Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
71


__ADS_3

“Biar kakak saja.” ucap Zean segera mengambil alih hair dryer.


Kiana pun membiarkannya dan dia hanya meluruskan tubuhnya agar duduk tegap, “Kakak buka yaa.” Ucap Zean meminta izin untuk membuka hijab sang istri.


Kiana hanya menangguk saja. Zean pun setelah melihat anggukan istrinya segera melepas hijab istrinya itu dengan pelan dengan di awali kecupan di kepala yang masih di tutupi hijab lalu melepas peniti yang di pakai istrinya dengan pelan seolah-olah jika dia melakukannya dengan cepat akan membuat istrinya itu terluka padahal itu hanya peniti.


Kiana yang melihat itu hanya tersenyum, “Kakak tampan.” Puji Kiana saat wajah suaminya itu sangat dekat dengan wajahnya.


Zean yang mendengar itu tersenyum, “Kau juga sangat cantik dan aku beruntung bisa menjadi pemilik kecantikan itu.” balas Zean.


Kiana terkekeh mendengarnya dan kini Zean sudah berhasil melepas hijab sang istri dan mulai menurunkan yang kini rambut istrinya itu tinggal di tutupi oleh alas hijab saja yang sudah lumayan basah, “Kenapa belum mengeringkannya langsung memakai hijab dek?” ucap Zean lalu membuka alas hijab istrinya itu hingga kini terlihatlah rambut hitam sang istri.


Zean tersenyum dan tentu saja sangat menyukai rambut istrinya itu. Sebelum dia melepas ikatan rambut istrinya dia mengecup kepala istrinya itu lama menghirup wangi rambut istrinya. Kiana hanya diam saja sambil meresapi kenyamanan yang di timbulkan karena apa yang mereka lakukan.


Setelah melakukan itu Zean segera melepas ikatan dan kini terurailah rambut panjang istrinya itu dan Zean mulai mengeringkannya dengan lembut menggunakan hair dryer. Kiana menikmati apa yang di lakukan suaminya sambil menatap suaminya itu lewat cermin di hadapannya.

__ADS_1


Sekitar 15 menit Zean mengeringkan rambut istrinya. Setelah dia memastikan bahwa rambut istrinya itu benar-benar keringa barulah dia menyudahinya, “Sekarang sudah kering.” Ucap Zean lalu mengikat kembali rambut istrinya sebisanya, “Sudah cantik.” Ujar Zean lalu memeluk istrinya itu dengan erat dari belakang.


Kiana pun tersenyum lalu memegang lengan sang suami yang kini memeluknya itu, “Jika kakak mau aku berse--” ucapan Kiana itu terhenti karena sebuah kecupan singkat mendarat di pipi kirinya.


Zean yang sebagai pelaku kecupan itu segera membalikkan Kiana hingga kini mereka saling menatap satu sama lain, “Kakak senang kau sudah berinisiatif tapi kakak tidak akan membiarkan harga dirimu terluka dengan mengatakan itu lebih dulu. Biar kakak yang mengatakannya. Sayang bisakah kakak mendapatkan hak kakak malam ini? Maukah dirimu menjadi milik kakak seutuhnya?” ucap Zean bertanya dengan menatap dalam mata sang istri.


Kiana yang mendengar ucapan suaminya terharu lalu langsung memeluk suaminya itu dan mengangguk dalam pelukan suaminya, “Kia bersedia kak. Kia bersedia memberikan hak kakak dengan segenap hati dan kerelaan Kia. Kia bersedia menjadi milik kakak seutuhnya.” Ucap Kiana berbisik sambil memeluk suaminya itu.


Zean yang mendengar itu tersenyum bahagia karena malam yang dia tunggu akhirnya tiba. Istrinya bersedia memberikan haknya dengan kerelaan hatinya, “Kau yakin? Kau tidak merasa di paksa kan?” tanya Zean memastikan lagi dan tetap masih dalam posisi memeluk istrinya itu.


Kiana menggeleng dalam pelukan suaminya, Zean tahu itu dan dia sangat bahagia. Dia segera melerai pelukan mereka dan langsung menggendong istrinya menuju ranjang. Zean segera membaringkan istrinya itu ke ranjang dengan pelan lalu mengecup kening istrinya dengan lembut turun ke mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir yang sebenarnya sudah menggodanya dari awal tapi di tahannya. Kini dia bisa merasakan bibir manis istrinya itu, di kecupnya dengan pelan dan lama-lama menjadi sebuah ******* yang lembut. Dia tahu ini adalah first kiss istrinya karena di lihat dari gestur tubuh istrinya yang kaku. Setelah sekitar dua menit dia mengecup dan sedikit ******* bibir merah jambu dan meresepi rasa menit bibir itu akhirnya dia melepasnya lalu kembali mengecup kening sang istri dan mengucapkan doa, “Bismillahirrahmanirrahim, Biismika allahumma ‘ahyaa Wa Biismika ‘amuut” ucap Zean sambil meniup kening istrinya itu.


Zean tersenyum dan segera memotong ucapan sang istri dengan mengecup bibir istrinya itu singkat, “Doanya sudah benar sayang. Ayo tidur. Kita bisa melakukannya lain waktu. Aku tahu kau memang sudah rela dan siap memberikannya tapi sepertinya malam ini bukan waktu yang tepat. Ayo tidur. Aku akan tidur sambil memelukmu.” Ucap Zean lalu dia berbaring di samping sang istri dan memeluk pinggang istrinya itu erat.


Kiana yang mendengar itu kembali terharu dengan suaminya, dia memang sudah rela untuk melakukannya dan memberikan hak suaminya tapi sejujurnya dia juga belum siap jika harus melakukannya malam ini untunglah suaminya itu sangat pengertian. Kiana pun mulai memejamkan matanya tidur di pelukan suaminya. Akhirnya sepasang suami istri itu tidur sambil berpelukan erat untuk pertama kalinya setelah hampir dua minggu pernikahan mereka.

__ADS_1


***


Keesokkan paginya, di sebuah apartemen kini Frisya segera turun ke dapur setelah melakukan sholat subuh untuk menyiapkan sarapan. Seperti biasa jika dia memasak maka dia akan memutar lau kesukaannya untuk menemaninya memasak.


Sekitar kurang lebih 30 menit akhirnya sarapan sudah siap dan dia mulai menatanya di meja makan, “Kak Ris kemana? Kok belum turun? Ahh kak Ris semalam pulang kan?” tanya Frisya pada dirinya lalu mengingat apa yang terjadi semalam.


“Ahh dia pulang mobilnya ada di bawah terparkir di sana tapi kenapa dia belum bangun yaa. Dia baik-baik aja kan atau masih tiudr menikmati weekend tapi gak mungkin. Kak Ris walau weekend tetap bangun lebih awal untuk sarapan dan barulah setelah sarapan dia tidur lagi.” Ucap Frisya bicara pada dirinya sendiri. Frisya memang semalam setelah pulang dia juga langsung ke kamarnya tidak lagi mengecek apa kakak keduanya itu sudah pulang atau belum. Apa ada di kamarnya atau tidak karena dia yakin kakak keduanya itu sudah pulang dengan bukti mobil sang kakak ada di bawah terparkir di tempat biasanya serta sandal kakaknya juga ada di rak sepatu. Hal itulah yang membuatnya tidak lagi memeriksa kakak keduanya itu di kamar karena dia pikir pasti kakaknya itu sudah tidur.


“Aku harus memeriksanya di kamar.” Ucap Frisya lalu segera menuju kamar kakaknya itu.


Tok tok tok


“Kak, Kak, Kak Ris!” panggil Frisya namun tidak ada jawaban.


“Kak Ris ada di dalam kan?” tanya Frisya mulai khawatir.

__ADS_1


“Kak Ris!” panggil Frisya dengan suara keras dan Frisya mendengar gumaman kakaknya itu dari dalam dan tidak lama pintu kamar terbuka menampilkan seorang gadis dengan wajah pucatnya.


“Kak, kau kenapa?”


__ADS_2