Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
146


__ADS_3

“Hum, sepertinya untuk kebaya nomor 2 cocok untukmu dan untuk gaun kakak sukanya nomor 3 dan 5. Cantik dan mewah.” Ucap Rezky


Friska pun tersenyum mendengar pilihan Rezky itu karena pilihannya dan pilihan Rezky sama, “Ada apa? Kenapa kamu tersenyum?” tanya Rezky.


Friska menggeleng, “Gak, Riska tersenyum karena tidak menyangka bahwa pilihan kita sama.” ucap Friska.


Rezky pun mengangguk lalu tersenyum, “Sepertinya kita memang berjodoh.” Ucap Rezky.


Tidak lama setelah itu pesanan mereka datang dan keduanya fokus makan saja. Sekitar 20 menit kemudian akhirnya keduanya selesai makan dan saat ini mereka sedang minum saja.


“Aku mau bicara!” ucap keduanya bersamaan. Rezky dan Friska pun tersenyum mendengar itu.


“Kakak saja duluan.” Ujar Friska.


Rezky menggeleng, “Gak, kamu saja yang duluan sayang. Ladies first.” Ujar Rezky.


Friska pun tersenyum lalu mengangguk “Baiklah. Jika memang begitu.” Ujar Friska.


“Kak, aku sudah mengajukan cuti dari klinik. Jadi kita sudah bisa mempersiapkan semuanya. Kak Reya sudah kesal denganku tadi. Jadi aku sudah mengajukan cuti. Setelah aku pikir-pikir juga waktu dua minggu yang kita punya sepertinya bisa di katakan tidak banyak juga tidak sedikit. Pas lah.” Lanjut Friska.


Rezky yang mendengar perkataan Friska terdiam. Friska menyadari ekspresi calon suaminya itu yang berubah, “Ada apa kak? Apa ada masalah?” tanya Friska hati-hati.


Rezky menghela nafas berat, “Ini lah yang ingin aku bahas denganmu. Kita sudah berjanji kan untuk mengajukan cuti bersama. Jika kau sudah mengambil cuti maka aku pun akan mengambil cuti. Tapi masalahnya--”


“Apa masalahnya? Apa ada masalah dengan perusahaan?” tanya Friska.


Rezky mengangguk pelan, “Yah bisa di katakan begitu. Aku sudah ingin mengajukan cuti juga tapi ini tidak bisa aku tinggalkan. Aku bingung.” Ujar Rezky.


Friska bisa melihat kebingungan yang besar di wajah calon suaminya itu, “Ada apa? Coba cerita kepada Riska. Siapa tahu aja Riska bisa membantu.” Ucap Friska.


Rezky pun menatap mata calon istrinya itu dengan lembut lalu dia menghela nafas berat, “Aku gak yakin kamu akan mengizinkan. Tapi baiklah aku akan menceritakannya. Namun kamu harus berjanji untuk tidak khawatir dan kepikiran. Aku janji akan menemukan solusi yang baik untuk masalah kita ini.” ucap Rezky.


Friska tersenyum, “Tenang saja kak. Aku tidak akan khawatir. Ayolah cerita!” ujar Friska mencoba meyakinkan calon suaminya itu untuk berbagi cerita dengannya.


“Proyek yang kakak tangani mengalami masalah dan untuk solusinya kakak harus terbang ke Negara J menemui pimpinan perusahaan penyedia bahan proyek itu untuk meminta tanggung jawabnya. Yang jadi masalahnya itu dia tidak ingin bertemu perwakilan harus kakak. Sedangkan kakak gak mungkin pergi kesana. Kita belum ada persiapan apapun. Maaf! Kakak tidak menduga ini akan terjadi saat ini karena proyek itu berjalan lancar selama ini. Namun entah kenapa masalah ini bisa timbul.” Jelas Rezky.


Friska pun diam mencoba menganalisa dan berpikir realistis. Dia mencoba memposisikan dirinya sebagai Rezky, “Jika memang hanya itu solusinya. Maka pergilah kak!” ucap Friska.


Rezky menggeleng, “Lalu persiapan pernikahan kita bagaimana?” tanya Rezky.


“Itu bisa di lakukan setelah kakak kembali. In Syaa Allah waktunya akan cukup. Kakak akan berangkat berapa hari?” tanya Friska.


“Paling lama tiga hari dan paling cepat dua hari.” Jawab Rezky.


Friska pun mengangguk-ngangguk mengerti, “Ya sudah jika begitu bisa. Kita punya waktu 10 hari untuk persiapan pernikahan kita.” Ucap Friska.


“Kamu yakin ngijinin kakak pergi?” tanya Rezky.


Friska mengangguk, “Aku yakin kak. Jika kakak tidak pergi kasihan perusahaan kakak. Aku bisa menunggu. Urusan perusahaan lebih penting. Banyak karyawan yang bergantung di perusahaan. Jika kakak mengalami kerugian maka akan berpengaruh untuk mereka.” ucap Friska.


“Jika kamu tidak yakin kakak akan usahakan agar Robi atau Hiro saja yang pergi kesana mewakili kakak yah walaupun mungkin mereka akan menolaknya.” Ucap Rezky.

__ADS_1


“Gak usah kak. Kau pergilah. Jika nanti asisten kakak itu di tolak kan kasihan jadi kerja dua kali nanti. Dan kemungkinan parahnya mereka merasa tidak di hormati yang mungkin akan berakibat mereka tidak akan bertanggung jawab. Mereka ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan maka kakak harus pergi.” ucap Friska.


“Lalu bagaimana dengan keluargamu dek. Mereka akan mendengar hal ini dan kemungkinan mereka akan mengatakan bahwa kakak bukan calon suami yang bertanggung jawab karena meninggalkanmu saat persiapan pernikahan.” Ucap Rezky. Hal ini lah yang dia pikirkan.


Friska tersenyum, “Mungkin pemikiran begitu akan muncul tapi kita tidak bisa hanya memikirkan apa yang akan mereka katakan. Perusahaan lebih penting untuk saat ini yang harus kakak selamatkan karena banyak yang bergantung di sana. Kak Reya dan kak Vino mungkin akan mengerti hal ini. Aku yakin mereka tidak akan mempermasalahkannya. Aku akan menjelaskan kepada keluargaku. Kakak tidak perlu memikirkan hal ini. Serahkan saja masalah itu kepadaku. Aku akan mengatasinya. Yang saat ini kakak fokus saja memikirkan bagaimana agar masalah perusahaan bisa selesai. Lalu kita bisa mempersiapkan pernikahan kita.” Ucap Friska.


Rezky yang mendengar itu terharu dengan pemikiran Friska yang lebih mementingkan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan pribadinya. Sungguh tidak egois.


“Terima kasih sayang. Setelah curhat denganmu akhirnya kakak sedikit merasa lega. Baiklah kakak akan pergi ke sana untuk menyelesaikannya. Akan kakak usahakan agar masalah ini cepat selesai agar kita bisa segera mempersiapkan pernikahan kita. Kakak janji setelah masalah ini selesai akan segera mengajukan cuti dan fokus pada pernikahan kita.” Ucap Rezky.


Friska pun mengangguk dan tersenyum, “Emm dek, kakak tanya sekali lagi apa kamu rela kakak berangkat kesana. Kakak menanyakan ini kepadamu sebagai kamu yang calon istri kakak bukan orang lain yang memikirkan kesejahteraan orang banyak. Sebagai pribadi dirimu.” Ucap Rezky.


Friska tertawa, “Jika kakak memintaku menjawab sebagai Friska yang saat ini berstatus sebagai calon istrimu. Sungguh, aku tidak rela jika kau pergi. Aku adalah seorang gadis yang pastinya akan memikirkan sesuatu itu berdasarkan perasaan. Tapi demi kebaikan bersama. Aku mengambil keputusan ini menggunakan logika sehingga aku mengizinkanmu pergi.” ujar Friska.


Rezky yang mendengar itu pun terharu, “Aku janji padamu dek. Masalah ini akan cepat aku selesaikan.” Ucap Rezky.


“Aku akan berdoa semoga semuanya cepat selesai. Aku mendukungmu!” ucap Friska.


Rezky pun tersenyum lalu setelah itu keduanya segera meninggalkan restoran Italia itu setelah sebelumnya pasti membayar bill makanan mereka.


Sekitar 10 menit saja dalam perjalanan mereka sudah tiba di apartemen. Rezky pun segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Friska, “Terima kasih!” ucap Friska begitu turun dari mobil.


“Kakak hati-hati pulangnya!” ucap Friska.


Rezky pun mengangguk, “Ohiya, kapan kakak berangkat ke Negara J?” tanya Friska.


“Mungkin besok. Aku akan membicarakannya dulu dengan Robi dan Hiro. Tapi sepertinya besok waktu yang tepat agar masalah ini bisa cepat selesai.” Ucap Rezky.


Rezky pun mengangguk, “Baiklah. Aku akan mengabarimu. Sudah sana kamu masuklah. Kakak akan pergi setelah melihatmu masuk.” Ujar Rezky.


Friska pun kembali mengangguk lalu dia segera masuk dan Rezky barulah pergi setelah Friska masuk ke lift membawa gadis itu ke lantai di mana apartemennya berada.


***


“Assalamu’alaikum!” ucap Friska mengucapkan salam dan segera melepas alas kakinya dan meletakkannya di rak sepatu.


“Wa’alaikumsalam. Tumben pulang telat.” Ujar Frisya.


Friska hanya tersenyum lalu dia berjalan melewati adiknya itu dan segera berlalu menuju kamarnya. Frisya yang melihat itu pun heran. Tidak biasanya kakak keduanya itu bersikap begitu jika tidak ada masalah.


“Sepertinya dia punya masalah? Apa marahan dengan calon kakak ipar? Ah gak mungkin. Terus kenapa ya?” tanya Frisya pada dirinya sambil memandang pintu kamar kakaknya itu dengan bingung.


“Risya jika kamu penasaran ya sudah tanyakan. Sejak kapan kau tidak kepo terkait masalah keluargamu apalagi saudaramu. Hm, ya sudah lets’go mari kita cari tahu apa yang membuat kakak keduaku itu cemberut dan sedih begitu.” Ucap Frisya menyemangati dirinya untuk mencari tahu. Dia pun segera melangkah menuju kamar Friska dan mengetuk.


Tok tok tok


“Kak Ris!” panggilnya.


“Masuk!” ucap Friska dari dalam.


Frisya yang mendengar itu pun segera masuk dan tersenyum menatap kakak keduanya. Friska yang melihat adiknya pun tersenyum lalu segera duduk.

__ADS_1


“Ada apa datang kesini? Apakah kepo denganku?” tanya Friska.


Frisya pun cengesan lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena kakak keduanya itu bisa menebak dengan benar tujuan kedatangannya, “Kamu memang adikku yang kepo. Yaa sudah duduklah dulu. Aku akan menceritakannya. Jujur saja aku juga butuh teman cerita. Hatiku sedang sedih. Aku ingin bersikap egois namun tidak bisa. Perasaan dan logikaku saat ini sedang bertolak belakang. Mereka tidak sejalan. Membuatku pusing saja.” ujar Friska.


Frisya pun mendengar ucapan kakaknya itu dengan serius. Dia sudah bisa menebak kakaknya itu memang sedang kebingungan. Friska segera duduk di ranjangnya dan berhadapan dengan Frisya yang duduk di sofa di ruangannya itu.


Setelah itu Friska mengambil bantal kecilnya dan meletakkannya di paha lalu segera memulai menceritakan apa yang terjadi hari ini kepada adiknya itu. Friska menceritakan semuanya tidak ada yang terlewati sama sekali. Frisya juga mendengarkan cerita kakaknya itu dengan serius sambil memposisikan diri di posisi kakaknya.


“Ya begitulah ceritanya. Menurutmu apa yang kakak lakukan itu sudah benar atau salah?” tanya Friska kepada adiknya setelah dia menyelesaikan ceritanya.


“Hmm, berat yaa! Aku jadi pusing juga mendengarnya. Sebagai wanita dan sebagai calon istri kita ingin dia tidak pergi karena kita mengambil keputusan itu berdasarkan perasaan. Tapi sebagai orang lain sebagai sesama manusia kita ingin dia pergi untuk menyelesaikan masalah itu karena banyaknya karyawan yang bekerja di perusahaan yang pasti bergantung pada perusahaan. Jika perusahaan mengalami kerugian maka sudah pasti ini akan mempengaruhi karyawan dan kita tidak ingin hal itu terjadi. Kita tidak ingin juga perusahaan yang di bangun dengan susah payah hancur karena masalah ini. Menurutku keputusan yang kakak ambil sudah benar. Yah, walaupun kau harus berperang dengan perasaanmu saat memutuskan hal itu.” ucap Frisya.


Friska pun menghela nafas berat, “Semoga saja calon kakak ipar bisa menyelesaikannya dengan cepat dan kalian bisa segera fokus pada persiapan pernikahan kalian. Aku yakin calon kakak ipar juga pasti sudah memikirkan hal ini dengan baik. Kakak sebagai calon istrinya memang harus siap dengan hal ini.” ucap Frisya.


Friska pun mengangguk, “Aku tahu. Terima kasih ya dek sudah mendengarkan cerita kakak hari ini. Walaupun tidak ada solusinya tapi kakak sudah lega karena sudah berbagi cerita ini denganmu.” Ucap Friska. Frisya pun mengangguk tersenyum.


***


Sementara di sisi lain, di kediaman Rezky saat ini mereka baru saja selesai makan malam.


“Nak, papi mau bicara padamu.” Ucap papi Harry saat melihat putranya itu hendak berdiri meninggalkan meja makan.


Rezky pun menghentikan niatnya dan kembali duduk, “Kita bicara di ruang keluarga.” ujar papi Harry. Rezky pun mengangguk lalu keduanya segera menuju ruang keluarga.


“Papi dengar ada masalah dengan proyek yang kau tangani dan kau harus ke Negara J untuk menyelesaikannya.” Ucap papi Harry memulai pembicaraan.


Rezky mengangguk tanpa bertanya dari mana papinya itu tahu kabar itu karena walaupun perusahaan itu sudah di serahkan kepadanya. Tapi kedua orang tuanya ini apalagi papinya tidak serta merta lepas tangan begitu saja. Dia tetap mengawasinya, “Benar pih.” Jawab Rezky.


“Lalu apa keputusanmu? Apa kau akan ke Negara J?” tanya papi Harry.


Rezky menatap maminya yang membawakan mereka minuman dan ikut duduk di samping papinya, “Aku akan berangkat pih.” Ucap Rezky.


Mami Jasmin menatap putranya itu, “Gak boleh. Kamu gak boleh berangkat. Pernikahanmu tinggal dua minggu lagi dan kalian masih punya banyak urusan yang harus kalian selesaikan.” Ucap mami Jasmin.


“Tapi mih. Jika aku tidak pergi maka siapa yang akan pergi sedangkan pemimpin perusahaan itu hanya ingin bertemu denganku untuk mempertanggung jawabkan masalah ini. Mau tak mau aku harus pergi. Jika di minta pun aku tidak ingin pergi dan fokus saja pada pernikahanku. Namun proyek ini sangat penting untuk aku selesaikan.” Ucap Rezky.


“Lalu bagaimana dengan Friska? Apa dia mengizinkanmu pergi?” tanya papi Harry.


Rezky mengangguk, “Aku sudah bicara dengannya dan dia mengizinkan aku pergi menyelesaikan masalah ini dulu.” Jawab Rezky.


“Baiklah jika memang itu sudah jadi keputusanmu. Kapan kamu berangkat?” tanya papi Harry.


“Besok pih.“ jawab Rezky.


“Apa kamu akan memakai pesawat kita?” tanya papi Harry.


Rezky mengangguk, “Aku sudah meminta Robi untuk menyiapkannya. Aku sengaja memakai pesawat pribadi agar bisa segera pulang dengan cepat begitu masalah selesai.” Ucap Rezky.


“Nak, mami tahu Friska mungkin sudah mengizinkanmu pergi tapi mami yakin dia tidak rela. Dia itu wanita. Apa tidak sebaiknya papi dan mami saja yang pergi untuk menyelesaikannya proyek itu untukmu. Kamu tetap di sini.” Ucap mami Jasmin.


Rezky menggeleng, “Jangan mih. Kalian di sini saja. Aku yang pergi saja akan menimbulkan cerita bahwa aku mungkin tidak bertanggung jawab pada calon istriku. Tapi jika kalian yang pergi mungkin aku akan di tuduh tidak bertanggung jawab pada kalian. Jadi biarkan aku yang menyelesaikan ini. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat.” Ucap Rezky.

__ADS_1


“Baiklah jika memang begitu.” Balas mami Jasmin.


__ADS_2