
“Kau terlambat dua menit.”
Frisya mendekati kakaknya itu dengan kesal, “Ku pikir kau mengerjaiku kak. Kenapa kalian belum berangkat?” tanya Frisya.
“Gak usah mengalihkan topic. Kami sedang membicarakan dirimu dan bukan kami. Hmm, di lihat-lihat style-mu lumayan juga walaupun waktu yang ku berikan sedikit.” Ucap Friska tersenyum.
Frisya menatap Friska dengan kesal, “Jahat kau kak. Aku bahkan harus berlari kesana kemari. Ngapain juga kak Fazar ke sini coba? Aku masih ingin menikmati weekend-ku di apartemen sendiri. Aku bosan menemani para pasangan itu.” ucap Frisya.
“Jika bosan. Kenapa tidak mengundurkan diri.” Ucap Friska.
Frisya yang mendengar itu pun hanya menatap sinis ke arah kakak keduanya itu, “Sudah jangan bertengkar sayang.” ucap Rezky.
Frisya yang mendengar panggilan Rezky untuk kakak keduanya itu sudah berubah tersenyum, “Cielah udah sayang sayangan aja. Padahal--” goda Frisya.
Friska pun tersenyum, “Sudah ahh dek. Lebih baik untuk mengusir kebosananmu itu. Pergilah dengan kak Fazar ke mana gitu dari pada menonton di apartemen. Kami mau pergi dulu.” Ucap Friska mengalihkan topic.
“Hahahh, kau berusaha mengalihkan topic kak.” Ucap Frisya tertawa.
Rezky dan Fazar pun tertawa melihat interaksi dua bersaudara itu, “Tapi benar dek. Kami mau pergi dulu. Kak Fazar jaga dia baik-baik. Jangan di apa-apain.” Ucap Friska.
Frisya pun mengangguk, “Yaa sudah pergi saja sana. Gak ada yang melarangmu pergi kak.” Ucap Frisya.
Friska pun mendekati adiknya itu dan memeluknya erat, “Kau ini yaa.” Ucap Friska gemas.
__ADS_1
Frisya pun tertawa, “Terima kasih kak Ris sudah mengembalikan moodku yang buruk.” Bisik Frisya di telinga kakak keduanya itu.
Friska pun tersenyum lalu melepas pelukannya dan memandang adiknya itu sambil mengangguk, “Kak Fazar aku titip adikku ini yaa. Dek kakak pamit. Kami sudah terlambat.” Ucap Friska.
Frisya hanya mengangguk saja. Setelah itu Friska dan Rezky pun pamit pergi. Keduanya segera menuju mobil Rezky lalu tidak lama segera meninggalkan parkiran apartemen itu meninggalkan dua orang dalam keheningan hanya saling menatap satu sama lain.
“Mau jalan-jalan?” tanya Fazar setelah keheningan melanda mereka.
“Emang kakak gak mau nge band?” tanya Frisya.
Fazar menggeleng, “Untuk apa saya ke sana jika partner nyanyi saja gak kesana dan justru sedang mengusir kebosanannya di apartemen.” Ucap Fazar.
Frisya pun tertawa, “Cerdas banget yaa nyindirnya. Ohiya kenapa kakak bisa ke sini?” tanya Frisya.
“Sepertinya kak Ris yang memberitahu. Ahh baiklah aku memang memiliki kakak yang the best. Kak Reya yang melindungiku dengan caranya dan juga kak Ris yang bisa mengerti kebosananku. Aku adik yang beruntung kan kak?” tanya Frisya.
Fazar mengangguk, “Jadi gak nih jalan-jalannya atau masih tetap mau menonton drama?” tanya Fazar.
“Emm, kita mau jalan-jalan kemana?” tanya Frisya balik.
Fazar pun berpikir, “Ahh lihat ada konser music di taman kota. Jika kita ke sana kemungkinan besar kita bisa melihatnya dan semoga saja tiketnya masih ada.” Ucap Fazar.
Frisya yang mendengar itu pun tersenyum, “Emm kalau begitu ayo. Ehh tunggu sebentar dulu, sepertinya Risya salah kostum deh. Risya mau ganti pakaian dulu sebentar agar tidak salah kostum.” Ucap Frisya hendak berbalik tapi di tahan oleh Fazar lengannya.
__ADS_1
“Gak usah di ganti dek. Kamu sudah cantik kok dengan style ini.” ucap Fazar lalu melepaskan tangannya dari lengan Frisya.
“Ish yang benar kak memberi pendapatnya. Masa iya seperti ini? Ahh sudahlah. Ikuti saja kakak deh dari pada kita juga gak akan kebagian tiket nanti.” Ucap Frisya segera mendekati mobil Fazar.
Fazar yang melihat itu tersenyum. Hal ini yang membuatnya jatuh cinta kepada Frisya karena gadis itu tidak bisa di tebak keinginannya. Namun justru itu menjadi hal menarik untuknya, “Kak, ayo. Jadi gak sih ke taman kota? Kenapa diam di situ aja.” ucap Frisya yang melihat Fazar tetap diam di tempatnya.
Fazar pun segera tersadar dan segera menuju mobil dan masuk lalu segera menghidupkan mobilnya dan mobil itu pun melajut meninggalkan parkiran apartemen.
Sekitar 10 menit saja dalam perjalanan mereka sudah tiba di taman kota. Frisya segera turun dan mobil lalu di susul oleh Fazar yang ikut turun juga. Keduanya segera masuk dan segera menuju tempat penjualan tiket yang ternyata sudah habis, “Ahh habis kak.” Ucap Frisya kecewa. Taman kota itu memang sudah di penuhi oleh banyak orang. Konsernya memang bisa di lihat dari luar tapi tidak seperti di dalam yang mendapatkan tempat yang nyaman.
Fazar yang melihat kesedihan di mata gadis yang dia cintai itu pun tidak tega dan merasa bersalah karena tidak menyiapkan segalanya sebelumnya, “Maaf dek. Seharusnya kakak sudah membeli tiketnya sebelumnya sebelum mengajakmu ke sini.” Ucap Fazar.
Frisya yang mendengar ucapan Fazar yang merasa bersalah itu pun tersenyum, “Sudahlah. Gak apa-apa kak. Kita bisa menontonnya dari sini. Lagian ini juga bukan salah kakak kok. Kita kan memang tidak berencana untuk ke sini dan ini terjadi dadakan maka kehabisan tiket bisa saja terjadi karena itu memang masalah yang sering terjadi.” Ucap Frisya tersenyum.
“Namun tetap saja kau tidak bisa menonton konser itu kan. Kakak yang sudah mengatakan ide ini namun pada akhirnya kita tidak bisa menontonnya.” Ucap Fazar.
Frisya menggeleng, “Sudahlah, mungkin memang belum takdirnya. Lebih baik kita ke resto. Kasihan Dino, Jery dan kak El yang sudah pusing di grup. Kita ke sana saja. Jika tidak bisa menonton konser maka kita buat konser kita sendiri. Ayo kak.” Ujar Frisya lalu segera berjalan menuju mobil meninggalkan taman kota itu.
Fazar pun tersenyum lalu dia segera mengikuti Frisya dan keduanya pun segera menuju resto milik Freya.
Di sisi lain, Friska dan Rezky baru saja tiba di studio dan langsung di sambut oleh manajer studio itu. Para pegawai sudah tahu apa hubungan yang terjadi antara Friska atau lebih di kenal dengan 3F si penyiar misterius dengan direktur mereka itu, “Selamat datang bos dan 3F.” sapa manajer itu penuh hormat.
Friska dan Rezky pun tersenyum, “Sudahlah. Kami ingin segera ke studio. Program nyanyian rindu akan segera di mulai. Persiapkan saja semuanya.” Ucap Rezky.
__ADS_1
Manajer itu pun mengangguk lalu segera mengajak Friska dan Rezky itu menuju studio yang biasa di pakai oleh Friska siaran. Tidak lama Friska pun segera memulai programnya itu dengan Rezky yang duduk menemaninya. Kali ini dia tidak lagi harus mencari tahu siapa penyiar yang dia sukai itu. Penyiar yang programnya selalu dia tunggu karena saat ini dia sedang duduk di samping penyiar itu. Selain itu penyiar kesukaannya itu pun sekarang menyandang status sebagai calon istrinya. Sungguh, ini adalah kenyataan yang paling indah.