Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
196


__ADS_3

Kini di halaman kediaman mama Najwa dan papa Khabir itu di mana tenda pernikahan berdiri baru saja keluarga mempelai laki-laki tiba dan langsung di sambut dengan prosesi adat tentu nya.


Fazar segera di bawa ke meja akad di mana di sana sudah ada dua orang saksi yang bertugas dan penghulu juga sudah tiba bersamaan dengan kedatangan Fazar dan keluarga nya. Papa Khabir juga sudah di sana duduk berhadapan dengan calon menantu nya itu. Papa Khabir tersenyum menatap Fazar. Dia tidak menyangka bahwa jodoh putri kecil nya adalah pria yang sangat dia kenal dan cukup akrab dengan nya karena merupakan asisten dari menantu sulung nya.


Akad pernikahan akan di mulai sebentar lagi tapi mereka masih mempersiapkan segala nya dan menyelasaikan prosesi rangkaian adat sebelum waktu akad tiba.


Sementara di kamar Frisya dia semakin gugup saat kakak sulung nya mengatakan bahwa rombongan Fazar sudah tiba di kediaman dan kini sedang dalam persiapan untuk akad nanti.


Frisya melihat jam di dinding kamar nya itu yang menunjukan seperempat lagi waktu akad yang di tentukan akan di mulai.


“Hey, jangan gugup begitu dek. Ini normal. Santai saja seperti kau selalu mengatasi kegelisahanmu selama ini. Tersenyum lah.” Ucap Friska.


“Kak Ris sudah tahu aku sedang gugup masih saja menggodaku. Sudah. Jangan menggodaku lagi.” Ucap Frisya menutup mata nya itu mencoba untuk fokus dengan istiqfar dan sholat nya.


Friska pun tertawa melihat adik nya itu, “Sudah. Jangan ganggu adik kita Riska. Kau juga pasti tahu bagaimana di posisi adik kita itu.” ucap Freya.


“Heheh, baiklah. Tapi entah kenapa aku suka sekali menggoda nya. Aku ingin menggoda nya. Aku pikir dia yang biasa nya ceria dan tidak tertutup sama sekali itu akan biasa saja tidak akan gugup. Tapi ternyata gugup juga.” Ucap Friska.


“Kira-kira apa yang kamu pikirkan dek? Hum, biar kakak tebak pasti kau sedang memikirkan jangan sampai Fazar salah mengucap ijab qabul. Iya kan?” sambung Friska menebak apa yang ada di kepala adik nya itu. Sejujur nya saat dia menikah pun itu yang dia pikirkan. Dia khawatir akan hal itu. Dia berdoa agar suami nya itu tidak salah mengucap ijab qabul dan seperti nya itu juga yang di pikirkan oleh adik nya.


“Kak Ris kau sok tahu.” Ucap Frisya masih saja menutup mata nya mencoba fokus kembali. Harus dia akui bahwa tebakan kakak kedua nya itu tembus. Itu lah yang dia khawatirkan saat ini. Walaupun dia yakin bahwa Fazar tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Hal yang akan membuat nya malu sendiri. Namun tetap saja dia juga khawatir apa yang akan terjadi nanti. Dia tidak akan bisa membayangkan jika apa yang dia takutkan itu beneran terjadi. Calon suami nya itu salah dalam mengucap ijab qabul. Bukan hanya Fazar saja yang malu tapi dia juga. Tapi semoga saja hal itu tidak akan terjadi. Semoga saja apa yang dia takutkan itu tidak akan terjadi. Semoga saja. Semua hanya bisa menjadi doa dan harapan saja.


Kembali ke sisi Fazar, saat ini penghulu itu sudah memulai doa untuk ijab qabul nya.


“Apakah sudah siap nak Fazar?” tanya penghulu kepada Fazar.


“Siap pak.” Jawab Fazar tegas.


Penghulu pun tersenyum lalu segera menanyakan kesiapan papa Khabir yang bertindak sebagai wali nikah. Papa Khabir tentu saja menjawab siap. Lalu setelah Fazar dan papa Khabir siap akhirnya penghulu pun segera meminta mereka untuk berjabatan tangan satu sama lain.


Papa Khabir segera tersenyum menatap Fazar lalu mereka pun saling berjabatan tangan. Papa Khabir bisa merasakan telapak tangan calon menantu nya itu yang dingin. Pasti gugup. Papa Khabir pun menggenggam erat tangan Fazar seolah memberikan kekuatan agar gugup nya hilang dan agar tidak ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang tidak di inginkan.


Lalu tidak lama kemudian ijab qabul itu segera di mulai. Papa Khabir kembali tersenyum menatap calon menantu nya itu sebelum dia memulai ijab qabul nya. Dia memastikan bahwa calon menantu nya itu sudah siap.


“Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Mohammad Fazar Yahya bin Yahya Hakim dengan putri kandung perempuan saya yang bernama Frisya Nur Sadila Abraham binti Khabir Putra Abraham dengan mas kawin uang tunai sebesar 100.000 US dollar dan 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Frisya Nur Sadila Abraham binti Khabir Putra Abraham dengan mas kawin tunai uang sebesar 100.000 US dollar dan 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.” Ucap Fazar dalam satu tarikan nafasnya.


“Gimana para saksi sah?” tanya penghulu dan langsung mendapat jawaban sah dari kedua saksi pernikahan itu dan semua tamu yang hadir dalam proses akad. Penghulu pun segera mendoakan pernikahan Fazar dan Frisya itu.


Fazar pun mengucap syukur sebanyak-banyak nya atas kelancaran mengucap ijab qabul itu. Tadi dia sangat mengkhawatirkan hal itu tapi kini akhirnya dia bisa bernafas lega yang semua nya sudah baik-baik saja. Dia sudah menjadi suami dari gadis yang dia kagumi dalam diam selama ini. Dia sudah memiliki status baru sebagai suami dari Frisya Nur Sadila Abraham, gadis pilihan nya yang di restui oleh kedua orang tua nya juga.


Fazar menatap ayah dan ibu nya yang tersenyum bangga pada nya seolah mereka mengatakan bahwa sangat bangga karena putra mereka itu tidak membuat kesalahan dalam akad pernikahan nya. Tentu saja hal itu juga sudah di antisipasi oleh Fazar sebelum nya. Dia bisa gugup tapi jangan sampai kegugupan nya itu merusak akad pernikahan nya.


Setelah doa ijab selesai yang menyatakan bahwa Fazar dan Frisya sudah resmi sebagai suami istri. Mama Najwa pun segera memberi kode kepada Freya yang ada di sana juga untuk segera membawa Frisya ke sini.


Freya yang mengerti kode dari mama nya pun segera mengangguk dan berdiri masuk ke dalam kediaman lebih tepat nya ke kamar sang adik. Begitu dia masuk Friska, Kiana dan Irma yang menemani Frisya bergantian mengucapkan selamat kepada adik mereka itu.


“Ayo dek. Kita temui suamimu.” Ucap Freya mendekati adik bungsu nya itu yang sudah resmi menyandang status baru nya sebagai seorang istri.


Frisya pun menatap Freya lalu menerima uluran tangan kakak nya itu dan dia segera berdiri. Setelah itu dia juga menggenggam tangan Friska kakak kedua nya. Freya dan Friska memang yang bertugas untuk mengantar nya ke pelaminan menemui suami nya sama seperti pernikahan kedua kakak nya itu sebelum nya di mana dia juga sebagai penggiring pengantin. Jadi kali ini kedua kakak nya juga yang harus melakukan itu.


Frisya dengan di apit oleh Freya dan Friska, ketiga bersaudara itu pun segera keluar menuju pelaminan di mana di sana para tamu undangan, para keluarga dan terutama suami nya menunggu kedatangan nya. Kiana dan Irma juga ikut dari belakang tapi mereka tidak sampai mengantar ke pelaminan. Mereka hanya sampai di setengah jalan saja dan segera bergabung dengan keluarga di sana.


Kini Frisya dengan di apit oleh kedua kakak nya sudah berada di hadapan Fazar yang sudah mengulurkan tangan nya menyambut istri nya itu. Istri yang membuat nya pangling karena cantik nya setelah di make up khas pengantin. Selama ini dia hanya melihat gadis itu dalam keadaan make up natural saja yang apabila di lihat dari jauh tidak terlihat sama sekali bahwa dia sedang memakai make up karena saking natural nya.


Freya dan Friska segera menyerahkan tangan adik bungsu mereka itu kepada Fazar. Lalu Fazar menggenggam nya dan tangan satu nya lagi dia letakkan di kepala Frisya dan memulai berdoa dengan Frisya yang tentu saja mengaminkan nya. Setelah itu Fazar melabuhkan satu kecupan lembut di kening Frisya dan Frisya juga segera mencium punggung tangan suami nya itu. Bener-benar sentuhan pertama kali yang penuh dengan hikmat.


Setelah itu pun acara pernikahan segera di lanjutkan dengan bertukar cincin nikah satu sama lain lalu setelah itu kedua nya segera menandatangani berkas nikah dan terakhir tentu saja pengambilan sesi foto yang tidak boleh ketinggalan karena pernikahan adalah sekali seumur hidup jadi patut di abadikan agar kelak anak dan cucu bisa melihat nya. Fazar dan Frisya dua kali mengganti pakaian mereka itu sebelum nanti resepsi pernikahan yang juga akan di laksanakan di gedung yang sama saat pernikahan Friska dan Freya juga Irma.


***

__ADS_1


Kini Frisya dan Fazar sedang berada di kamar Frisya setelah tadi semua rangkaian adat dan pengambilan foto bersama. Mereka pun beristirahat sebentar di kamar sebelum nanti berangkat ke gedung untuk acara resepsi mereka.


“Kak!” ucap Frisya canggung karena jujur saja dia merasa aneh saat ada seorang pria di kamar nya. Dia merasa sangat canggung dan tidak terbiasa akan hal itu.


Fazar pun menoleh dan menatap istri nya itu. Dia tahu istri nya itu merasa sangat canggung sekarang sama dengan nya yang juga merasakan hal itu. Walaupun mereka sebelum nya sudah saling kenal dan dekat satu sama lain tapi ternyata tetap saja canggung setelah menikah, “Ada apa? Apa kau canggung?” tanya Fazar menatap istri nya itu yang sudah menghapus make up di wajah nya setelah tadi bertukar pakaian dan setelah mereka melaksanakan sholat sunah dua rakaat bersama.


Frisya pun mengangguk, “Hum, benar sekali. Aku sangat canggung kak.” Ucap Frisya.


“Aku merasa ini memang bukan diriku tapi memang itu lah yang aku rasakan. Aku sangat gugup dengan hal itu.” sambung Frisya.


Fazar pun tersenyum lalu mendekati istri nya itu dan membawa Frisya ke dalam pelukan nya. Dia tahu hal ini tidak akan mengurasi rasa canggung tapi tentu saja hal ini akan membuat mereka terbiasa bersentuhan satu sama lain. Sebuah pelukan lembut itu harus dia lakukan agar mereka tidak akan kaku nanti. Hal itu juga harus dia sendiri yang memulai nya karena tidak mungkin dia menunggu inisiatif istri nya.


[Jika ingin hubungan kalian maju dan tidak kaku setelah menikah kau harus membuat nya nyaman dan tidak canggung lagi denganmu. Tidak ada yang salah dengan memeluk lebih dulu atau mungkin mencium lebih dulu selama itu untuk kebaikan. Maka tidak ada yang salah. Kita sebagai kaum pria memang harus memulai. Jangan kaku.] itu adalah pesan Alvino kepada nya kemarin sebelum dia pergi dari kediaman.


Frisya yang berada di pelukan suami nya itu jujur saja kaget setengah mati begitu menyadari apa yang mereka lakukan saat ini. Memang hanya pelukan saja tapi membuat jantung nya tidak aman. Jantung nya berdetak kencang bahkan dia sampai takut jika suara detak jantung nya itu bisa di dengar oleh suami nya dan seperti memang benar, suami nya itu bisa mendengar nya sama seperti diri nya yang juga bisa mendengar dan merasakan bahwa jantung suami nya itu juga berdetak kencang sama seperti diri nya.


Cukup lama Fazar memeluk istri nya itu sampai membuat jantung mereka masing-masing berdetak dengan normal lagi. Mungkin sebuah kenyaman itu sudah tercipta dan kecanggunggan mulai menghilang. Frisya sendiri juga membalas pelukan suami nya itu walau pun tidak erat tapi itu tetap saja sebuah pelukan bukan.


“Aku sudah tenang?” tanya Fazar menatap istri nya itu dan melepas pelukan nya.


Frisya pun menganggu malu.


“Kau menggemaskan istriku.” Ucap Fazar. Lagi-lagi Frisya hanya tersenyum mendengar panggilan istriku itu keluar dari bibir suami nya. Panggilan istriku terdengar sangat romantis.


Sepasang suami istri itu pun akhirnya sebelum mengistirahatkan tubuh. Mereka makan dulu baru lah istirahat sebentar.


***


Singkat cerita, kini mereka sudah ada di gedung dan Frisya sudah siap dengan gaun mewah nya itu. Mereka tinggal menunggu instruksi agar segera menuju pelaminan. Semua tamu dan kolega bisnis sudah hadir. Sama seperti pernikahan sebelum nya tamu nya juga banyak yang hadir.


Frisya sampai pegal berdiri dan menyunggingkan senyum nya. Frisya sudah mengganti higheels yang dia pakai itu dengan sepatu dengan sol tinggi yang sudah di siapkan suami nya sebelum nya. Untung saja suami nya itu sudah peka atau mungkin sudah berpengalaman sehingga semua nya sudah di siapkan sebelum nya.


“Aku tidak menyangka apa yang di katakan oleh kak Ris dan Irma itu benar. Aku kini merasakan nya. Seperti nya rahangku itu jadi kaku dan tidak bisa kembali ke normal lagi karena saking banyak nya tersenyum.” ucap Frisya berbisik pada suami nya itu.


“Bagaimana cara nya?” tanya Frisya penasaran.


“Ada itu rahasia. Kamu akan tahu nanti.” Ucap Fazar.


Frisya pun mencoba memikirkan nya lalu seketika wajah nya memerah saat memikirkan kemungkinan cara yang di maksud oleh suami nya itu.


“Ck, dasar mesum.” Ujar Friska.


Fazar yang mendengar itu pun tersenyum, “Mesum? Siapa yang kau sebut mesum sayang? Apa aku? Apa yang sebenar nya kau bayangkan sehingga sampai mengatai aku mesum begitu sayang?” tanya Fazar berbisik.


“Ck, gak ada. Sudah anggap saja aku tidak mengatakan apapun. Jangan di pikirkan.” ucap Frisya.


“Hee’ehh bagaimana tidak di pikirkan. Aku janji sayang akan mewujudkan apa yang ada dalam pikiranmu itu tapi nanti ketika kita sudah berada di kamar.” Ucap Fazar.


“Kaak!” ucap Frisya malu menyembunyikan wajah nya itu di balik jas suami nya. Fazar pun hanya terkekeh dengan apa yang di lakukan oleh istri nya itu.


“Kira-kira apa yang mereka bicarakan itu sehingga Frisya harus malu seperti itu?” tanya Friska kepada sang suami yang duduk di samping nya.


“Menurutmu apa sayang?” tanya Rezky balik.


“Ck, aku bertanya lebih dulu. Itu berarti bie wajib menjawab pertanyaanku itu itu. Bukan balik bertanya padaku. Jika aku tahu maka aku tidak akan bertanya.” Ucap Friska dengan mengerucutkan bibir nya itu tanda sedang kesal.


Rezky pun terkekeh, “Hum, maaf sayang. Seperti nya Fazar menggoda adik ipar. Mungkin mereka sedang membahas hal yang berbau ranjang.” Ucap Rezky mengutarakan pendapat nya.


“Ck, bie kau mesum.” Ucap Friska lalu dia segerariska lalu dia segera berdiri dan mendekati Freya dan Kiana yang sedang bicara.


Rezky yang melihat itu pun hanya bisa menggelengkan kepala nya saja. Seperti biasa perempuan itu sulit di tebak kemauan nya. Jika tidak di jawab maka pasti salah lalu jika di jawab juga masih salah dan justru di katai mesum padahal sudah jujur. Memang serba salah sekali. Rezky pun hanya bisa menarik nafas kasar.

__ADS_1


***


Kini Frisya dan Fazar sedang berada di ruangan yang berada di gedung itu. Tempat di mana tadi Frisya di rias. Frisya dan Fazar pun segera bertukar pakaian dengan mengantri satu sama lain kamar mandi karena mereka masih malu tentu saja jika harus melepas pakaian di sini saling melihat satu sama lain.


Setelah berganti pakaian. Frisya sibuk dengan pakaian nya dan barang nya yang lain yang dia bawa ke sini. Dia merapikan nya di dalam koper hingga tiba-tiba ada yang mengetuk yang ternyata itu adalah Friska dan Rezky.


Keluarga lain sudah pulang begitu juga kedua orang tua mereka yang sudah pulang lebih dulu tadi setelah berpamitan. Frisya dan Fazar pun berpikir bahwa Rezky dan Friska sudah pulang tapi ternyata tidak.


“Bisa kah kami masuk?” tanya Friska di depan pintu begitu Frisya membuka nya.


Frisya pun mengangguk, “Hum, tentu saja. Ayo masuklah.” Ucap Frisya.


“Salah dek. Seharusnya kau tidak mengizinkan kami masuk. Ahh sudahlah kami tidak akan basa basi lagi. Sudah cukup. Kami ke sini ingin memberikan ini. Hadiah kecil dari kami sebagai hadiah malam pertama untuk kalian.” ucap Friska membelikan kartu akses kamar hotel.


Frisya pun tersenyum dan menerima hal itu, “Terima kasih!” ucap Frisya.


Friska tersenyum lalu memeluk adik nya itu, “Sama-sama. Selamat membuat projek karya kalian. Aku harap kau segera mewujudkan apa yang ku inginkan. Kita bisa hamil bersama-sama.” ucap Friska berbisik. Frisya pun hanya tersenyum saja.


Tidak jauh berbeda dengan Friska dan Frisya. Rezky juga melakukan hal yang sama membisikkan sesuatu kepada Fazar yang hanya di tanggapi dengan senyuman saja sama seperti Frisya menanggapi ucapan kakak kedua nya itu.


“Hum, ya sudah kami pamit. Selamat bersenang-senang. Selamat menikmati malam pertama kalian dengan indah.” Ucap Friska lalu setelah itu pun pasangan suami istri itu pun segera melenggang pergi meninggalkan sepasangan pengantin baru.


Setelah setengah jam kemudian. Setelah memastikan bahwa tidak ada lagi yang tertinggal di ruangan itu. Mereka pun segera meninggalkan ruangan itu dan menuju parkiran di mana di sana sudah ada mobil yang menunggu mereka dan siap mengantar ke tempat tujuan yaitu hotel.


***


Lima menit kemudian, akhirnya mereka tiba di hotel dan kedua nya pun segera menuju kamar yang di maksud dengan di tuntun oleh salah satu pegawai hotel yang ada di sana.


Begitu masuk seperti biasa kamar special untuk malam pertama yang sangat identik dengan mawar merah dan lilin segera menyambut kedatangan mereka itu.


Frisya dan Fazar pun tersenyum melihat itu. Suasana romantis bisa terlihat dari sana.


“Benar-benar terencana.” Ucap Frisya.


Seperti Friska dan Irma, Frisya juga mengambil foto di sana. Foto seluruh ruangan itu dan tidak lupa juga mengambil foto bersama suami sendiri.


Setelah lelah mengambil foto akhirnya mereka pun segera tidur tapi tentu saja sebelum tidur kedua nya membersihkan diri dulu masing-masing.


Awal nya mereka canggung saat tidur seranjang itu tapi lagi-lagi Fazar mengambil inisiatif lebih dulu dengan segera membawa istri nya itu ke dalam pelukan nya, “Tidur lah. Saya mengantuk.” Ucap Fazar dengan memeluk Frisya erat.


Frisya yang tegang pun mulai bersikap normal dan membiasakan diri tidur dalam pelukan suami nya itu. Dia mulai memenjamkan mata nya dan tidak lama setelah itu pun dia segera terlelap seolah ketegangan yang awal nya melanda nya hilang seketika di telan kenyamanan yang di tawarkan oleh tubuh suami nya itu. Sungguh sangat nyaman. Mereka menemukan kenyamanan masing-masing. Pasangan pengantin baru itu pun akhir nya tertidur dengan nyaman nya.


Tapi tepat pukul setengah tiga dini hari, Fazar membuka mata nya karena memang biasa nya di waktu-waktu seperti itu dia melakukan sholat malam meminta agar di jodohkan dengan gadis yang kini ada dalam pelukan nya itu. Dia tidak menyangka bahwa permintaan nya itu di ijabah oleh Allah dengan mengirimkan gadis yang dia ingin jadi istri nya.


“Sangat cantik!” ucap Fazar memandangi wajah istri nya itu yang sedang tertidur. Fazar menyentuh bulu mata lentik milik istri nya.


“Ck, aku ingin mencium nya.” Ucap Fazar yang pada akhirnya juga tidak bisa menahan keinginan nya itu.


Dia pun mendekatkan wajah nya dengan wajah istri nya itu dan saat bibir nya akan menempel di bibir istri nya. Tepat saat itu lah Frisya membuka mata nya.


“Kakak mau ngapain?” tanya Frisya.


Sudah kepalang tanggung jika tidak di lanjutkan. Jadi dia dengan mengambil resiko tetap melanjutkan apa yang di inginkan nya itu. Dia segera ******* bibir istri nya penuh kelembutan dan pada akhir nya jadi sebuah ciuman panas.


“Aku menginginkanmu istriku.” Ucap Fazar setelah melepas ciuman nya dan memandangi Frisya dengan tatapan penuh gairah.


“Tapi kak itu sudah hampir waktu su--”


Cup


“Cukup kok.” ucap Fazar.

__ADS_1


Akhirnya di waktu dini hari ini mereka pun saling menyatu satu sama lain menjadi pasangan suami istri pada umumnya. Projek kilat yang menyenangkan dan berkesan walaupun awal nya sakit namun semua nya berjalan tanpa kendala.


__ADS_2