Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
57


__ADS_3

Kini Friska dan Frisya sudah ada di dalam apartemen dengan Rezky dan Fazar yang juga ikut masuk ke dalam. Kedua laki-laki itu duduk di ruang tamu sambil memandangi sekeliling yang di mana semua barangnya teratur rapi dan bersih seolah menyatakan bahwa pemilik apartemen ini adalah gadis-gadis yang rajin dan rapi, “Kak minumnya. Maaf hanya seadanya.” Ucap Frisya menyajikan minum untuk kedua pria itu sementara Friska dia ada di dapur sedang merajik nasi goreng untuk makan siang sebelum nanti pergi ke pesta pernikahan yang akan di laksanakan pukul dua nanti.


Sekitar setengah jam akhirnya Friska selesai memasak nasi gorengnya yang kini sedang di tata oleh Frisya dengan meletakkan telur dan juga mentimun hingga terlihat seperti nasi goreng yang biasa di jual. Frisya pun segera membawanya ke meja makan sementara Friska dia sibuk membersihkan alat masak yang dia gunakan.


“Kak Fazar dan tuan Rezky ayo kita makan siang dulu.” Ucap Frisya mendekati dua lelaki yang sepertinya terlibat pembicaraan bisnis itu.


Fazar dan Rezky pun menengok ke arah Frisya lalu keduanya mengangguk dan mengikuti Frisya di meja makan, “Silahkan di makan. Maaf hanya seadanya.” Ucap Frisya berlalu ke dapur memanggil Friska.


Fazar dan Rezky yang di tinggalkan di meja makan mereka menatap nasi goreng itu dengan berbinar. Dari tampilannya terlihat biasa aja sama saja dengan tampilan nasi goreng di restoran dan bau harumnya sudah menggoda seolah meminta untuk di cicipi.


Frisya segera berjalan kembali ke meja makan dengan Friska di belakangnya lalu kedua gadis itu duduk berhadapan dengan dua pria di hadapan mereka. Friska segera mengambil makanannya lalu dia berdoa dan mulai makan, “Silahkan makan!” ucap Frisya lalu dia juga segera berdoa dan mulai makan.


Fazar dan Rezky pun mengangguk dan keduanya lalu segera berdoa dan memulai makan nasi goreng entah buatan siapa di antara dua orang di hadapan mereka. Fazar dan Rezky mulai memasukkan sendok berisi nasi goreng itu ke mult mereka dan begitu masuk ke dalam mulut mereka keduanya langsung meresapi rasa lezat dari nasi goreng itu. Mereka memuji kepandaian memasak gadis di hadapannya mereka karena rasa nasi goreng buatan mereka tidak kalah dengan nasi goreng yang di beli di restoran. Kedua pria itu mengakui bahwa kedua gadis di hadapan mereka sangat cocok untuk di jadikan istri. Selain memiliki pekerjaan dan karir yang sudah terjadi, mereka juga tahu ilmu agama serta pandai memasak. Walau sebenarnya pandai memasak itu bonus.

__ADS_1


Ke empat orang itu menikmati makan siang mereka dalam diam tanpa ada yang bicara satu sama lain. Jika Fazar dan Rezky yang sangat menikmati makanan mereka hingga keduanya diam saja sementara Frisya dia canggung untuk bicara karena dia tahu kakak keduanya itu tidak ingin bicara dan Friska seperti yang di pikirkan Frisya dia sangat gak mood untuk bicara karena sudah di rusak oleh Rezky tadi.


Setelah selesai makan siang, Friska dan Frisya mereka segera merapikan bekas makan siang mereka itu. Sementara Fazar dan Rezky mereka kembali duduk di ruang tamu, “Menurut anda siapa yang memasak nasi goreng itu tuan Rezky?” tanya Fazar karena dia juga penasaran siapa yang membuatnya.


Rezky yang mendapat pertanyaan yang sebenarnya ingin dia tanyakan juga bingung mau menjawab siapa, “Aku bingung entah siapa yang memasaknya. Pasalnya keduanya dari dapur tadi.” Balas Rezky.


Fazar pun mengangguk, “Anda benar.” ucap Fazar.


Frisya yang tidak sengaja mendengar itu tersenyum, dia yang masih membersihkan meja setelah selesai membersihkannya segera mendekati dua pria itu, “Anda tidak usah bingung pak dosen karena nasi goreng itu kakak kedua yang memasaknya.” Ucap Frisya lalu dia segera berlalu menuju dapur membantu Friska yang sedang mencuci piring.


Rezky hanya tersenyum mendengar kata pak dosen dari adiknya Friska sambil bertanya apa masalah yang terjadi antara dirinya dan Friska saat itu di ketahui oleh Frisya atau bisa jadi Freya juga mengetahuinya, “Ini tidak bisa di biarkan. Bisa-bisa aku tidak akan mendapat restu jika nyonya Freya mengetahui ini juga.” Batin Rezky.


Fazar yang melihat Rezky melamun dan tidak menjawab pertanyaan yang dia tanyakan pun hanya menghela nafas sepertinya pria di hadapannya itu yang dua tahun lebih dua darinya sedang memikirkan hal lain.

__ADS_1


***


Singkat cerita, kini Friska, Frisya, Fazar, dan Rezky sudah ada di parkiran apartemen, “Ikut saya Riska.” Ucap Rezky.


Friska yang di sebut namanya melihat sekilas ke arah Rezky, “Gak, saya akan menggunakan mobil saya saja. Risya ikut kakak.” Ucap Friska menatap adiknya.


“Maaf kak. Aku gak bisa ikut denganmu karena kakak ipar yang meminta kak Fazar untuk menjemputku dan kami memiliki tugas untuk menjemput kak Kiana juga dari salon kak Salwa.” Ucap Frisya.


“Kalau begitu kakak juga akan ikut kalian menjemput kak Kiana. Sudah jangan menolak kamu ikut mobil kakak.” Ucap Friska segera menuju mobilnya tapi juga belum sampai dia ke mobilnya Rezky langsung menarik lengan Friska menuju mobilnya, “Masuk Riska jika kau tidak ingin saya memaksamu masuk dengan menggendongmu.” Ucap Rezky. Friska pun hanya menghela nafasnya kasar lalu masuk ke mobil Rezky yang entah sejak kapan sudah ada di sana padahal tadi mereka tinggalkan di klinik. Setelah memastikan Friska masuk, Rezky segera menutup pintu mobil dan dia segera berlari ke pintu mobil sebelah dan masuk duduk di depan kemudi.


Frisya yang melihat bagaimana Rezky memaksa kakak keduanya itu hanya bisa menggeleng, “Pantas saja kak Ris membenci tuan Rezky ternyata dia suka memaksa.” Gumam Frisya lirih lalu dia juga segera masuk ke mobil Fazar.


Tidak lama kedua mobil itu segera meninggalkan apartemen dan menuju salon Salwa dengan mobil yang di naiki Fazar berjalan di depan dan mobil yang di naiki Rezky dan Friska mengikuti dari belakang. Selama perjalanan Friska tidak menatap sama sekali ke arah Rezky dia memilih menatap jalanan atau tidak menutup matanya karena lagi-lagi dia merasa kalah dengan paksaan laki-laki di sampingnya itu.

__ADS_1


Rezky hanya menghela nafasnya melihat apa yang di lakukan Friska yang sama sekali tidak menatapnya. Dia tahu gadis itu sangat membencinya dan mungkin juga marah dengan dua kali pemaksaan yang dia lakukan hari ini tapi jika dia tidak melakukan itu sudah pasti gadis itu kini tidak ada di mobilnya dan pasti akan pergi dengan mobilnya sendiri. Jadi jangan salahkan dia melakukan itu karena dia hanya berperang dengan keras kepalanya gadis disampingnya itu.


“Riska maaf!” ucap Rezky lirih nyaris tidak terdengar namun Friska mendengar itu tapi dia berpura-pura tidak mendengarnya. Dia hanya menutup matanya saja.


__ADS_2