Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
98


__ADS_3

Setelah kembali dari mengambil foto bersama seperti biasa Azwa itu adalah orang yang penasaran. Dia segera mendekati Kenzo dan menatap gadis di samping pamannya itu, “Om, siapa kakak ini?”


Anand, Anind, Azlan dan Azlen yang di belakang Azwa dan mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh adik mereka itu seketika hanya bisa menepuk kening mereka karena Azwa memang belum mengetahui ini selain mereka, “Azwa jangan bertanya yang aneh-aneh? Itu mungkin teman om.” Ucap Anand mencoba memberi penjelasan kepada adiknya itu.


“Teman? Tapi kok teman om perempuan. Kata bunda bahwa tidak ada kata teman dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan selain hubungan keluarga atau saudara. Ayo om katakan kakak ini apa calon istri om?” Tanya Azwa lagi.


Kenzo dan Irma yang mendengar pertanyaan dari Azwa hanya bisa menghela nafas dengan ekspresi berbeda di wajah mereka. Jika Irma yang tidak menyangka bahwa anak sekecil Azwa memahami apa itu hubungan antara wanita dan pria dewasa yang tidak memiliki ikatan keluarga maka lain dengan Kenzo yang tersenyum karena melupakan bahwa dia memiliki keponakan yang sangat cerdas dan cantik itu.


Kenzo yakin bahwa hanya keponakan paling kecilnya itu yang belum tahu tentang ini semua karena di lihat dari ekspresi berbeda yang di tunjukkan oleh ke empat keponakannya yang lain. Kenzo tahu ini pasti kerjaan kakaknya yang memang melarang untuk tidak semua informasi harus di ketahui oleh putrinya yang paling kecil itu. Freya memang sudah mewanti-wanti ke empat anaknya yang lain terkait hal ini. Freya memang mengizinkan Azwa untuk ikut bergabung dengan saudaranya yang lain namun nanti setelah umurnya mencukupi setidak setelah putrinya itu sekolah dasar. Freya ingin memiliki anak yang lumayan normal dari ke empat anaknya yang lain yang terlihat sangat menyukai teknologi walaupun Azlan lebih suka dunia game.


Kenzo segera menggendong Azwa di pangkuannya, “Menurut Azwa siapa kakak ini?” Tanya Kenzo balik.


Azwa yang mendapat pertanyaan balik dari Kenzo pun cemberut, “Om, kata bunda kita itu harus menjawab pertanyaan yang di ajukan lebih dulu. Jadi Azwa yang lebih dulu bertanya maka om yang harus menjawab lebih dulu.” Ucap Azwa sambil melipat tangannya di dada.


Anand, Anind, Azlan dan Azlen yang melihat itu tersenyum lalu mereka menggeleng seperti biasa Azwa itu selalu bisa membuat siapa saja tidak berkutik, “Kakak, kenapa kau memiliki anak yang secerdas ini.” Gumam Kenzo lirih.


“Ayo om. Jawab pertanyaan Azwa.” Ucap Azwa sambil memandangi wajah cantik Irma.


“Kak Kenzo ada apa?” Tanya Frisya yang melihat Kenzo diam saja dengan Azwa dalam pangkuannya.

__ADS_1


“Ahh biasalah dek. Kakak ini tidak bisa menjawab pertanyaan dari keponakan kita ini.” Ucap Kenzo lemah.


Frisya pun seketika tersenyum karena dia sudah mengerti situasi apa yang sedang tercipta saat ini, “Sabar kak. Kita memang di takdirkan memiliki keponakan-keponakan cerdas.” Ujar Frisya.


“Ohiya kak, siapa ini?” Tanya Frisya tersenyum menatap Irma.


“Saya Irma nona, mahasiswa magang di perusahaan pak Kenzo.” Ucap Irma memperkenalkan dirinya.


Frisya yang mendengar ucapan Irma tersenyum lalu memandangi Kenzo, “Kak, yakin hanya mahasiswa saja?” Tanya Frisya tersenyum.


“Dek, kau ini datang-datang bukannya membantu tapi sama saja dengan keponakan kita ini.” Ucap Kenzo.


Fazar pun segera menggendong putri bungsu atasannya itu, “Ada apa? Mau paman antarkan sama ayah?” Tanya Fazar lembut karena memang Alvino dan Freya mereka sibuk di pelaminan.


Azwa menggeleng, “Azwa ingin bertanya, apa paman kenal kakak cantik yang di samping om Kenzo itu?” bisik Azwa yang masih bisa di dengan oleh Kenzo, Irma dan Frisya bahwa ke empat saudaranya yang lain.


Fazar yang mendapatkan pertanyaan itu pun hanya bisa memandangi ketiga orang dewasa di hadapannya itu, “Paman pasti tahu kan? Paman kan sering membantu ayah dalam bekerja pasti paman tahu siapa kakak cantik itu.” ucap Azwa.


Anand yang sudah pusing dengan tingkah adiknya itu pun segera mendekati Fazar, “Azwa turun. Gak usah cari tahu urusan orang dewasa. Kita ini masih kecil. Jangan ganggu paman Fazar da nom Kenzo. Kamu membuat kakak itu menjadi malu. Ayo turun dek, pakaian paman Fazar lihatlah kusut kan.” Ucap Anand.

__ADS_1


Azwa yang mendengar ucapan tegas abangnya itu pun segera meminta di turunkan dan mendekati Anand dan memeluknya abangnya itu, “Maafkan Azwa abang. Azwa hanya penasaran saja.” Ucap Azwa memeluk Anand. Azwa memang sangat menuruti Anand, mereka sama seperti adik-adik Freya yang menurut kepada Freya begitu juga dengan adik-adik Anand yang sangat menurut padanya.


Anand pun mengusap kepala adiknya yang paling kecil itu dengan lembut, “Maafkan kakak juga yaa sudah bicara tegas padamu.” Ucap Anand merasa bersalah karena memarahi adiknya itu.


Azwa tersenyum lalu mengangguk. Anind segera mendekati adik kesayangannya itu dan menggandengnya masuk ke dalam rumah, “Maafkan dia paman, om.” Ucap Anand memandangi ke empat orang dewasa itu lalu ketiga putra Freya dan Alvino itu pun segera masuk ke dalam rumah menyusul Anind dan Azwa yang sudah lebih dulu masuk.


Irma yang melihat itu kaget dan seketika otaknya menjadi lalot, “Apa mereka anak-anak?” Tanya Irma tanpa sadar lalu segera menutup mulutnya begitu tersadar bahwa dia salah bertanya.


Frisya tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Irma itu, “Mereka tentu saja anak-anak hanya saja pemikiran mereka sangat dewasa. Pemandangan seperti itu sudah sering terjadi. Walaupun itu sering terjadi tapi tetap saja itu selalu membuat kami takjub. Jadi tidak aneh jika kau menanyakan itu. Anand adalah anak kakak yang paling tua dan sama seperti kami yang sangat menghormati dan menyayangi kakak maka seperti itu juga anak-anak kakak yang kecil menghormati Anand.” Ucap Frisya.


“Maaf sudah menanyakan itu hanya saja saya--”


“Kami mengerti kok. Tenang saja.” Ucap Frisya.


Kita tinggalkan perbincangan itu kembali ke pelaminan di mana di sana ada dua orang yang sudah resmi melakukan lamaran hari ini tapi canggung satu sama lain, “Emm dek kamu cantik dengan kebaya itu. Terima kasih sudah memakai kebaya pilihan mami.” Ucap Rezky memecahkan keheningan yang terjadi antara mereka. Sesi foto sudah selesai sekitar lima menit yang lalu dan para tamu yang hadir kini sedang menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Friska yang mendengar pujian dari mulut calon suaminya itu tersenyum, “Terima kasih pujiannya tapi memang benar kebaya ini cantik.” Ujar Friska.


“Kamu yang cantik sehingga kebaya itu pun menjadi semakin cantik karena yang memakainya cantik.” Ulang Rezky memuji. Friska hanya tersenyum mendengar pujian dari calon suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2