Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
133


__ADS_3

Kini acara sarapan keluarga itu akhirnya selesai, “Ahh kenyang. Daddy kenyang banget pagi ini.” ucap daddy Rafael.


“Memang makanan buatan menantu kita itu sangat enak. Bisa-bisa lidah kita ini akan jadi lidah Negara N.” timpal mommy Vania.


“Mommy benar.” ucap daddy Rafael. Kiana hanya tersenyum mendengar ucapan mertuanya itu dan tetap sibuk membantu pelayan yang ingin membereskan bekas sarapan mereka.


Sementara Zean tersenyum mendengar istrinya yang selalu di puji dan di hargai oleh orang tuanya itu, “Mom, dad kami mau bicara sesuatu.” ucap Zean saat mommy Vania dan daddy Rafael hendak pergi dari meja makan untuk bersiap melanjutkan kegiatan mereka selanjutnya.


Mommy Vania dan daddy Rafael pun mengurungkan niat mereka itu dan kembali duduk lalu menatap Zean dan Kiana, “Ada apa nak? Apa yang ingin kalian katakan?” tanya mommy Vania.


Zean menatap Kiana, “Mom, Dad kami akan ke Negara N sore ini setelah aku selesai rapat.” Ujar Zean.


“Ada apa di Negara N? Kiana apa kau merindukan keluargamu nak?” tanya mommy Vania lembut. Dia khawatir bahwa menantunya itu tidak nyaman di sini sehingga merindukan keluarganya.


“Itu salah satu alasannya mom. Tapi kepergian kami kesana untuk menghadiri lamaran adikku Kenzo.” jawab Kiana menatap mertuanya itu.


“Lamaran? Apa Kenzo akan menikah? Kenapa kita gak tahu? Kapan dia akan mengadakan lamaran nak?” tanya mommy Vania antusias.


“Besok mom. Dia baru menghubungi kami tadi. Ini lamaran dadakan sehingga aku baru juga di beritahu. Jadi apa mom dan dad mengizinkan kami pergi kesana menghadiri lamarannya?” tanya Kiana.


“Kenapa minta izin nak. Kamu memang sudah harus pergi menghadiri lamaran adikmu. Jika kau tidak pergi maka adikmu itu pasti akan sedih.” Ucap mommy Vania.


“Terima kasih mom.” Balas Kiana.


“Jangan berterima kasih begitu nak. Kau itu adalah menantu kami bagian dari keluarga ini keluarga kami. Kenzo adalah adikku itu berarti dia juga adalah keluarga kami. Kami akan menjadi mertua yang jahat nanti jika tidak mengizinkanmu datang menghadiri lamaran adikmu. Kau di izinkan pulang nak. Zean akan menemanimu. Perusahaan biar kami yang hendel.” Ucap daddy Rafael.


“Terima kasih dad.” Ucap Kiana.


“Kau ini sudah di bilang jangan berterima kasih masih saja berterima kasih.” Ucap daddy Rafael.

__ADS_1


“Zean kamu gak usah ke kantor. Kalian siap-siaplah untuk segera ke sana. Kenzo pasti ingin di temani kakaknya.” ucap mommy Vania.


“Ehh gak usah mom. Kami pergi selepas kakak rapat saja. Lagian rapatnya akan selesai sebelum zuhur. Iya kan kak?” tanya Kiana kepada Zean.


“Benar mom. Aku akan menghadiri rapat itu dulu dan barulah kami berangkat.” Ucap Zean.


“Baiklah jika memang itu sudah keputusan kalian. Kamu katakan saja kepada asistenmu untuk menyiapkan pesawat pribadi kita.” Ucap daddy Rafael.


Zean menatap Kiana untuk meminta persetujuan, “Dad kami bukan ingin menolak perintahmu. Kami pakai pesawat komersil saja.” tolak Kiana hati-hati.


“Gak bisa begitu sayang. Kalian pakai pesawat pribadi kita saja. Lebih aman. Mom tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada kalian.” ucap mommy Vania.


“Ehm, baiklah jika memang begitu mom.” Balas Kiana pasrah.


“Jangan merasa tidak enak kepada kami begitu nak. Kami ini adalah keluargamu dan sesama keluarga harus saling menjaga satu sama lain. Sudah seharusnya kamu menikmati fasilitas yang ada dalam keluarga ini. Daddy dan mommy menyayangimu seperti kami menyayangi Zean. Kau juga adalah putri berharga papamu yang dia titipkan kepada kami untuk di jaga dan kami pasti akan menjagamu dengan baik. Jangan menolak lagi, pakai pesawat peribadi. Zean, segera hubungi asistenmu untuk mempersiapkannya.” Ucap daddy Rafael.


“Baik dad.” Timpal Zean.


Kiana pun menatap suaminya dengan tersenyum, “Ayo kita ke atas siap-siap dulu.” Ajak Zean segera menggenggam tangan istrinya lalu keduanya segera naik ke lantai atas. Kiana pun mengangguk lalu segera mengikuti suaminya itu.


***


Di sisi lain, Friska dan Frisya mendatangi kediaman Freya sebelum mereka melakukan aktivitas mereka pada senin pagi itu. Friska dan Frisya keduanya mengendarai kenderaan masing-masing. Bukan tidak ingin pergi bersama hanya saja keduanya memang nyaman seperti itu.


Tidak lama kini Friska dan Frisya sudah tiba di kediaman kakak mereka itu lalu keduanya pun segera turun dari kenderaan masing-masing dan segera masuk ke dalam rumah kakak mereka itu.


“Mama!” ucap Azwa dengan hebohnya menyambut kedatangan kedua aunty-nya itu.


Friska dan Frisya pun tersenyum lalu segera mendekati keponakan mereka itu, “Sangat cantik!” ucap Friska.

__ADS_1


“Dek, kalian datang. Ayo ikut sarapan.” Ucap Freya.


“Hmm, gak usah kak. Kami sudah sarapan kok di apartemen.” Tolak Friska.


“Itu kan kau kak Ris. Aku masih mau sarapan ulang.” Ucap Frisya.


Freya dan Alvino pun tersenyum melihat hal itu, “Ya sudah ayo sarapan.” Ucap Freya.


“Mama Risya jangan kelebihan karbohidrat makannya.” Ucap Azlen datar.


Frisya yang mendapat perhatian dari keponakan coolnya itu yang sangat sulit akrab dengannya pun tersenyum, “Baik keponakan coolku. Mama Risya hari ini akan makan lauk saja. Protein baik kan untuk tubuh.” Ucap Frisya tersenyum menatap Azlen. Azlen pun hanya mengangkat bahunya cuek.


“Ya kembali deh ke pabriknya.” Ujar Frisya lalu segera mengambil sarapan.


“Kak Ris kau yakin gak akan ikut sarapan lagi. Lezat loh. Seperti biasa sarapan buatan kakak sangat lezat.” Ucap Frisya.


“Ish kau ini jangan menggodaku dek. Sudah ahh aku akan ikut sarapan ulang juga.” Ucap Friska menyerah dan segera mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.


“Hmm dek jika berat badanku naik kau harus tanggung jawab. Aku ini sedang diet.” Lanjut Friska lalu segera memulai sarapan keduanya itu.


“Kenapa harus diet mah?” tanya Azwa.


“Yah karena mama kalian itu akan segera menikah. Jadi dia gengsi jika keliatan gendut saat akan menikah nanti.” Ucap Frisya menjawa pertanyaan keponakan cantiknya itu.


“Ishh kau ini dek. Gak begitu sayang.” ucap Friska mengelak.


“Jangan diet mah. Badan mama sudah bagus kok. Calon papa juga pasti tidak keberatan menerimanya.” Ucap Azlen dengan ciri khasnya datar kaya tembok.


“Tuh dengerin kak. Apa yang keponakan kita katakan itu benar. Calon kakak ipar pasti tidak akan keberatan karena dia mencintaimu.” Ucap Frisya.

__ADS_1


“Ish apaan sih dek. Sudah jangan bahas lagi. Ayo lanjutkan sarapan.” Ucap Friska. Semua orang di meja makan itu pun tersenyum lalu segera menikmati sarapan mereka dengan baik.


__ADS_2