
Kini Clemira dan ayah Jauzan sudah tiba di kediaman Freya. Freya memang sudah mewanti-wanti agar begitu Clemira sembuh dia harus tinggal kembali di kediaman nya. Alih-alih di apartemen tinggal sendiri karena Friska dan Frisya yang sudah memiliki keluarga kecil mereka masing-masing.
Freya itu adalah kakak yang protektif terhadap adik-adik nya. Dia tidak ingin adik-adik nya merasa kesepian, apalagi untuk Clemira yang berasal dari keluarga broken home. Clemira itu selalu jadi perhatian untuk Freya saat ini karena tinggal adik nya itu yang belum memiliki seseorang untuk melindungi nya di samping nya. Walaupun Freya tahu bahwa adik nya itu masih sangat muda untuk hal itu.
Freya segera menyambut kedatangan adik sepupu nya itu dengan paman nya. Dia tidak ke klinik hari ini karena memang dia sudah tidak rutin datang kesana. Dia datang ke sana tinggal beberapa kali saja. Jadwal nya tinggal tiga kali dalam seminggu, itu pun dia hanya memeriksa urusan administari dan manajemen klinik saja. Tidak lagi menangani pasien seolah apa yang sudah dia pelajari itu tidak berguna lagi.
“Bagaimana perasaanmu dek?” tanya Freya menatap Clemira dan segera menggandeng adik nya itu.
“Aku baik-baik saja kak. Aku sudah sembuh hanya perawat di sana saja yang seolah menahanku dengan membuat banyak alasan.” Jawab Clemira.
__ADS_1
Freya dan ayah Jauzan pun tersenyum saja mendengar ucapan Clemira, “Paman bagaimana keadaanmu? Apa tekanan darahmu terkontrol?” tanya Freya beralih kepada paman nya.
Ayah Jauzan pun mengangguk, “Paman menjaga nya dengan baik nak. Apalagi adikmu itu sudah mengirimkan obat aman untuk paman. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Jawab ayah Jauzan.
Freya yang mendengar itu pun mengangguk, “Syukur lah jika begitu.” Ucap Freya.
“Ehh … ayo kita makan dulu. Reya baru saja memasak.” Ucap Freya kemudian segera mengajak ayah Jauzan dan Clemira menuju meja makan.
“Kenapa? Apa tidak enak?” tanya Freya.
__ADS_1
Clemira menggeleng, “Ini enak kak. Hanya saja aku tidak napsu makan.” Jawab Clemira yang kemudian segera pamit beranjak dari sana menuju kamar nya.
Kini di sana tinggal lah Freya dan paman nya itu, “Paman … apa kau yakin akan melakukan itu? Bagaimana dengan bibi Gloria? Apa dia tidak keberatan?” tanya Freya saat paman nya itu selesai makan.
“Apa urusan nya dengan nya nak. Dia bahkan tidak peduli Clemira sakit. Jadi mana mungkin dia peduli dengan masa depan putri kami.” ucap ayah Jauzan.
“Paman tetap saja bibi Gloria adalah ibu dari Clemira. Dia berhak untuk hal ini. Aku juga yakin bahwa Clemira pasti ingin ibu dan ayah nya bersama nya saat dia melangsungkan sesuatu yang penting bagi hidup nya. Aku tahu hubungan paman dan bibi tidak baik. Tapi apakah paman dan bibi tidak bisa kah melepaskan keegoisan kalian dan bersama-sama mewujudkan kebahagiaan Clemira. Jujur saja paman aku sedih melihat nya yang kadang melamun sendiri. Aku tidak ingin menghakimi paman dan bibi hanya saja aku ingin adikku bahagia. Aku merasa kakak yang tidak bertanggung jawab saat melihat wajah sendu nya yang coba dia sembunyikan di balik tawa nya.” tutur Freya.
Ayah Jauzan pun menghela nafas, “Paman memang salah nak. Tapi paman mencoba memperbaiki itu. Paman pun tidak ingin hal ini terjadi. Tapi apa boleh buat semua sudah jadi kehendak takdir yang tidak bisa di tolak. Paman hanya ingin bahagia untuk putri paman saja.” ujar nya.
__ADS_1
“Aku mengerti paman. Aku akan ikut membantu jika dia pun serius dengan Clemira.” Ucap Freya.