
Kenzo menatap Irma yang dari tadi diam saja tidak mengatakan apapun untuk membela dirinya, “Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” tanya Kenzo menatap Irma.
Irma yang di tatap oleh Kenzo segera menatap atasannya itu yang memang hampir tiap hari bertemu dengannya tapi tidak pernah bicara karena sikap Kenzo yang dingin dan hanya bicara kepada Grey sekretarisnya.
Irma menghela nafasnya, “Saya tidak ingin membela diri saya karena memang saya tidak melakukan apa yang dia tuduhkan. Terserah mau percaya atau tidak.” Ucap Irma.
“Pak percaya kepada kami. Kami gak bohong akan apa yang kami katakan. Dia itu penyakitan pa, dia itu gila jadi tidak akan ingat dengan apa yang dia lakukan.” Ujar Lena.
“Sudahlah Lena jika memang pak Kenzo ingin menghukum kita gak apa-apa kok walau kita gak salah.” Timpal Jeny dengan suara yang dibuat sesedih mungkin.
“Gak bisa gitu dong Jen, ki---”
“Bisa kalian diam. Saya tidak suka mendengar suara berisik kalian.” Potong Kenzo lalu tidak lama datang Grey membawa tablet di tangannya dan menyerahkannya kepada Kenzo.
Kenzo mengangguk menerima tablet itu, “Kita akan melihat CCTV untuk mengetahui kebenarannya siapa yang salah di sini. Saya bukan bos yang akan dengan mudah memberikan hukuman pada seseorang sebelum tahu kejadian aslinya. Jika mereka tidak bersalah maka tidak akan di hukum dan bersalah sudah tentu di hukum berdasarkan kesalahan yang dia lakukan.” Ucap Kenzo mulai memutar rekaman CCTV itu yang memang berada di lantai empat yang memang hanya ruangan untuk rapat dan pertemuan penting hingga keributan yang terjadi di antara ketiga orang itu tidak menimbulkan kerumunan. Kenzo memuji ketiga orang itu yang mencari tempat stategis untuk saling membully.
__ADS_1
Jeny dan Lena yang mendengar kata CCTV langsung pucat, kenapa mereka melupakan itu. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan tidak memiliki CCTV, gawat mereka dalam bahaya. Mereka harus mencegah Kenzo melihat rekaman CCTV itu. Lena dan Jeny saling memberi kode dan dalam hitungan mereka Lena segera berdiri bermaksud menjatuhkan tablet di genggaman Kenzo tapi sepertinya Kenzo melihat itu sehingga dengan refleks mundur dan mengangkat tabletnya di genggamannya.
“Jangan mencoba untuk menghancurkan barang bukti jika memang kalian tidak ingin menambah hukuman. Saya tahu tanpa melihat CCTV saya paham sebenarnya siapa yang di bully dan siapa pembullynya. Tadi itu saya hanya memberikan kesempatan kepada kalian untuk mengakuinya sendiri tapi sepertinya kalian tidka membaca kesempatan yang saya berikan itu dengan baik dan memilih jalan ini dengan maksud menghancurkan barang bukti. Perlu kalian tahu walau tablet itu jatuh tadi tapi itu hanya salinannya karena salinannya yang lain sudah di kirim ke fakultas kalian. Bersiaplah kalian akan di jemput dan tidak di terima magang di sini. Saya tidak ingin menerima dan memberi ilmu kepada mahasiswa licik seperti kalian yang sukanya membully orang yang lebih lemah dari kalian. Apa kalian pikir kekuasaan yang kalian miliki itu abadi selamanya. Ingat kekuasaan dan harta itu hanya titipan kita gak tahu kedepannya akan bagaimana.” Ucap Kenzo menyerahkan tablet kepada sekretarisnya dan segera berlalu meninggalkan mereka di sana menuju ruang rapat karena rapat akan segera di mulai.
Sekretaris Grey segera mengikuti Kenzo ke ruang rapat tapi sebelumnya dia tersenyum dulu kepada Irma. Dia tahu dua teman Irma itu sering membully Irma tapi Irma diam saja dan hari ini mereka melakukannya lagi, untung saja di pergoki oleh atasannya dan semoga saja mereka segera di jemput dan tidak magang di sini lagi karean jujur saja Grey membenci tindakan pembullyan seperti itu.
Irma juga segera keluar dari sana dan menuju ruangan sekretaris di lantai lima karena Grey sudah memberi tahunya lewat chat. Jeny dan Lena pun berdiri karena tidak ingin dilihat oleh orang-orang yang akan menuju tempat rapat. Mereka segera kembali ke ruangan di mana tempat bagi mereka di sediakan. Dan seperti perkataan Kenzo tidak lama setelah kejadian itu orang dari kampus segera datang menjemput mereka. Pak Andi yang memang ditugaskan bertanggung jawab kepada mahasiswa magang itu yang menyambut pihak kampus. Setelah menyepakati semuanya akhirnya Jeny dan Lena di tarik dari perusahaan itu dan meninggalkan enam orang lainnya tetap magang di sana.
“Tunggu saja pembalasanku, Irma. Kau lolos hari ini tapi tidak lain kali. Aku membencimu, aku akan membunuhmu.”
***
Friska pun tidak bermaksud menghubungi kembali karena menurutnya jika itu sesuatu yang penting pasti nomor itu akan menghubunginya dan benar tebakannya hanya selang beberapa detik ponselnya kembali berbunyi dan panggilan dari nomor yang sama.
Friska segera menjawabnya, “Halo, Assalamu’alaikum. Dengan siapa ini?” tanya Friska formal.
__ADS_1
“Halo, Wa’alaikumsalam nak. Ouh syukurlah kau menjawabnya nak. Ohiya ini mami.” ucap orang dari seberang telepon.
Friska mengerucutkan keningnya bingung, “Mami? Mami siapa? Apa mami Sinta? Tapi kok nomornya--” ucap Friska bingung.
“Bukan mami Sinta nak, ini mami Jasmin.” Ujar Mami Jasmin dari seberang.
Friska pun akhirnya mengerti, “Ouh mami Jasmin. Ada apa mih menghubungi Riska? Apa ada yang bisa Riska bantu?” tanya Friska.
“Emm, gak ada kok nak. Saya hanya ingin mengundangmu saja di hari ulang tahun saya lusa. Jika kau tidak sibuk bisakah datang ke rumah mami. Undangan resminya nanti akan mami kirimkan ke klinikmu.” Ucap Mami Jasmin.
Friska yang mendengar hal itu kaget dan hanya bisa menghela nafasnya sepertinya mami Sinta dan mami Jasmin ini tidak main-main dengan acara comblang yang mereka lakukan, “Emm, Riska akan pikir-pikir lagi yaa. Jika Riska tidak sibuk Riska akan usahakan datang tapi tidak janji.” jawab Friska.
Mami Jasmin di seberang sana tersenyum, “Baik nak, gak apa-apa tapi mami berharap kau bisa datang.” Ucap mami Jasmin lalu tidak lama setelah itu sambungan telepon segera terputus setelah saling mengucap salam.
Friska hanya mengangkat alisnya dan menghela nafasnya kasar meletakkan ponselnya dan kembali membaca dokumen di hadapannya.
__ADS_1
Sementara di seberang sana, “Bagaimana? Apa dia akan datang?” tanya papi Harry penasaran. Dia juga langsung menyukai Friska jadi menantunya begitu sang istri memperlihatkan foto gadis itu dan menceritakan semua identitasnya.
“Dia akan datang jika tidak sibuk tapi dia juga tidak berjanji. Kita hanya bisa berharap semoga takdir ada pada kita.” Jawab mami Jasmin.