Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
147


__ADS_3

Sementara di kediaman milik Zean dan Kiana, kini pasangan suami istri itu berada di kamar mereka. Setelah makan malam dan menunaikan sholat berdua di kediaman yang mereka beli berdua setelah seminggu menikah.


“Kak!” panggil Kiana kepada suaminya yang sedang duduk di sofa sedang membaca tabletnya mempelajari perusahaannya yang jauh dari pengamatannya.


Zean yang di panggil oleh istrinya yang sedang menyelesaikan perawatannya, “Ada apa sayang? Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Zean.


Kiana menggeleng lalu dia berdiri dari lemari riasnya mendekati sang suami dan duduk di pangkuan suaminya itu. Zean pun hanya tersenyum lalu segera merengkuh istrinya, “Ada apa istriku hari ini? Kenapa bersikap manja padaku?” tanya Zean.


Kiana tersenyum, “Apa gak boleh aku bermanja pada suamiku sendiri?” tanya Kiana balik.


Zean yang mendengar itu gemas sehingga mengecup bibir istrinya lembut, “Tentu saja bisa sayang. Aku justru suka kamu manja padaku.” Ucap Zean.


Kiana pun mengangguk-ngangguk lalu tertawa, “Kak. Em sepertinya aku memanggilmu terlalu biasa. Aku tidak memiliki panggilan kesayangan untukmu. Aku harus mencari panggilan kesayangan untukmu suamiku. Terlalu biasa jika aku memanggilmu kakak. Kau bukan kakakku tapi suamiku. Aku seperti memanggil kak Reya saja. Em suamiku kau ingin aku panggil apa?” tanya Kiana.


Zean tertawa lalu mengecup kembali bibir istrinya, “Terserah padamu sayang. Aku akan menerima apapun panggilan yang kau berikan padaku. Yang terpenting bagiku adalah kau selamanya menjadi istriku. Tidak pernah meninggalkanku. Itu saja cukup. Terkait panggilan kesayangan, aku tidak mempermasalahkan sama sekali. Yang penting kita saling menyayangi satu sama lain. Mau punya panggilan kesayangan atau pun tidak sama saja bagiku. Yang penting cinta kita tidak pernah berkurang sama sekali.” Ucap Zean.


Kiana pun mengangguk, “Apa yang suamiku katakan beneran sekali. Tapi aku tetap ingin punya panggilan kesayangan untukmu. Kamu memanggilku dengan sebutan sayang. Aku menyukainya. Jadi aku juga akan mencari panggilan kesayangan untukmu suamiku. Kira-kira apa ya yang cocok?” ucap Kiana sambil berpikir.


“Coba kakak tanya sampai kenapa kamu menjadi pusing dengan panggilan kesayangan? Bukankah selama ini berjalan baik. Lalu kenapa hari ini kau tiba-tiba memikirkannya? Apa ada yang mengganggumu?” tanya Zean.

__ADS_1


Kiana menggeleng, “Gak ada kok. Kia hanya merasa bahwa panggilan kakak itu tidak cocok untuk seorang suami. Memang benar mau ada atau pun tidak panggilan kesayangan tidak akan menjadi pengaruh dalam hubungan kita. Tapi kak Reya dan kakak ipar Vino saja walaupun mereka saling menyayangi dan mencintai satu sama lain di mata orang lain. Mereka memiliki panggilan kesayangan satu sama lain seperti yang kita dengar kak Vino memanggil kak Reya dengan sayang dan ka Reya memanggil kak Vino dengan panggilan hubby. Selain itu juga kak reya dan kak Vino memiliki panggilan kesayangan yang lain seperti my Queen dan my Lord. Untuk panggilan kesayangan mereka yang my Queen dan my Lord itu memang jarang di dengar hanya saat tertentu saja hal itu bisa di dengar.” Ucap Kiana.


Zean pun mengangguk mengerti ucapan istrinya itu, “Jadi kamu ingin memiliki panggilan seperti itu?” tanya Zean.


Kiana mengangguk, “Aku ingin. Kakak gak keberatan kan?” tanya Kiana.


Zean menggeleng, “Gak keberatan sama sekali. Kakak justru senang dengan hal itu. Ya sudah ayo kita pikirkan panggilan apa yang cocok. Kita gak boleh ikut kak Reya dan kak Vino kan.” Ucap Zean.


Kiana mengangguk, “Hum!”


“Begini saja Kia akan memanggil kakak dengan sebutan boo. Boo itu dalam bahasa Prancis artinya sayang. Terus kakak tetap panggil Kia dengan sayang. Kia menyukai panggilan itu.” ucap Kiana.


Kiana pun mengangguk, “Baik. Deal! Kia menyukainya.” ucap Kiana lalu dia memeluk suaminya itu.


Zean pun membalas pelukan istrinya itu erat. Dia tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dia akan bisa memiliki kehidupan seperti ini dengan seorang wanita yang berstatus istrinya. Dia bisa bermanja pada istrinya selain dia bermanja kepada orang tuanya. Kini dia memiliki tempat bermanja yang lain. Dia dulu sebelum bertemu dan memutuskan menikah dadakan dengan Kiana pernah berpikir akan menikahi gadis yang di jodohkan orang tuanya untuknya. Hanya sekedar menikahi saja tidak lebih. Dia menikahi gadis itu hanya karena tuntutan orang tuanya saja. Tapi ternyata kini dia memiliki istri yang sangat dia cintai dan dia sayangi yang selalu dia jaga.


“Boo, kita sudah seminggu di sini dan pernikahan Kenzo dan Irma masih sekitar 4 minggu lagi. Apa tidak seharusnya kita kembali dulu ke Negara S. Kasihan daddy yang mungkin pusing memikirkan perusahaan.” Ucap Kiana melepas pelukannya dan menatap suaminya itu.


Zean pun menarik nafas, “Kamu benar sayang. Kita memang bisa bolak balik ke sana. Namun dua minggu lagi pernikahan sepupumu lalu dua minggu selanjutnya pernikahan Kenzo. Jadi sepertinya kita memang tinggal di sini dulu. Perusahaan bisa aku awasi dari sini.” Ucap Zean.

__ADS_1


“Em, begini saja kak. Aku di sini lalu boo di sana. Perusahaan tetap butuh pimpinannya kan. Jadi aku bisa di sini sampai hari pernikahan Kenzo tiba. Tenang saja aku akan menjaga diriku dengan baik di sini. Tapi ya itu kita LDR dulu.” Ucap Kiana.


“Aku gak sanggup jika harus LDR sayang. Aku sudah terbiasa tinggal dan hidup bersamamu. Bagaimana jika aku ingin memelukmu dan menciummu. Aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu sayang.” ucap Zean manja.


Kiana pun tertawa, “Ya boo harus menahannya. Ini demi kebaikan semuanya boo. Tapi semua terserah apa keputusanmu.” Ucap Kiana hendak berdiri dari pangkuan suaminya itu tapi Zean menahannya.


“Aku akan memikirkannya dulu.” Ujar Zean.


Kiana pun mengangguk, “Ya sudah pikirkan dulu. Sudah ahh Kia mau istirahat dulu.” Ucap Kiana.


“Kamu temani kakak dulu. Ayo! Baru kita tidur.” Ucap Zean segera meraih tabletnya.


Kiana pun mengangguk, “Ya sudah.” Ucap Kiana berdiri dari pangkuan suaminya dan berpindah duduk di samping suaminya itu.


Zean pun segera membaca laporan perkembangan perusahaannya itu bersama Kiana. Kiana pun mendengarkan dan memberikan pendapatnya ketika suaminya itu meminta pendapatnya. Memang hubungan rumah tangga itu hanya butuh komunikasi yang jujur untuk menjalankannya untuk tetap harmonis.


Sekitar setengah jam mereka berbagi pembahasan terkait perusahaan akhirnya selesai, “Apa sekarang Kia sudah bisa tidur?” tanya Kiana.


Zean tersenyum lalu segera meletakkan tabletnya dan mengangkat istrinya itu dalam gendongannya dan membawanya ke ranjang mereka. Zean meletakkan istrinya itu ke ranjang dengan hati-hati lalu segera menyematkan kecupan di kening dan turun ke seluruh wajah yang berakhir pada penyatuan dua raga dan jiwa mereka.

__ADS_1


__ADS_2