Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
154


__ADS_3

“Tapi--”


Rezky segera menatap tajam wanita di hadapannya itu. Dia tidak peduli bahwa wanita di hadapannya itu pernah bertemu dengannya atau tidak. Saat ini dia hanya ingin menikmati makanan di hadapannya tanpa gangguan sedikit pun. Moodnya sedang bahagia saat ini dan dia tidak ingin menghancurkan moodnya itu karena gangguan masa kecil.


Gadis bernama Zoly itu pun segera berpindah dari tempat duduk di hadapan Rezky dan berpindah ke tempat duduk lain, “Dasar sombong. Dia pikir dia setampan atau sekaya itu sehingga berani menolakku. Jika saja bukan karena permintaan mommy yang menyuruhku datang ke sini dan merayunya. Aku pun tidak sudi menemuinya dan merendahkan diriku seperti tadi.”


“Ahh tapi dia membuatku penasaran. Siapa yang sudah membuatnya berubah seperti itu padahal dulu saat aku masih kecil dia sering mengikutiku kemana pun aku pergi. Dia itu sangat menyukainya dan rela menjadi ekorku tapi kini menatap bahkan bicara denganku pun dia tak sudi seolah sedang menjaga perasaan orang lain. Aku penasaran gadis seperti apa yang membuatnya melupakanku. Aku akan membalas penghinaan ini bukan karena aku menyukaimu tapi ini aku lakukan untuk membalas apa yang kau lakukan padaku hari ini. Aku akan membuatmu malu suatu saat nanti dengan membuatmu tertarik kembali padaku lalu saat kau jatuh cinta padaku aku akan meninggalkanmu. Tunggu saja pembalasanku untuk itu Rezky. Dasar laki-laki sombong.” Zoly bergumam sambil mengepalkan tangannya erat.


Zoly memang memiliki karakter tidak suka di rendahkan dan merasa rendah dari orang lain. Dia itu sangat di manjakan oleh orang tua dan kakaknya sehingga membuatnya sangat sombong dan semua yang dia inginkan harus dia dapat, “Aku akan meminta daddy dan kakakku untuk menyelidikimu.” Ujar Zoly memandang sinis ke arah Rezky yang serius menikmati makanannya.


Setelah menghabiskan makanannya, Rezky segera membayar lalu dia keluar dari restoran itu dan memesan tiket pesawat agar dia bisa segera kembali ke Negara N bertemu dengan calon istrinya yang beberapa jam lalu dia tinggalkan dan kini sudah sangat dia rindukan, “Tunggu aku pulang sayang. Kita akan segera menikah.” Gumam Rezky dalam mobil yang membawanya ke bandara sambil memandang foto Friska di layar ponselnya.


Sekitar 15 menit saja dia sudah tiba di bandara dan dia segera menemui orang yang dia sewa untuk membawa barangnya ke bandara. Orang itu sudah meletakkan semua barang Rezky ke pesawat yang akan membawanya pulang. Rezky pun segera mengucap terima kasih dan tidak lupa membayar upah kepada orang itu.


Rezky segera menuju pesawat dan duduk di kelas business, “Ahh akhirnya bisa pulang juga.” Ucap Rezky lega.

__ADS_1


Rezky sebelum menonaktifkan ponselnya dia melihat pesan yang di kirimkan Robi. Screen shoot satu artikel yang di mana isi di dalamnya itu menghina Friska dengan mengatakan bahwa dia menikah dengan Rezky hanya karena harta dan agar statusnya terangkat, “Bajingan. Siapa yang berani merilis artikel seperti ini. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” Umpat Rezky kesal.


Rezky segera mengirim balasan kepada Robi untuk segera menekan artikel itu. Namun sayang Robi tidak kunjung menjawab pesannya itu padahal dia sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Tidak lama ada pemberitahuan untuk segera menonaktifkan ponsel karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas. Rezky pun mau tak mau segera menonaktifkan ponselnya, “Tunggu aku sayang. Aku akan membalas siapa yang sudah berani merilis artikel seperti itu.” batin Rezky menggebu kesal. Tidak lama pesawat itu pun segera lepas landas.


***


Sementara di Negara N, kini Friska baru saja turun dari mobil dan segera mengucapkan terima kasih kepada mami Jasmin yang mengantarnay ke apartemen. Friska segera naik ke lantai atas dan begitu masuk langsung di sambut oleh Frisya yang segera mengecek seluruh tubuhnya dengan memutar tubuh Friska itu.


“Aku hanya ingin memeriksa dirimu kak. Apa kau terluka atau tidak. Aku sudah mengetahui apa yang terjadi padamu. Jika saja aku ada di sana aku pasti sudah merobek mulut mereka itu. Dasar sombong. Tapi untuk saja kak Reya bertindak dengan cepat sehingga semuanya terselesaikan. Namun aku juga ingin menghukum orang yang membuat artikel tentangmu dan kak Reya. Tapi sayang artikel itu sudah hilang sekarang dan penulis artikel itu pun juga menghilang.” Ujar Frisya menggebu-gebu.


Friska yang melihat kekesalan di wajah adiknya itu tersenyum, “Sudahlah. Gak apa-apa dek. Lagian kakak tidak terluka sama sekali dan artikel itu pun sudah tidak ada. Sepertinya keponakan kita sudah bertindak dengan cepat. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Kamu gak usah kesal begitu. Ini memang sudah sering terjadi bukan kepada keluarga menengah seperti kita yang akan menikah dengan keluarga kaya. Bukankah saat kakak menikah pun ada yang membuat berita seperti ini namun kakak ipar bertindak cepat untuk menekan berita itu. Jadi anggap saja ini adalah pengujian mentalku untuk menjadi istri dari kak Rezky. Sudah ahh aku mau ke kamar dulu. Aku lelah. Pengen istirahat.” Ujar Friska lalu segera melangkah menuju kamarnya.


Frisya pun hanya melihat dan membiarkan saja kakak keduanya itu pergi ke kamarnya. Dia memilih meraih ponselnya dan menghubungi Fazar, “Halo, Assalamu’alaikum dek!” salam Fazar dari seberang.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam kak.” Ujar Frisya.


“Ada apa menghubungi kakak dek? Apa ada yang kau butuhkan?” tanya Fazar.


“Apa aku menganggu kakak?” tanya Frisya balik.


“Bukan begitu dek. Jangan tersinggung. Jujur saja aku senang kau menelponku lebih dulu. Tapi aku bertanya-tanya apa yang membuatmu sehingga menelpon lebih dulu.” Ujar Fazar.


Frisya menarik nafasnya kasar, “Huh, kak apa kau tau siapa yang menulis artikel yang menjelekkan kedua kakakku?” tanya Frisya hati-hati.


“Ouh itu. Emm, para keponakanmu itu yang melakukannya. Ini orang itu sedang bersama kami sedang di introgasi apa motifnya merilis artikel itu. Kamu jangan mengkhawatirkan apapun. Semua itu sudah beres. Kamu tahu kan tidak mungkin tuan Vino membiarkan istrinya di hina.” Ujar Fazar.


Frisya mengangguk setuju, “Aku tahu itu kak hanya saja aku tetap penasaran. Aku sudah bisa menduga bahwa kelima anak kakak yang menekan artikel itu namun tetap saja aku mengkhawatirkan mereka. Kau tahu kak Reya dan kak Ris adalah kakak bagiku dan aku tidak akan membiarkan mereka di hina. Siapa mereka yang berani menghina kakakku. Hanya orang luar yang mencoba sok tahu dengan menilai yang terjadi di luar saja.” ujar Frisya.


Fazar di seberang tersenyum karena menyadari ucapan Freya yang baru dia dengar tadi terkait Frisya yang lebih kejam dari pada Freya dan Friska. Kini Fazar mengerti karena dari telpon saja dia bisa merasakan bahwa kini gadisnya itu sedang menahan amarahnya. Sepertinya dia yang mengaku mengenal Frisya kini harus mengakui bahwa dia masih kalah jauh.

__ADS_1


__ADS_2