
“Jangan dengarkan dia dek. Hmm Irma apa kau yakin menerima Kenzo jadi suamimu nanti?”
Irma yang mendapat dari Freya itu pun terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Dia bingung dia menatap Kenzo lalu kedua orang tuanya, “Jawab aja dek. Gak usah berpikir terlalu dalam. Jika memang kau gak setuju menikah dengannya maka kau bisa menolaknya. Kau harus memikirkan baik-baik untuk bisa menikah dengan pria macam mereka. Jangan sampai kau menyesal nanti dek.” ucap Freya.
“Emm, kak. Irma--” ucap Irma gugup menjawab. Dia melirik Kenzo sekilas.
“Katakan saja nak. Jangan gugup begitu. Katakan saja dengan lantang. Abaikan Kenzo yang mendengar jawabanmu.” Ucap Freya.
“Kak, jangan membujuknya untuk menolakku.” Ucap Kenzo masih bisa di dengar Freya.
“Gak ada yang membujuknya untuk menolakmu. Hanya saja kakak berusaha untuk membuatnya tidak menyesal nanti.” Ucap Freya.
“Emm Irma gak menyesal kak. Irma akan menerima kak Kenzo jadi suami Irma kelak.” Akhirnya Irma mengucapkan apa yang ada dalam hatinya itu. Mami Calista dan papi Baskara pun hanya tersenyum mendengar jawaban yang di berikan oleh putri mereka itu.
Freya di seberang juga senang mendengar jawaban yang di berikan oleh Irma itu, “Baiklah jika memang begitu dek. Kakak harap kau tidak menyesali jawabanmu itu. Ohiya satu pesan kakak, kau harus belajar menyesuaikan diri dengan pria seperti mereka dek. Jika kau menemukan kesulitan nanti kau bisa belajar dari kakak.” Ucap Freya.
Irma pun tersenyum, “Aku akan mengingatnya kak. Tapi aku pun sudah mulai belajar memahaminya kak.” Ucap Irma malu.
Freya pun terkekeh mendengar hal itu, “Baiklah jika memang begitu. Kalau begitu kakak akan segera datang ke rumahmu untuk melamarmu.” Ucap Freya.
“Dek, bisa berikan ponselnya kepada mamimu.” Pinta Freya.
“Baik kak.” Ucap Irma lalu memberikan ponsel Kenzo itu kepada maminya. Mami Calista pun segera menerimanya.
“Ya halo nak!” ujar mami Calista.
__ADS_1
“Emm nyonya. Maafkan adik saya yang sudah bersikap lancang.” Ucap Freya.
Mami Calista tersenyum, “Gak apa-apa nak. Kami tidak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting dia mau mempertanggung jawabkan perbuatannya itu. Selain itu juga dia tidak melakukan kesalahan yang fatal.” Ucap Mami Calista.
“Gak bisa begitu nyonya. Dia tetap bersalah karena sudah berani memeluk gadis yang bukan mahramnya seperti itu. Kami akan mempercepat pernikahannya agar tidak kecolongan lagi nanti nyonya. Sekali lagi saya meminta maaf atas kesalahan yang dia lakukan. Saya adalah kakaknya yang sudah seharusnya mengingatkannya.” Ucap Freya.
“Kami mengerti nak. Kami menunggu kedatangan kalian.” ucap mami Calista.
Setelah cukup membicarakan tentang rencana lamaran Kenzo kepada Irma pun akhirnya sambungan telepon terputus.
***
Kini Kenzo dan Irma sedang duduk di hadapan papi Baskara dan mami Calista, “Nak, Kenzo apa kau yakin akan menikahi putri kami? Maaf kami menanyakan ini berulang kali.” Ucap papi Baskara.
Mami Calista yang mendengar itu terharu, “Terima kasih nak.” ucap mami Calista. Sementara Irma juga ikut terharu dan tidak menyangka bahwa Kenzo hafal nama lengkapnya.
“Jangan berterima kasih tante. Kenzo hanyalah seorang anak yang sedari kecil tidak memiliki ibu serta tidak dekat dengan papa walaupun tinggal bersamanya. Kenzo yang harus berterima kasih karena om dan tante mau menerima Kenzo sebagai calon suami dari putri tunggal dan kesayangan kalian. Kenzo beruntung kan?” ucap Kenzo.
Papi Baskara dan Mami Calista mengangguk, “Mulai detik ini kau juga putra kami nak. Jangan lagi memanggil kami dengan sebutan om dan tante. Panggil kami seperti Irma memanggil kami yakni papi dan mami. Kau juga putra kami. Jangan merasa tidak memiliki orang tua.” Ucap Papi Baskara.
“Iya pih. Tapi Kenzo tidak ingin menjadi putra kalian karena jika Kenzo jadi putra kalian maka Kenzo tidak bisa menikahi putri kalian. Kenzo ingin jadi menantu kalian saja.” ujar Kenzo tersenyum.
“Ya yah kau menantu kami.” ucap papi Baskara terkekeh.
Sementara Irma hanya tersenyum tipis mendengar papinya yang akrab dengan Kenzo. Seorang pria yang sejak pertemuannya pertama kali membuat hatinya yang beku bergetar tapi berusaha dia abaikan karena tidak ingin berharap. Bagaimana mungkin Kenzo sebagai lelaki yang sehat serta memiliki karir yang cemerlang bersedia jadi pasangannya yang seorang gadis penyakitan. Tapi siapa sangka kini pria itu bicara dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Ada apa? Kenapa diam saja?” bisik Kenzo.
Irma pun kaget mendapat bisikkan dari Kenzo itu, “Pih, Mih bisakah Kenzo meminta izin mengajak keluar Irma seperti tujuan awal Kenzo datang?” izin Kenzo.
“Dia sudah menolaknya nak. Jadi kami gak tahu apa keputusannya itu bisa berubah atau tidak.” Ujar Papi Baskara menatap sang putri.
Irma yang merasa sedang di goda oleh sang papi pun tersenyum lalu mendekati papinya itu, “Jangan menggodaku pih. Kalian tahu bahwa aku selalu mengikuti permintaan kalian. Kenapa tidak melakukan itu lagi padaku. Aku sudah terbiasa dengan keputusan yang kalian buat untukku. Jadi lakukan itu lagi. Jangan biarkan aku memutuskan sendiri. Aku merasa aneh.” Ucap Irma jujur.
Papi Baskara dan mami Calista yang mendengar itu justru sedih, “Maaf nak. Maafkan kami yang mengekangmu. Tidak membiarkanmu memutuskan sendiri apa yang kau inginkan.” Ucap papi Baskara.
“Mulai saat ini kau bisa memutuskan apapun yang kau ingin. Kami membebaskanmu.” Lanjut mami Calista.
Irma menggeleng, “Aku gak mau mih, pih. Aku sudah terbiasa kalian atur. Jadi jangan bebaskan aku seperti ini. Aku jadi merasa kalian tidak menyayangiku lagi.” Ujar Irma.
Papi Baskara yang mendengar ucapan sang putri memeluk putrinya itu erat, “Baiklah jika begitu nak. Kami akan membuat keputusan untukmu lagi. Tapi kau juga harus mempertimbangkan keinginan hatimu jangan selalu menurut keputusan kami jika menurutnya itu salah atau pun tidak sesuai dengan keinginanmu kau harus menolaknya. Ingat juga kami akan selalu menyayangimu. Kamu itu putri kami satu-satunya.” Ucap papi Baskara.
Irma pun tersenyum, “Terima kasih sudah menjaga Irma selama ini.” ucap Irma.
“Jangan berterima kasih nak. Kamu itu adalah anak kami. Putri kami yang memang sudah sepatutnya menjagamu.” Ujar papi Baskara.
“Sudah lebih baik jawab ajakan Kenzo. Kasihan loh sayang kamu sudah menolak dia ajak jalan.” Ucap mami Calista.
Irma pun tersenyum mendengar ucapan maminya itu. Irma segera beralih ke maminya dan memeluk maminya itu, “Terima kasih mih.” Ucap Irma dalam pelukan maminya. Mami Calista tersenyum mendengar ucapan terima kasih putrinya itu.
Setelah itu Irma melepas pelukannya dan tersenyum menatap Kenzo yang juga tersenyum membalasnya, “Irma ganti pakaian dulu kak.” Ujar Irma lalu segera berdiri dan naik ke lantai dua di mana kamarnya berada untuk berganti pakaian.
__ADS_1