
Kini Frisya dan Fazar sedang dalam perjalanan pulang, “Dek, apa temanmu itu menyukai El?” tanya Fazar tanpa memandang Frisya dan fokus dengan jalanan di depan.
Frisya tersenyum lalu kemudian dia mengangguk, “Ya Disa menyukai abang El tapi sepertinya temanku itu akan patah hati bahkan sebelum cintanya sempat di ucapkan.” Ujar Frisya.
“Kau benar. El sepertinya menyukai kakak keduamu. Kini aku mengerti kenapa dia murung akhir-akhir ini karena ternyata dia sedih mendengar kakakmu itu akan segera menikah dengan tuan Rezky.” Ucap Fazar.
Frisya pun mengangguk, “Aku pun akan terlihat seperti itu jika kau memutuskan menikah dengan yang lain. Jadi dek, aku akan segera datang ke rumahmu bersama orang tuaku.” Ucap Fazar.
Frisya yang mendengar itu langsung menatap Fazar, “Kak jangan aneh-aneh. Aku masih belum lulus profesi.” Ucap Frisya.
“Gak ada larangan untuk menikah walaupun kau masih sedang profesi dek. Aku hanya tidak ingin merasakan apa yang El rasakan. Selain itu juga profesimu akan segera selesai kan. Tuan Vino saja melamar nyonya Freya saat dia baru saja lulus profesi bahkan belum wisuda. Jadi apa salahnya aku--”
“Kak, jangan semua yang di lakukan kakak ipar kau ikuti. Aku masih ingin bebas. Aku tidak sama dengan kedua kakakku yang menyukai kesunyian. Aku lebih suka suasana ramai. Jadi aku masih ingin menikmati ini dengan bebas sebelum nanti akan memiliki tanggung jawab sebagai istri. No, jangan datang ke rumah. Aku akan menolaknya.” Ucap Frisya.
“Ada apa? Kenapa kau ingin menolaknya. Tenang saja aku tidak akan memaksamu untuk cepat-cepat menikah. Aku hanya akan melamarmu saja di depan kedua keluarga kita belum akan mengadakan lamaran resmi dan nanti jika kau sudah siap untuk menikah maka kita akan segera menikah. Aku akan menunggumu lulus profesi.” Ucap Fazar serius dan menepikan mobilnya.
“Kak, apa kau yakin akan menikahiku? Aku berbeda dengan kedua kakakku. Aku adalah anak bungsu di keluargaku. Aku adalah anak manja kak karena kedua kakakku selalu memanjakan aku. Aku juga belum dewasa jika harus di ajak berumah tangga. Aku takut jika kau akan menyesali pilihanmu. Aku tidak ingin kau terburu-buru karena bisa saja kau mendapatkan gadis yang lebih ba--”
__ADS_1
“Tidak ada yang lebih baik darimu. Hanya kau yang aku inginkan untuk menjadi istriku, pendampingku, dan ibu dari anak-anakku kelak. Kau benar kau memang berbeda dengan kedua kakakmu tapi hal itulah yang membuatku memilihmu. Aku menyukai semua kepribadianmu dan semuanya tentang dirimu. Jujur saja pertama kali aku melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu. Mulai sejak itu aku memutuskan bahwa hanya kau yang akan kunikahi walaupun itu adalah mimpi yang sulit ku gapai sehingga aku memilih untuk mencintaimu secara diam-diam. Tapi ternyata aku egois aku ingin memilikimu sehingga aku pun mencoba memberanikan diri untuk mulai menunjukkan rasa itu padamu. Jujur saja aku sangat senang saat tuan Vino berniat mendekatkan kita. Saat itu aku seolah mendapat kebahagiaan tiada tara walaupun di sisi lain aku sadar bahwa aku mungkin bukan pilihanmu dan pilihan keluargamu. Jadi aku mohon izinkan aku untuk memintamu secara resmi kepada keluargamu. Kita tidak akan langsung menikah. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.” Ucap Fazar.
Frisya terharu mendengar apa yang di katakan oleh Fazar itu, “Kalau begitu datanglah ke rumah kak. Aku menunggu kedatangan kalian. Tapi sebelum itu setidaknya perkenalkan aku kepada orang tuamu. Aku memang sudah pernah ketemu mereka tapi itu berbeda dengan keadaan saat ini.” ucap Frisya.
Fazar pun mengangguk, “Baiklah. Besok aku akan menjemputmu untuk menemui keluargamu. Aku akan memperkenalkan dirimu secara resmi kepada orang tuaku. Kau sudah menyetujuinya maka aku akan segera datang ke rumahmu.” Ucap Fazar tersenyum.
Frisya pun tersenyum, “Semua tergantung mama dan papaku. Jika mereka menerima kakak maka kita akan segera menikah.” Ucap Frisya.
“Menikah? Bukankah kau tadi mengatakan belum siap menikah?” tanya Fazar heran.
“Emm, aku berubah pikiran. Aku akan segera menikah. Bukankah kakak akan membimbingku nanti jika melakukan kesalahan. Jadi apa yang harus aku khawatirkan.” Ucap Frisya tersenyum lalu menatap jalanan di sampingnya.
Begitu tiba di apartemen ternyata kepulangan mereka bersamaan dengan kepulangan Friska dan juga Rezky, “Wah, kok bisa kebetulan kita tiba bersama.” Ucap Friska mendekati Frisya yang baru turun dari mobil.
Frisya pun tersenyum, “Kami masuk dulu! Kak kau sudah pamitan kau dengan calon suamimu itu.” ucap Frisya.
Friska pun tersenyum lalu mengangguk. Setelah itu kedua gadis bersaudara itu segera masuk ke dalam apartemen. Rezky dan Fazar baru pulang setelah memastikan kedua gadis yang mereka cintai sudah berada di apartemen mereka.
__ADS_1
“Hmm, ada apa nih. Kok aku merasa ada sesuatu yang menyenangkan yang terjadi kepadamu dan asisten Fazar ehh maksudku kak Fazar.” Ucap Friska begitu menyadari dia salah berkata.
Frisya pun tersenyum, “Maafkan aku kak Ris sudah bicara kasar kepadamu waktu itu. Aku tidak bermaksud begitu hanya saja aku saat itu entah kenapa moodku sangat buruk.” Ucap Frisya begitu mengingat saat dia marah kepada kakak keduanya ini.
Friska mengangguk lalu memeluk adiknya itu, “Gak apa-apa dek. Aku mengerti. Aku gak marah kok. Justru dengan itu aku juga menyadari salah memanggilnya. Kita bukan majikannya dan dia hanya asisten kakak ipar. Jadi yang pantas memanggilnya begitu hanya kakak ipar sedangkan kita tetap harus menghormatinya.” Ucap Friska.
Frisya pun tersenyum, “Terima kasih kak. Ohiya, apa kau dan calon kakak ipar sudah menentukan tanggal pernikahan?” tanya Frisya saat mereka duduk di ruang tamu.
Friska menggeleng, “Aku menyerahkan keputusan itu kepada mama dan papa.” Ucap Friska.
Frisya pun mengangguk mengerti, “Ada apa? Apa kak Fazar akan melamarmu?” tebak Friska tepat sasaran.
Frisya tersenyum malu lalu kemudian mengangguk, “Wah, bener dek?” tanya Friska tidak percaya karena dia hanya menduga saja tadi tapi ternyata dugaannya tepat sasaran.
Frisya mengangguk lagi, “Kak, apa aku kecepatan? Aku bahkan belum lulus profesi tapi sudah akan menerima lamaran.” ucap Frisya.
Friska menggeleng, “Kita hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan. Kita gak tahu kapan jodoh kita datang. Lihatlah aku jodohku datang setelah aku setahun lulus profesi sementara kakak jodohnya datang saat dia baru saja selesai ujian profesi dan kau akan menciptakan rekor baru dengan menikah saat masih profesi. Kau akan mengungguli kakak. Bukankah itu bagus.” ucap Friska di akhiri dengan candaan.
__ADS_1
Frisya pun hanya cemberut saja, “Ish aku serius kak.” Ucap Frisya.
“Hahahh,, sudah semuanya sudah menjadi takdir. Jadi kita terima saja. Lagian menikah cepat juga lebih baik.” ucap Friska.