
Setelah makan siang bersama, lebih tepatnya malan siang kedua. Rezky segera mengantar Friska pulang ke klinik karena mobil Friska ada di sana. Sebenarnya Rezky ingin langsung mengantar Friska ke rumah Frrya dan Alvino dan mobil Friska biar nanti ada anak buahnya yang akan mengantarkannya tapi di tolak oleh Friska dengan alasan bahwa masih ada urusan penting yang harus dia lakukan di klinik. Akhirnya mau tak mau Rezky pun menuruti permintaan Friska itu dari pada nanti mereka akan saling menjauh lagi. Dia tidak ingin jal itu terjadi lagi, dia tidak sanggup lagi jika harus berpisah dengan gadis di sampingnya itu. Masa iya baru saja berbaikan dan mendapatkan maaf sudah harus bertengkar lagi hanya karena masalah sepele.
Tidak lama kini mereka sudah tiba di klinik Freya, seperti apa yang di lakukan oleh Rezky tadi, dia pun segera turun dan membukakan pintu untuk gadis yang dia cintai itu. Friska pun segera turun dan mengucapkan terima kasih. Sebenarnya ini apa yang di lakukan oleh Rezky menurut Friska sudah sangat berlebihan namun sudahlah terserah pria itu saja.
Friska dan Rezky segera masuk ke dalam klinik dan ketemu dengan Freya di sana. Freya tersenyum melihat adik keduanya itu berjalan dengan Rezky, "Assalamualaikum nyonya." salam Rezky.
Freya tersenyum lalu mengangguk. Freya segera menatap adiknya dan ada raut wajah bahagia di sana, "Rezky, saya tunggu kalian di rumah mama dan papa untuk meresmikan hubungan kalian ini. Jangan lama-lama karena bisa saja adikku ini berubah pikiran nanti." Ucap Freya menatap Friska tersenyum.
Friska yang mendengar ucapan kakaknya pun tersenyum lalu dia segera memeluk kakaknya itu, "Jangan menggodaku kak." Bisik Friska.
Sementara Rezky yang mendengar ucapan Freya tersenyum sambil mengangguk, "Saya akan segera datang ke sana lebih cepat nyonya. Kami akan datang." Ucap Rezky tegas.
Freya yang masih memeluk Friska pun tersenyum lalu dia mengangguk, "Kami akan menunggu kedatangan kalian." Ucap Freya.
Setelah itu Friska segera pamit menuju ruang kerjanya dengan Rezky yang ikut dari belakang, "Kak ahh bukan pak dosen. Anda di sini saja. Jangan masuk. Emm dari pada anda menunggu di sini lebih baik anda pulang saja." ucap Friska dengan nada mengusir.
__ADS_1
Rezky yang mendengar itu menggeleng, "Saya gak akan pergi. Saya akan menunggu di sini sampai kau pulang memastikan kau pulang dengan selamat ke rumah kakakmu. Sudah sana lebih baik kau masuk dan kerjakan pekerjaan pentingmu. Jangan pikirkan saya, saya akan menunggumu di sini dek. Ohiya jangan panggil saya dengan dosen lagi karena saya bukan dosenmu lagi." ucap Rezky.
Friska yang mendengar akhir kalimat Rezky tersenyum, "Lalu saya harus memanggil anda dengan apa?" Tanya Friska.
"Kakak saja atau mungkin calon suami juga bisa atau juga sayang. Terserah dirimu. Asal jangan dengan sebutan pak dosen." jawab Rezky.
Friska pun menahan senyumnya, "Kalau begitu Riska akan memanggil anda dengan sebutan pak dosen saja kan terserah saya kan. Itu nyaman untuk saya." Ucap Friska tanpa rasa bersalah.
Rezky yang mendengar itu cemberut, "Kan sudah saya katakan jangan pak dosen. Panggil saja kakak deh seperti tadi kau memanggil saya di depan mami dan papi. Kakak saja jangan dengan dosen." jelas Rezky dengan nada cemberut.
Friska pun akhirnya tertawa karena sudah tidak bisa menahan melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Rezky, "Apa kamu mengerjai saya?" tanya Rezky yang melihat Friska menertawainya.
Rezky pun yang mendengar dan melihat jawaban Friska pun akhirnya tersenyum karena dia bisa melihat senyum dan tawa di wajah gadis yang dia cintai itu. Apalagi alasan gadis itu tertawa karena dirinya sudah tentu dia sangat bahagia akan itu. Kenapa dia baru memiliki keberanian itu saat ini kenapa tidak dari dulu. Kenapa tidak dari dulu dia menyakinkan diri bahwa perasaan cintanya kepada gadis ini memang rasa yang tulus ingin menjaga dan memiliki gadis itu.
"Saya suka melihatmu tertawa begitu dek. Tertawalah sepuasmu karena saya menyukai tawamu. Saya janji hidupmu nanti akan di penuhi dengan tawa bahagia. Saya janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sudah saya lakukan dulu. Saya akan menyayangimu dengan baik. Terima kasih sudah memberikan kesempatan kedua untuk saya agar bisa dekat denganmu." Ucap Rezky tersenyum.
__ADS_1
Friska yang mendengar perkataan Rezky pun segera menghentikan tawanya, "Sudahlah kak. Kita lupakan apa yang terjadi di masalalu dan mari kita rajut hal baru yang membahagiakan bersama. Aku juga bukan wanita sempurna semoga saja kau bisa menerima semua kekurangan yang aku miliki." Balas Friska.
Rezky mengangguk dan tersenyum, "Baiklah. Ayo kita rajut kebahagiaan itu bersama." ucap Rezky.
Friska pun tersenyum, "Ya sudah kakak tunggu di sini sebentar yaa. Riska hanya mau ambil charger ponsel Riska yang ketinggalan di dalam. Setelah itu ayo kita pulang." ucap Friska lalu langsung masuk ke dalam.
Singkat cerita, kini Friska sudah keluar dari dalam ruangannya setelah mengambil charger ponselnya dan memastikan semua dokumen dan berkas dalam ruangan itu tertata dengan baik, "Ayo kita pulang." ucap Friska sambil berjalan meninggalkan ruangannya dan Rezky yang juga segera mengikutinya.
"Tadi bukannya kamu mengatakan akan mengurus hal penting dulu. Jangan katakan bahwa hal penting itu adalah charger ponselmu?" ucap Rezky begitu mereka sudah berjalan berdampingan.
Friska yang mendengar perkataan Rezky pun tersenyum, "Memamg hanya charger yang akan aku ambil kak. Charger itu adalah hal penting yang tidak boleh ketinggalan karena jika ketinggalan maka aku akan memakai charger apa nanti saat daya ponselku habis nanti." ujar Friska.
Rezky yang mendengar itu pun hanya bisa menghela nafasnya sambil menepuk keningnya, "Tapi kan bida memijam dulu charger dari kakakmu atau adikmu kan. Tidak harus mengambilnya juga." ucap Rezky.
"Emm benar juga sih. Tapi bagaimana jika nanti saat daya ponselku habis dan saat aku meminjam charger mereka ternyata mereka juga menggunakannya. Jadi kasihan nasib ponselku. Aku gak mau ahh begitu." ucap Friska.
__ADS_1
Lagi-lagi Rezky hanya bisa menghela nafas kasar karena dia seketika sadar bahwa makhluk yang namanya wanita itu adalah makhluk paling unik yang sifat ataupun pemikirannya tidak bisa di tebak dan mereka tidak akan pernah kalah jika berdebat, "Yaya saya mengaku kalah. Bukankah laki-laki harus mengalah." ujar Rezky pasrah.
Friska yang mendengar itu tersenyum, "Hehehehh, gitu dong. Laki-laki itu memang harus mengalah. Lagian juga kakak sendiri yang bodoh sehingga tidak menyadari bahwa aku menipumu." ucap Friska tertawa kecil. Rezky yang mendengar itu pun hanya tersenyum. Setelah itu keduanya langsung ke parkiran dengan mengendarai mobil masing-masing pulang.