Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
201


__ADS_3

Seminggu berlalu dengan sangat cepat, semua orang pun kembali beraktivitas dengan urusan mereka masing-masing. Pasangan pengantin baru yang menikah seminggu lalu pun kini sedang menikmati bulan madu mereka di Negara tetangga karena memang tidak ingin pergi ke Negara yang jauh-jauh. Walaupun Alvino dan Freya sudah menawarkan untuk melakukan bulan madu ke Eropa tapi pasangan itu menolak nya dengan penuh hormat.


“Clemira!” panggil Freya membangunkan adik nya itu. Adik yang sebenar nya adalah adik nya paling kecil tapi tidak di panggil nya dengan adik kecil karena panggilan itu sudah di sematkan kepada adik laki-laki nya.


Freya mengetuk pintu kamar adik nya itu yang tak kunjung bangun padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan lebih sedikit. Ini jarang terjadi karena Clemira termasuk orang yang suka bangun pagi dan tidak menyukai keterlambatan. Tapi kini dia juga belum bangun hingga membuat Freya khawatir.


“Dek!” panggil Freya lagi sambil mengetuk pintu kamar adik nya itu.


Tidak ada jawaban, akhirnya Freya pun mengambil kunci lain nya untuk membuka pintu kamar itu karena memang di kunci dari dalam.


“Clemira!” panggil Freya kaget saat melihat tubuh adik nya itu menggigil dan seluruh tubuh nya di balut oleh selimut nya.


Freya segera mendekati adik nya itu dan melakukan pemeriksaan dasar, “Kenapa tidak mengatakan apapun. Kau mengalami hipotermia dek. Ahh paman pasti akan marah padaku karena tidak memperhatikanmu. Ayo kita ke rumah sakit.” Ucap Freya kesal berbalut khawatir.


“Tidak perlu ke rumah sakit kak. Aku baik-baik saja.” jawab Clemira lemah.


“Kakak tidak ingin mendengar apapun alasanmu. Kau harus ke rumah sakit atau tidak ke klinik saja.” ujar Freya langsung membantu adik nya itu untuk bangun dan memapah nya.


“Kak, hijabku.” Ucap Clemira.


Freya pun segera mengambilkan jilbab instan dan memakaikan nya kepada sang adik.


***


Kini mereka sudah di klinik dan Freya juga sudah melakukan semua pemeriksaan kepada adik nya itu. Kini Clemira sedang istirahat setelah sarapan.


“Aku harus menghubungi paman.” Ucap Freya yang baru ingat belum menghubungi paman nya.


Freya pun segera menghubungi paman nya itu untuk memberitahukan keadaan Clemira.

__ADS_1


“Sudah lah kak. Ini hanya kecelakaan saja. Kau tidak salah.” Ucap Frisya menenangkan kakak sulung nya itu.


“Tetap saja dia sakit saat berada di rumah kakak.” Balas Freya menatap kedua adik nya itu.


“Tapi kau pun tidak tau kan dia sedang kurang sehat.” Timpal Friska.


Freya pun hanya bisa menarik nafas panjang.


“Apa dia memang kurang sehat kak?” tanya Friska.


“Kemarin dia kehujanan dari kampus nya. Dia menggunakan sepeda motor padahal ada mobil. Dia takut jika di tangkap lagi sama polisi padahal jika semua lengkap itu tidak akan terjadi. Jadi ya begini lah yang terjadi. Kalian juga tahu kan dia itu sensitif dengan air hujan.” Ucap Freya.


Friska dan Frisya pun mengangguk membenarkan, “Sudah lah, tidak perlu khawatir lagi. Semua sudah baik-baik saja kan. Paman juga pasti mengerti bahwa ini bukan kesalahan kakak.” Ucap Friska.


Freya pun hanya mengangguk saja lalu dia segera kembali ke ruangan nya.


***


Alendra datang hanya menuruti keinginan hati nya yang entah kenapa ingin datang ke klinik itu mengkhawatirkan seseorang yang memang sudah mengganggu hati dan pikiran nya beberapa waktu belakangan ini. Mana lagi kemarin dia melihat gadis itu kehujanan.


“Alendra!” sapa Freya yang hendak ke ruangan nya tapi melewati lobi dan melihat polisi muda itu.


Alendra yang mendengar nama nya di sebut pun segera melihat ke arah orang yang memanggil nya. Freya segera mendekati polisi muda itu begitu juga dengan Alendra yang memilih masuk karena sudah ketahuan. Percuma juga jika harus menyembunyikan diri lagi.


“Assalamu’alaikum kak!” salam Alendra sedikit membungkuk.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Freya tersenyum.


“Ada perlu apa kau datang ke klinik? Apa ingin memeriksakan sesuatu?” lanjut Freya bertanya.

__ADS_1


Alendra menggeleng, “Bukan kak. Ahh itu saya hanya tidak sengaja lewat di depan klinik saja. Jadi memutuskan untuk mampir sebentar sekedar menyapa.” Ucap Alendra gugup.


Freya yang mendengar itu pun tersenyum dan mengangguk, “Ouh begitu ya. Ohiya, jika kau ingin tahu keadaan adik saya yang paling kecil. Dia memang ada di klinik ini di rawat karena mengalami hipotermia.” Ucap Freya.


“Dia ada di sini kak?” respon Alendra cepat.


Freya pun tersenyum lalu mengangguk, “Hum, dia ada di sini. Apa masih mau bilang tidak sengaja lewat lagi?” ulang Freya.


Alendra yang mendengar itu pun hanya bisa menelan ludah nya kasar, “Kau tidak perlu malu atau pun ragu jika memang menyukai adikku yang paling kecil itu. Adik yang paling ceroboh dan ya begitu lah. Sudah tahu sensitif sama hujan tapi tetap saja nekat tidak menggunakan mobil.” Ucap Freya.


“Apa saya bisa menjenguk nya kak?” izin Alendra.


Freya mengangguk, “Bisa saja. Tapi setelah kau mengatakan alasan yang jelas terkait kedatanganmu ke sini.” Ucap Freya tersenyum.


“Ahh itu. Saya datang ke sini karena memang mengkhawatirkan nya kak. Entah kenapa saya di tuntun untuk datang ke sini. Kemarin saya memang tidak sengaja melihat nya kehujanan dan mengkhawatirkan nya.” jelas Alendra.


Freya pun tersenyum, “Baiklah karena kau sudah menjelaskan nya maka pergi lah temui dia. Dia berada di ruang perawatan 005. Tapi ingat jangan melakukan apapun yang di--”


“Saya tahu kak.” Potong Alendra cepat. Freya pun hanya tersenyum melihat Alendra yang sudah meninggalkan nya menuju ruangan di mana Clemira berada.


“Seperti nya Alendra memang menyukai nya tapi Clemira justru menaruh benci dan kekesalan kepada pria itu. Namun bukan kah benci adalah pintu cinta yang paling besar. Alendra seperti nya pria baik dan bertanggung jawab.” Gumam Freya lalu dia segera berlalu menuju ruangan nya yang sudah tertunda karena melihat Alendra.


Sementara Alendra kini dia sudah berada di ruang perawatan nomor 005. Dia ingin masuk tapi ragu lagi dan akhirnya memutuskan untuk melihat dari luar saja. Dia bisa melihat bahwa Clemira di dalam sedang tidur.


“Aku menunggu di sini saja sampai dia sadar nanti. Aku tidak ingin mengganggu nya.” gumam Alendra.


“Memang sangat ceroboh. Sudah tahu sensitif sama air hujan masih saja nekat tidak menggunakan mobil hingga kehujanan seperti itu. Ahh tunggu. Jangan katakan bahwa dia trauma menggunakan mobil karena kejadian tilang beberapa hari lalu. Jika memang itu alasan nya apa aku sudah melakukan kekejaman.” Gumam Alendra lagi.


“Jika memang itu alasan nya. Tidak kah kau harus mempertanggung jawabkan nya karena sudah membuat putri tunggal saya trauma.”

__ADS_1


__ADS_2