
Satu jam kemudian Salwa tiba di kediaman Freya dengan beberapa dress yang di pesan oleh mami Sinta dan juga mami Jasmin. Dia juga membawa dua orang yang bekerja di salonnya.
“Assalamu’alaikum. Salwa Beauty datang dan siap melayani kalian agar tampil cantik dan paripurna.” Ucap Salwa saat masuk dengan hebohnya.
Freya dan Friska yang melihat itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena mereka sudah hafal dengan tingkah Salwa itu yang sangat heboh ketika bersama keluarganya. Semenjak dia menikah dengan Devano wajah sendunya itu hilang dan keceriaannya sejak kecil kembali.
“Wa’alaikumsalam. Ayo duduk kak!” ucap Freya mempersilahkan Salwa untuk duduk.
“Oh ayolah kakak ipar. Jangan begitu padaku. Aku ini datang bukan sebagai iparmu tapi sebagai bagian dari Salwa Beauty. Aku ini sedang menjalankan usahaku.” Ucap Salwa.
Freya pun tertawa mendengar hal itu, “Baiklah selamat datang di kediaman Freya dan Alvino untuk Salwa Beauty.” Ucap Salwa.
“Terima kasih atas sambutannya nyonya Freya. Kami dari Salwa Beauty siap melayani anda. Tenang saja percayakan diri anda kepada kami dan anda akan tampil dengan cantik ke acara yang anda hadiri.” Ucap Salwa.
Freya dan Friska pun tertawa melihat itu, “Oh ayolah kak. Hentikan candaan ini. Duduklah!” ujar Freya.
Salwa pun akhirnya tertawa dan segera duduk. Dia juga mempersilahkan karyawan salonnya itu untuk duduk, “Bagaimana kak itu tadi aku? Apa aku sudah cocok?” tanya Salwa.
Freya pun mengangguk, “Sangat cocok.” Ucap Freya tertawa.
“Ahh kakak ipar. Aku serius bertanyanya loh. Aku ini meminta pendapatmu.” Ujar Salwa.
“Ayolah kak. Aku tidak mengerti dengan dunia kecantikan. Jadi jangan tanyakan padaku hal seperti ini karena sudah pasti aku tidak mengetahuinya sama sekali.” Ujar Freya.
“Yah hal inilah yang membuat kakak sepupuku itu tergila-gila padamu. Walau tanpa make up kau sudah sangat cantik. Aku iri padamu kakak ipar.” Ujar Salwa.
“Kak, kau membuatku malu.” Ucap Freya.
“Aunty!” ucap Azwa berlari dari pintu masuk. Putri kecil Freya dan Alvino itu baru saja pulang dari sekolahnya dan langsung berlari ke dalam begitu turun dari mobil setelah mengenali mobil Salwa terparkir di depan.
Salwa pun tersenyum menyambut keponakannya tercantiknya itu bahkan putrinya Nita kalah cantik dengan keponakannya ini, “Mami sayang. Bukan Aunty.” Ucap Salwa.
Azwa menggeleng, “Aunty!” ucapnya.
“Kakak ipar. Kenapa hanya dia yang menolak memanggilku mami.” ucap Salwa menatap Freya dengan mengeluh.
Freya pun tersenyum, “Sayang, ayo sini sama bunda.” Ujar Freya.
Azwa pun segera mendekati Freya dan mencium punggung tangan bundanya itu. Setelah itu dia menunduk. “Kenapa Azwa menunduk?” tanya Freya dengan lembut.
“Azwa salah bunda. Azwa tadi tidak mengucap salam. Maaf!” jawab Azwa lembut.
Freya pun tersenyum lalu segera memangku putrinya itu ke pangkuannya, “Lain kali setiap masuk rumah harus mengucap salam sayang. Tidak boleh lupa. Okay!” ucap Freya yang langsung di angguki oleh Azwa.
“Terima kasih bunda. Muach!” ucap Azwa lalu mengecup pipi Freya. Setelah itu dia turun.
“Sana ayo ganti pakaian dan makan.” Ucap Freya.
Azwa pun mengangguk, “Baik bunda. Daa aunty Salwa! Daa juga para aunty cantik.” Ucap Azwa kepada Salwa dan dua pegawainya itu. Setelah berpamitan Azwa segera menuju lantai atas di ikuti oleh Friska.
“Sayang. Mami. Jangan panggil aunty.” Protes Salwa yang hanya di balas senyum oleh Azwa.
“Kakak ipar. Kenapa putri cantikmu itu tidak mau memanggilku mami. Ahh aku sedih.” Ujar Salwa dramatis. Freya pun bingung dengan putri kecilnya itu yang menolak memanggil Salwa dan Devano dengan sebutan mami dan papi seperti ke empat anaknya yang lain. Dia lebih memilih memanggil Salwa dan Devano dengan panggilan aunty dan uncle.
“Aku juga bingung kak. Aku gak tahu kenapa dia tidak mau memanggimu begitu.” Ucap Freya.
“Huh!” Salwa menghela nafasnya.
”Aunty mana kak?” tanya Salwa kemudian.
“Mami masih pergi ke rumah.” Jawab Freya.
Salwa pun mengangguk, “Ya sudah kalau begitu siapa dulu nih yang di rias lebih dulu.” Ucap Salwa.
__ADS_1
“Hmm, aku terakhir aja ya kak. Aku masih mau sholat dulu.” Ujar Freya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11.02.
Arisan mereka nanti jam 14.00, “Baiklah jika begitu. Aku saja duluan kalau begitu. Aku sedang udzur. Tapi sebelum itu. Aku mau makan dulu. Kakak ipar, ada makanan apa? Aku lapar.” Ucap Salwa.
“Emm, sepertinya masih ada makanan tadi. Coba kita lihat dulu. Ayo, Reya juga belum makan. Ayo kita makan dulu.” Ucap Freya.
Salwa pun mengangguk lalu kedua wanita itu pun segera menuju dapur untuk melihat makanan yang bisa mereka makan.
“Cantik benar ya putri bungsu nyonya Freya dan tuan Alvino itu.” ujar pegawai Salwa sebut saja dia A. (author kehabisan stok nama)
“Yah kau benar. Sangat cantik. Kecil saja dia sudah cantik begitu apalagi jika sudah besar ya entah bagaimana cantiknya.” Ujar gadis B.
Sementara Salwa dan Freya di dapur mereka sudah mengambil piring untuk makan siang dan segera memulai makan siang mereka dengan lauk yang baru saja selesai di masak oleh ketiga ART Freya itu.
“Bi, tolong siapkan makanan juga sekalian untuk dua pegawai kak Salwa itu ya.” Pinta Freya.
“Baik nyonya!” jawab bi Wati segera melakukan permintaan Freya itu. Tidak lama kedua pegawai Salwa itu pun segera di persilahkan untuk makan.
Sementara Azwa dan Friska baru saja turun dengan pakaian Azwa yang sudah berganti. Azwa dan Friska segera menuju dapur dan ikut bergabung dengan Freya dan Salwa makan.
Sekitar 30 menit kemudian, kini keempat anak Freya sudah tiba dan mereka segera masuk rumah lalu menyalami Freya dan Salwa, “Assalamu’alaikum Bunda, Mami!” ucap keempatnya datar dan bergiliran menyalami Freya dan Salwa.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Freya dan Salwa bersamaan.
“Hum, ternyata benar apa yang di katakan Nita bahwa mami ada di sini. Kalau tahu begitu kami mengajak mereka kesini.” Ucap Azlan cool. Dia bersikap begitu karena ada dua pegawai Salwa itu.
“Bun, kami ke atas dulu.” Izin Anand.
“Bun, Azwa sudah tiba kan?” tanya Anind.
Freya pun mengangguk untuk menjawab dua ucapan putra dan putrinya itu.
Setelah itu ke empat anak itu segera naik ke lantai atas, “Maaf ya atas sikap mereka. Mereka memang begitu.” Ucap Freya kepada dua pegawai Salwa itu.
Dua wanita itu menggeleng dengan kompak, “Gak apa-apa nyonya.” Ujar keduanya bersamaan.
“Ya sudah pilih saja kak.” Ucap Freya. Salwa yang mendengar itu pun segera berdiri menuju kulkas Freya yang berisi stok coklatnya. Freya pun ikut berdiri.
“Wah, anak-anak nyonya Freya itu tampan dan cantik ya.” Ucap wanita B.
“Kau benar. Tapi dingin. Apalagi itu tadi yang kembar. Yang satunya yang diam saja. Dingin seperti kulkas saja.” timpal wanita A.
“Benar. Sangat dingin. Aku juga tidak menyangka bahwa nyonya Freya dan tuan Alvino itu punya anak kembar.” Ucap wanita B.
“Kau benar. Mereka sangat menjaga privasi anak mereka. Aku saja tidak menyangka mereka punya lima orang anak. Mana sangat tampan dan cantik lagi.” Ucap wanita A.
“Iya mereka memang sangat menjaga privasi anak mereka. Lihatlah. Ini ruang keluarga tapi tidak ada foto mereka dengan anak mereka.” ucap wanita B.
Sementara di sisi Salwa dan Freya kini Salwa sibuk memilih coklat. Salwa hanya di sini dia bisa makan coklat karena jika di rumah Devano sangat melarang karena Salwa yang setiap makan coklat pasti akan sakit gigi. Yah, gigi Salwa satu berlubang.
“Jangan banyak ya kak. Aku bukan tidak ingin memberimu makan banyak tapi kau tahu sendiri gigimu akan sakit nanti dan aku tidak ingin menanggung saat kak Devano marah padamu.” Ujar Freya.
“Hmm, kakak ipar. Mumpung dia gak ada. Aku mau puas-puas makan coklat. Mumpung gratis juga.” Ujar Salwa tertawa.
“Gak boleh begitu mih.” Ucap Nata dan Nita yang entah sejak kapan sudah berada di ruangan itu. Entah kapan mereka tiba.
Salwa yang mengenali suara dua anaknya segera menoleh dan cengesan. Sementara Freya hanya tersenyum lalu mendekati kedua keponakannya itu, “Bunda!” ucap Nita dan Nata lalu menyalami Freya.
Setelah menyalami Freya mereka mendekati Salwa dan menyalami mami mereka itu, “Mih, jangan banyak makan coklatnya. Nanti sakit gigi lalu papi juga yang akan repot.” Ucap Nata dingin.
“Bun, si kembar sudah tiba kan?” tanya Nita.
Freya pun mengangguk, “Iya nak. Apa kamu mau ketemu Azlen?” tanya Freya yang langsung mendapat anggukan dari Nita. Memang putri Salwa itu sangat dekat dengan Azlen padahal Azlen itu sangat dingin. Namun entah kenapa putra dinginnya itu bisa luluh dengan Nita.
__ADS_1
“Nita mau menyusul mereka. Boleh kan bun?” izin Nita.
“Tentu boleh dong sayang.” jawab Freya.
Nita pun segera berlari menuju tangga namun dia berhenti begitu melihat empat sepupunya itu turun, “Wih, Nita ada di sini?” ucap Azlan segera mendekati Nita dan menggandengnya.
“Ih lepasin kak. Aku mau jalan bareng kak Azlen.” Ujar Nita langsung melepaskan tangan Azlan di lengannya dan menggandeng Azlen. Azlen pun tidak menolaknya karena dia memang sudah terbiasa dengan sepupunya itu. Nita, Anind dan Azwa itu sama baginya.
“Aku dan Azlen itu punya wajah yang sama. Kenapa kau lebih dekat dengannya ketimbang aku.” Ucap Azlan.
“Bang, aku gak suka ucapanmu.” Ujar Azlen dingin.
Azlan pun tertawa, “Okay. Maaf dek. Aku hanya bercanda. Jangan menganggapnya serius. Santai. Kak Anind aku menggandengmu saja.” ujar Azlan segera menggandeng kakak perempuannya itu. Anind pun membiarkannya. Memang si kembar itu sangat takluk dengan Anind. Kelima anak itu segera menuju dapur untuk makan siang.
“Boy, sana ikut mereka juga makan.” Ucap Salwa menatap putranya.
“Bunda, jangan makan coklat banyak. Jika tidak aku akan menghubungi papi agar dia memarahimu.” Ujar Nata.
“Oh ayolah boy. Mami hanya ini makan coklat. Please berbaik hatilah kepada mamimu ini. Tenang saja bunda gak akan sakit gigi.” Ujar Salwa.
Nata pun hanya menghela nafas pasrah lalu segera menyusul kelima saudaranya yang lain, “Terserah mami saja. Tapi jika mami sakit gigi awas saja mengganggu kami.” ucapnya.
“Kakak ipar, sulit juga yaa punya CCTV berjalan.” Ucap Salwa.
Freya yang mendengar itu hanya tersenyum, “Sabar kak. Dia hanya ingin menjagamu saja.” ucap Freya.
Salwa pun mengangguk pasrah lalu mengembalikan coklat ke kulkas dan segera kembali ke ruang keluarga.
Setelah itu Salwa pun segera di rias begitu juga dengan Friska. Mereka bergantian di rias. Freya nanti di rias bareng mami Sinta karena mereka masih sholat dulu.
***
Singkat cerita, kini Freya, Friska dan Salwa sudah sangat cantik dengan riasan natural yang mereka pilih dan juga dress cantik yang di padukan dengan hijab pashmina yang membuat mereka tampil cantik dan terlihat lebih muda dari usia mereka.
“Ouh cantiknya bidadarinya mami.” ucap mami Sinta memuji ketiga wanita di hadapannya itu.
Tidak lama setelah itu mereka segera berangkat ke tempat arisan masing-masing. Friska ikut mami Sinta dan Freya. Sementara Salwa di mobilnya sendiri karena dia masih harus menjemput maminya.
Sementara kedua anak Salwa sudah pasti mereka belum pulang dan bergabung dengan kelima anak Freya di dalam lab komputer dengan di awasi oleh Mark dan Wina yang baru saja pulang dari kampus mereka.
Kurang lebih dalam 30 menit saja mereka tiba di sebuah hotel milik keluarga Alvino yang menjadi tempat yang di pilih untuk arisan kali ini.
Banyak wanita sosialita kelas atas yang datang dengan menantu mereka atau tunangan putra mereka sebagai pendamping. Mami Sinta, Freya dan Friska segera turun dari mobil, “Jasmin mana sih?” ujar mami Sinta mencari temannya itu.
Tidak lama mami Jasmin tiba bersama dengan kedatangan mami Santi dan Salwa. Mereka segera bergabung bersama.
Mami Sinta segera menggandeng lengan Freya dan masuk begitu juga dengan mami Santi yang segera menggandeng putrinya. Sementara mami Jasmin segera menggandeng Friska calon menantu cantiknya yang saat ini sangat cantik dengan dress yang dia pakai.
“Kau sangat cantik nak! Mami sampai pangling.” Ujar mami Jasmin memuji Friska.
Friska tersenyum, “Ahh mami.” ucap Friska.
Mami Jasmin menggenggam tangan Friska yang dingin, “Jangan gugup nak. Ini hanya pertemuan biasa saja kok. Hanya saling berkenalan satu sama lain dan ingat kamu itu calon menantu mami. Jangan gugup. Mami selalu di sampingmu.” Ujar mami Jasmin.
Friska pun mengangguk, “Terima kasih mih.” Ucap Friska.
Mami Jasmin dan Friska pun segera menyusul mami Sinta yang sudah masuk lebih dulu. Mereka segera menuju ballroom hotel. Di sana sudah banyak para wanita sosialita yang berkumpul.
Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian karena bukan penampilan mereka yang memukau, “Silahkan duduk!” ucap mami Sinta dengan Freya di sampingnya. Mami Sinta itu seperti ketua arisan ini yang di hormati.
“Wah, siapa ini jeng Jasmin? Kok kami baru melihatnya.” Tanya salah satu teman arisan itu.
“Kenalkan ini calon istri putra saya.” ucap mami Jasmin bangga.
__ADS_1
“Friska!” ucap Friska menyebutkan namanya.
“Apa dia adik anda nona Freya?”