
Kini Freya sedang menatap Fazar yang tengah menunduk di hadapannya itu, “Sayang, jangan menatapnya begitu. Aku cemburu.” Bisik Alvino dengan nada cemburunya.
Freya pun menghela nafas baru ingat bahwa suaminya itu adalah tipe suami yang sangat posesif, “Kau tahu siapa yang aku cintai suamiku. Jadi untuk saat ini jangan terlalu memikirkan cemburumu itu.” bisik Freya balik. Alvino yang mendengar itu pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
“Fazar, apa kau tahu kenapa saya memanggilmu kemari?” tanya Freya menatap asisten suaminya itu.
Fazar pun mengangguk, “Saya tahu nyonya dan saya bersedia jika memang harus di hukum untuk kesalahan itu.” ucap Fazar amsih dengan menunduk.
“Angkat kepalamu Fazar. Saya gak suka bicara dengan orang yang tidak menatap lawan bicaranya.” Ucap Freya tegas. Alvino pun hanya bisa menelan ludahnya kasar jika sang istri sudah mengeluarkan sikap tegasnya itu.
Fazar pun segera mengangkat kepalanya lalu menatap bos dan nyonya bosnya itu, “Katakan apa kesalahanmu?” ucap Freya kembali menurunkan nada suaranya seperti di awal tadi.
“Saya gak sengaja merendahkan diri di hadapannya nyonya. Sehingga membuat Frisya marah. Maaf nyonya.” Ucap Fazar.
“Kamu gak punya salah kepada saya Fazar. Jika kamu memang merasa bersalah maka minta maaf lah padanya jangan kepada saya. Dan untuk kesalahanmu ini saya hanya bisa diam saja karena saya pun pasti akan melakukan hal yang sama jika orang yang saya cintai mengatakan sesuatu yang merendahkan dirinya di hadapan saya.” ucap Freya.
Alvino dan Fazar yang mendengar itu segera menatap Freya seolah bertanya apa maksud perkataan Freya itu, “Hati wanita itu lembut Fazar. Mereka hanya butuh kenyamanan saja. Sebanyak apapun harta yang kau miliki tapi dia tidak nyaman hidup denganmu maka semuanya akan berakhir tapi jika dia nyaman denganmu maka apapun akan berjalan. Uang bisa di cari bersama yang terpenting mau berusaha semua pasti akan ada jalannya. Jujur saja saya juga kecewa jika kau menganggap Frisya gadis seperti itu Fazar dan rasanya saya ingin meledakkan kepalamu itu karena telah membuat adik saya sedih. Tapi jika itu saya lakukan maka sama saja saya menambah kesedihan yang mendalam di hidup adik saya karena membunuh pria yang dia cintai.” Ucap Freya.
__ADS_1
Fazar yang mendengar itu kaget sementara Alvino kini tersenyum. Dia sekarang tahu tujuan istrinya itu menemui asistennya. Sepertinya hubungan Fazar dan adik iparnya itu akan berjalan mulus karena istrinya sudah menyalahkan lampu hijau, “Maksud nyonya apa?” tanya Fazar.
Alvino yang mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh asistennya seketika ingin rasanya dia meledakkan kepala asistennya itu, “Dasar bodoh. Kenapa bertanya lagi. Apa kau sudah kehilangan kecerdasanmu sehingga tidak bisa memahami apa yang di katakan istriku?” ucap Alvino geram.
Freya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, “Sayang, kenapa kau tersenyum. Aku ini sedang marah. Aku tidak menyangka bahwa asistenku kehilangan kecerdasannya sehingga tidak bisa memahami apa yang kau katakan.” Ucap Alvino.
“Bukankah setiap orang yang jatuh cinta akan kehilangan kecerdasan yang mereka miliki by. Bukankah kau juga merasakannya?” ucap Freya sambil menaham senyumnya.
Alvino pun seketika tersadar, “Sayang, kau menyindirku.” Ujar Alvino.
“Sayang, jangan membongkar rahasiaku.” Ucap Alvino. Freya pun seketika tertawa.
“Sudahlah, aku akan meninggalkan kalian. Aku yakin kau pasti memiliki ide yang bisa membantu asistenmu itu suamiku. Kau kan yang dari awal menjadi mak comblang mereka maka selesaikan sampai akhir. Aku tidak ingin ikut campur. Aku lebih baik istirahat dan melihat anak-anakku.” Ujar Freya lalu dia berdiri dan menuju kamar anak-anaknya berada.
“Tuan, apa nyonya baru saja mengatakan bahwa Frisya juga menyukai saya?” tanya Fazar setelah Freya pergi.
“Menurutmu bagaimana?” tanya Alvino balik.
__ADS_1
Fazar mengangguk, “Huh, aku pikir kau sudah kehilangan kecerdasanmu sehingga tidak bisa mengerti apa yang di katakan istriku. Kau harus bersyukur bahwa istriku itu tidak marah padamu. Dia justru memberikan lampu hijau yang nyata untukmu. Kau harus bisa memanfaatkan kepercayaan yang istriku berikan. Saat dia sudah memberikan lampu hijau sama saja restunya sudah kau dapat dan jika kau sudah mendapat restunya maka anggap saja mertuaku juga sudah merestuimu. Kau tinggal meyakinkan Frisya saja.” ucap Alvino.
“Kau sudah dengar kan, apa yang di katakan istriku bahwa wanita itu tidak suka melihat pria yang mereka cintai merendahkan dirinya maka jangan pernah lakukan itu lagi. Satu lagi yang harus kau ingat bahwa Frisya itu sama dengan istriku mereka mendapat ajaran dan pengasuhan yang sama. Darah yang mengalir dalam tubuh mereka pun sama. Jadi pemikiran mereka pun sama walaupun Frisya terlihat lebih ceria dan pandai bergaul dengan orang lain ketimbang istriku dan Friska namun mereka sama. Frisya itu adalah wanita tulus. Mereka tidak melihat seseorang dari kekayaannya. Lagian apa yang membuatmu merendahkan dirimu. Apa karena kau seorang asisten? Pekerjaan asisten itu adalah pekerjaan yang terhormat, apa yang harus membuatmu merendahkan diri.” Lanjut Alvino.
“Maafkan saya tuan. Saya gegabah. Saya akan memperbaiki semuanya. Saya akan meminta maaf kepadanya. Jika dia menolaknya maka saya akan mencobanya besok dan jika masih dia tolak maka saya akan mencobanya besok lagi sampai dia bosan dan menerima permintaan maaf saya.” ucap Fazar.
Alvino pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah lakukan itu. Kamu tidak akan rendah jika harus meminta maaf kepada wanita yang kau cintai. Jika bersalah kita harus meminta maaf bukan tanpa harus memandang siapa dia. Bahkan aku pun kadang-kadang meminta maaf kepada anak-anakku saat aku lupa menepati janjiku kepada mereka. Jadi meminta maaf gak akan membuatmu rendah. Aku mendukungmu dan istriku pun sudah merestuimu untuk jadi adik iparnya. Jadi jangan sia-siakan itu dan buktikan bahwa kau layak dia percayai untuk menjaga adik bungsunya.” Ucap Alvino.
Fazar pun mengangguk lalu tersenyum, “Tuan saya mau bertanya?” ucap Fazar.
“Katakan. Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Alvino.
“Tuan apa benar yang di katakan nyonya bahwa anda sampai membobol CCTV untuk mengawasinya?” tanya Fazar tersenyum.
“Sialan kau. Tapi memang benar apa yang dia katakan itu benar. Aku bertemu dengannya saat mobilku kehabisan bensin di jalan di hari pertamaku masuk kerja. Aku sangat malu saat itu masa iya mobil mewah bisa kehabisan bensin. Tapi dia membantuku, aku mengingatnya dan menghafal wajahnya dan dia sudah ku tandai sebagai jodoh masa depanku. Aku mengikuti semua akun media sosial yang dia miliki. Aku mengikuti seminar yang dia ikuti. Aku bahkan membuat seminar dan mengundangnya sebagai pematerinya. Banyak yang ku lakukan untuk bisa dekat dengannya dan kau tahu dia tidak mengingatku sekalipun.” Ucap Alvino.
“Wah, kok bisa?”
__ADS_1