Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
39


__ADS_3

Kini Friska sedang dalam perjalanan menuju rumah kakaknya sambil membawa gaun yang di berikan kakaknya. Dia sudah beberapa hari ini menghindari Freya, bukannya marah hanya saja dia kecewa terhadap kakaknya itu. Setelah beberapa hari memutuskan apa yang akan dia lakukan dan mempersiapkan diri untuk menemui kakaknya akhirnya hari ini tiba, dia akan menemui kakaknya dan menanyakan alasan sampai kenapa kakaknya itu melakukan itu.


Sekitar 20 menit berkendara dengan santai akhirnya dia tiba di rumah kakaknya, gerbang segera di bukakan dan kini dia telah memarkirkan mobilnya lalu dia segera turun, “Paman, apa kakak ada di dalam?” tanya Friska kepada penjaga.


“Ada nona.” Jawabnya.


Friska pun segera masuk ke dalam rumah kakaknya yang langsung di sambut oleh keponakan kecilnya, “Mami!” panggil Azwa berlari menyambut Friska.


Friska pun tersenyum lalu segera berlutut menyamakan tingginya dengan keponakannya itu, “Mami, kenapa gak sering datang ke sini?” tanya Azwa yang kini sudah ada dalam gendongan Friska.


“Maaf sayang, mami kan sibuk tapi hari ini mami datang kan. Jadi maaf yaa karena gak sering datang, hari ini mami akan menemanimu.” Ucap Friska.


“Bener yaa mih? Awas saja gak.” Ucap Azwa.


“Benar sayang.” jawab Friska.


Azwa pun senang dalam gendongan Friska. Kelima anak Freya memang memanggil Friska dan Frisya dengan sebutan mami.


Freya turun dari lantai dua bersama ketiga putranya yang mengikuti dari belakang, Freya tersenyum melihat sang adik yang beberapa hari ini menghindarinya kini ada di ruang keluarga rumahnya. Dia tahu kenapa adiknya itu menghindarinya maka untuk itu dia memberikan waktu kepada adiknya itu karena dia tahu adiknya itu pasti akan datang membicarakannya jika sudah tenang dan dia yakin kedatangan adiknya ke sini pasti akan membicarakan masalah itu.


Azlan yang melihat Friska ada segera berlari mendekat, “Mami!” ucap Azlan langsung memeluk lengan Friska karena Azwa ada dalam pangkuannya.


Friska pun tersenyum melihat itu, dia tidak kaget jika Azlan yang melakukannya karena dari kelima anak kakaknya hanya Azlan-lah yang terlihat paling normal karena ceria. Jika di urutkan dari keceriaan dan suka bergaul dengan orang lain kelima anak kakaknya itu maka Azlan di urutan nomor satu lalu di susul Azwa setelah itu Anind, Anand dan terakhir si gunung es Azlen. Kembaran Azlan itu sangatlah bertolak belakang dengannya. Azlan dan Azlen hanya wajah saja yang sama persis tapi jiwa mereka sangatlah berbeda tapi Azlan walau dia ceria dan humble tapi dia juga memiliki sifat dingin jika bersama orang yang baru dia kenal.

__ADS_1


“Dek, mana Frisya?” tanya Freya basa basi lalu duduk di hadapan adiknya.


“Risya lagi menyelesaikan laporannya dan mungkin sebentar lagi juga akan menyusul kesini.” Jawab Friska lalu memindahkan Azwa duduk di samping Azlan dia mendekati Freya lalu menyalaminya. Sekecewanya dia dengan kakaknya tapi sifat menghormati itu tetap dia junjung tinggi lagian dia juga percaya kakaknya itu melakukan itu pasti memiliki alasannya sendiri.


“Hey boy apa kalian tidak ingin memeluk mami?” tanya Friska menatap dua gunung es kakaknya itu yang saat ini sedang duduk berdampingan.


Anand segera berdiri dan menyalami Friska tanpa memeluk karena dia merasa bahwa dia sudah dewasa dan tidak pantas di peluk atau memeluk padahal usianya baru 7 tahun lebih, “Kenapa sih gak mau di peluk?” tanya Friska yang saat dia akan memeluk keponakan pertamanya itu justru menghindar.


“Aku sudah besar mih, jadi jangan memelukku.” Ucap Anand dengan ekspresi datarnya lalu kembali duduk di tempatnya semula.


“Hey, Azlen apa kau tidak ingin memeluk mami?” tanya Friska.


Azlen pun berdiri mendekati Friska menyalaminya lalu memeluk sekilas Friska tapi Friska justru memeluk erat keponakan dinginnya itu hingga membuat Azlen kesal, “Mih, lepas aku sesak.” Ucap Azlen yang di tertawai oleh Azlan tapi Azlan langsung diam begitu mendapat tatapan tajam dari Azlen.


Azlen pun mau tak mau duduk di samping Friska karena di antara Friska dan Frisya dia lebih dekat dengan Friska, dia tidak akan sekaku biasanya jika bersama Friska, dia juga akan memeluk Friska jika datang. Sementara dengan Frisya jangan tanya dia tidak mau di peluk oleh bungsu bundanya itu.


“Anind mana kak?” tanya Friska menyadari bahwa keponakan keduanya itu gak ada.


Freya mengangkat alisnya, “Biasa dia bersama ayahnya berlatih.” Jawab Freya, memang kedua putrinya itu sangat dekat dengan Alvino ketimbang dirinya begitu juga sebaliknya ketiga putranya sangat dekat dengannya dari pada Alvino.


“Apa berlatih menembak lagi?” tanya Friska yang memang mengetahui bahwa keponakan keduanya itu sangat menyukai olahraga yang berbau menembak atau panahan sementara para lelaki juga sama mereka juga ikut menembak dan panahan serat olahraga khas anak laki-laki pada umumnya seperti sepakbola, basket, dan lain sebagainya.


Freya hanya mengangguk menjawab pertanyaan adiknya itu.

__ADS_1


Kelima anak Freya dan Alvino memang memiliki jadwal mereka sendiri setiap hari. Jika weekend maka itu digunakan untuk belajar beladiri dan olehraga serta senin selasa setelah pulang sekolah jadwal untuk belajar ilmu agama hingga rata-rata anak Freya dan Alvino menghafal Al-Qur’an di usia mereka 4 tahun saat ini tinggal Azwa yang masih menghafal Al-Qur’an karena ke empat kakaknya tinggal murajaah saja tiap hari, Alvino dan Freya memanggil seorang ustad untuk mengajari pendidikan agama kepada anak mereka. Lalu untuk tiga hari lainnya mereka gunakan untuk belajar baik itu IT atau pelajaran lainnya serta hobi mereka yang lain.


Tidak lama setelah itu datanglah Anind dan Alvino yang masih dengan pakaian khas olahraga mereka. Anind berjalan mendekati Freya, Friska dan ke empat saudaranya yang lain, “Mih!” ucap Anind menyalami Friska.


“Abis latihan apa?” tanya Friska.


“Hanya belajar menembak saja.” jawab Anind.


Alvino juga segera mendekat dengan air minum di tangannya, “Ayah, apa kalian akan latihan lagi?” tanya Anand.


“Sudah selesai boy.” jawab Alvino.


“Ya sudah jika begitu, kami akan menggunakan tempatnya.” Ucap Anand beranjak dari tempat duduknya yang langsung di ikuti oleh Azlan dan Azlen dari belakang.


“Kak, kau bau.” Ucap Azwa yang memang menciumi baju kakaknya.


Anind tertawa akan hal itu memang adik kecilnya itu selalu seperti itu mentang-mentang dia tidak akan bisa marah kepadanya maka selalu saja mengomentarinya, “Kau ini! Tentu saja kakak bau, kakak abis olahraga.” Ucap Anind.


“Ayah, kenapa tidak ajak aku latihan juga? Aku kan mau seperti kakak juga.” Ucap Azwa menatap Alvino yang duduk di samping istrinya.


“Maaf sayang tapi kamu masih terlalu kecil untuk ikut itu nanti ayah akan mengajarimu.” Ucap Alvino.


Azwa yang mendengar itu pun tersenyum lalu turun dari tempat duduknya segera melompat ke pangkuan Alvino, “Benar ya ayah?” ucap Azwa. Alvino pun mengangguk.

__ADS_1


Freya dan Friska hanya tersenyum melihat itu lalu tidak lama Alvino segera membawa kedua putrinya dari sana karena mengerti pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan adik iparnya itu bersama sang istri.


__ADS_2