Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
27


__ADS_3

Di perusahaan, Rezky sedang sibuk dengan rapat bulanan yang biasa dia lakukan. Sekitar dua jam dia menghabiskan waktunya di ruang rapat hingga kini dia kembali ke ruang kerjanya dengan Robi di belakangnya, “Rob, apa semua persiapan ulang tahun mami sudah siap?” tanya Rezky.


Robi mengangguk, “Semua sudah siap tuan. Nyonya juga sudah mengaturnya sendiri. Ohiya pakaian anda juga sudah nyonya siapkan hingga saya tidak memesan lagi.” Ujar Robi.


Rezky pun hanya mengangguk saja tanda dia memahami apa yang asistennya katakan. Dia segera sibuk kembali dengan dokumen di hadapannya yang memang menuntutnya untuk dia periksa. Tapi percayalah pertemuannya dengan Friska saat menjemput sang mami di mall mengganggunya. Dia tidak percaya setelah hampir dua tahun dia tidak melihat gadis itu bisa bertemu kembali.


Rezky menghentikan memeriksa dokumen di hadapannya lalu menghela nafas kasar karena sejujurnya pikirannya tidak fokus dengan apa yang dia kerjakan, “Apa yang terjadi denganku? Kenapa wajahnya selalu saja terbayang? Apa karena aku merasa bersalah padanya? Huh, kenapa juga aku melakukan itu padanya?” gumam Rezky frustasi.


“Aku benci diriku yang seperti ini?” lanjut Rezky lalu menutup matanya mencoba fokus kembali tapi justru saat dia menutup matanya wajah kesal gadis itu yang terlihat.


Rezky pun segera membuka matanya dan menelpon seseorang dan tidak lama langsung tersambung, “Aku ingin kau menyelidikinya Friska Nur Sakila Abraham, aku ingin tahu pekerjaannya yang lain selain bekerja sebagai bidan di klinik kakaknya.” ucap Rezky to the point begitu tersambung.


Sementara di sekolah, “Kenapa selalu saja ada yang ingin menyelidiki identitas mama Riska. Tidak akan ku biarkan kalian mendapatkannya.” Gumam seorang anak laki-laki tersenyum.


***

__ADS_1


Friska setelah selesai bekerja di telpon oleh mami Sinta di minta ke rumahnya. Friska pun mau tak mau ke sana karena baginya mami Sinta adalah orang ketiga yang tidak akan dia tolak permintaanya tentu saja selain mama Najwa dan kakaknya yang berada di urutan pertama dan kedua. Ketiga wanita itu tidak akan bisa dia tolak jika meminta sesuatu atau memerintahkan sesuatu kepadanya.


Dan di sinilah dia berada sedang mengendarai mobil menuju kediaman mami Sinta yang memang bertetangga dengan rumah sang kakak. Sekitar 20 menit dia mengendara akhirnya tiba di rumah mami Sinta. Dia segera memarkirkan mobilnya dan masuk yang langsung di sambut oleh mami Sinta.


“Assalamu’alaikum mami.” salam Friska lalu menyalami mami Sinta.


Mami Sinta tersenyum lalu segera menggandeng Friska masuk, “Riska kau di sini?” tanya papi William yang baru saja keluar dari ruang kerjanya dan melihat istrinya menggandeng Friska.


“Iya pih.” Jawab Friska lalu segera menyalami papi William.


Begitu masuk ke kamar, Friska di minta duduk di sofa lalu mami Sinta menuju lemari dan mengeluarkan satu paperback besar dari sana dan segera memberikannya kepada Friska. Friska yang menerima hal itu menatap mami Sinta bingung, “Terimalah dan cobalah lalu pakailah itu ke ulang tahun mami Jasmin. Mami tahu kau di undang kan kesana. Jadi pakai itu.” ucap mami Sinta.


Friska yang mendengar itu kaget karena ternyata hanya untuk ini dia di minta ke sini. Friska memijat kepalanya karena pusing dengan apa yang terjadi. Sepertinya memang mami Sinta dan mami Jasmin sangat ingin menjodohkannya.


Friska berdiri dan memberikan kembali paperback itu kepada mami Sinta, “Mih aku tidak bisa menerimanya karena aku juga belum pasti datang kesana. Aku memang sudah di telpon tadi oleh mami Jasmin tapi aku belum menyetujuinya apa aku akan datang atau tidak. Aku tidak menjanjikan terkait apa aku datang kesana. Jadi aku tidak bisa menerima ini. Maaf Mih!” ucap Friska.

__ADS_1


Mami Sinta pun hanya menghela nafasnya lalu menerima paperback itu kembali dari tangan Friska. Sepertinya dia terlalu terburu-buru, “Baiklah jika memang begitu. Mami tidak akan memaksamu tapi mami harap kau tetap datang karena tidak baik menolak undangan seseorang.” Ucap Mami Sinta.


Friska mengangguk, “Akan aku usahakan mih tapi aku tidak menjanjikan apapun.” Ujar Friska lalu setelah itu Friska pamit dari sana dan segera pergi menuju apartemen.


Mami Sinta hanya bisa menyetujuinya saja karena dia tidak ingin Friska menyadari apa yang sudah dia rencanakan walaupun tanpa dia ketahui Friska sudah menyadarinya. Mami Sinta setelah mengantar Friska di depan dan memastikan Friska telah pergi dia segera bergabung duduk dengan papi William yang sedang membaca majalah bisnis di ruang keluarga.


Mami Sinta menghela nafas berat hingga mengganggu fokus papi William, “Ada apa mih? Kenapa kau wajahmu kusut begitu seperti belum di setrika aja.” Ujar papi William menggoda sang istri karena sedikit tidaknya dia bisa membaca apa yang sedang di rencanakan istrinya itu.


Mami Sinta hanya diam saja tidak menanggapi ucapan suaminya, “Sudahlah mih jangan pikirkan apapun. Jika mereka memang berjodoh maka walau kalian tidak mengusahakannya semua akan terjadi. Selain itu juga jika memang ingin menjodohkan mereka kenapa tidak meminta bantuan menantu kita.” Ujar papi William.


Mami Sinta yang mendengar itu segera menatap sang suami, “Apa kau pikir jika aku meminta bantuan menantu kita dia akan menyetujuinya. Menantu kita itu sangat pintar dan dia sangat menyayangi adik-adiknya. Dia selalu memastikan adik-adiknya selalu mendapat kebahagiaan dan tidak kekurangan. Aku yakin belum selesai aku mengutarakan permintaanku dia sudah menolaknya.” Ucap Mami Sinta.


Papi William tersenyum mendengar itu, “Emang mami sudah mencobanya? Kita harus mencobanya mih jangan langsung menyimpulkan begitu. Aku yakin Reya bukan seorang seperti itu, dia memang sangat menyayangi adiknya tapi karena rasa itulah dia pasti akan menyetujui permintaanmu itu karena tujuannya untuk kebahagiaan adiknya. Ingat Mih Freya itu adalah kakak yang paling di hormati oleh adik-adiknya dan setiap apa yang dia minta akan mereka turuti. Jadi jika mami dan Jasmin bisa mendapat dukungannya papi yakin semuanya akan berjalan lancar.” Ucap papi William.


Mami Sinta pun diam sambil mencerna ucapan sang suami, sepertinya ucapan suaminya itu benar bahwa dia harus meminta bantuan sang suami. Semoga saja menantunya itu akan menyetujui rencana ini, “Hem, papi benar. Sepertinya aku harus mencobanya. Kalau begitu aku akan ke rumah menantuku dulu.” Ucap mami Sinta berdiri dan berlalu menuju rumah anaknya dengan penuh semangat.

__ADS_1


Papi William yang melihat itu hanya tersenyum, “Semoga saja rencana kalian berhasil agar bisa kisah ini menjadi judul sinetron Jodohku ternyata orang hampir dijodohkan dengan kakakku.” Gumam papi William tersenyum lalu dia kembali membaca majalah. Papi William itu memang sudah menganggap Friska dan Frisya adalah putrinya maka dari itu juga dia menawarkan untuk menjodohkan Friska tapi langsung di tolak mentah-mentah oleh anak itu.


__ADS_2