Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
164


__ADS_3

"Apa dia tampan?"


Freya yang mendengar ucapan suaminya tersenyum lalu mendekati suaminya itu dan berbaring dengan berbantalkan lengan suaminya.


"Bukankah dia memang tampan? Kau selalu memuji nya. Dia adalah putramu juga kan?" Tanya Freya balik menatap suaminya yang menatap langit-langit kamarnya.


Alvino menghela nafasnya lalu memiringkan tubuhnya dan memeluk Freya erat, "Apa menurutmu aku keterlaluan pada Lio?" tanya Alvino lembut. Freya bisa merasakan ada nada kerinduan yang dalam ucapan suaminya itu.


Freya tersenyum, "Kau adalah suamiku. Apapun keputusan yang kau ambil sudah pasti yang terbaik dan aku sebagai istri pasti mendukung dan percaya pada keputusan yang kau ambil. Hanya saja menurutku waktu tiga tahun ini sudah cukup untuk kita berjarak satu sama lain. Lagian juga putri kita sudah sembuh bukan. Dia sudah membaik bahkan dia sangat cerdas tidak ada sama sekali yang berkurang. Kau hanya terlalu khawatir pada putri kita. Aku tahu kau sangat menyayangi putri kita tapi tidak kah kau berpikir bagaimana kak Lio yang sedih melihat putranya yang berubah dingin dan tertutup pada mereka. Mereka bahkan bersedia menjauh dari kita padahal kejadian itu juga terjadi bukan hanya karena salah Danish saja. Putri kita juga salah karena dia tidak mendengar larangan Danish." Ucap Freya lembut.


Alvino kembali menarik nafasnya lalu memeluk erat Freya, "Lalu menurutmu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus meminta maaf kepada Lio dan Hanna?" Tanya Alvino meminta pendapat sang istri.


Freya tersenyum, “Tidak ada salahnya meminta maaf lebih dulu suamiku. Hal itu tidak akan membuatmu rendah. Iya kan.” Ucap Freya.


Alvino pun tersenyum lalu mengangguk, “Kau benar. Seharusnya aku meminta maaf lebih dulu. Kenapa aku membiarkan diriku tersiksa dengan semua ini. Adelio adalah sahabat sekaligus asisten kepercayaanku. Dia juga lah yang berjasa dalam hubungan kita. Kenapa aku sangat egois kepadanya hanya karena putriku. Aku bersalah sayang. Jujur saja aku merindukannya. Aku rindu Danish yang tampan dan ceria yang selalu mengekor di belakang putri kita. Aku rindu Danish yang selalu saja menuruti permintaan putri kita. Kenapa aku melupakan semua kebaikan mereka hanya karena terlalu mengkhawatirkan putriku. Terima kasih sayang sudah menyadarkan aku. Aku akan meminta maaf padanya.” Ucap Alvino lalu mengecup kening istrinya itu lembut.


Freya tersenyum, “Aku tahu kau juga merindukan kak Lio suamiku. Sama seperti aku yang merindukan Hanna. Aku juga tahu kau pun sama merindukan kak Lio tapi saja gengsi kalian terlalu tinggi untuk saling menghubungi satu sama lain. Ku pikir hanya perempuan saja yang bisa gengsian tapi ternyata kalian juga sama bahkan lebih parah dari kami perempuan.” Ujar Freya tersenyum.


“Sayang, kau meledekku.” Ucap Alvino. Freya pun tertawa.


“Ya sudah kalau begitu ayo sekarang hubungi mereka.” Ucap Freya kemudian meraih ponsel suaminya.


Alvino pun terkejut sambil menganga mulutnya, “Apa harus sekarang? Besok saja.” Tolak Alvino karena dia gengsi jika harus meminta maaf dan di hadapan istrinya.


Freya tersenyum lalu mengecup bibir suaminya itu sekilas, “Apa suamiku ini malu aku melihatmu meminta maaf pada kak Lio?” tebak Freya tepat sasaran.


Alvino pun terkekeh, “Sepertinya kau memang punya indra ke enam sayang. Kau sangat hebat membaca kata hatiku.” Ucap Alvino.


Freya pun tersenyum, “Baiklah, ayo kita hubungi sahabat kita itu. Mari kita berbaikan dengan mereka.” Ucap Alvino lalu menghubungi nomor Adelio di ponselnya.


Tuut … tuut … tuut …


Akhirnya di jawab juga dan langsung panggilan video. Adelio sendiri yang menjawabnya. Freya pun segera meminta Alvino untuk memegang ponselnya sendiri dan bicara dengan asistennya itu.


Alvino dan Adelio kini sudah saling melihat satu sama lain. Mereka diam saja. Tidak ada yang ingin memulai percakapan lebih dulu. Sungguh Freya gemas dengan tingkah suaminya itu, “Tuan!” ujar Adelio akhirnya.


“Lio!” balas Alvino.


“Maaf!” ucap Alvino dan Adelio bersamaan.


“Saya yang bersalah tuan. Jangan meminta maaf kepada saya. Seharusnya saya yang lebih mengerti anda sebagai sahabat bukan justru egois dengan tetap membela putra saya.” Ucap Adelio.


Alvino menggeleng, “Kamu gak salah Lio. Aku yang salah. Aku terlalu mengkhawatirkan putriku hingga lupa bahwa kau pun pasti akan tersinggung jika anakmu di salahkan. Maafkan aku Lio. Aku sungguh minta maaf padamu.” Ucap Alvino.


“Jangan katakan itu lagi tuan. Saya akan merasa bersalah jika anda mengatakan hal itu. Setelah tiga tahun kita hidup berpisah. Saya baru mengerti bahwa apa yang anda lakukan itu adalah hal wajar. Jika saya pun dalam keadaan dan situasi yang sama dengan anda maka pasti saya akan melakukan hal yang sama. Mana mungkin seorang ayah tidak akan egois saat melihat putrinya terbaring koma di rumah sakit dan harus merelakan ingatannya.” Ucap Adelio.


Alvino yang mendengar itu pun terharu, “Tetap saja aku merasa bersalah karena mengambil keputusan dalam keadaan marah Lio. Aku sungguh minta maaf.” Ucap Alvino.


“Hey, apa kalian tidak akan berhenti minta maaf. Sudahlah berbaikan saja. Aku dan Hanna saja tidak saling marahan sama sekali.” Ucap Freya.


“Nyonya!” ucap Adelio.


“Hey kak jangan panggil aku begitu. Kami bukan majikanmu lagi.” Ucap Freya.


“Rere!” ucap Hanna akhirnya masuk dalam frame suaminya juga. Ternyata kedua laki-laki itu di dampingi oleh pawang mereka masing-masing. Pantas saja mereka segera merendahkan ego mereka.


“Hey, Han. Apa itu artinya kita akan bertemu lagi?” Tanya Freya tersenyum lalu menatap Alvino dan Adelio yang diam.


“Apa yang kau khawatirkan suamiku? Putri kita sudah sehat.” Ucap Freya.

__ADS_1


Alvino pun mengangguk, “Baiklah. Kalau begitu kita agendakan. Kita pergi liburan bersama.” Ucap Alvino.


“Apa kau setuju Lio?” Tanya Alvino menatap sahabatnya itu.


“Tentu tuan. Tapi apakah dia sudah benar-benar sembuh?” Tanya Adelio balik. Ada kekhawatiran yang sama di mata Adelio itu.


“Bukankah kau menyuruh orang untuk mengawasi dan menjaganya? Kau pasti lebih tahu perkembangannya di banding aku ayahnya.” Ucap Alvino balik.


“Anda mengetahuinya?” Tanya Adelio.


Alvino pun tertawa lalu mengangguk, “Apa menurutmu jika aku gak tahu itu adalah orang suruhanmu apa kau akan mendapat informasi perkembangan putriku dengan mudah.” Ucap Alvino.


“Maaf tuan. Saya lupa bahwa anda bukan orang yang muda di tipu. Terima kasih tuan sudah membiarkan orang suruhan saya mengawasinya.” Ucap Adelio.


Alvino pun mengangguk, “Lio, aku ingin melihat putra tampanku. Aku ingin melihatnya apa dia semakin tampan atau tidak.” Ucap Alvino.


Adelio pun tertawa, “Dia semakin tampan tuan. Hanya saja dia menjadi dingin dan tertutup.” Ucap Adelio.


“Maafkan aku. Ini semua terjadi karena permintaanku. Aku janji akan mempertemukan mereka lagi. Semoga saja putriku tidak akan mengalaminya lagi. Aku janji.” Ucap Alvino.


“Ahh gak masalah tuan. Ini semua demi kebaikan semuanya. Saya yakin jika takdir sudah menuliskan mereka maka tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka. Apapun itu. Jujur saja menjadi besan anda adalah keinginan kami.” Ujar Adelio.


“Apa kau sudah ketularan istrimu Lio. Mereka memang sangat cocok. Tapi semoga saja takdir berbaik hati kepada mereka. Biarkan saja takdir nanti yang akan membawa mereka bersama. Jika kita memang di takdirkan berbesanan maka itu akan terjadi.” Timpal Alvino.


“Danish, ada yang mau bicara padamu.” Ujar Adelio.


“Siapa pah?” Tanya Danish lalu masuk frame ponsel papanya itu.


“Ayah!” panggil Danish.


“Hai boy!” ujar Alvino terharu melihat anak sahabatnya itu yang sudah dia anggap putranya sejak kecil karena dia yang selalu menjaga putrinya.


“Hey jangan menangis boy. Bukankah kau ingin terus melindunginya? Jika ingin terus melindunginya maka jadilah laki-laki yang kuat agar ayah mengizinkanmu bersamanya.” Ucap Alvino.


“Aku janji ayah. Aku akan aku akan jadi orang sukses dan kuat. Aku akan datang memintanya kepada ayah dan bunda nanti untuk ku jaga. Awas saja jika ayah membiarkannya memilih yang lain atau menjodohkannya dengan yang lain. Aku akan mengawasinya dan akan menjaganya nanti. Aku janji pada ayah. Aku akan datang padanya nanti.” Ucap Danish yakin. Anak yang berusia 8 tahun itu dengan nada dewasanya.


“Lio, apa dia sedang melamar putriku atau sedang mengancamku?” Tanya Alvino tersenyum.


“Keduanya ayah. Aku sedang melamar putrimu dan juga mengancammu.” Jawab Danish tegas.


Alvino dan Freya yang mendengar itu pun terkekeh, “Baiklah. Kami mengizinkanmu untuk mendekatinya tapi jika dia nanti merasa tidak nyaman. Kau tahu kan?” ucap Alvino lembut.


Danish mengangguk, “Aku mengerti ayah. Aku janji tidak akan membuatnya sakit dan terluka lagi.” Ucap Danish.


“Bunda percaya padamu nak. Maka untuk itu kau harus ceria lagi dan jangan jadi orang dingin lagi. Dia sudah dingin masa iya punya suami dingin juga.” Ucap Freya tersenyum.


Danish tertawa, “Baiklah bunda. Aku tidak akan jadi orang dingin lagi. Aku akan menjadi matahari yang akan mencairkannya.” Ujar Danish.


“Baiklah boy. Bisa serahkan ponselnya kepada papamu. Ayah mau bicara dengan papamu.” Ucap Alvino yang langsung di angguki oleh Danish dan dia pun segera menyerahkan ponselnya.


“Ayah ingat janji kita hari ini.” Ucap Danish sebelum dia pergi dengan senyuman di wajahnya.


“Lio, aku tidak janji padanya bukan.” Ucap Alvino.


“Dia sangat bahagia tuan. Senyumnya itu sudah lama tidak terlihat. Setidaknya jika anda tidak janji padanya biarkan dia meraih dan menepati janjinya itu.” ucap Adelio.


Alvino pun mengangguk, “Baiklah. Aku akan melakukan itu tapi jika nanti putriku memilih yang lain aku harap kau tidak akan keberatan nanti.” Ucap Alvino.


“Tentu tuan. Saya tidak akan keberatan. Yang paling penting putra saya sudah di berikan kesempatan.” Ucap Adelio.

__ADS_1


Freya pun berdehem, “Han, bukankah kita yang sepakat untuk menjodohkan putra dan putri kita lalu kenapa sekarang jadi suami kita yang seolah merancang semuanya.” Ucap Freya di angguki oleh Hanna dengan tersenyum.


Setelah itu dua pasangan yang saling bersahabat satu sama lain itu akhirnya kembali bersahabat setelah hubungan mereka merenggang selama tiga tahun belakangan ini. Alvino dan Adelio sepakat akan saling bertemu satu sama lain nanti saat liburan sekolah. Mereka akan liburan bersama.


***


Keesokkan paginya, di apartemen Friska dan Frisya. Kini Friska sudah bangun lebih awal untuk membuat sarapan lalu seperti biasa Friska dan Frisya pun sarapan bersama.


“Kak Ris apa kegiatanmu hari ini?” Tanya Frisya.


Friska pun berpikir sambil mengingat apa yang akan dia lakukan hari ini, “Hum, kakak gak tahu. Namun sepertinya kami akan melakukan pra wedding lagi di studio dengan dua pakaian yang sudah kami pilih.” Jawab Friska.


“Bukan sudah?” Tanya Frisya.


“Emang sudah tapi itu pra wedding yang di lakukan bersama Kenzo dan Irma. Kami juga ingin tetap mengambil foto pra wedding lagi dengan tema yang lain tapi hanya di studio saja.” Ujar Friska.


Frisya pun mengangguk mengerti, “Ohiya dek, kalau urusan profesimu bagaimana? Apa sudah selesai?” Tanya Friska balik.


“Kami tinggal satu kali lagi praktek terus tinggal melengkapi laporan kami dan selesai.” Jawab Frisya.


“Berarti Februari ini kau akan wisuda kan?” Tanya Friska.


Frisya pun mengangguk, “Iya memang wisuda kami di agendakan Februari ini.” Jawab Frisya.


Setelah itu tidak ada lagi perbincangan di antara mereka. Keduanya focus menikmati sarapan mereka. Selepas sarapan Friska segera membersihkan bekas makanan mereka itu sementara Frisya dia segera pergi menuju tempat profesinya.


Kini di apartemen itu tinggallah Friska sendiri. Friska pun memilih ke kamarnya yang bertepatan dengan dia masuk ke kamarnya itu ponselnya berdering.


Drt … drt … drt …


Friska pun segera menekan ikon hijau di ponselnya itu begitu melihat siapa yang menelponnya.


“Halo, Assalamu’alaikum kak!” salam Friska.


“Halo, Wa’alaikumsalam dek. Kamu di apartemen kan?” Tanya Rezky dari seberang.


“Iya kak. Emang ada apa?” Tanya Friska.


“Dek, kakak sudah bicara dengan pihak studio untuk pengambilan foto pra wedding kita akan di lakukan besok. Jadi hari ini kita free karena gaun dan cincin sudah kita beli. Kakak berencana mengajakmu ke suatu tempat hari ini. Apa kamu bersedia?” Tanya Rezky dari seberang.


“Hum, emang kita akan pergi kemana?” Tanya Friska.


“Emm, itu rahasia. Ini adalah kejutan untukmu.” Jawab Rezky.


Freya pun tersenyum, “Baiklah jika memang kejutan. Riska gak akan bertanya lagi. Tapi setidaknya berikan clue tempatnya agar Riska tidak salah kostum nanti.” Ucap Friska.


“Kamu pakai saja pakaian yang seperti biasa kita pakai karena tempatnya bukan yang aneh-aneh kok yang harus membutuhkan pakaian khusus.” Ujar Rezky.


“Emm, baiklah jika memang begitu. Kalau begitu Riska siap-siap dulu.” Ucap Friska.


“Hum, kakak akan menjemputmu pukul Sembilan nanti. Kita kesana sama-sama.” Ucap Rezky.


“Tentu saja sama-sama. Orang aku gak tahu tempatnya. Bisa-bisa calon istrimu ini kesasar kak.” Ujar Friska.


“Iya juga yaa. Maaf ya calon istri. Calon suamimu ini tidak sampai memikirkan hal itu. Baiklah kita sepakati begitu saja dulu. Kakak juga mau siap-siap dulu. Kakak juga tidak ingin terlambat nanti.” Ucap Rezky.


Lalu tidak lama setelah itu sambungan telepon di antara mereka pun terputus setelah saling mengucapkan salam.


Friska segera meletakkan ponselnya di ranjang dan melihat pakaian yang cocok untuk dia pakai hari ini. Setelah menemukan pakaian yang cocok Friska pun segera meletakkan semuanya di ranjang lalu dia segera mandi dan bersiap-siap untuk kejutan dari calon suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2