
Kini Fazar sudah tiba di pantai yang di tuliskan di kertas pemberian calon kakak iparnya. Seperti yang sudah di pesan oleh Freya kepada nya. Jangan langsung menemui calon istri nya itu. Biarkan dia menikmati waktu nya yang akan berakhir sebentar lagi.
Fazar pun menuruti perkataan Freya itu walaupun dia sangat ingin menemui Frisya yang sudah di depan matanya tapi dia tahan demi kesenangan gadis itu yang masih ingin menikmati waktu liburnya. Sungguh, Fazar bersumpah akan segera menikahi gadis itu nanti. Dia akan mempercepat pernikahan nya itu. Dia akan meminta bantuan kepada Freya dan Alvino.
Fazar menunggui Frisya di sana di dalam mobil nya, hanya mengamati dari jauh sampai waktu yang di tentukan tiba. Sungguh, Fazar selalu melihat jam di tangannya itu seolah tidak ingin melewatkan waktu sedetik saja dari waktu yang menjadi perjanjian antara Freya dan Frisya itu yang hanya di beri waktu tiga hari saja.
“Kenapa waktu satu detik terasa sangat lama sekarang.” Ucap Fazar kesal karena menurut nya dia sudah lama menunggu tapi waktu masih menunjukkan bahwa dia belum sejam berada di sini.
Sementara di sisi Frisya, dia yang sedang berjemur membuka foto di galeri ponsel nya dan melihat foto lamaran dan foti pra wedding yang sudah dia lakukan bersama Fazar, “Aku akan kembali kak. Maaf sudah membuatmu merindukanku. Aku akan segera bersiap pulang. Sudah cukup drama yang kakak ciptakan untuk menguji cintamu untukku.” Ujar Frisya sambil mengusap foto Fazar di layar ponsel nya itu.
Yah, memang Frisya sudah tahu bahwa semua itu hanya rencana kakak nya saja. Rencana pengujian cinta yang sangat aneh menurut nya. Dia bahkan sempat percaya bahwa calon suami nya itu selingkuh dan membuat lari tanpa mendengar penjelasan apapun. Lalu setelah semua nya terbukti dia justru masih di sini memanfaatkan rencana kakak nya itu untuk berlibur sebelum nanti dia akan menjadi seorang istri.
Frisya memang kekanakan dan tanpa pikir panjang serta tidak mendengar penjelasan apapun dia pasti akan pergi menjauh sementara dari masalah yang menimpa nya. Bagi nya adalah menenangkan diri itu yang paling utama untuk penyelesaian masalah nya nanti saja. Kesehatan mental nya selalu dia utamakan sebelum menyelesaikan masalah yang akan menimpa nya. Tapi di antara dia dan Friska dia terkadang lebih peka dan mengerti kakak sulung mereka itu. Dia bisa menebak dengan mudah bahwa ini adalah rencana kakak nya sementara Friska sampai saat ini dia juga belum tahu bahwa apa yang terjadi di bandara dan foto waktu itu adalah bagian dari rencana kakak sulung mereka untuk menguji pasangan suami mereka.
Frisya segera beranjak dari tempat nya berjemur dan segera menuju vila untuk bersiap pulang. Dia yakin pasti ada bodyguard kakak ipar nya di sekitar sini mengawasi nya. Jadi untuk pulang nanti dia tidak perlu pusing bagaimana nanti karena pasti semua akan datang saat dia membutuhkan nya.
“Mau kemana dia?” tanya Fazar memandangi Frisya yang meninggalkan pantai.
Fazar pun segera turun dari mobil nya dan mengikuti dari jauh ke mana calon istri nya itu pergi, “Ouh seperti nya dia mau ke vila. Tapi untuk apa?” tanya Fazar pada diri nya sendiri.
“Astaga Fazar, kepada siapa kau menanyakan hal itu. Di sini hanya ada kau saja. Dasar aneh kau Fazar.” Ucap Fazar pada diri nya sendiri saat sadar bahwa dia bicara sendiri.
Sementara di sisi Frisya yang sudah tiba di vila nya dia pun menoleh ke belakang, “Kenapa aku merasa seperti sedang di ikuti oleh seseorang ya?” ujar Frisya melihat sekeliling nya tapi tidak menemukan apa pun.
“Hmm, mungkin hanya perasaanku saja. Mana mungkin ada yang mengikutiku tapi jika yang menjagaku dari jauh pasti ada yaitu anak buah kakak dan kakak ipar. Mungkin mereka. Dasar firasat yang tidak bisa di andalkan.” Ucap Frisya pada diri nya sendiri sambil menepuk kening nya sendiri.
Sungguh, mereka benar-benar pasangan yang mirip karena sama-sama bicara sendiri. Itu adalah kesamaan mereka yang pertama.
Frisya pun segera masuk ke dalam vila lalu dia segera merapikan pakaian yang dia bawa yang hanya berjumlah satu set itu yang lain nya dia membeli di sini dengan tentu nya uang pemberian kedua kakak nya dari Freya dan Friska yang mengirimkan uang kepada nya melalui atm.
Sekitar kurang setengah jam saja, Frisya keluar dengan tas sedang di tangan nya dan dia pun segera melakukan pembayaran kepada pihak vila. Fazar terus mengikuti calon istri nya itu.
“Mau kemana dia? Kenapa membawa tas? Apa dia mau pulang atau mau pindah ke tempat wisata yang lain.” Ucap Fazar yang masih tetap mengawasi dari jauh calon istri nya itu.
Frisya yang selesai melakukan pembayaran pun segera berjalan keluar meninggalkan vila dan melihat sekeliling pantai itu. Dia meraih ponsel nya dan terlihat sedang menghubungi seseorang.
Di sisi Fazar, kini ponsel nya berdering dan itu panggilan dari Frisya. Seperti nya nomor nya itu sudah tidak di blokir lagi oleh gadis itu. Fazar pun segera menjawab panggilan Frisya itu dengan terus menatap Frisya yang tidak jauh dari nya. Sempat tadi dia berpikir bahwa calon istri nya itu menelpon orang lain tapi seketika dia tersenyum karena ternyata yang di hubungi oleh gadis itu adalah diri nya.
“Halo, Assalamu’alaikum dek!” salam Fazar senang.
“Wa’alaikum salam kak. Jemput aku kak. Aku akan mengaktifkan GPS ponselku.” Ucap Frisya lalu setelah mengatakan itu sambungan pun terputus.
__ADS_1
Fazar yang melihat ponsel nya sudah mati tersenyum mendengar ucapan Frisya. Dia pun tanpa menunggu waktu yang lama pun segera mendekati calon istri nya itu dengan langkah yang cepat terlihat sedikit berlari.
Frisya yang menatap pantai di hadapan nya tidak menyadari kedatangan calon suami nya itu, “Hey, cantik apa aku bisa duduk di sini.” Ucap Fazar langsung berdiri di samping Frisya itu.
Frisya yang mengenal suara calon suami nya itu pun segera menengadah ke arah sumber suara dan seketika dia tersenyum melihat siapa yang berdiri di samping nya. Dia berdiri dengan di bantu oleh Fazar di lengan nya yang pasti nya terlapis kain sebagai penghalang agar kulit mereka tidak bersentuhan secara langsung.
“Kak Fazar, jadi kau di sini? Sejak kapan?” tanya Frisya tidak menyangka bahwa laki-laki yang di hubungi tidak sampai semenit yang lalu itu kini berada di hadapan nya.
Fazar yang mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Frisya pun tersenyum lalu melihat jam tangan nya, “Sejak 56 menit 17 detik yang lalu.” Jawab Fazar.
Frisya yang mendengar jawaban yang di berikan Fazar itu pun terkekeh, “Sangat lengkap kak. Kenapa tidak langsung menemuiku jika memang sudah berada di sini sejak tadi.” Ucap Frisya.
“Aku ingin memberimu waktu untuk menikmati waktumu sendiri sebelum menjadi istriku. Aku juga tidak ingin janji yang kau buat dengan kakakmu itu di ingkari.” Ucap Fazar.
Frisya pun tersenyum sambil mengangguk-ngangguk, “Hum, benar juga. Tapi tetap saja kak Reya mengingkari janji nya dengan memberitahu kan kepada kakak aku berada di mana, Aku akan membuat perhitungan nanti dengan nya.” Ucap Frisya.
Fazar pun tersenyum, “Ayo kita pulang.” Ucap Fazar.
Frisya pun mengangguk, “Ayo!” ujar Frisya. Lalu setelah itu kedua nya pun segera menuju mobil Fazar.
Fazar segera membukakan pintu untuk calon istri nya itu lalu tidak lama setelah itu mobil pun melaju meninggalkan pantai A itu.
Dalam perjalanan kedua nya saling bercerita satu sama lain seperti tidak ada masalah yang terjadi di antara kedua nya. Frisya yang tidak menanyakan apa pun terkait gadis yang bersama calon suami nya waktu itu dan begitu juga Fazar yang tidak ingin membahas masalah itu, “Hum, dek apa kamu ingin pergi ke mana dulu begitu?” tanya Fazar.
“Kemana dulu sebelum kita pulang.” Ucap Fazar.
“Hum, terserah kakak saja mau membawaku kemana. Aku akan menerima nya asal kan bukan tempat maksiat.” Timpal Frisya.
Fazar pun mengangguk lalu Fazar pun segera melajukan mobil nya menuju salah satu restoran yang akan mereka lewati nanti. Restoran dengan tiga bintang dan terkenal dengan makanan hidangan laut nya yang segar-segar karena memang di dekat laut.
***
Sementara di kediaman Friska dan Rezky yang berdiri tepat di samping kediaman orang tua Rezky itu. Kediaman yang dulu nya milik tetangga Rezky itu tapi di beli dengan harga mahal dan beberapa sudut di modifikasi sesuai dengan keinginan Friska dan Rezky sebagai pemilik kediaman yang baru.
Friska sebenar nya tidak keberatan tinggal bersama mertua nya itu tapi Rezky tahu dan paham walau bagaimana pun seakrabnya istri dan ibu nya tetap saja tidak boleh satu rumah memiliki dua ratu yang pasti nya akan memiliki sudut pandang masing-masing.
Sementara jika mereka membeli kediaman di kawasan Kiana dan Zean hal itu lumayan jauh sekitar 15 menit dari kediaman orang tua Rezky. Friska sadar bahwa suami nya itu adalah anak tunggal yang pasti nya mami Jasmin dan papi Harry akan merasa sedih jika harus tinggal berjauhan dengan putra mereka walaupun mereka tidak mengatakan nya secara langsung. Tapi Friska tahu itu.
Jadi pada akhirnya keputusan itu lah yang mereka ambil yaitu memiliki kediaman tepat di samping kediaman papi Harry dan mami Jasmin seperti kediaman Freya dan Alvino yang juga saling terhubung dengan kediaman orang tua Alvino.
“Bie, aku pengen makan ice cream rasa vanilla.” Ucap Friska manja pada suami nya itu.
__ADS_1
Rezky yang mendengar permintaan istri nya pun seketika menatap Friska dalam, “Vanila? Bukan kah kamu tidak suka rasa vanilla sayang?” tanya Rezky memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
Friska pun menatap suami nya itu dengan tatapan memelas nya, “Iya bei. Aku menginginkannya. Sungguh.” Ucap Friska.
Rezky pun akhirnya mengangguk percaya, “Baiklah. Jika memang begitu. Aku akan meminta bibi untuk membelikan nya.” Ucap Rezky hendak memanggil ART di kediaman mereka itu.
Friska menggeleng, “Jangan bie. Aku ingin membeli nya sendiri. Aku ingin memilih nya sendiri.” Ucap Friska.
Rezky pun kembali mengangguk, “Hum, baiklah jika memang begitu. Ya sudah ayo kita pergi.” ucap Rezky.
Friska pun mengangguk tersenyum lalu segera berlari menuju kamar utama untuk mengganti pakaian nya. Rezky yang melihat itu pun hanya tersenyum dan mengikuti istri nya itu.
“Kenapa dia semakin menggemaskan sih. Di lihat-lihat seperti nya bentuk tubuh nya itu bertambah.” Ucap Rezky yang menyadari tubuh Friska yang lumayan berisi dari sebelumnya. Tapi Rezky tidak mempermasalahkan bagaimana istri nya itu nanti. Bagi nya Friska tetap lah sama di mata nya apapun nanti bentuk tubuh istri nya itu.
Singkat cerita, kini mereka sudah tiba di supermarket terbesar di kota itu yang ternyata itu adalah bagian dari usaha milik Rezky sendiri.
Mereka memutuskan ke supermarket sekalian juga untuk belanja bulanan selain membeli ice cream rasa vanilla untuk Friska itu. Begitu masuk ke super market Lila segera mencari letak ice cream dan melihat semua varian yang rasanya vanilla.
“Bie, aku mau yang ini tapi aku juga ingin mencoba yang lain nya. Untuk saat ini aku mau ini dulu.” Ucap Friska lalu segera mengambil satu ice cream itu dan langsung memakan nya di sana dan mencari tempat duduk.
Rezky yang melihat istri nya yang sangat bahagia menikmati ice cream rasa vanilla yang awal nya tidak dia sukai dan kini jadi dia sukai itu hanya bisa menggeleng, “Apakah semua wanita memiliki rasa favorit saat mood mereka berubah.” Gumam Rezky tapi dia segera meminta seseorang untuk membungkus semua varian ice cream rasa vanilla itu untuk ke kediaman nya.
“Sudah atau masih mau lagi. Tapi cukup ya. Aku gak mau kamu sakit karena banyak mengonsumsi es.” Ucap Rezky.
Friska pun hanya tersenyum lalu mengangguk saja, “Ayo kita belanja.” Ucap Friska segera menggandeng suami nya itu.
Rezky pun hanya tersenyum dan segera mengambil alih mendorong troli sementara Friska yang memilih dan memilah barang belanjaan mereka. Sekitar satu jam mereka belanja di sana dan akhirnya selesai juga.
“Bie, kita singgah ke apotik dulu yaa. Aku mau membeli sesuatu. Aku sudah tidak punya persediaan nya di rumah kita karena hanya mengandalkan klinik.” Ucap Friska.
“Mau membeli apa di apotik?” tanya Rezky.
“Hum, itu bie. Aku ingin membeli tespeck.” Jawab Friska.
“Tespeck untuk apa?” tanya Rezky lagi.
“Untuk mengecek kehamilan tentu saja bie.” Jawab Friska sedikit kesal dengan suami nya itu.
“Iya tapi kehamilan siapa? Emang siapa yang akan kau periksa?” tanya Rezky lagi.
“Tentu saja aku bie. Aku ingin memastikan apa aku sedang hamil atau tidak. Aku mengalami tanda-tanda kehamilan akhir-akhir ini. Tapi ya itu jangan dulu berharap. Ini baru tebakanku saja bie.” Ucap Friska yang begitu melihat senyum di bibir suami nya itu.
__ADS_1
“Semoga saja ada. Aku ingin jadi ayah secepatnya tapi jika belum juga tidak masalah. Kita akan usaha lagi.” Ucap Rezky tersenyum.
Friska pun tersenyum lalu mengusap perut rata nya itu dan berharap semoga saja dugaan nya itu benar bahwa saat ini dia sedang mengandung karena sejujur nya dia pun sangat ingin memiliki anak seperti suami nya itu.