Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
51


__ADS_3

Zean pun memandang asistennya itu lalu tiba-tiba dia ingat sesuatu begitu mengingat bahwa Alvino menyebut kata istri tadi, “Apa wanita itu istri tuan Alvino?”


Zean menepuk keningnya setelah baru menyadari itu, “Iya wanita itu adalah istri tuan Alvino. Yah dia adalah nyonya Freya. Itu berarti gadis yang aku tolong tadi adalah kerabat istri tuan Alvino. Aku harus memastikannya sendiri.” Gumam Zean lalu segera turun kembali dari mobil dan berlari kembali ke pintu masuk rumah sakit.


Erlan yang mendengar gumaman tuannya pun bingung, siapa itu wanita yang di maksud tuannya sebagai istri tuan Alvino dan siapa gadis kerabat istri tuan Alvino. Erlan yang ternyata penasaran juga akhirnya memilih turun dan mencari tahu sendiri maksud gumaman tuannya. Dia turun dan segera menyusul masuk ke dalam rumah sakit.


Zean berlari menuju UGD dan bertepatan dengan sampainya di UGD, gadis yang dia tolong tadi mendorong ranjang pasien keluar dari UGD dengan seorang pria di atas ranjang itu, sepertinya pasien akan segera di pindahkan ke ruang perawatan.


Zean mendekati Alvino yang masih bicara sedikit dengan dokter sedangkan wanita yang dia yakini sebagai istri Alvino segera menyusul gadis yang di tolongnya tadi, “Ee’eeh Zean, ada apa kau kesini?” tanya Alvino yang melihat kedatangan kliennya itu.


“I-itu tuan Vino, saya kesini ingin mengunjungi kerabat anda yang masuk rumah sakit. Mumpung juga saya sudah di rumah sakit. Saya menjenguk sebagai rasa kemanusiaan antara sesama klien.” Ucap Zean.


Alvino pun mengangguk mengerti, “Baiklah. Terima kasih atas niat baikmu Zean. Yaa sudah ayo kita temui kerabatku itu, dia baru saja di pindahkan ke ruang perawatan.” Ucap Alvino.


Zean pun mengangguk lalu keduanya segera berjalan menuju tempat perawatan VVIP berada. Erlan yang melihat tuannya sudah pergi bersama Alvino langsung saja berlari mendekati keduanya dan kini di sinilah dia berada di belakang Zean dan Alvino, “Zean, maaf yaa rapat kita harus di tunda dulu. Kerabat istriku sakit dan aku tidak bisa menutup mata untuk itu.” ucap Alvino.


Zean menggeleng, “Gak apa-apa tuan, saya juga yang terlambat datang tadi karena masih ada urusan tiba-tiba.” Ucap Zean.

__ADS_1


Alvino pun mengangguk, “Ohiya, apa yang membuatmu bisa tiba ke rumah sakit? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Alvino penasaran karena kliennya itu terlambat dan justru bertemu di rumah sakit dengannya.


“Itu saya tidak sengaja menolong seseorang yang kecelakaan di jalan.” Ucap Zean.


“Wah terus apa orang itu baik-baik saja? Bagaimana keadaannya? Apa parah?” tanya Alvino.


Zean menggeleng, “Dia baik-baik tuan Vino hanya saja dia mengalami luka di kakinya saja.” jawab Zean.


“Ouh terus dimana orang itu? Apa dia sudah keluar?” tanya Alvino. Keduanya yang sibuk bicara dalam perjalanan hingga tidak sadar bahwa sudah tiba di ruang perawatan VVIP.


Freya menatap suaminya dan kedua lelaki yang datang bersama suaminya itu, “Kiana baik-baik saja hanya saja paman Vian ingin bicara berdua dengannya makanya aku keluar.” Ucap Freya menjelaskan.


Alvino pun mengangguk, “Ee’eeh sayang kenalkan ini klienku yang dari Negara S. Kenalkan dia Zean dan ini asistennya Erlan.” Ucap Alvino memperkenalkan Zean dan Erlan kepada sang istri.


Freya pun mengangguk tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya di dada, “Freya.” Ucap Freya elegan hingga membuat Zean dan Erlan terhipnotis. Entah kenapa menurut mereka Freya memiliki daya tariknya sendiri. Menurut Zean dia tidak menyangka bahwa istri Alvino lebih cantik jika di lihat secara langsung daripada hanya foto-foto yang tersebar di dunia maya atau majalah bisnis. Erlan juga memiliki penilaian yang sama ternyata istri klien mereka Alvino sangatlah cantik dengan kecantikan yang membuat orang tidak bosan melihatnya.


“Sudah, jangan memandang istriku seperti itu. Walau kalian klienku tapi jika saja kalian berpikir yang tidak-tidak akan istriku maka aku tidak akan berpikir banyak kali untuk membatalkan kerja sama kita.” Ucap Alvino cemburu karena kedua pria itu menatap istrinya dengan tatapan kagum.

__ADS_1


Zean dan Erlan yang mendengar itu pun menunduk malu karena tidak sadar menatap istri klien mereka dengan kagum sementara Freya yang mendengar ucapan suaminya hanya bisa menggelengkan kepalanya yang tidak menyangka bahwa di situasi seperti suaminya itu masih bisa cemburu padahal dia yakin tidak mungkin kedua klien suaminya itu tertarik padanya.


Sementara di dalam, “Kia!” panggil papa Vian lemah sambil mengisyaratkan agar putrinya itu mendekat.


Kiana pun mendekatkan wajahnya di mulut sang papa, “Iya ada apa pah?” tanya Kiana dengan suara bergetar mencoba menahan tangis. Sedikit tidaknya Kiana sebagai seorang perawat dia sudah bisa menduga kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada papanya.


“Kia, waktu papa sudah gak banyak. Papa mohon nak kamu segeralah menikah. Papa mohon! Papa ingin menjadi wali nikahmu sebelum papa pergi.” ucap papa Vian terengah-engah dan pelan mengeluarkan kalimat itu.


Kiana yang mendengar permintaan papanya itu pun akhirnya sudah tidak bisa menahan air matanya dan langsung menetes begitu saja tapi dia segera menghapusnya. Kiana bukan tidak ingin mewujudkan permintaan papanya itu hanya saja siapa yang akan menikahinya. Dia saja tidak memiliki kekasih atau seorang pria yang dekat dengannya. Kiana sedih tidak bisa memenuhi permintaan papanya itu, dia merasa menjadi anak paling berdosa karena tidak bisa memenuhi itu, “Yaa Allah apa yang harus aku lakukan?” batin Kiana mengadu kepada Allah.


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan ternyata itu adalah Kenzo yang datang terburu-buru. Dia segera datang kesini begitu Freya menelponnya, dia bahkan meninggalkan rapatnya yang masih sementara berjalan. Kenzo segera mendekat ke ranjang papanya dan segera menggenggam tangan papanya, “Kenzo!” panggil papa Vian lemah. Dia senang masih bisa melihat kedua anaknya itu.


Kenzo mengangguk, “Iya pah. Ini aku Kenzo. Aku sudah di sini. Papa harus sembuh.” Ucap Kenzo.


Papa Vian menggeleng lalu dengan susah payah dia mengusap kepala putranya itu, “Papa sudah tidak memiliki waktu yang banyak nak. Kenzo tolong jaga kakakmu, tolong jaga dia. Papa mungkin tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk kalian selama ini. Kenzo bisa gak kamu carikan seseorang untuk menikahi kakakmu? Papa ingin sebelum pergi melihat kakakmu menikah dan menjadi wali nikahnya. Papa tahu ini permintaan yang sulit dan papa juga tidak akan memaksa kalian melakukan ini hanya saja papa sangat berharap. Namun jika memang tidak bisa papa titip kakakmu. Nikahkan dia dengan laki-laki baik. Gantilah papa menjadi wali nikahnya. Tolong jaga kakakmu dengan baik.” ucap papa Vian sambil menahan sakit karena memaksakan bicara banyak.


Kenzo yang mendengar ucapan papanya segera menatap sang kakak yang hanya bisa menangis. Dia tahu apa yang kakaknya rasakan saat ini karena dia saja bingung apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


__ADS_2