Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
174


__ADS_3

Jika di sisi Kiana dan Zean mereka sedang berbahagia dengan kehamilan maka berbeda denga Kenzo dan Irma yang saat ini masih sedang di perusahaan mengelola perusahaan cabang itu sebelum nanti mengambil cuti.


“Irma, kapan kalian akan cuti?” tanya Grey hati-hati.


Irma tersenyum lalu menggeleng, “Aku juga gak tahu kak. Semuanya kak Kenzo yang mengaturnya.” Jawab Irma. Grey pun mengangguk mengerti.


Ting


Tanda pesan masuk ke ponsel Irma. Irma pun segera membuka pesan itu dan tersenyum, “Siapa pengirim pesan itu sehingga kau tersenyum manis begitu?” tanya Grey dengan senyum menggoda.


“Itu kak Kenzo kak.” Jawab Irma malu-malu.


“Apa di minta masuk ke ruangannya lagi?” tebak Grey.


Irma pun mengangguk, “Ya sudah sana masuk gih. Jangan di buat menunggu tuh calon suami.” Ucap Grey.


“Ahh kakak bisa aja. Irma masuk dulu yaa.” Izin Irma lalu segera masuk ke ruangan calon suaminya itu.


“Ada apa kak memintaku kesini?” tanya Irma mendekati calon suaminya itu.


“Kita akan mengajukan cuti. Coba kau baca dulu permohonannya.” Pinta Kenzo menyerahkan berkas kepada Irma.


Irma pun menerimanya dan membaca surat pengajuan cuti itu, “Kenapa sebulan kak? Apa itu tidak terlalu lama bagimu meninggalkan perusahaan?” tanya Irma hati-hati setelah membaca pengajuan cuti itu yang ternyata satu bulan yang di ambil oleh Kenzo.


“Aku ingin menikmati waktu bersama istriku nanti. Pernikahan kita kurang lebih 13 hari lagi. Setelah menikah pun kita tidak mungkin langsung masuk kerja bukan. Kita masih harus berbulan madu dulu. Menikmati waktu kita sebagai pengantin baru. Jadi menurutku waktu sebulan itu sebenarnya kurang tapi ya di cukup-cukupin lah.” Ujar Kenzo tersenyum.


“Selain itu kamu jangan terlalu khawatir apa ini akan di setujui oleh kakak ipar atau tidak. Aku tidak pernah mengajukan cuti selama ini dan aku yakin mereka akan mengizinkannya. Mereka pasti mengerti. Sedangkan untukmu kau adalah mahasiswa magang di sini. Jadi sudah barang tentu kau tidak masalah cuti. Lagian juga magangmu sudah hampir selesai bukan. Jadi tidak masalah. Aku akan memberikanmu nilai yang paling tinggi nanti.” Sambung Kenzo kemudian.


Irma pun tertawa mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh calon suaminya itu, “Jika kau melakukan itu memberi nilai paling tinggi padaku maka teman-temanku itu akan merasa bahwa aku mendapatkan nilai itu karena kau adalah calon suamiku. Jadi jangan lakukan itu. Lebih baik beri kami ujian di akhir. Itu sepertinya lebih adil. Aku saja yang di tempatkan sebagai sekretarismu sudah membuat mereja iri apalagi jikakau memberiku nilai paling tinggi. Lagian untuk sekarang nilai tidak begitu penting bagiku. Aku hanya ingin cepat lulus saja dan bersantai di rumah mengurusmu nanti. Biar aku jadi bebanmu saja.” ucap Irma.


Kenzo pun terkekeh, “Hum, sepertinya itu ide yang baik. Kau tidak usah bekerja saja biar aku yang menanggung kebutuhanmu nanti. Aku suka kau membebaniku.” Ucap Kenzo.


Setelah mengatakan itu keduanya pun tertawa bersama, “Ohiya dek. Kamu setuju kan dengan pengajuan cuti itu atau kau ingin menguranginya?” tanya Kenzo kembali serius membahas cuti mereka.


“Hum, jika calon suamiku sudah memutuskan untuk mengambil cuti sebulan kenapa aku harus protes atau memintanya untuk menguranginya. Aku justru senang calon suamiku mau menghabiskan waktu bersama denganku.” ucap Irma jujur.


Kenzo pun tersenyum mendengar jawaban yang di berikan oleh calon istrinya itu, “Syukurlah jika memang setuju. Kita akan mulai cuti lusa karena setelah itu kita masih harus melakukan fitting di butik kak Salwa. Kita masih harus melakukan pra wedding kita. Kita juga masih harus membeli cincin nikah. Lalu juga kita belum membicarakan di mana kita harus berbulan madu. Ohiya besok aku akan melakukan ujian kepada mu dan juga teman-teman magangmu. Aku harus mempercepat waktu magang kalian selesai. Aku tidak ingin waktu kita untuk bersama terburu-buru nanti. Aku sudah mengajukan permintaan ini kepada kampus kalian dan mereka menyetujuinya. Jadi kamu harus belajar hari ini sayang karena seperti permintaanmu aku akan melakukan ujian kepada kalian dengan soal yang sama dengan teman-temanmu. Jadi kau pun harus bisa menguasai apa yang mereka pelajari di sini. Akhir kata dariku untukmu sebagai calon istriku. Semangat. Aku yakin calon istriku pasti bisa. Jangan mencoba membujukku untuk memberi tahumu jawaban dari ujian yang akan aku berikan karena itu tak mungkin aku lakukan. Aku ini adalah guru yang jujur.” Ujar Kenzo dengan senyum di wajahnya.


Irma yang melihat ekspresi wajah Kenzo dan mendengar ucapan Kenzo itu pun terkekeh, “Aku juga tidak akan melakukan kecurangan seperti itu calon suamiku. Aku ini juga mahasiswi yang jujur. Kamu terlalu percaya diri jika aku akan meminta bantuanmu.” Ujar Irma.


Kenzo pun tertawa mendengar jawaban Irma itu, “Aku juga percaya padamu sayang. Kau pasti bisa melakukannya.” Ucap Kenzo.


Irma mengangguk, “Tentu saja aku harus bisa. Aku tidak boleh mengecewakan orang tuaku dan calon suamiku kan.” Ucap Irma.


Kenzo tersenyum lalu mengangguk, “Aku tidak akan pernah kecewa sayang. Aku menerimamu apa adanya. Aku tidak begitu suka istri yang terlalu cerdas karena aku juga tidak begitu cerdas. Tapi jika memang istriku sangat cerdas sudah tentu itu harus ku syukuri bukan. Itu bonus yang ku dapatkan. Jadi lakukan apapun yang kau inginkan. Tidak perlu mempertimbangankan penilaianku atau mungkin aku kecewa nanti karena aku akan selalu mendukung keputusan yang akan kau ambil.” Ucap Kenzo.


Irma yang mendengar ucapan Kenzo pun terharu, “Aku senang kak. Aku senang kita akan menikah sebentar lagi. Aku yang seorang gadis seperti ini akhirnya akan menikah. Aku menikahi pria yang di inginkan oleh banyak wanita di luaran sana. Aku sangat beruntung.” Ucap Irma.


“Jangan merendahkan dirimu begitu sayang. Aku tidak suka mendengarnya. Kita sama dan kita sama-sama beruntung saling memiliki satu sama lain. Tidak ada yang lebih beruntung di antara kita karena kita setara. Aku mencintaimu.” Ucap Kenzo. Sungguh dia tidak malu atau pun ragu lagi mengucapkan cinta itu dan menunjukkan betapa dia mencintai dan menyayangi gadis di depannya ini yang kini masih berstatus calon istri. Tapi dalam kurun waktu kurang dua minggu akan menyandang status sebagai istrinya. Sebagai nyonya Kenzo Rarendra.


“Aku juga mencintaimu sayang.” jawab Irma malu.


Kenzo yang melihat itu pun tersenyum karena itu pertama kalinya Irma itu memanggilnya dengan sebutan sayang selama status mereka yang sebagai calon suami dan istri.


***


Singkat cerita, kini Irma sedang ada di kamarnya sedang belajar untuk ujian magangnya besok. Dia sangat serius mempelajari semuanya hingga tidak sadar ada yang masuk ke kamarnya.


“Serius banget yaa!” ucap mami Calista tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya.

__ADS_1


Irma pun kaget dan langsung mengelus dadanya lalu dia berbalik melihat sang mami, “Mih, Kau mengagetkanku tahu.” Ucap Irma.


Mami Calista pun tersenyum, “Maaf sayang. Mami tidak bermaksud untuk mengagetkanmu. Sungguh. Mana mungkin mami melakukannya. Mami tadi sudah mengucapkan salam untuk masuk ke kamarmu tapi tidak ada jawaban darimu. Jadi mami masuk saja karena kamarmu juga tidak di kunci. Mami pikir kamu sedang tidur atau mungkin sedang di kamar mandi tapi ternyata dugaan mami salah. Kamu justru sedang belajar yaa.” Ucap mami Calista duduk di ranjang sang putri dan memandang putrinya itu.


Irma mengangguk, “Hum, Irma sedang belajar karena besok harus ujian untuk magang. Maaf Irma gak dengar tadi. Sungguh.” Ucap Irma.


Mami Calista tersenyum lalu menggeleng, “Gak apa-apa sayang. Mami gak marah kok. Mami senang kau tidak kenapa-kenapa dan akhir-akhir ini juga tidak lagi mengonsumsi obat-obatanmu sepertinya pola makanmu sudah terjaga dengan sangat baik.” ujar mami Calista tersenyum.


Irma mengangguk dan tersenyum, “Mami benar. Kak Kenzo mengatur pola makanku dengan baik. Walaupun dia sedang rapat dia pasti sudah menyuruh seseorang untuk menyiapkan makanku dan memintaku untuk makan lebih dulu tidak perlu menunggunya. Aku sangat bahagia Mih sehingga aku merasa tidak membutuhkan obat-obatan itu lagi. Apa aku terlalu berlebihan untuk mengungkap kebahagiaanku mih?” ucap Irma bercerita dengan wajah sumringah tanda dia sangat bahagia.


“Mami senang nak kau bahagia dan akan memiliki suami seperti Kenzo. Dia sangat baik dan menyayangimu. Kamu benar sangat beruntung. Tidak hanya kamu juga yang beruntung. Mami dan papi juga beruntung akan memiliki menantu seperti dirinya. Menantu yang sangat menjaga putri mami ini dengan baik.” ucap mami Calista tersenyum.


Irma pun mengangguk, “Mami benar. Aku sangat beruntung ahh bukan kita yang beruntung karena aku akan memiliki suami sebaik kak Kenzo. Lalu juga aku akan memiliki kakak ipar sebaik kak Reya, kak Kia, kak Riska, kak Risya dan adik ipar selucu Mark dan Clemira serta adik ipar yang masih kecil Nino dan Nina. Lalu aku juga akan memiliki keponakan sepintar dan secerdas kelima anak kak Reya dan tuan Vino. Aku akan memiliki banyak saudara dan saudari. Aku juga akan memiliki keponakan yang banyak. Aku tidak akan kesepian lagi. Aku sudah memiliki keluarga yang sangat besar nanti.” ucap Irma tersenyum.


Mami Calista tersenyum, “Hum, kau benar nak. Kau akan jadi bagian dari keluarga mereka. Keluarga yang sangat harmonis. Keluarga yang mementingkan kekerabatan di atas segalanya.” Ucap mami Calista tersenyum mendekati putrinya itu dan mengelus rambut Irma lembut.


“Ohiya, tadi kamu mengatakan akan ujian magang besok. Kenapa harus ujian magang besok? Bukankah magangmu masih tiga minggu lagi?” tanya mami Calista kemudian dengan bingung.


Irma tersenyum mendengar pertanyaan maminya itu lalu dia mengangguk, “Hum, benar mih. Aku memang akan ujian magang besok. Benar juga bahwa magangku masih tiga minggu lagi. Tapi kak Kenzo sudah meminta pihak kampus untuk segera mempercepat magang kami selesai. Dia ingin saat kami menikah nanti aku tidak pusing lagi dengan magang. Tinggal memikirkan proposal dan penelitianku. Jadi ujian kami akan di laksanakan besok.” Ucap Irma.


Mami Calista yang mendengar jawaban putrinya itu pun kembali terharu karena ternyata calon menantunya itu memikirkan semuanya dengan baik. Mereka tidak salah memilih menantu karena Kenzo sangat menyayangi putri mereka dengan sangat baik. Bahkan mungkin melebihi apa yang mereka lakukan selama ini kepada putri mereka.


“Baiklah jika memang begitu. Kau belajarlah dengan baik tapi ingat juga untuk beristirahat. Mami tidak mau kau sakit nanti.” Ucap mami Calista.


“Tenang saja mih. Aku tidak akan sakit lagi mih. Aku sudah punya dokter pribadi sendiri yang mengontrol kesehatanku. Aku sudah menyerahkan semuanya padanya. Aku akan bahagia tidak akan sakit lagi.” Ucap Irma penuh senyuman di bibirnya. Senyum yang sangat jarang mami Calista lihat selama ini.


Mami Calista mengangguk, “Baiklah jika memang putri mami ini sudah menemukan obat dan dokter pribadinya sendiri maka mami tidak akan khawatir lagi. Mami sangat bahagia jika kau bahagia. Kamu harus selalu bahagia dan bahagia. Tidak boleh sedih lagi dan tidak boleh sakit lagi.” Ucap mami Calista lalu melabuhkan kecupan di kening putrinya itu dengan lembut.


Irma hanya tersenyum lalu memeluk maminya itu, “Terima kasih sudah menjaga Irma selama ini mih.” Ucap Irma lembut.


“Tidak perlu berterima kasih sayang. Itu sudah jadi kewajiban mami untuk menjagamu.” Ucap mami Calista.


***


Sementara di sisi Friska dan Rezky, mereka baru saja tiba di Bandar udara internasional Pearson Toronto setelah mengudara kurang lebih 19 jam di pesawat.


Rezky dan Friska segera turun dari pesawat sambil bergandengan tangan satu sama lain. Pasangan pengantin baru itu layaknya sepasang sandal yang harus terus bersama. Tidak bisa di pisahkan.


Tidak lama setelah itu mereka segera menuju mobil yang sudah di sediakan untuk menjemput mereka menuju vila yang sudah di siapkan juga untuk mereka menikmati bulan madu di Negara ini selama seminggu ke depan.


Di Negara ini saat ini masih pagi. Matahari baru saja terbit begitu mereka turun dari pesawat tadi.


“Mas!” panggil Friska saat mereka sudah tiba di Villa.


Rezky yang mendengar panggilan baru untuknya itu pun tersenyum dan menatap Friska penuh cinta, “Hm, kamu memanggil kakak dengan apa tadi?” tanya Rezky ingin mendengar sekali lagi istrinya itu memanggil dengan sebutan mas. Mungkin memang terdengar biasa saja tapi baginya itu sangatlah romantis. Dia menyukai panggilan itu.


Friska yang mengira bahwa suaminya itu sedang menggodanya pun segera menggeleng, “Gak ada. Lupakan saja kak. Ayo kita masuk ke dalam.” Ucap Friska hendak melangkah masuk.


Rezky pun tersenyum karena istrinya itu tidak menjawabnya justru pergi meninggalkannya sendiri di luar, “Kenapa dia jadi malu-malu begitu. Ahh istriku.” Ujar Rezky gemas lalu langsung masuk menyusul istrinya yang sudah di dalam villa melihat villa yang akan mereka tempati itu.


“Mas, bagus banget villa nya.” Ucap Friska tersenyum.


Rezky yang mendengar panggilan mas itu lagi pun segera mendekati istrinya dan memeluk Friska dari belakang, “Maass! Hum, kakak menyukainya. Panggil itu saja yaa sayang.” ucap Rezky.


Friska pun tersenyum lalu mengangguk, “Aku pikir kakak gak menyukainya tadi.” Ucap Friska.


Rezky menggeleng, “Maass sayang. Mas. Jangan panggil kakak lagi. Mas menyukainya. Tidak akan mungkin menolak panggilan yang kau berikan.” Ucap Rezky mencuri kecupan singkat di bibir istrinya yang menggiurkan itu.


Setelah mencuri kecupan dari istrinya itu, Rezky segera berlari menuju kamar dan langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang layaknya anak kecil yang baru pertama kali tidur di ranjang empuk.

__ADS_1


Friska yang melihat apa yang di lakukan suaminya itu pun tersenyum, “Dia kenapa jadi seperti anak kecil sih. Sangat manja. Suamiku.” gumam Friska lalu segera ikut mendekati suaminya itu ke kamar.


“Mas ayo sana mandi dulu. Masa iya langsung tiduran di ranjang. Kasihan ranjangnya mas nanti kotor.” Ucap Friska.


Rezky yang mendengar ucapan istrinya itu pun segera bangun dari tidurnya dengan wajah cemberut, “Kenapa cemberut begitu? Emang Riska salah bicara?” tanya Friska tanpa menatap suaminya itu dan sibuk memeriksa koper yang di packing oleh mertuanya itu. Dia ingin memastikan bahwa pakaian yang mertuanya packing itu gak aneh-aneh.


“Gak tahu. Pikir aja sendiri.” Timpal Rezky.


Friska pun segera menghentikan kegiatan memeriksa isi koper itu dan menatap suaminya yang cemberut, “Wajahnya jangan di tekut begitu dong suamiku. Aku tidak marah padamu. Aku hanya memintamu untuk mandi dan tidak mengotori ranjang. Kita sudah berada di pesawat sekitar kurang lebih 19 jam dan kita tidak mandi kan di pesawat. Walaupun kita ganti pakaian tetap saja pasti ada kuman di tubuh kita. Aku tidak menyindirmu atau lebih sayang ranjang itu dari pada dirimu. Aku mencintaimu mana mungkin bisa di bandingkan dengan ranjang.” Ucap Friska.


Rezky yang mendengar itu pun seketika sumringah dna tersenyum, “Sudah. Jangan cemberut lagi. Ayo sana mas duluan mandi. Aku masih harus memeriksa pakaian yang di packing mami untuk kita. Ayo sana.” Ucap Friska.


Rezky menggeleng, “Mas mau mandi lebih dulu tapi beri asupan dulu.” Ucap Rezky tersenyum.


“Asupan? Asupan apaan? Riska gak punya makanan yang bisa di berikan kepada mas.” Ucap Friska.


“Mas juga gak butuh asupan makanan sayang.” ucap Rezky.


“Lalu apa?” tanya Friska menatap suaminya itu lekat.


Rezky tersenyum lalu menunjuk bibirnya dengan jarinya, “Cium!” ucap Rezky.


Friska pun seketika memerah malu karena tidak mengira bahwa asupan yang di maksud suaminya itu hal ini, “Ayo sayang. Mas juga gak mau mandi nanti.” Ujar Rezky manja.


Friska pun melihat sekeliling kamar itu dan menelan ludahnya kasar, “Dasar manja. Kekanak-kanakkan kau mas.” Ucap Friska.


“Biarin yang penting dapat vitamin C(cium) dari istri.” Ucap Rezky tidak peduli.


Friska pun tertawa lalu dia mendekatkan wajahnya dengan wajah sang suami.


Cup


Friska mengecup pipi suaminya itu sekilas, “Sudah sana mandi. Gak usah banyak alasan lagi mas.” Ucap Friska dengan wajah yang memerah.


“Ihh bukan pipi sayang. Kamu salah. Mas tidak mau. Mas maunya di bibir sayang. Ciuman di pipi tidak memenuhi syarat.” Ucap Rezky.


“Dasar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Terserah deh mas mau mandi atau tidak.” Ucap Friska lalu segera mendekati koper lagi dan mulai mengeluarkan isi kopernya.


Rezky yang melihat istrinya yang mengabaikannya itu pun segera berdiri dari ranjang lalu menarik Friska ke dalam pangkuannya. Dia merapikan hijab istrinya itu, “Jika memang kamu tidak mau memberikannya sendiri maka biarkan mas yang mengambilnya sendiri.” Ujar Rezky semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri. Sementara Friska dia semakin memundurkan wajahnya hingga membuat Rezky menahan tengkuk istrinya itu.


“Sayang..” ujar Rezky.


Friska pun tertawa lalu dia segera mengecup bibir suaminya itu dengan lembut. Kecupan lima detik. Begitu Friska hendak melepasnya Rezky menahan tengkuk istrinya itu dan mencium istrinya dengan ciuman yang dalam penuh kelembutan. Seolah-olah dia sedang memuaskan dahaganya dan rasa hausnya itu hanya bisa dia obati dengan bibir istrinya.


Sekitar dua menit mereka larut dalam ciuman penuh kelembutan bercampur gelora dalam diri. Lalu setelah itu baru lah Rezky melepaskan ciumannya. Rezky mengusap jejak saliva di bibir cantik istinya itu dengan ibu jarinya lalu melabuhkan kecupan di kening Friska dengan lembut. Setelah itu mata mereka beradu satu sama lain seolah mengatakan bahwa mereka saling mencintai satu sama lain.


Friska segera berdiri dari pangkuan suaminya itu, “Sudah. Sana mas mandi.” Ucap Friska membelakangi suaminya itu.


Rezky pun mengangguk dan segera bangkit dari ranjang, “Tentu saja mas harus segera mandi. Sudah dapat asupan yang sangat manis dan mengenyangkan kok.” ucap Rezky mengedipkan sebelah matanya kepada Friska. Dia segera masuk menuju kamar mandi.


Friska yang melihat itu pun tersenyum lalu menyentuh bibirnya, “Hum, mesum!” ujar Friska lalu dia kembali meneruskan pekerjaannya yang selalu saja tertunda itu.


Dia membuka satu persatu pakaian itu karena ternyata pakaian yang di packing itu bukan pakaian mereka. Itu pakaian baru semua masih ada merk nya yang menempel di baju, “Semua aman. Mami terbaik sih.” Ujar Friska memeriksa semua isi koper yang berisi pakaian mereka itu.


Setelah itu dia membuka koper kecil yang juga di packing oleh mertuanya dia membukanya dan di atasnya itu alat mandi, skin care dan kosmetik lainnya baik miliknya maupun milik suaminya. Lalu dia membuka untuk yang selanjutnya ternyata isinya itu dalaman semua dan juga tentu saja ada pakaian haram itu, “Ahh mami!” jerit Friska lirih.


Di sana ada kertas juga. Friska pun mengambil kertas itu dan membuka perlahan. Dia mulai membacanya.


“Selamat bersenang-senang sayang. Ini hadiah kecil untukmu dari mami. Mami tahu kau mungkin tidak menyukai ini tapi tetap saja mami mengisinya untukmu. Siapa tahu saja butuh. Tidak masalah sayang jadi liar di hadapan suami sendiri. Mami menunggu kabar baik darimu yaa sayang. Selamat bersenang-senang sekali lagi.” Begitu lah isi kertas itu.

__ADS_1


Friska merona setelah membaca surat dari ibu mertuanya itu, “Haruskah aku memakainya. Ahh ini aku tidak terbiasa.” Ucap Friska lalu kembali memasukkan pakaian haram itu ke tempatnya. Dia lebih memilih segera menyiapkan pakaian untuknya dan untuk suaminya itu.


__ADS_2