
Kini sepasang suami istri itu baru saja selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Friska segera menyalami punggung tangan suaminya lalu di balas dengan Rezky dengan kecupan di kening dengan lembut lalu Rezky tersenyum begitu otak nakalnya memberi suatu ide. Rezky pun mengecup pipi dan hidung sang istri dan hendak mencium bibir istrinya itu tapi Friska dengan gerakan cepat langsung memundurkan wajahnya yang tiba-tiba saja ada semburat merah di pipinya.
“Kakak mau ngapain?” tanya Friska sambil menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
Rezky pun hanya tersenyum lalu berpura-pura melihat sejadahnya mengabaikan sang istri. Friska pun menatap suaminya itu dengan malu.
“Sudahlah, lebih baik kakak baca Al-Qur’an agar otak mesum kakak itu menghilang dari tempatnya.” Ucap Friska hendak berdiri tapi di tarik oleh Rezky hingga duduk di pangkuannya.
“Mau kemana sayang? Sudah jangan kemana-mana. Kita baca Al-Qur’an sama-sama.” bisik Rezky dengan lembut di telinga istrinya itu. Tubuh Friska seketika meremang tapi langsung dia usahakan untuk normal kembali.
Friska segera turun dari pangkuan suaminya itu, “Sudah. Jangan protes. Ayo mulai baca. Jika memang ingin Friska temani maka jangan protes apapun.” Ujar Friska.
Rezky pun tersenyum lalu mengangguk saja. Mereka pun membaca Al-Qur’an bersama-sama. Rezky harus mengakui bahwa memang terkadang istrinya itu bisa malu seperti gadis kebanyakan. Tapi dia juga bisa bersikap berbeda saat di goda. Dia bisa mengancam balik juga. Sungguh punya dua kepribadian yang hebat.
Selepas membaca Al-Qur’an bersama. Friska pun segera merapikan alat sholat mereka itu sementara Rezky dia duduk di sofa sambil membaca beberapa artikel yang hanya dia sendiri yang tahu.
“Kak, kapan kita pulang?” tanya Friska menatap suaminya itu yang sangat serius dengan ponselnya.
Rezky yang mendengar ucapan istrinya itu pun segera menatap istrinya, “Hum, kita di sini dulu. Kita lebih baik kita cari sarapan dulu. Nanti itu kita pikirkan kita akan check out hotel atau bagaimana. Ayo!” ajak Rezky langsung berdiri dan menggandeng istrinya itu menuju pintu keluar. Friska pun hanya menurut saja.
Kini mereka sudah ada di restoran hotel dan segera memesan menu sarapan untuk mereka berdua. Sekitar kurang lebih setengah jam mereka di sana. Setelah itu mereka kembali lagi ke kamar hotel mereka yang sudah di bersihkan oleh pegawai hotel.
“Kakak sana mandi duluan dulu.” Ucap Friska.
“Terus kamu?” tanya Rezky.
“Aku nanti setelah kakak.” Jawab Friska.
“Kenapa begitu? Kamu saja yang duluan deh sayang. Kakak nanti setelah kamu.” Ucap Rezky.
“Aku gak mau kak. Aku masih ingin bermalas-malasan dengan ranjang. Ayolah sana kakak saja yang duluan mandi agar kita bisa segera melakukan check out.” Ujar Friska.
Rezky yang melihat ekspresi yang di tunjukkan istrinya itu pun tersenyum, “Hum, begini saja. Kakak punya solusi yang baik. Karena kita tidak ada yang mau mengalah mandi lebih dulu kenapa kita tidak mandi bersama saja sayang. Kan itu solusi yang terbaik.” Ucap Rezky dengan senyum menggoda.
Friska langsung menggeleng dengan cepat, “Nggak! Itu namanya modus kak. Aku belum siap jika harus mandi bersama. Ayo lah kakak sana kakak yang mandi lebih dulu.” Ujar Friska.
Rezky menggeleng, “Hum, Kakak juga masih ingin bermalas-malasan di ranjang sayang.” ucap Rezky lalu langsung menjatuhkan tubuhnya itu di ranjang empuk mereka.
Setelah itu langsung menarik lengan Friska hingga tubuh istrinya itu pun jatuh dalam pelukannya, “Kita lebih baik tiduran dulu. Lagian kita juga sudah mandi kan tadi. Jadi ayo tidur. Kakak mengantuk.” Ujar Rezky langsung membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
Friska pun hanya tersenyum saja lalu dia pun akhirnya ikut tidur saja dengan suaminya itu. Mereka yang awalnya ingin segera melakukan check out hotel pun kini akhirnya mereka bermalasan di tempat tidur dengan Friska berada dalam pelukan suaminya itu. Sungguh, Friska yang dalam keadaan begini menjadi malu sendiri apalagi jika harus mengingat apa yang terjadi dini hari tadi.
Rezky tersenyum tipis melihat istrinya itu sudah memejamkan matanya untuk tidur dan nyaman berada di pelukannya. Sungguh aroma tubuh istrinya itu menjadi candu tersendiri untuknya. Seperti aroma terapi yang bisa membuatnya tidur nyenyak.
Sepasang suami istri itu baru terbangun karena deringan ponsel Friska. Friska pun segera membuka matanya begitu juga dengan Rezky. Friska meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya itu yang ternyata adalah Freya.
__ADS_1
Friska pun segera bangun dan memperbaiki hijabnya lalu segera menjawab panggilan dari kakaknya itu, “Halo, Assalamu’alaikum kak?” salam Friska.
“Wa’alaikumsalam dek. Kok lama sih jawab panggilannya? Apa sibuk? Apa kakak mengganggu kalian?” Suara Freya itu terdengar menggoda di akhir kalimatnya.
“Kaaakk! Ayolah serius. Ada apa menghubungiku?” tanya Friska.
Terdengar suara tawa Freya di seberang sana itu karena senang menggoda adiknya ini, “Kakak hanya ingin mengatakan ba’da zuhur kalian sudah di tunggu di bandara.” Ucap Freya enteng dari seberang.
“Bandara? Ba’da zuhur? Emang mau kemana kak?” tanya Friska kaget. Rezky yang tadi masih memenjamkan matanya sambil mendengarkan percakapan istri dan kakak iparnya itu begitu mendengar apa yang di sebutkan istrinya pun ikut terkejut. Walaupun sedikit tidaknya dia sudah menduga apa maksud semua ini.
“Iya bandara. Kalian akan terbang ke Kanada untuk berbulan madu dan membuatkan aku keponakan yang lucu di sana. Ohiya ngomong-ngomong keponakan yang lucu. Kamu sudah di unboxing belum?” tanya Freya dengan nada menggoda.
Friska yang mendengar pertanyaan kakaknya itu memerah malu, “Ouh God kak. Sejak kapan kau jadi orang begini? Sejak kapan coba jadi mesum begitu. Bahkan sampai menukar pakaianku. Tapi untung saja saat subuh sudah ada yang mengantarkan aku pakaian. Jika tidak aku akan menerormu kak.” Ucap Friska tanpa sadar bahwa suaminya itu mendengar ucapannya. Rezky hanya tersenyum tipis mendengar hal itu.
Sementara di sana Freya tertawa puas, “Maaf dek. Eh tapi kakak tidak perlu minta maaf deh kayaknya karena Rezky pasti menyukai hadiah kakak itu. Ehh de kayo jawab pertanyaan kakak yang tadi kalian sudah melakukannya atau belum?” tanya Freya dari seberang.
“Ck, kakak. Belum. Puas kau kak?” jawab Friska mendecak kesal.
Tawa Freya pun kembali terdengar, “Ahh tidak masalah dek. Kalian masih punya banyak waktu. Kalian bisa melakukannya nanti di Kanada di bawah daun maple kan romantis tuh.” Ucap Freya masih saja menggoda adiknya itu.
“Ck, kakak. Sudah ahh aku akhiri panggilan tidak bermutu ini.” ucap Friska.
“Dek sebentar. Kalian dari hotel langsung saja ke bandara yaa. Pakaian kalian akan ada di sana. Pesawat sudah menunggu kalian.” ucap Freya.
“Siapa yang menyiapkan pakaianku kak?” tanya Friska was-was. Jangan sampai kakaknya itu lagi yang menyiapkan pakaian untuknya.
“Ya yah kakak itu sangat baik hingga aku ingin menghajar kakak semalam karena sudah mengganti isi koperku.” Ucap Friska.
“Hahahah,, sudah lah kamu gak usah memikirkan hal itu lagi. Itu memang sudah terjadi dan kakak sepertinya tidak harus minta maaf. Kakak tidak merasa bersalah melakukan itu. Ohiya apa kau percaya dengan pakaian yang di atur oleh mertuamu itu?” tanya Freya dengan tersenyum di sana.
“Aku yakin mami tidak seperti kakak. Dia pasti menyiapkan pakaian terbaik untukku.” Ujar Friska.
“Baiklah. Jika memang kau sangat mempercayai ibu mertuamu itu. Semoga kau tidak akan kecewa. Jangan lupa yaa ba’da zuhur kalian harus ke bandara. Romantisme yang tercipta di hotel bisa di hentikan dulu nanti di lanjut lagi di Kanada.” Ujar Freya.
Setelah cukup lama berdebat, akhirnya perdebatan tidak berfaedah itu selesai juga.
Friska segera melihat suaminya yang masih memenjamkan matanya itu. Friska segera berdiri dari ranjang, “Kak, ayo bangun. Kita siap-siap ke bandara. Gak usah pura-pura tidur. Aku tahu kakak sudha bangun dan mendengar percakapanku dengan kak Reya.” ucap Friska lalu menuju kopernya untuk merapikannya.
Rezky pun segera membuka matanya dan tersenyum lalu dia juga segera bangun dari ranjang dan mendekati Friska lalu memeluknya dari belakang, “Apa kita akan berbulan madu?” tanya Rezky.
Friska pun mengangguk, “Hum, begitulah.” Jawab Friska asal.
“Kamu gak senang kita berbulan madu?” tanya Rezky begitu mendengar respon yang di berikan oleh istrinya itu.
Friska pun menghentikan aktivitasnya lalu berbalik dan menatap suaminya itu, “Kata siapa aku tidak senang berbulan madu. Kenapa coba aku harus tidak senang. Aku senang kok. Aku menyukainya. Apalagi berbulan madu di tempat yang ingin aku kunjungi dan aku mengunjungi tempat itu bersama suamiku. Suami yang aku cintai. Jadi dengan alasan apa aku harus tidak menyukainya.” ujar Friska tegas.
__ADS_1
Rezky pun tersenyum lalu segera mengecup bibir istrinya itu yang entah kenapa ingin dia cium. Sudah menjadi candu padahal mereka baru berciuman dini hari tadi. Kecupan itu berubah menjadi ciuman dengan Friska yang mulai membalas ciuman suaminya itu.
“Cukup. Nanti di lanjut lagi yaa kak. Kita akan terlambat nanti jika tidak segera bersiap-siap.” Ucap Friska melepaskan ciuman di antara mereka.
Rezky pun mengangguk pasrah walaupun dia belum puas mencium bibir milik istrinya itu. Rezky segera mengusap sisa saliva di bibir istrinya itu.
“Kakak yang mandi lebih dulu yaa.” Ucap Friska.
“Kenapa tidak mandi bersama saja?” tanya Rezky dengan raut wajah memohon.
“Aku masih malu kak. Jika harus mandi bersama. Akan ada saatnya untuk itu. Aku belum siap untuk saat ini. Aku harap kakak mengerti.” Ucap Friska lembut.
Rezky pun mengangguk, “Baiklah. Kakak akan menunggu sampai kau siap. Ya sudah kakak mandi dulu yaa.” Ucap Rezky lalu dia segera berbalik menuju kamar mandi tapi tiba-tiba dia berbalik lagi dan mencuri kecupan di bibir istrinya itu lagi.
Friska pun hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat apa yang di lakukan oleh suaminya itu. Friska mengusap bibirnya itu.
“Dia ganas!” ucap Friska. Ingatannya langsung terbayang apa yang terjadi dini hari tadi. Ciuman pertama mereka yang berlangsung panas. Bahkan tangan suaminya itu sudah menjelajah ke bagian tertentu tubuhnya. Yah walaupun tetap masih dengan pakaian mereka yang lengkap. Tetap saja gairahnya dan gairah suaminya itu dini hari tadi terpancing. Tapi entah kenapa suaminya itu tidak melanjutkannya dan justru mengatakan akan mengambilnya nanti.
Wajah Friska memerah mengingat hal itu, “Apa kami akan melakukannya nanti di Kanada? Hum, tidak masalah. Aku akan bersiap untuk itu. Dia ada suamiku yang sudah pantas memilikiku. Aku akan melakukan yang terbaik walaupun ini pertama untukku dan untuk suamiku itu. Pertualangan amatir.” Gumam Friska yang kemudian dia tersenyum karena ternyata semua perempuan itu memiliki sisi mesum seperti ini dalam dirinya. Pantas saja kakaknya itu sudah menjadi mesum seperti itu karena dia sendiri juga merasakannya saat ini.
Sekitar 20 menit kemudian akhirnya Rezky keluar dengan rambut basahnya dan handuk yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya itu dan masih ada air mengalir di tubuhnya. Sungguh dia terlihat sangat hot dan sexy. Friska yang melihat penampilan suaminya itu pun hanya bersikap biasa lalu dia mengambil pakaiannya dan segera menuju kamar mandi melewati suaminya.
Rezky yang merasa di abaikan karena istrinya itu seperti tidak terpengaruh apapun padahal dia sengaja menggoda istrinya itu. Tapi justru hal ini yang dia dapatkan tentu saja merasa tidak terima. Dia menahan lengan istrinya itu, “Kak, mau ngapain?” tanya Friska menoleh.
Rezky tidak menjawab dan justru semakin mendekatkan tubuhnya kepada istrinya itu, “Kau tidak tergoda sama sekali sayang?” tanya Rezky dengan nada sensual.
Friska pun tersenyum lalu dia segera menggigit bahu suaminya itu dan berlari masuk ke kamar mandi, “Jangan mencoba untuk menggodaku kak. Aku ini manusia biasa yang normal.” Ucap Friska dari dalam kamar mandi.
Rezky pun terkekeh dan melihat bekas gigitan istrinya itu di pundaknya, “Lumayan.” Ujar Rezky lalu segera mengambil pakaian yang di sediakan istrinya untuknya.
Sekitar setengah jam Friska di dalam kamar mandi lalu dia pun keluar sudah dengan pakaian lengkap melekat di tubuhnya. Rezky yang melihat itu pun tersenyum.
“Sepertinya istriku ini sangat menjaga tubuhnya dariku agar aku tidak melihatnya.” Ucap Rezky.
“Kak, jangan mendekat dan jangan menyentuhku. Aku sudah berwudhu dan aku tidak ingin wudhu lagi.” Ancam Friska melihat suaminya itu mendekat ke arahnya.
Rezky pun kembali terkekeh, “Kau sangat was-was padaku sayang.” ucap Rezky.
“Tentu saja aku harus was-was suamiku. Kau itu layak serigala lapar. Aku belum ingin menjadi santapanmu untuk saat ini karena kita harus ke bandara. Selain itu juga itu siang hari dan aku masih belum melakukan persiapan.” Ujar Friska.
Rezky yang mendengar tersenyum senang karena bisa membaca sebuah izin dari perkataan istrinya itu, “Apa itu berarti kita nanti ma—”
“Itu tergantung dengan kondisi dan keadaan nanti jika mendukung.” Potong Friska.
“Aku akan membuat kondisi dan keadaan yang mendukung. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.” Ucap Rezky tersenyum lalu dia segera menuju kamar mandi untuk berwudhu.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu mereka segera melakukan sholat bersama. Lalu segera melakukan check out hotel dan menuju bandara begitu Robi menjemput di depan sudah menunggu mereka.