Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
95


__ADS_3

Di sisi lain, di sebuah kediaman ada seorang gadis yang kebingungan sendiri di kamarnya, “Ahh bagaimana aku mau minta izin? Apa aku pakai pakaiannya saja agar di izinkan? Ahh kenapa juga pak Dirut harus mengajakku dan membuatku terjebak begini.” Ucap Irma pusing.


Irma setelah melakukan sholat magrib dia pusing sendiri dan akhirnya dia memutuskan untuk mengganti pakaian saja lebih dulu sebelum meminta izin nanti.


Di luar mami Calista dan Papi Baskara sedang ada di meja makan, “Mih, kemana putry kita? Kenapa dia belum turun untuk makan malam?” tanya papi Baskara.


Mami Calista melihat ke lantai dua di mana kamar putrinya itu berada lalu menatap suaminya, “Kau tahu suamiku alasan dia belum turun sampai sekarang. Dia pasti sedang bingung sekarang memikirkan alasan apa yang akan dia gunakan untuk meminta izin kepada kita.” Ujar mami Calista yang memang sudah tahu semuanya sebab papi Baskara sudah menceritakannya.


Papi Baskara yang di salahkan istrinya hanya tersenyum, “Aku tahu kekesalanmu itu sayang. Aku hanya ingin tahu alasan apa yang akan dia berikan kepada kita. Selain itu juga aku ingin dia memiliki keberanian untuk menantang larangan kita. Sudah sejak dulu dia hidup dalam pengaturan kita, tidak pernah membangkang dan selalu menurut. Aku bukan ingin dia menjadi putri yang tidak taat pada pengaturan kita hanya saja aku ingin dia melihat dunia lebih luas lagi. Penyakitnya yang membuatnya menuruti semua pengaturan yang kita buat tapi kita sama-sama tahu bahwa pasti di balik sikap taatnya itu dia ingin memiliki kehidupan bebasnya. Papi hanya ingin dia memiliki keberanian untuk memenuhi keinginannya itu.” ujar papi Baskara.


Tepat setelah melakukan sholat isya, Irma turun sudah dengan memakai gaunnya juga higheels dengan tinggi lima sentimeter dan juga tas pestanya. Papi Baskara dan mami Calista yang sudah selesai makan malam dan sedang duduk di ruang keluarga tersenyum menatap putri mereka yang cantik dengan gaunnya itu.


Irma berjalan ke arah mami dan papinya dengan langkah gugup, “Wah, putri mami sangat cantik. Mau kemana nih?” tanya mami Calista segera meraih tangan putrinya dan duduk di sampingnya.


Irma segera duduk, “Mih, Pih, Irma mau izin untuk ke pesta lamaran.” Ucap Irma gugup. Ini pertama kalinya dia meminta izin ikut ke pesta. Selama ini dia tidak pernah ke pesta walaupun kedua orang tuanya itu mengajaknya. Dia lebih nyaman dengan kamarnya menonton drama kesukaannya.


“Pesta lamaran? Sama siapa?” tanya Papi Baskara menatap putrinya itu.


“Ehh itu Pih lamaran kakak sepupunya pak direktur. Pak Direktur yang mengajak Irma ke sana.” Ucap Irma jujur sambil menunduk karena takut papi dan maminya itu tidak akan mengizinkannya.


“Terus di mana pak direkturmu itu? Seharusnya jika dia ingin mengajak putri kami maka dia harus izin sendiri dong. Dasar tidak bertanggung jawab.” Ucap papi Baskara.

__ADS_1


“Emm bukan begitu pih. Sebenarnya kak Kenzo ingin meminta izin sendiri kepada papi dan mami tapi Irma yang melarangnya. Papi dan mami kan tahu Irma gak mau mereka tahu identitas Irma yang sebenarnya. Jadi pih, mih apa Irma di izinkan ke pesta lamaran itu? Jika papi dan mami tidak mengizinkannya tidak masalah. Irma akan mengganti pakaian Irma saja.” ucap Irma segera berdiri namun di tahan oleh mami Calista.


“Duduk nak. Kami belum mengatakan apa kami mau mengizinkanmu pergi atau tidak. Kenapa kamu segera berdiri nak.” ucap mami Calista lembut.


“Mami dan papi diam. Aku sudah mengerti jika kalian diam, itu berarti aku tidak mendapatkan izin.” Ucap Irma menunduk sedih.


Mami Calista tersenyum melihat ekspresi sedih yang di tunjukkan oleh putrinya itu. Hal ini baru pertama kali dia lihat dan hal itu semakin membuatnya yakin bahwa putrinya itu memiliki perasaan kepada pak direkturnya, “Nak, pak direkturmu itu sudah menelpon papimu dan dia sudah meminta izin mengajakmu ke lamaran sepupunya. Mungkin dia sedang dalam perjalanan kesini untuk menjemputmu. Maafkan kami yang selalu ketat melarangmu selama ini jika keluar malam nak. Ayo duduk!” ucap Mami Calista tersenyum.


Irma yang mendengar perkataan maminya pun terharu dan menatap papinya, “Dia laki-laki yang bertanggung jawab nak. Papi bangga kepada direkturmu itu. Sepertinya dia masuk dalam kriteria calon menantu papi. Dia memiliki nilai plus di langkah pertamanya.” Ujar papi Baskara tersenyum.


Irma yang mendengar perkataan papinya tersenyum malu lalu segera mendekati papinya dan memeluk papinya itu, “Pih!” ucap Irma.


“Tuan, nyonya, ada tamu di depan.” Ucap ART mereka.


“Siapa?” tanya mami Calista.


“Pria muda nyonya namanya nak Kenzo.” jawab ART itu.


Mami Calista dan Papi Baskara pun tersenyum lalu meminta ART itu pergi, “Ayo nak. Kita temui dia.” Ucap papi Baskara.


Ketiga orang itu segera menuju teras, “Siapa?” tanya papi Baskara pura-pura.

__ADS_1


Kenzo yang menatap halaman rumah itu segera berbalik lalu tersenyum, “Selamat malam om, tante. Saya Kenzo.” ucap Kenzo menyalami papi Baskara dan Mami Calista bergantian lalu sekitar dua detik dia menatap Irma yang menunduk di belakang mami Calista.


“Apa mau mengajak Irma?” tanya mami Calista.


Kenzo mengangguk, “Iya tante. Jika om dan tante mengizinkan. Saya ingin mengajaknya menghadiri lamaran sepupu saya.” ucap Kenzo penuh hormat.


Papi Baskara tersenyum lalu, “Ya sudah nak kami pasti memberimu izin. Kamu kan sudah menelpon saya sebelumnya untuk meminta izin. Nak, tolong jaga putri kami. Kami hanya punya dia saja.” ucap papi Baskara.


Kenzo mengangguk, “Saya janji om. Saya akan menjaganya. Terima kasih atas izin om dan tante.” Ucap Kenzo.


Papi Baskara dan mami Calista tersenyum, “Sana nak. Pergilah. Kalian akan terlambat nanti. Ohiya maaf nak Kenzo tidak mengajakmu masuk ke dalam. Lain kali kami akan mengajakmu masuk ke dalam jika ke sini lagi.” Ucap mami Calista.


Kenzo tersenyum mendengar ucapan mami Calista itu, “Gak masalah. Saya akan datang lagi om, tante.” Ucap Kenzo.


“Kami menunggunya nak.” ucap papi Baskara.


Setelah itu Irma dan Kenzo segera pergi setelah berpamitan kepada papi Baskara dan mami Calista, “Pih, dia sangat sopan yaa pih.” Ucap mami Calista menatap suaminya setelah mobil Kenzo menghilang dari balik pintu gerbang kediaman mereka itu. Papi Baskara hanya tersenyum menanggapi perkataan istrinya itu lalu keduanya segera masuk ke dalam rumah.


Sementara di dalam mobil suasana sangat canggung, “Pak, kenapa anda langsung menelpon papi saya? Dari mana bapak mendapat nomor ponsel keluarga saya?” tanya Irma gugup.


Kenzo tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Irma, “Kenapa? Apa yang kamu rahasiakan dari identitasmu itu?” tanya Kenzo balik.

__ADS_1


__ADS_2