Alvino dan Zean bersamaan memuji istri mereka itu. Freya dan Kiana hanya tersenyum mendengarnya.
Acara inti lamaran itu pun segera berlangsung semuanya berjalan lancar tanpa kendala. Kenzo dan Irma yang tadinya gugup kini menarik nafas lega karena mereka tidak melakukan kesalahan satu pun. Semuanya berjalan lancar dan kini mereka mengambil sesi foto. Para tamu di dahulukan mengambil foto lebih dulu barulah para keluarga baik pihak Irma maupun pihak Kenzo.
“Hmm, kak Kenzo gercep banget yaa ngelamarnya.” Ucap Frisya menggoda Kenzo dan Irma.
Irma tersenyum malu mendengar hal itu, “Jangan menggoda calon istriku dek. Jika kau ingin menikah juga maka mintalah Fazaruntuk segera datang menemui mama Najwa dan papa Khabir.” Ucap Kenzo balik.
Frisya pun tersenyum lalu menatap Fazar, “Aku masih mau lulus profesi dulu kak. Lagian pernikahan kak Ris dan juga nikahanmu belum selesai. Aku tidak ingin menambah beban mama dan papa dengan pernikahanku juga.” Ujar Frisya.
“Ya yah terserah dirimu saja.” ucap Kenzo.
Frisya pun tersenyum lalu dia segera memeluk Irma gadis yang akan menjadi kakak iparnya itu karena menikah dengan Kenzo, “Irma kau harus sabar nanti menghadapi sikap kak Kenzo yang ajaib.” Ucap Frisya tertawa.
“Jangan meracuni otak istri kakak dek.” ucap Kenzo.
__ADS_1
Frisya pun tertawa lalu segera mengambil foto bersama Kenzo dan Irma.