Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
31


__ADS_3

Sementara di cabang perusahaan milik Alvino kini ada seorang gadis yang sedang serius membaca dokumen di hadapannya. Dia memang benar-benar menggunakan waktu magangnya itu dengan belajar sebanyak-banyaknya mana di tambah lagi orang yang sering membully-nya dan teman-teman lemah di kampus kini sudah di pulangkan dari perusahaan ini dan entah kemana sekarang. Tapi satu hal yang dia pahami bahwa pihak kampus terlebih pihak jurusan tidak akan memberikan hukuman berat bagi kedua temannya itu karena mengingat kekuasaan orang tua mereka.


Walaupun begitu Irma sedikit merasa tenang karena setidaknya selama dia magang dia tidak akan menghadapi pembullyan lagi dan akan fokus dengan pekerjaannya. Ini sudah lebih dari cukup untuknya karena bisa bebas dari mereka. Yah, walau dia sendiri memiliki kekuasaan karena orang tuanya tapi dia tidak ingin memperlihatkannya sehingga sering di anggap lemah.


Irma sangat serius hingga tidak menyadari ada sosok yang berdiri di depan mejanya dengan menatap Irma datar, “Di mana kak Grey?” tanya orang itu.


Irma yang tidak menyadari ada orang di hadapannya tentu saja kaget hampir saja bolpoin yang dia pegang dia lempar pada orang yang tiba-tiba bersuara itu. Tapi untung saja gerakan refleksnya itu bisa dia kendalikan karena jika tidak mungkin sebentar lagi dia akan menyusul kedua temannya keluar dari perusahaan ini dengan alasan melempar pak direktur dengan bolpoin, “Emm maaf pak, kak ee maksudnya saya bu Grey dia sedang keluar sedang di toilet sedang buang air pak.” Jawab Irma gugup dengan menunduk karena takut menatap pak direktur yang sangat dingin dan tidak ramah menurutnya.


Kenzo hanya mengangguk saja, “Baiklah jika begitu. Saya mau kau sampaikan pesan kepadanya setelah dia kembali minta ke ruangan saya dan bawakan dokumen yang sudah saya minta kepadanya.” Ucap Kenzo lalu berbalik segera masuk kembali ke ruangannya.


Irma langsung mengelus dadanya serta menghela nafas lega begitu melihat Kenzo sudah masuk ke ruangannya, “Dasar ice batu. Apa susahnya sih senyum sedikit kalau bicara. Untung saja tampan jadi ketampanannya itu tidak tertutupi dengan wajah dinginnya.” Ucap Irma lalu segera duduk.


“Siapa yang dingin?” tanya Grey tiba-tiba datang hingga membuat Irma kaget untuk kedua kali di waktu yang berdekatan.


“Iss kak, kau mengagetkanmu tahu. Huft hari ini aku sudah dua kali kaget. Apa kak Grey sudah tertular penyakit pak direktur hingga berjalan saja tanpa suara.” Ucap Irma lagi-lagi mengelus dadanya.

__ADS_1


Grey yang mendengar itu tersenyum lalu segera duduk di kursinya, “Ayo katakan siapa yang dingin maksud perkataanmu?” tanya Grey.


“Yang dingin? Ouh itu tentu saja pak Dirut. Dia itu tadi datang mengagetkanku tiba-tiba saja bersuara seperti hantu saja.” ucap Irma.


Grey yang mendengar itu hanya bisa membelalakkan matanya karena selama ini tidak ada yang bisa mengatai pak Dirut secara terang-terangan begitu atau mungkin mereka tidak berani dan teralnjur jatuh hati pada pesona pak Dirut mereka itu hingga tidak ada yang mengatakan seperti itu tapi sekarang gadis di samping dengan gamblangnya mengatakan pak Direktur mereka seperti hantu, “Hey, Irma kau sadar dengan apa yang kau katakan? Hati-hati bicara, bagaimana jika ada yang mendengar perkataanmu dan menyampaikannya kepada pak Dirut.” Ucap Grey mengingatkan.


“Ups maaf kak, aku kelepasan lagian dia juga mengesalnya. Apa gak bisa senyum sedikit.” Balas Irma.


“Hey apa kau tidak sadar dek, kau juga sama dingin seperti pak Dirut, kau hanya bicara dan bersikap biasa terhadap orang yang sudah kau kenal dan begitu juga dengan pak Dirut. Aku dengar dia itu sangat menyayangi kakak perempuannya dan juga nyonya Freya istri dari tuan Alvino. Jadi jangan menyimpulkan sesuatu dari sampulnya saja karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan membuat orang itu bersikap demikian. Selama kita bekerja dan di gaji sesuai dengan pekerjaan yang sudah kita lakukan maka jangan ikut campur dengan mereka.” ucap Grey.


Irma pun memgangguk mengerti, “Baiklah kalau begitu kakak ke dalam dulu yaa, mau mengantarkan dokumen ini kepadanya.” Ucap Irma segera berdiri dengan dokumen di tangannya lalu segera berlalu masuk menuju ruangan Kenzo.


***


Malam harinya, di apartemen tepatnya di kamar Friska kini dia sedang memandangi gaun yang tadi siang di berikan kakaknya dengan seksama. Entah kenapa dia sangat menyukai gaun itu, dia seperti terhipnotis oleh gaun itu. Apa karena ini pemberian kakaknya?

__ADS_1


“Ahh, aku sangat menyukainya, apa aku harus menghadiri undangan ini dengan memakai gaun pemberian kakak?” gumam Friska sambil memegang undangan di tangannya. Sebuah undangan ulang tahun yang tadi siang baru di antarkan di ruangannya. Dia belum memutuskan apa akan datang atau tidak tapi sepertinya dia akan datang. Selain menghargai undangan dari mami Jasmin, dia juga sudah memiliki gaun untuk di pakai.


Friska masih merasa kenapa bisa kebetulan kakaknya memberikan gaun untuknya, ingin dia mencurigai sang kakak tapi tidak bisa karena dia percaya kakaknya tidak mungkin akan ikut dalam rencana mami Sinta dan mami Jasmin, “Ahh aku lebih baik tanyakan kepada Risya apa gaun pemberian kakak ada atau tidak.” Ucap Friska berdiri dan membuka pintu kamarnya tapi saat dia akan membuka pintu adiknya sudah di sana dengan gaun pink di tangannya. Modelnya berbeda tapi sama indahnya dengan miliknya.


“Kak Ris, lihat gaun yang kak Reya berikan kepadaku. Bagus kan? Aku sangat menyukainya.” Ucap Frisya bahagia sambil memperlihatkan detail gaunnya kepada Friska.


Frisya segera masuk ke kamar kakak keduanya itu lalu dia kaget melihat gaun indah milik Friska yang terletak di ranjang, “Wah, gaunmu sangat cantik kak. Apa ini pemberian kakak?” tanya Frisya mengangkat gaun milik Friska.


Friska hanya mengangkat alisnya lalu duduk di ranjangnya, “Menurutmu siapa yang akan memberikannya selain kakak?” tanya Friska.


Frisya tersenyum, “Emang gak ada sih selain kakak tapi bisa saja kau memiliki kekasih kan kak dan dia memberikannya padamu.” Ucap Frisya.


“Gak ada yang seperti itu karena memang kak Reya yang memberikan gaun itu tadi siang.” Ucap Friska.


“Wah, kakak memang terbaik. Dia tiba-tiba saja memberikan gaun hingga membuatku pusing akan memakainya kemana tapi sepertinya punyaku di simpan saja dulu karena aku tidak rela memakainya, dia sangat cantik.” Ucap Frisya memang sangat menyukai gaunnya.

__ADS_1


Lalu tanpa sengaja Frisya melihat undangan, “Ini?” tanya Friska mengambil undangan itu sambil menatap Friska.


__ADS_2