Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
144


__ADS_3

“Jadi apa bisa kak?” tanya Kenzo.


Freya dan Kiana diam dan kembali saling menatap satu sama lain, “Ini sepertinya tidak bisa kami putuskan sendiri dek. Kami akan membicarakannya kembali dengan para orang tua.” Ujar Kiana.


“Tapi kamu jangan khawatir seperti perkataanmu tadi hanya berbeda sehari saja. Kakak yakin pasti mereka tidak akan keberatan dengan hal ini. Namun walau begitu kita tetap harus membicarakannya kembali.” Sambung Freya memberi pengertian kepada Kenzo.


“Selain itu juga coba tanyakan kepada Irma. Apa dia tidak keberatan pernikahan kalian di tunda sehari lagi?” ucap Kiana lalu menatap calon adik iparnya itu.


Kenzo juga segera menatap Irma, “Bagaimana dek? Apa kamu setuju dengan permintaanku atau kamu tetap ingin menikah di tanggal yang sudah di tentukan oleh keluarga kita?” tanya Kenzo lembut kepada Irma.


Irma pun tersenyum, “Aku ikut keputusan akhir saja kak. Lagian mau tanggal 24 atau 25 sama saja bagiku. Yang terpenting adalah aku tetap menikah denganmu bukan dengan yang lain. Jadi aku setuju apapun keputusannya.” Ucap Irma membuat Kenzo tersenyum.


“Kak, kalian dengar sendiri kan apa jawaban yang calon istriku berikan.” Ucap Kenzo.


Freya dan Kiana pun mengangguk, “Kami dengar dek. Kamu gak usah menyombongkan diri seolah-olah hanya kau yang memiliki gadis yang kau cintai.” Ujar Kiana.


Kenzo yang mendengar itu pun tertawa, “Aku hanya sedang bahagia kak.” Ujarnya.


“Kau memang harus bahagia dek.” ucap Freya. Kenzo pun mengangguk.


“Ya sudah begini saja kami akan kembali membicarakan hal itu dengan mereka. Kami akan mengatakan bahwa kau keberatan.” Ucap Alvino menggoda Kenzo.


“Wah kakak ipar parah. Jangan menggodaku kakak ipar.” Ucap Kenzo.


“Ayo sayang. Kita adukan dia kepada nenek Ayesha.” Ucap Alvino lalu menggandeng Freya kembali ke ruang keluarga.


“Kak, apa itu keputusan nenek?” tanya Kenzo kepada Kiana.


Kiana pun mengangguk tersenyum, “Yah begitulah. Tapi karena kau menolaknya ya sudah itu tidak perlu di bahas.” Ujar Kiana.


Kenzo mendesis mendengar hal itu, “Kak, jangan menggodaku. Jika memang itu keputusan nenek. Ya sudah aku ikut saja.” ucap Kenzo.


“Gak ada yang menggodamu dek. Sudahlah kakak mau ke sana dulu menyusul kak Reya.” ucap Kiana lalu dia dan Zean segera meninggalkan ruangan itu dan menyusul Freya.


“Dasar tidak pemberani kau kak. Tadi kau sangat berani ingin menikah di tanggal 25 tapi sekarang setelah mendengar perkataan kakak bahwa itu keputusan nenek kau jadi takut. Dasar pengecut.” Ucap Frisya.


Kenzo yang mendengar itu pun segera menatap tajam Frisya, “Aku bukan pengecut dek. Aku hanya menghormati keputusan nenek.” Ucap Kenzo tidak mau kalah.


“Sama saja. Aku tidak bisa membedakan mana sikap hormat dan mana sikap pengecut dengan baik kak. Jadi maafkan aku.” Ucap Frisya santai.


Kenzo kembali mendesis mendengar ucapan Frisya itu, “Fazar, kau harus bisa bersabar menghadapi sikapnya yang seperti ini jika memang kau berniat ingin menjadikannya seorang istri.” Ucap Kenzo menatap Fazar.


“Ini gak ada hubungannya dengan kak Fazar. Jadi jangan kaitkan hal ini dengannya. Aku yakin tanpa aku seperti ini dan memperlihatkan diriku yang begini, kak Fazar sudah tahu aku.” Ucap Frisya.


Fazar yang mendengar ucapan Frisya tersenyum, “Kenapa kau tersenyum begitu Fazar? Apa yang di katakan Frisya benar?” tanya Rezky.


Fazar kembali tersenyum lalu dia mengangguk, “Sikapnya yang seperti itulah yang membuatku menyukainya.” ucap Fazar.


“Wah, kak Fazar bucin juga.” Ucap Clemira, Wina dan Mark bersamaan lalu ketiganya juga menggeleng tidak percaya akan pengakuan Fazar itu. Fazar hanya tertawa mendengarnya.


“Kau dengar sendiri kan kak Kenzo apa yang di ucapkan kak Fazar.” Ucap Frisya.


“Ya ya aku mendengarnya. Aku tidak tuli.” ucap Kenzo sinis.


Frisya pun tertawa karena hal itu, “Tenang kak Kenzo jangan menganggap perkataanku itu serius. Aku hanya bercanda agar suasana tidak tegang.” Ucap Frisya lalu menyeruput jusnya.

__ADS_1


“Candaanmu itu tidak seru kak.” Ucap Mark.


“Masa sih?” tanya Frisya menatap adik kecilnya itu.


“Yah kau bukan mencairkan suasana tapi justru membuat suasana semakin tegang. Mana ada yang bercanda begitu.” Ucap Mark.


Frisya pun tertawa, “Itu adalah candaan ciri khasku.” Ucap Frisya.


Fazar tersenyum melihat itu dan Rezky yang memperhatikannya berbisik kepada Fazar, “Apa kau juga mengetahui ini?” tanya Rezky.


Fazar mengangguk, “Bagi orang yang tidak mengenalnya dia bermulut pedas tapi sesungguhnya dia hanya bercanda. Dia tidak benar-benar mengatakan hal itu.” ujar Fazar.


“Wah, kau sepertinya sudah mengenalnya dengan baik. Aku saja sempat berpikir bahwa apa yang dia katakan itu serius. Dia dan Kenzo sungguh berdebat.” Ujar Rezky masih tidak percaya akan apa yang terjadi.


“Aku juga pertama kali seperti itu. Tertipu.” Ucap Fazar.


“Kalian jangan bisik-bisik. Frisya adalah adikku.” Ujar Friska.


“Ahh maaf.” Ucap Rezky menatap Friska.


“Tenang saja kak aku tidak masalah. Lagian aku ini memiliki pendengaran tajam. Walau mereka bisik-bisik begitu. Aku dengar apa yang mereka bicarakan.” Ucap Frisya.


“Jangan merasa aneh kak Rezky. Frisya memang seperti itu. Dia itu berbeda dengan kak Reya dan kak Ris.” Ucap Kenzo santai. Tadi dia berdebat dengan Frisya dan kini mereka kembali seperti sedia kala seperti tidak berdebat sebelumnya. Rezky kini tersenyum karena menyadari bahwa dia belum begitu mengenal keluarga istrinya ini dengan segala ciri khas mereka masing-masing.


“Jangan merasa bersalah. Aku tahu sekarang kau merasa minder karena tidak mengenal mereka dengan baik dan merasa kalah dengan kak Fazar yang sudah memahami sikap kami dengan baik. Kau berbeda dengannya. Dia sudah lama mengenal kami dan bertemu kami serta beberapa kali juga dia ikut dalam jamuan keluarga sehingga dia sudah hafal karakter kami masing-masing. Kau baru saja bergabung dengan kami dan ini mungkin kedua kalinya kau bergabung dalam jamuan makan dengan kami. Jangan bersedih karena belum mengenal kami. Aku yakin calon suamiku pasti akan mengenal kami dengan baik dan itu butuh waktu.” bisik Friska panjang lebar.


Rezky yang mendengar itu tersenyum lalu mengangguk, “Terima kasih!” bisik Rezky. Friska hanya mengangguk dan tersenyum.


“Irma, em aku akan memanggilmu begitu dulu sebelum kau resmi menjadi istri kak Kenzo kau masih adikku. Kau jangan kaget melihat apa yang terjadi hari ini. Kami memang begini. Ini adalah cara kami untuk meningkatkan kekerabatan antara saudara. Jika kita tidak saling meledek dan berdebat maka hubungan itu akan terasa hambar. Bukankah sesame teman juga kita bisa meledek dan berdebat namun setelah kita berbaikan hubungan pertemanan akan lebih erat. Maka begitu juga yang terjadi hari ini. Itu hanya bentuk penguatan kekeratan. Aku menjelaskan ini padamu untuk menjagamu jangan sampai kena cultural shock seperti kak Rezky.” Ucap Frisya tertawa.


Seluruh yang di meja makan itu pun tertawa mendengar pengakuan Rezky.


“Kau dengar kan apa yang di katakan Frisya. Yah begitulah cara kami menjaga kekerabatan antara kami. Kami memang berdebat tapi hal itu tidak pernah kami anggap serius.” Bisik Kenzo kepada Irma.


Irma mengangguk, “Aku mengerti kak. Aku akan mempelajari seluruh keluargamu ini.” ucap Irma.


“Gak perlu mempelajari mereka satu-satu. Cukup kau mengerti saja dan yang paling penting adalah yang harus kau tanamkan bahwa itu adalah candaan. Jangan terlalu menganggapnya serius.” Ucap Kenzo. Irma kembali mengangguk. Kenzo pun tersenyum.


Tidak lama Zean, Kiana, Freya dan Alvino kembali, “Bagaimana kak? Apa keputusannya di ubah atau tidak?” tanya Frisya.


“Kenzo bagaimana menurutmu? Apa nenek menyetujui permintaanmu itu atau tidak?” tanya Alvino kepada Kenzo.


“Kakak ipar katakan saja apa keputusannya. Gak usah memintaku untuk menebak.” Jawab Kenzo.


“Wah, kau gak seru adik ipar.” Ujar Zean.


“Aku bukan gak seru kakak ipar hanya saja aku kapok. Aku kapok menolak keputusan tanpa tahu itu keputusan siapa. Jadi aku tidak akan menebak.” Ucap Kenzo. Para keluarga pun tertawa mendengar ucapan Kenzo itu.


“Tenang saja dek. Nenek memang kadang tegas dengan keputusannya yang tidak bisa di ganggu gugat tapi dia tidak mungkin tidak mengabulkan permintaanmu yang ingin menikah di tanggal kelahiran Friska. Dia menyetujuinya. Kalian akan menikah di tanggal 25 bulan depan dan itu juga sudah di setujui kembali oleh para orang tua. Orang tua Irma juga menyetujuinya.” Ucap Freya.


“Beneran kak? Nenek mengubah keputusannya?” tanya Kenzo senang.


Freya mengangguk, “Tentu saja nenek mau mengubah keputusannya. Kau ini yaa tidak mengenal nenek dengan baik.” ujar Kiana.


“Ish bukan begitu kak. Aku hanya--”

__ADS_1


“Hanya apa?“ potong Kiana.


“Ah sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu kak. Yang terpenting semuanya sudah beres. Aku senang. Kak Friska jadi saat aku merayakan ulang tahun pernikahan kami maka aku seperti merayakan tanggal ulang tahunmu begitu juga sebaliknya.” Ucap Kenzo.


“Dasar kekanakan.” Ledek Kiana.


“Irma, apa kau yakin akan menikah dengan pria yang seperti anak-anak?” tanya Freya.


“Kak, jangan menanyakan hal itu lagi. Kau sudah cukup menanyakan hal yang seperti itu. Aku jadi takut Irma akan menjadi tidak yakin menikah denganku karena kau yang terus mengajukan pertanyaan begitu.” Ucap Kenzo.


Freya pun tertawa, “Aku yakin kak Reya dan aku akan selalu menjawab yakin untuk pertanyanmu itu. Aku menerima dirinya sebagai calon suamiku dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dia miliki. Aku tidak membual untuk hal ini aku menerimanya dengan kesadaran penuh. Menerimanya untuk jadi suamiku nanti adalah keputusan besar dalam hidupku yang ku putuskan sendiri tanpa paksaan atau pun intervensi dari orang lain. Jadi jawabanku akan selalu yakin dan tidak akan pernah ragu.” Ucap Irma.


Freya tersenyum mendengar hal itu sementara Kenzo menatap Irma dengan tatapan terharu, “Terima kasih!” ucap Kenzo tidak tahu harus mengatakan apa. Irma hanya tersenyum membalasnya.


Akhirnya setelah berbincang cukup lama dan banyak drama yang tercipta keputusan pernikahan Kenzo dan Irma sudah di pastikan. Keluarga Kenzo pun segera pulang begitu juga dengan Kenzo.


***


Kini dalam perjalanan pulang, Friska yang bersama mobil Rezky hanya berdua saja karena Azlan dan Azlen ikut mobil Mama Najwa dan papa Khabir.


“Dek, sungguh aku masih tidak menyangka bahwa apa yang terjadi hari ini di meja makan itu hanya candaan saja. Aku masih tidak menyangka bahwa Frisya memiliki sikap seperti itu.” ucap Rezky.


Friska tertawa, “Dia memang berbeda dengan aku dan kak Reya. Semua orang mengatakan itu dan kami pun sadar akan perbedaan kami itu. Dia adalah sosok yang pandai bergaul, ceria dan apa adanya. Dia memiliki banyak teman di banding aku dan kak Reya yang sulit menemukan teman. Frisya itu orangnya apa adanya dan dengannya harus punya kesabaran ekstra karena kadang apa yang keluar dari mulutnya itu sangat pedas.” Ujar Friska.


“Yah, kamu benar. Aku hari ini mendengarnya sendiri. Untung saja saat kita masih belum baikan dia tidak melakukan hal yang seperti itu padaku.” Ucap Rezky.


“Sebenarnya dia seperti itu juga hanya kepada orang sudah di kenalnya. Dia juga memiliki sikap dinginnya sendiri. Dia memang pandai bergaul dan punya teman banyak tapi untuk menunjukkan dirinya yang seperti itu hanya pada teman dekatnya. Jika orang yang baru dia kenal maka dia akan bertindak diam.” Jelas Friska.


Rezky pun mengangguk, “Sekarang aku mengerti. Sepertinya dia sudah menganggapku keluarga.” ujar Rezky.


“Tentu saja kakak sudah dia anggap keluarga kecuali jika memang kakak ingin memba--”


“Jangan mengatakan yang tidak-tidak. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku sudah dengan susah payah menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi pada kita dan aku tidak ingin mengulangi kebodohan itu untuk yang kedua kalinya.” Potong Rezky.


Friska pun tertawa mendengar ucapan Rezky itu, “Apanya yang susah payah. Bukankah kakak hanya menerima rekaman CCTV dari keponakanku.” Ujar Friska.


Rezky yang mendengarnya tersenyum, “Kau benar keponakanmu itu hebat. Mereka sangat hebat. Aku mengakuinya. Aku tidak merasa rendah dari mereka dan justru bersyukur karena dengan bantuan mereka aku bisa menjelaskan kesalahpahaman kepadamu.”


“Memang benar apa yang aku lakukan memang sepertinya tidak terlihat susah. Aku janji akan menjagamu dirimu dengan baik.” ujar Rezky.


Friska pun mengangguk, “Aku percaya kepada ucapan kakak. Aku yakin kau tidak akan mengecewakan aku lagi.” Ujar Friska.


“Sungguh. Tidak akan lagi.” Ucap Rezky.


Sementara di sisi lain, di mobil Frisya dan Fazar kini keheningan yang melanda mereka, “Maaf ya kak jika hari ini kau melihat sikap bar-barku.” Ucap Frisya memecahkan keheningan yang terjadi pada mereka.


Fazar tersenyum, “Gak masalah. Aku sudah kenal dirimu dan aku tidak kaget lagi.” Ucap Fazar.


“Tapi tetap saja apa yang aku lakukan itu mungkin terlihat sangat tidak sopan. Tidak terlihat seperti seorang muslimah yang anggun.” Ujar Frisya.


“Aku menyukai dirimu yang seperti itu dan aku tidak ingin kau mengubah dirimu hanya karena ucapan orang-orang yang mungkin tidak menyukai dirimu. Aku menyukai dirimu yang apa adanya. Jadi jangan pernah berubah.” Ucap Fazar.


Frisya pun tertawa, “Bagaimana mungkin aku berubah. Aku ini manusia biasa. Aku bukan manusia super yang bisa berubah jadi robot atau apalah itu seperti di film.” Ucap Frisya.


Fazar pun tertawa mendengar lelucon yang di buat oleh Frisya itu. Gadis itu memang unik.

__ADS_1


__ADS_2